CULTURAL
Respon 1
SAAT TEDUH. Sabtu, 2 Mei 2015. Singkirkan Udangnya. Siapa yang berkata
bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudara seimannya, ia
berada di dalam kegelapan sampai sekarang (1 Yohanes 2:9). Dalam sebuah acara,
kami mendapatkan sajian mi oriental. Sebelum makan, seorang rekan tampak sibuk
menyingkirkan udang dari piringnya. Ia melakukannya karena ia alergi udang.
Udang membuatnya gatal-gatal. Tidak perlu menolak hidangan yang tersaji meski
ada bagian yang tidak kita sukai di dalamnya. Cukup dengan menyingkirkan bagian
yang tidak kita suka, makanan tersebut dapat kita nikmati. Sikap seperti inilah
yang seharusnya kita lakukan saat menemukan hal buruk pada diri sesama.
Menyingkirkan mereka dari daftar pertemanan atau membenci mereka seumur hidup
bukanlah cara yang benar dalam menyikapi sifat buruk seseorang. Kristus tak
pernah mengajarkan demikian. Menjadi pengikut Kristus berarti menghidupkan
kasih di dalam diri kita. Demonstrasi kasih yang telah dinyatakan melalui
pengurbanan Kristus di kayu salib menjadi motivasi kita untuk mengasihi sesama
tanpa memandang kekurangan mereka. Yesus yang kudus telah berkurban bagi
manusia yang penuh dosa. Dia yang suci mau menerima kita yang berdosa. Sangat
tidak tahu diri jika manusia yang telah ditebus dosanya tidak dapat menerima
kekurangan dalam diri sesamanya. Tak peduli berapa banyak kesalahan mereka,
berapa sering mengecewakan kita, berapa kali mengingkari janji, menyakiti hati
dan membohongi, kita dipanggil untuk melepaskan pengampunan dan mengasihi.
Kesampingkan keburukan sesama sebagaimana rekan saya menyingkirkan udang dari
piring mi, maka kita akan menikmati hubungan yang indah bersamanya!—EBL. KETIKA
KITA TIDAK MAU MENGASIHI SESAMA BERARTI KITA SEDANG MEMBENCINYA. Selamat pagi.
Happy long long weekend with family. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 2
“Kebersamaan bisa membuat kita maju bersama-sama dan sama-sama maju.”
Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
Amin. Salam SUKACITA buat semua, kami sekeluarga bersyukur bahwa
firmanNya luar biasa. Terima kasih selalu berbagi manna bagi kami. Syalom,
anugerahNya semakin dahsyat bagi keluarga ibu. (Manasye Efraim – Malinau)
Respon 4
Ams 14:30 – Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati
membusukkan tulang! Iyaa kan, kalau mau sehat dan segar yaa penuh ketenangan
tidak ada iri hati! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 5
Pergumulan terbesar bagi orang-orang percaya pada waktu berhadapan
dengan berbagai kesukaran hidup bersama Tuhan bukanlah karena tiadanya
pertolongan, melainkan ketiadaan keteguhan iman dalam menanti janji Tuhan.
Dalam keadaan terdesak yang tampak semakin genting, bukannya menguatkan iman
percaya, kita sering mundur & kembali pada kebiasaan lama: menggunakan
jalan pikiran sendiri & menaruh harap pada sesuatu yang lebih nyata, yang
tampak lebih pasti daripada pertolongan illahi. Saul contohnya. Walaupun
mendapatkan kepastian janji Tuhan dari seorang nabi pilihan Tuhan, melihat
fakta-fakta yang dalam ukuran akal sehat yang tak memberikan harapan, Saul
mulai goyah. Menurut catatan 1 Samuel 13:5-12 inilah sebab-sebab Saul mulai
meragukan cara Tuhan menolong umat-Nya: musuh seperti pasir di laut banyaknya,
prajurit-prajuritnya telah bersembunyi & melarikan diri, ia sudah menunggu
lama sambil melihat rakyat tercerai berai meninggalkan dia. “Bukankah Samuel
tidak tahu kondisi medan perang?”; “Bukankah aku tidak terlalu melanggar
ketetapan Tuhan? Toh aku masih berdoa minta tolong pada Tuhan?”; “Bukankah ada
alasan kuat aku memilih keputusan sedemikian?” Itulah semua yang muncul di
benak Saul & mungkin tersa wajar bagi kebanyakan orang jika Saul akhirnya
bertindak menurut pikiran & caranya sendiri. Di pemandangan Tuhan, yang
Saul lakukan justru merupakan perbuatan yang bodoh (1 Sam. 13:13). Berharap
kepada Tuhan namun tidak menanti-nanti Dia membuka pintu atau jalan bagi kita
namun memilih mengikuti dorongan pikiran & hati yang diliputi kekuatiran
& ketakutan sama saja dengan meremehkan Dia. Saat keadaan sekitar kita
semakin memburuk, semestinya kita lebih mendekat pada-Nya, meneguhkan iman
& mencari konfirmasi illahi hingga damai-Nya memenuhi hati kita (1 Samuel
30:6; Fil. 4:6-7). Dalam ketenangan itulah, Tuhan akan menunjukkan bagaimana
Dia bekerja: entah mengubah situasi kita atau membuka pikiran kita &
memberikan hikmat yang menghasilkan terobosan atas permasalahan kita. Salam
revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment