Thursday, 21 May 2015

21 Mei 2015



CULTURAL


Bersatu untuk BERTUMBUH DEWASA (BERSAMA-SAMA)
. Efesus 4:13, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” Bertumbuh itu:       1) Merupakan hasil berbagai usaha; 2) Tidak otomatis terjadi; 3) Harus menjadi usaha setiap orang; 4) Memerlukan waktu & tindakan; 5) Bertumbuh dalam hal perilaku; 6) Bertumbuh mencapai tingkat yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Bukan hanya mencapai ukuran kesempurnaan ‘rohani manusia’ saja. Dibutuhkan berbagai macam interaksi dengan Tuhan & sesama untuk mendapatkan KEDEWASAAN ROHANI tersebut melalui: 1) Penyembahan; 2) Perseku-tuan; 3) Pemuridan; 4) Pelayanan; 5) Penginjilan. Karena itu membaca Alkitab saja atau mengikuti Kebaktian hari Minggu saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan kita menuju kedewasaan J. Kita perlu terlibat dalam Kelompok Sel, mengikuti kelas-kelas pertumbuhan rohani, ikut dalam pelayanan & tidak lupa bersaksi pada keluarga, teman & orang yang belum kenal Kristus J. Amin. JBU all J.

Respon 1
“Our bleeding hearts can only be healed by the healing heart of Jesus Christ.” Xavier Quentin Pranata. “Hati kita yang terluka hanya bisa disembuhkan oleh hati penyembuh dari Yesus Kristus.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Kamis, 21 Mei 2015. Menikmati Jerih Payah. Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah (Pengkhotbah 2:24). Dalam penyusunan anggaran setiap awal bulan bersama istri, kami sengaja menyisihkan dana untuk hiburan. Tak jarang kami juga sengaja meluangkan waktu berdua untuk menikmati makan bersama di tempat yang kami sukai. Bagi kami, menyediakan anggaran khusus untuk hiburan dan makan bersama adalah cara untuk menikmati berkat yang Tuhan berikan melalui pekerjaan kami. Pengkhotbah juga berbicara tentang menikmati jerih payah yang Tuhan berikan. Menurut Pengkhotbah, tak ada yang lebih baik selain makan, minum, dan bersenang-senang sebagai bagian dari menikmati hasil jerih payah dalam berkat Tuhan. Jika tanpa berkat Tuhan, sekuat apa pun seseorang berusaha, hasilnya bisa menguap dalam sekejap. Tak ada yang dapat merasakan makan, minum, atau menikmati hidup di luar Dia (ay. 25). Namun, dalam menikmati berkat yang Tuhan berikan--baik untuk makanan, minuman, atau hiburan--tetaplah ada batasan yang perlu kita perhatikan. Konsumsi berlebihan akan menyebabkan penyakit dan tidak semua hiburan manusia berkenan di hadapan Allah. Tuhan memberikan berkat--dalam hal ini keuangan--supaya kita dapat menikmati hasil jerih payah kita di dalam Dia. Tak ada yang salah dengan menikmati berkat Tuhan, selagi masih dalam takaran normal dan tidak melanggar kebenaran firman Tuhan. Mari bersyukur atas berkat yang Tuhan berikan. Bersyukurlah, bersukacitalah, bersenang-senanglah, dan nikmatilah berkat-Nya bersama dengan orang yang kita kasihi. Berbagilah juga dengan sesama —GHJ. TIDAK ADA YANG SALAH DENGAN MENIKMATI HASIL JERIH LELAH, SELAMA ITU TIDAK MELANGGAR FIRMAN ALLAH. Selamat pagi. Semangat terus. Berkah Dalem Gusti Yesus. (Madam Ossy)



Respon 3
Luk 6:19 – Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah YESUS, sebab ada KUASA yang keluar dari pada-NYA dan semua orang itu disembuhkan-NYA! Yang baca ayat ini pasti SEMBUH! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 4
Mazmur 56:4, “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu” - But even when I am afraid, I keep on trusting You. Have a victorious day!

Respon 5
If God says no to our requests, it's because His glory matters more than our preferences (Max Lucado). Jika Tuhan berkata tidak atas permintaan-permintaan kita, itu karena kemuliaanNya lebih penting daripada pilihan kita (Max Lucado). (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 6
Ada 6 bahkan 7 perkara, kata Amsal, yang dibenci & menjadi kejijikan bagi Tuhan. Jika kita rindu hidup menyenangkan hati Tuhan, hendaknya kita benar-benar memperhatikan semua ini supaya jangan satupun dari 7 hal itu menjadi bagian hidup kita tanpa kita menyadarinya. Hari ini kita akan merenungkan yang disebut pertama-tama oleh penulis Amsal sebagai 'mata sombong' (Ams. 6:17). Secara singkat, yang dimaksud ialah ‘mata yang memandang diri terlalu tinggi daripada seharusnya; yang merasa dirinya lebih baik, lebih mulia, lebih unggul dari yang sebenarnya dan/atau dari sesamanya.’ Orang-orang ini meninggikan dirinya & memandang pribadi lainnya lebih rendah darinya. Dan kita perlu ingat bahwa Tuhan menilai semua ini pertama-tama dari apa yang ada di hati kita. Kendati beberapa orang menunjukkan jelas sifat ini melalui perkataan yang merendahkan & sikap-sikap yang menyepelekan orang lain sedangkan yang lain tampak merendahkan diri -Tuhan mengetahui semuanya. Mengapa ini keji di mata Tuhan? Inilah beberapa alasannya: -Memandang diri cukup baik akan menolak mengakui diri sebagai orang berdosa & menerima uluran kasih karunia Tuhan; lebih percaya pada perbuatan-perbuatan baik pribadi untuk beroleh keselamatan. -Menilai diri lebih baik & lebih unggul dari orang lain menghasilkan suatu roh yang bebal, menolak untuk mendengar & belajar dari orang lain hingga tak pernah bisa mengenal kebenaran sejati. -Menilai diri melampaui yang sebenarnya berpuncak pada sikap hati tidak memerlukan Tuhan, meremehkan Tuhan sampai merasa diri sebagai Tuhan atas hidupnya. Ini pemberontakan terhadap kedaulatan Tuhan. Dosa yang sama akarnya dengan yang dilakukan Lucifer, iblis itu. Dia disebut sebagai Yang Mahatinggi namun rela mengambil tempat yang terendah di antara anak-anak manusia, pantaskah kita yang hanya ciptaan meninggikan diri seolah-olah kita ini pusat dunia sehingga seisi semesta melayani kita? Birlah mata kita memandang diri kita sebagaimana adanya: orang-orang berdosa yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa kasih karunia Allah. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment