CULTURAL
CULTURAL (Part 2)
(Diambil dari Khotbah Alfa Omega
Church, 31 Mei 2015)
Markus pernah
merekam apa yang Yesus katakan. Dalam Markus 16:15, “Lalu Ia berkata kepada
mereka: Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada semua makhluk.”
Kata “dunia” = kosmos
and preach the gospel to every creature. Ini bicara tentang: Engaging
(terlibat) in the Culture, sosial dimana Tuhan tempatkan kita.
A)
Cara pandang Tuhan tentang
dunia (dan kekudusan)
-
Tuhan mengasihi dunia (Yoh 3:16)
-
Dunia milik siapa? Tuhan. Mazmur
24:1. Bagaimana mungkin, kita menarik diri dari dunia yang Tuhan kasihi?
-
Kekudusan tidak dinilai dari
luarnya. Kekudusan adalah Paulus menulis– Gal 5:25 ® hidup dan berjalan dalam Roh Kudus.
Kekudusan adalah menghidupi kehendak Tuhan dalam dunia ini – Mat 9: 10 – 13.
Secara bahasa
aslinya, KUDUS adalah set apart (dipisahkan). Tapi banyak orang extreme
memisahkan diri, sampai tidak bisa terlibat di budaya yang ada; dan tidak bisa
berpengaruh di budaya. KEKUDUSAN ADALAH: menyeimbangkan antara dipisahkan dari
dunia (set apart) dengan perintah Tuhan pergilah ke dunia yang penuh
dosa dan hancur ini.
Kekudusan adalah
bisa menyeimbangkan antara dipisahkan, dengan perintah Tuhan pergilah ke
seluruh dunia dan cerita tenteng Yesus.
Bahkan doa Yesus
tentang kita:
Yoh 17:15, “Aku
tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya
Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat.” Ayat 18, “Sama seperti
Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus
mereka ke dalam dunia.”
- Artinya: Gereja
harus penetrasi (meresapi, merasuki) dunia; bahkan Tuhan menyebut kita:
Mat 5:13 – garam
dunia
Mat 5:14 – terang
dunia
Mat 10: 16 – domba
di tengah serigala
B)
Argumen sebagian orang:
Untuk jadi relevant
bukan berarti harus mengkompromikan iman. Alienation (pengasingan) – church
on a bunker (gereja dalam bawah tanah). Yang terjadi kita tidak engaging
(terlibat) dunia, tapi hanya menyediakan alternative ke dunia – yang
biasanya ditolak. Kita bukan mau berkompromi terhadap dunia; TAPI escaping
from the world is also not God’s will (menghindari dunia juga bukan
kehendak Tuhan).
C)
Engaging (terlibat/memasuki) culture means:
John Stott pernah
berkata: “spiritually distinct but not socially segregated” (secara
rohani berbeda, tapi tidak terpencil/terkucil dari social budaya). Artinya: di
DALAM kita (sikap kita, pikiran kita, motivasi kita) harus merefleksikan Tuhan
yang kudus. Di LUAR kita (pekerjaan, fashion, creativity, budaya)
bisa ada dalam dunia kontemporer.
Contoh Engaging
Culture:
Paulus – 1 Kor
9:20-23
- Paulus tidak
memandang rendah budaya dunia.
- Paulus tidak
keluar dari jalan Tuhan, dia fokus dengan tujuannya: memenangkan mereka
bagi kemuliaan Tuhan.
- Bagi Paulus, PESANNYA
tidak boleh berubah (kudus), tapi METODE-nya boleh berubah (jangan mengkuduskan
sebuah metode, jadi penyembahan berhala). Mengabaikan budaya dunia =
membuat diri kita menjadi tidak RELEVANT.
Di jaman
Alkitab, Tuhan banyak pakai orang-orang marketplace (entah pebisnis,
orang pemerintahan, orang seni, dll) untuk berdampak dan menjadi kemuliaan
Tuhan di marketplace:
-Simon Petrus,
Nelayan, Pengusaha Ikan.
-Kornelius, Perwira
Pasukan (Kis 10:1-2)
-Dorkas, Fashion
Designer terkenal (Kis. 9:36-42)
-Lidia, Pedagang
Kain Mewah (Kis. 16:14-15)
-Aquila Priskila,
Kontraktor (Kis 18:1-3)
TUHAN memanggil
setiap kita untuk bergerak MENAKLUKKAN dan BERKUASA atas 7 pilar masyrakat,
untuk mengembalikannya ke tujuan asli Tuhan (untuk kemuliaanNya).
APA YANG PERLU KITA
LAKUKAN:
- Be Your Best! (Jadilah Anda yang terbaik)
- Be Clear With Your Purpose (Miliki Kejelasan Tujuan)
Doa: Tuhan, pakai
kami di tengah dunia ini, bukan untuk menjadi seperti dunia, tetapi untuk
membawa dunia kembali kepada tujuan Tuhan.
No comments:
Post a Comment