Murid Kristus
Build My Home –
Eddy Leo
Di dalam seluruh
kitab perjanjian baru tecatat 269 kali kata “murid”, sedangkan kata “Kristen”
hanya tercatat 3 kali, dan itupun ditujukan kepada murid-murid Kristus.
Walaupun kata “murid” adalah kata yang begitu penting sehingga perlu
berulang-ulang ditulis, namun gereja sekarang telah banyak mengabaikannya.
Gereja sekarang lebih banyak merasa puas apabila anggota jemaatnya telah
menjadi pemeluk agama Kristen dan aktif beribadah serta menjadi pemanas bangku
ibadah.
Ada pula gereja
yang menawarkan berbagai “program pemuridan” seperti kelas-kelas,
seminar-seminar, kelompok-kelompok kecil pemuridan. Gereja yang demikian tentu
lebih baik dari gereja yang jemaatnya hanya beribadah pada hari Minggu. Namun
apabila diamati lebih seksama, ternyata program-program pemuridan yang demikian
sangat tidak efektif dalam menghasilkan perubahan hidup dan kepemimpinan. Oleh
sebab itu, apabila kita mengamati gereja dengan jujur, kita dapat melihat bahwa
kualitas karakter gereja tidak terlalu berbeda dengan karakter dunia ini.
Gereja rasanya masih jauh dari keserupaan dengan Kristus seperti pada gereja
mula-mula.
Mengapa gereja
masa kini seperti itu? Tentu banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut.
Namun, salah satu faktor penyebab yang utama adalah karena adanya kekeliruan
konsep pemuridan, dan juga karena metode pemuridan yang tidak efektif.
Pemuridan adalah
sebuah proses di mana seorang percaya dengan contoh hidup membiarkan Kristus
memakainya sebagai alat untuk melayani sejumlah orang tertentu dalam waktu
tertentu, dalam perjumpaan satu demi satu (one on one), untuk mencapai
keserupaan Kristus (potensi maksimalnya), demi tujuan pembangunan rumah Tuhan,
serta mereproduksi dirinya sampai generasi ketiga. Tuhan memerintahkan kepada
semua muridNya, bukan hanya kepada rasul-rasulNya saja, semua orang
percaya/orang kudus, dari pemimpin tertinggi sampai orang yang baru percaya
(Matius 28:19-20) untuk melakukan pemuridan.
Inti
pemuridan dapat disimpulkan dalam satu kata, yaitu menjadi “contoh” atau
“model”. Ada seorang anak kecil berusia 4 tahun, lari dari rumah karena
terancam disiksa oleh orang tuanya. Namun, ia tersesat di hutan, dan setelah
belasan tahun kemudian ia ditemukan telah hidup sama seperti monyet. Anak
tersebut bertingkah laku seperti monyet, tidak dapat berjalan tegak, dan tidak
dapat berbicara bahasa manusia.
Mengapa anak
tersebut tidak hidup normal seperti manusia-manusia lainnya, padahal ia adalah
manusia sejati? Penyebabnya adalah karena ia tidak terus-menerus melihat contoh
manusia normal lainnya, tetapi melihat contoh dari monyet-monyet yang
menerimanya di hutan.
Demikian pula
begitu pentingnya peranan contoh dalam menuntun orang lain untuk mencapai
potensi maksimalnya, yaitu keserupaan dengan Kristus. Jadi satu-satunya jalan
untuk belajar adalah melalui contoh atau model.
Kristus berkata,
“Jadikanlah sekalian bangsa muridKu..” (Matius 28:19). Dulu ketika Kristus datang
ke dunia sebagai manusia, Ia-lah yang menjadikan orang-orang menjadi muridNya
atau pengikutNya (Matius 4:19, Lukas 9:23-24). Setelah Ia mati, bangkit, dan
duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Ia tetap melakukan pemuridan. Ia tetap
menjadikan orang-orang muridNya, tetapi sekarang melalui tubuhNya, yaitu
murid-muridNya (Matius 28:19-20). Jadi pemuridan bukanlah menjadikan orang
murid kita, tetapi menjadikan orang murid Kristus.
Ada 2 hal ekstrim
dalam pemuridan:
a) Tidak
perlu peranan orang lain untuk menjadikan kita murid, karena kita langsung
murid Kristus. Ini prinsip yang salah. Kita perlu adanya model.
b) Menjadikan
orang lain berpusatkan diri kita, sehingga orang lain mengikuti kita, bukan
Kristus. Ini dapat mengarah kepada pembinaan yang bersifat kontrol manusia.
Seharusnya konsep
pemuridan yang benar adalah: “Kristus memakai anggota tubuhNya, untuk
menjadikan seseorang muridNya.” Jadi Kristuslah yang memuridkan, sedangkan
peranan si pembuat murid adalah sebagai anggota tubuh yang dipakai sebagai alat
untuk mengekspresikan Kristus. Jadi diperlukan seseorang untuk “menjadikan”
orang lain murid Kristus. Ingat! Satu-satunya cara Kristus membuat murid adalah
melalui seseorang yang terlebih dahulu dimuridkan.
Melayani
adalah sikap hati yang terutama, yang harus dimiliki oleh seorang pembuat murid.
Di dalam pemuridan tidak boleh terjadi kontrol, manipulasi, dominasi dari si
pembuat murid agar si murid mengikuti kemauan si pembuat murid dan bukan
kemauan Kristus. Seharusnya si pemurid adalah seorang pelayan atau hamba yang
siap melayani agar Kristus dapat berekspresi untuk menjadikan orang lain murid
Kristus (Markus 10:42-45). Apabila seorang pembuat murid tidak melayani dengan
hati hamba melainkan seperti orang yang memerintah (kontrol), maka yang
dimuridkan berhak menasihati si pembuat murid, bahkan dapat melaporkannya
kepada pembuat murid di atasnya. Hanya orang yang berhati hamba yang dapat
mengekspresikan Kristus, sedangkan orang yang berhati “bos/raja” hanya akan
mengekspresikan “diri sendiri/ego” (1 Petrus 5:1-6).
Murid Kristus
Build My Home –
Eddy Leo
Di dalam seluruh
kitab perjanjian baru tecatat 269 kali kata “murid”, sedangkan kata “Kristen”
hanya tercatat 3 kali, dan itupun ditujukan kepada murid-murid Kristus.
Walaupun kata “murid” adalah kata yang begitu penting sehingga perlu
berulang-ulang ditulis, namun gereja sekarang telah banyak mengabaikannya.
Gereja sekarang lebih banyak merasa puas apabila anggota jemaatnya telah
menjadi pemeluk agama Kristen dan aktif beribadah serta menjadi pemanas bangku
ibadah.
Ada pula gereja
yang menawarkan berbagai “program pemuridan” seperti kelas-kelas,
seminar-seminar, kelompok-kelompok kecil pemuridan. Gereja yang demikian tentu
lebih baik dari gereja yang jemaatnya hanya beribadah pada hari Minggu. Namun
apabila diamati lebih seksama, ternyata program-program pemuridan yang demikian
sangat tidak efektif dalam menghasilkan perubahan hidup dan kepemimpinan. Oleh
sebab itu, apabila kita mengamati gereja dengan jujur, kita dapat melihat bahwa
kualitas karakter gereja tidak terlalu berbeda dengan karakter dunia ini.
Gereja rasanya masih jauh dari keserupaan dengan Kristus seperti pada gereja
mula-mula.
Mengapa gereja
masa kini seperti itu? Tentu banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut.
Namun, salah satu faktor penyebab yang utama adalah karena adanya kekeliruan
konsep pemuridan, dan juga karena metode pemuridan yang tidak efektif.
Pemuridan adalah
sebuah proses di mana seorang percaya dengan contoh hidup membiarkan Kristus
memakainya sebagai alat untuk melayani sejumlah orang tertentu dalam waktu
tertentu, dalam perjumpaan satu demi satu (one on one), untuk mencapai
keserupaan Kristus (potensi maksimalnya), demi tujuan pembangunan rumah Tuhan,
serta mereproduksi dirinya sampai generasi ketiga. Tuhan memerintahkan kepada
semua muridNya, bukan hanya kepada rasul-rasulNya saja, semua orang
percaya/orang kudus, dari pemimpin tertinggi sampai orang yang baru percaya
(Matius 28:19-20) untuk melakukan pemuridan.
Inti
pemuridan dapat disimpulkan dalam satu kata, yaitu menjadi “contoh” atau
“model”. Ada seorang anak kecil berusia 4 tahun, lari dari rumah karena
terancam disiksa oleh orang tuanya. Namun, ia tersesat di hutan, dan setelah
belasan tahun kemudian ia ditemukan telah hidup sama seperti monyet. Anak
tersebut bertingkah laku seperti monyet, tidak dapat berjalan tegak, dan tidak
dapat berbicara bahasa manusia.
Mengapa anak
tersebut tidak hidup normal seperti manusia-manusia lainnya, padahal ia adalah
manusia sejati? Penyebabnya adalah karena ia tidak terus-menerus melihat contoh
manusia normal lainnya, tetapi melihat contoh dari monyet-monyet yang
menerimanya di hutan.
Demikian pula
begitu pentingnya peranan contoh dalam menuntun orang lain untuk mencapai
potensi maksimalnya, yaitu keserupaan dengan Kristus. Jadi satu-satunya jalan
untuk belajar adalah melalui contoh atau model.
Kristus berkata,
“Jadikanlah sekalian bangsa muridKu..” (Matius 28:19). Dulu ketika Kristus datang
ke dunia sebagai manusia, Ia-lah yang menjadikan orang-orang menjadi muridNya
atau pengikutNya (Matius 4:19, Lukas 9:23-24). Setelah Ia mati, bangkit, dan
duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Ia tetap melakukan pemuridan. Ia tetap
menjadikan orang-orang muridNya, tetapi sekarang melalui tubuhNya, yaitu
murid-muridNya (Matius 28:19-20). Jadi pemuridan bukanlah menjadikan orang
murid kita, tetapi menjadikan orang murid Kristus.
Ada 2 hal ekstrim
dalam pemuridan:
a) Tidak
perlu peranan orang lain untuk menjadikan kita murid, karena kita langsung
murid Kristus. Ini prinsip yang salah. Kita perlu adanya model.
b) Menjadikan
orang lain berpusatkan diri kita, sehingga orang lain mengikuti kita, bukan
Kristus. Ini dapat mengarah kepada pembinaan yang bersifat kontrol manusia.
Seharusnya konsep
pemuridan yang benar adalah: “Kristus memakai anggota tubuhNya, untuk
menjadikan seseorang muridNya.” Jadi Kristuslah yang memuridkan, sedangkan
peranan si pembuat murid adalah sebagai anggota tubuh yang dipakai sebagai alat
untuk mengekspresikan Kristus. Jadi diperlukan seseorang untuk “menjadikan”
orang lain murid Kristus. Ingat! Satu-satunya cara Kristus membuat murid adalah
melalui seseorang yang terlebih dahulu dimuridkan.
Melayani
adalah sikap hati yang terutama, yang harus dimiliki oleh seorang pembuat murid.
Di dalam pemuridan tidak boleh terjadi kontrol, manipulasi, dominasi dari si
pembuat murid agar si murid mengikuti kemauan si pembuat murid dan bukan
kemauan Kristus. Seharusnya si pemurid adalah seorang pelayan atau hamba yang
siap melayani agar Kristus dapat berekspresi untuk menjadikan orang lain murid
Kristus (Markus 10:42-45). Apabila seorang pembuat murid tidak melayani dengan
hati hamba melainkan seperti orang yang memerintah (kontrol), maka yang
dimuridkan berhak menasihati si pembuat murid, bahkan dapat melaporkannya
kepada pembuat murid di atasnya. Hanya orang yang berhati hamba yang dapat
mengekspresikan Kristus, sedangkan orang yang berhati “bos/raja” hanya akan
mengekspresikan “diri sendiri/ego” (1 Petrus 5:1-6).