CULTURAL
Mazmur 100:13, “Seperti
bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang
takut akan Dia.” Tuhan kita adalah Allah yang sangat mengasihi kita, DIA
memiliki waktu & kasih yang tak terbatas bagi setiap anakNya, bahkan “lihat,
Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di
ruang mata-Ku” (Yesaya 49:16). Amin.
Respon 1
Change your thoughts and you will change your world. Roma 12:2,
‘Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu (RENEWING YOUR MIND), sehingga kamu dapat membedakan manakah
kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.’
(GNCC)
Respon 2
“Salah satu penyebab kejatuhan adalah salah memilih prioritas.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Senin, 11 Mei 2015. Menegur Dalam Kasih. Sebaliknya, dengan
teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala
hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala (Efesus 4:15). Alice Walker, dalam
buku Sent by Earth, menuturkan suatu tradisi unik suku Babemba di Afrika
Selatan. Ketika seorang warga melakukan pelanggaran, mereka membawanya ke
tengah kampung. Seluruh penduduk kampung mengelilinginya dan menceritakan
berbagai kebaikan yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya. Mereka percaya
setiap orang itu baik, namun kadang-kadang berbuat salah, yang sebenarnya
merupakan suatu seruan minta tolong. Mereka bersatu untuk menghubungkan kembali
orang itu dengan tabiat baiknya. Upacara itu dapat berlangsung berhari-hari,
dan diakhiri dengan pesta untuk menyambutnya kembali sebagai anggota suku.
Paulus menyatakan bahwa suatu kunci pertumbuhan jemaat adalah, dalam versi BIS,
“menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih” (ay. 15). Menurut
konteksnya, Paulus menasihati umat Allah untuk senantiasa mengingatkan satu
sama lain akan siapa diri mereka di dalam Kristus: realitas bahwa kita telah
menjadi ciptaan baru, umat yang ditebus, dipilih, dan dijadikan anak Allah.
Tradisi suku Babemba tadi mirip dengan pendekatan Paulus. Bedanya, mereka
menganggap kebaikan seseorang melekat pada dirinya sendiri. Sebaliknya, Paulus
menunjukkan, kebaikan kita bersumber pada anugerah Allah semata. Maka, ketika
seorang saudara seiman melakukan pelanggaran, kita perlu mengingatkannya akan
anugerah Allah yang memberinya identitas baru di dalam Kristus. Dengan itu,
kiranya ia termotivasi untuk bertobat dan menyelaraskan hidup menurut identitas
tersebut —ARS. SAYA YAKIN, SATU-SATUNYA PENGHUKUMAN YANG MANJUR ITU TIDAK LAIN
TIDAK BUKAN ADALAH KASIH.—Alice Walker. Welcome Monday. Selamat pagi. Tetap
semangat. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 4
MONDAY INSPIRATION. “TERTINGGAL DI BUS”. Di suatu senja tatkala
matahari mulai condong ke ufuk barat, sebuah bis yang sarat penumpang tampak
melaju dengan kecepatan sedang. Kebanyakan orang di dalamnya dalam kondisi yang
penuh sukacita, di mana si sopir sudah di akhir tugasnya setelah sepanjang hari
menyetir, sementara para penumpang menuju ke rumah setelah bekerja seharian. Di
sebuah tempat perberhentian, naiklah seorang wanita muda. Sejak naik & di
sepanjang perjalanan, sampai turun kembali dalam perjalanan yang tidak terlalu
lama, semua gerak gerik & tingkah lakunya membuat seisi bus mengernyitkan
kening. Wanita tersebut menjejakkan kakinya dengan keras sewaktu menaiki tangga
bis, mengoceh secara kasar karena kakinya hampir tersandung kaki penumpang
lain, mengumpat karena tempat duduk kosong adanya di belakang. Setelah duduk,
dia berbicara di telepon dengan keras. Mungkin hari tersebut buruk baginya
karena ganjalan persoalan hidup ataukah memang seperti itulah caranya mengisi
hari. Walaupun terganggu, seisi bis tidak menghiraukan tingkah polah wanita
tersebut, sehingga cukup untuk tidak merusak suasana baik yang ada. Untunglah
dia tidak naik terlalu lama. Sebelum wanita tersebut menjejakkan kakinya dari
tangga terakhir bis ke tanah, sopir yang sudah berumur berkata, “Bu, saya rasa
ada yang ketinggalan.” Dengan kaget, wanita tersebut menoleh & menukas
cepat, ”Oh, apa ya?”. Mungkin dia kuatir ada barang berharganya yang
ketinggalan. Dengan tersenyum, sopir melanjutkan, “Semua sampah kejengkelan
& kemarahan Anda, masih tertinggal di dalam bis. Silakan diambil kembali
semuanya karena kami tidak memerlukannya.” Semuanya tersenyum termasuk si
wanita. Bedanya, jika seisi bis tersenyum geli maka si wanita tersenyum kecut
karena malu. Hati-hatilah dalam menjalani kehidupan ini supaya kita tidak
‘meninggalkan’ yang buruk-buruk. Jika tidak ada yang mau menerimanya (baca:
melayani) maka kita sendiri yang harus ‘mengambilnya’ kembali. “The best
fighter is never angry” - Lao Tzu. Have a GREAT Monday! GBU! (Suwandi Taruna –
Kalbe Farma)
Respon 5
Yak 5:13 – Kalau ada seorang diantara kamu yang menderita, baiklah ia
BERDOA! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia MENYANYI! TUHAN selalu
beri jawaban, solusi dan jalan keluar! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 6
Jangan pernah kecewa dan putus asa dengan keputusan baik yang sudah
kita ambil... Jika belum menampakkan hasil, percayalah... Tuhan masih melakukan
mujizatNya... Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, hari ini dan
selama-lamanya... Ibrani 13:8 Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun
hari ini dan sampai selama-lamanya. Morning. Sisters! Gbu... (Ibu Caroline –
Bandung)
Respon 7
Syalom. Amin... “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang
hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi
sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah
mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20). Terima kasih
ibu Siu, selamat siang, selamat lanjut aktivitas Tuhan selalu memberkati. Amin.
(Bp. Oktavianus – Nabire)
Respon 8
Benih firman mencapai tujuannya secara penuh ketika jatuh di tanah yang
baik (Mark. 4:20). Berbeda dengan ketiga tipe tanah yang lainnya, dikatakan
benih itu tumbuh dengan suburnya & berbuah (4:8). Tanah yang baik berbeda
karena ia tanah yang gembur, tidak berbatu-batu, tak didapati semak duri di
atasnya. Tanah itu sungguh siap menerima seutuhnya benih itu. Tanah yang baik
ialah kondisi hati yang Tuhan inginkan ada dalam setiap kita saat kita
mendengar kebenaran firman disampaikan secara pribadi kepada kita, suatu firman
yang hidup (rhema) dimana Roh Kudus sendiri yang mewahyukannya pada kita.
Seperti halnya tanah gembur yang tanpa halangan apa-apa merangkul &
menerima benih itu ditanam dalamnya, maka begitulah seharusnya kita saat
menerima perkataan-perkataan Tuhan: tanpa berbantah, tidak tawar menawar atau
berdalih, bukan 'ditampung' untuk ditimbang-timbang penerapannya sesuai keadaan
& kemampuan kita, juga tidak berlambat-lambat melakukannya. Mengapa Tuhan
mencari tanah hati yang baik? Karena dari sana benih itu akan tumbuh &
berbuah-buah hingga ratusan kali lipat. Hati yang terbuka sepenuhnya bagi
firman, yaitu untuk mendengar & melakukannya dengan segala kerelaan &
sukacita yang akan mendatangkan berkat bagi sekelilingnya. Itulah kehidupan
yang sukses dalam arti sebenar-benarnya -suatu kehidupan yang tidak hanya
memegahkan diri karena mengumpulkan hasil-hasil duniawi bagi diri sendiri &
keluarga melainkan yang berkelimpahan, berlipatganda dalam menyalurkan
kebaikan, kasih & kuasa Allah bagi dunia yang muram & hampa ini (Yoh.
15:4,7,8). Seperti hidup teladan agung kita, Yesus Kristus. Yesus berkata bahwa
manusia tidak hidup hanya karena makanan untuk jasmani saja melainkan dari
setiap firman yang diperkatakan Tuhan. Itu sebabnya, setiap hari hati kita
harus tersedia untuk menerima & melakukan setiap perintah-perintahNya yang
berarti sama dengan tetap terhubung dengan Kristus, pokok anggur itu. Tahun demi
tahun, kita akan berbuah & terus berbuah bagi kemuliaan Tuhan. Menjadi
“tanam-tanaman kesukaan” Tuhan & manusia. Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment