CULTURAL
KATA
PENGANTAR
Shalom! Saya berdoa biarlah damai
sejahtera Allah yang melimpah-limpah memenuhi hati Saudara/i sekalian, amin! Di
bulan ini kita masih akan banyak belajar mengenai Cultural, belajar
menjadi terang terutama di marketplace kita masing-masing.
Menjadi rohani bukan berarti menjadi
seseorang yang kaku, kita sebagai orang percaya yang dewasa di dalam Dia justru
hendaknya memiliki hati yang fleksibel. Kita bisa belajar banyak dari seorang
hamba Tuhan besar, yaitu Paulus.
Kita semua tahu background kehidupan
seorang Paulus. Ia seseorang yang kaku dan taat akan hukum Taurat, bahkan ia
hanya melihat dengan tatapan dingin tanpa rasa iba ketika Stevanus mati di
hadapannya. Namun, hati Saulus berubah ketika mengalami perjumpaan dengan
Kristus di perjalanan menuju ke Damsyik. Salah satu hal yang saya pelajari dari
hatinya yang berubah adalah ketika Rasul Paulus mengajarkan kepada jemaat
Korintus bagaimana menjangkau jiwa-jiwa. “Demikianlah bagi orang Yahudi aku
menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi
orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang
hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum
Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang di bawah hukum
Taurat... Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat
mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” (1 Korintus
9:20-22).
Mari kita meminta kepada Allah Bapa
supaya memiliki hati yang fleksibel/berhikmat dalam setiap situasi yang
berbeda-beda yang ada di sekitar kita. Saya percaya Bapa kita adalah Bapa di
sorga akan “memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak
membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya” (Yakobus 1:5).
Tuhan Yesus memberkati.
-- Kwee Siu Siang
No comments:
Post a Comment