Saturday, 2 May 2015

2 Mei 2015




CULTURAL



Lukas 22:27, “Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan.” Amin J. Siapapun kita, baik sebagai orang tua, anak, rekan dalam pekerjaan, pemimpin, profesional maupun pelajar, apapun peran kita, apakah kita melaksanakan TUGAS kita dengan sikap rela melayani? Seperti DIA? Penting untuk memiliki sikap hati seorang hamba karena kita ini serupa / segambar dengan DIA. Amin.


Respon 1
SAAT TEDUH. Sabtu, 2 Mei 2015. Singkirkan Udangnya. Siapa yang berkata bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudara seimannya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang (1 Yohanes 2:9). Dalam sebuah acara, kami mendapatkan sajian mi oriental. Sebelum makan, seorang rekan tampak sibuk menyingkirkan udang dari piringnya. Ia melakukannya karena ia alergi udang. Udang membuatnya gatal-gatal. Tidak perlu menolak hidangan yang tersaji meski ada bagian yang tidak kita sukai di dalamnya. Cukup dengan menyingkirkan bagian yang tidak kita suka, makanan tersebut dapat kita nikmati. Sikap seperti inilah yang seharusnya kita lakukan saat menemukan hal buruk pada diri sesama. Menyingkirkan mereka dari daftar pertemanan atau membenci mereka seumur hidup bukanlah cara yang benar dalam menyikapi sifat buruk seseorang. Kristus tak pernah mengajarkan demikian. Menjadi pengikut Kristus berarti menghidupkan kasih di dalam diri kita. Demonstrasi kasih yang telah dinyatakan melalui pengurbanan Kristus di kayu salib menjadi motivasi kita untuk mengasihi sesama tanpa memandang kekurangan mereka. Yesus yang kudus telah berkurban bagi manusia yang penuh dosa. Dia yang suci mau menerima kita yang berdosa. Sangat tidak tahu diri jika manusia yang telah ditebus dosanya tidak dapat menerima kekurangan dalam diri sesamanya. Tak peduli berapa banyak kesalahan mereka, berapa sering mengecewakan kita, berapa kali mengingkari janji, menyakiti hati dan membohongi, kita dipanggil untuk melepaskan pengampunan dan mengasihi. Kesampingkan keburukan sesama sebagaimana rekan saya menyingkirkan udang dari piring mi, maka kita akan menikmati hubungan yang indah bersamanya!—EBL. KETIKA KITA TIDAK MAU MENGASIHI SESAMA BERARTI KITA SEDANG MEMBENCINYA. Selamat pagi. Happy long long weekend with family. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
“Kebersamaan bisa membuat kita maju bersama-sama dan sama-sama maju.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
Amin. Salam SUKACITA buat semua, kami sekeluarga bersyukur bahwa firmanNya luar biasa. Terima kasih selalu berbagi manna bagi kami. Syalom, anugerahNya semakin dahsyat bagi keluarga ibu. (Manasye Efraim – Malinau)

Respon 4
Ams 14:30 – Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang! Iyaa kan, kalau mau sehat dan segar yaa penuh ketenangan tidak ada iri hati! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.




Respon 5
Pergumulan terbesar bagi orang-orang percaya pada waktu berhadapan dengan berbagai kesukaran hidup bersama Tuhan bukanlah karena tiadanya pertolongan, melainkan ketiadaan keteguhan iman dalam menanti janji Tuhan. Dalam keadaan terdesak yang tampak semakin genting, bukannya menguatkan iman percaya, kita sering mundur & kembali pada kebiasaan lama: menggunakan jalan pikiran sendiri & menaruh harap pada sesuatu yang lebih nyata, yang tampak lebih pasti daripada pertolongan illahi. Saul contohnya. Walaupun mendapatkan kepastian janji Tuhan dari seorang nabi pilihan Tuhan, melihat fakta-fakta yang dalam ukuran akal sehat yang tak memberikan harapan, Saul mulai goyah. Menurut catatan 1 Samuel 13:5-12 inilah sebab-sebab Saul mulai meragukan cara Tuhan menolong umat-Nya: musuh seperti pasir di laut banyaknya, prajurit-prajuritnya telah bersembunyi & melarikan diri, ia sudah menunggu lama sambil melihat rakyat tercerai berai meninggalkan dia. “Bukankah Samuel tidak tahu kondisi medan perang?”; “Bukankah aku tidak terlalu melanggar ketetapan Tuhan? Toh aku masih berdoa minta tolong pada Tuhan?”; “Bukankah ada alasan kuat aku memilih keputusan sedemikian?” Itulah semua yang muncul di benak Saul & mungkin tersa wajar bagi kebanyakan orang jika Saul akhirnya bertindak menurut pikiran & caranya sendiri. Di pemandangan Tuhan, yang Saul lakukan justru merupakan perbuatan yang bodoh (1 Sam. 13:13). Berharap kepada Tuhan namun tidak menanti-nanti Dia membuka pintu atau jalan bagi kita namun memilih mengikuti dorongan pikiran & hati yang diliputi kekuatiran & ketakutan sama saja dengan meremehkan Dia. Saat keadaan sekitar kita semakin memburuk, semestinya kita lebih mendekat pada-Nya, meneguhkan iman & mencari konfirmasi illahi hingga damai-Nya memenuhi hati kita (1 Samuel 30:6; Fil. 4:6-7). Dalam ketenangan itulah, Tuhan akan menunjukkan bagaimana Dia bekerja: entah mengubah situasi kita atau membuka pikiran kita & memberikan hikmat yang menghasilkan terobosan atas permasalahan kita. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)






No comments:

Post a Comment