CULTURAL
Pengkhotbah 10:18, “Oleh
karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah
rumah.” Dibutuhkan MOTIVASI yang kuat, KEMAUAN untuk terus belajar sesuatu
yang baru serta menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan POTENSI/KREATIVITAS yang
luar biasa kepada setiap kita. Jadilah anak-anak Tuhan yang rajin
mengembangkan kreativitas & berdampak positif bagi setiap marketplace
kita masing-masing. Karena itulah yang akan membangun budaya generasi
dibelakang kita. Amin.
Respon 1
Amsal 12:25,
“Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang...” Anxiety in the heart of man
causes depression... (GNCC)
Respon 2
Yos 21:45 – Dari
segala yang BAIK yang dijanjikan TUHAN kepada kita, tidak ada yang tidak dipenuhi,
semuanya TERPENUHI! YESUS pasti genapi janji-NYA. Pasti! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 3
Pengk 4:17, ‘Jagalah
langkahmu kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar
adalah lebih baik daripada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh
orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.’
Merupakan suatu kebodohan jika kita rajin ke gereja tetapi hidup tidak taat
kepada TUHAN, sebaliknya TUHAN ingin ketika kita ke rumah ibadah,
sungguh-sungguh membuka telinga dan hati kita untuk menerima memahami
FirmanNYA, untuk kita bisa hidup taat akan firmanNYA. Amin. Ybu. (Ibu Inggita –
PKS CL 4)
Respon 4
SAAT TEDUH. Kamis,
28 Mei 2015. Diberi Kuasa. Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh
dengan Roh Kudus (Kis. 13:9). Belasan anak muda digembleng untuk menjadi
relawan dalam memberitakan kabar baik. Dari para ahli dan hamba Tuhan, mereka
belajar berbagai pengetahuan menyangkut budaya, cara bergaul, dan sebagainya.
Tentu saja yang paling utama adalah pengajaran tentang Tuhan Yesus Kristus.
Mereka dimotivasi untuk bertekun di jalan Tuhan karena diri mereka harus
menjadi kesaksian yang hidup bagi orang-orang di sekitar mereka. Cukupkah
segala bekal tersebut? Tentu saja tidak! Pelatihan itu tak akan berarti jika mereka
tidak diperlengkapi dengan kuasa oleh Roh Kudus. Belajar dari pengalaman rasul
Paulus dan Barnabas kala memberitakan Injil Yesus Kristus, mereka juga berhasil
bukan semata-mata karena kekuatan dan kemampuan pribadi. Ada Roh Kudus yang
menyertai mereka. Roh Kudus yang membimbing dan memerintah, memberikan arahan
(ay. 4). Di Pulau Siprus, ketika Gubernur Sergius Paulus bermaksud mengikut
Yesus, ia dialang-alangi oleh sahabatnya, yaitu tukang sihir atau petenung yang
bernama Baryesus. Iblis rupanya tidak suka ada anak manusia bertobat. Namun,
Paulus, yang dipenuhi Roh Kudus, membuat penyihir itu buta. Akhirnya, gubernur
itu pun percaya kepada Yesus. Ketika kita menjadi anak Tuhan dan rindu membawa
sesama untuk percaya kepada-Nya, tetaplah mengandalkan Roh Kudus. Bekal apa pun
perlu untuk menunjang pelayanan, namun yang utama tetaplah peran Roh Kudus.
Biarlah kita terus menjadi pribadi yang rendah hati dan siap dipakai oleh-Nya.
Biarlah kuasa-Nya yang bekerja —TG. SEMUA ANAK TUHAN DIBERI KUASA UNTUK MEMBERITAKAN
KABAR BAIK-NYA. Puji Tuhan. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 5
Lidah dusta
termasuk dalam tujuh hal yang keji di hadapan Tuhan (Ams. 6:17). Keji berarti
jahat & menjijikkan di hadapan Tuhan; sesuatu yang sangat dibenci-Nya. Itu
sebabnya kita perlu memperhatikannya supaya kita tidak turut ambil bagian di
dalamnya. Yang dimaksud lidah dusta ialah segala sesuatu yang diucapkan yang
mengandung dusta atau kebohongan -sesuatu yang tidak berdasar kenyataan.
Diantara yang termasuk di dalamnya ialah kebiasaan-kebiasaan seperti
membesar-besarkan diri atau membual atau mengarang-ngarang cerita atau
pengalaman-pengalaman palsu untuk mengesankan orang lain. Begitu pula
puji-pujian yang berlebihan pada seseorang yang tidak berdasar fakta apalagi
disertai maksud-maksud memanfaatkan atau menjerumuskannya. Tidak terkecuali
rayuan-rayuan gombal demi memanipulasi lawan jenis & juga gosip-gosip yang
dibumbui sedemikian rupa hingga sangat menyesatkan. Mengapa ini keji di
pemandangan Tuhan? Karena sesungguhnya tidak ada seorangpun rela & senang
dibohongi -bahkan orang-orang yang suka berdusta itu sendiri! Kebohongan itu
menyakitkan; penipuan itu mengecewakan karena ternyata hanya kepalsuan, jauh
dari bayangan yang kita harapkan. Lebih-lebih berkata-kata dusta di hadapan
Sang Mahatahu. Itu sama dengan begitu semangatnya menceritakan kebohongan di
hadapan orang yang sudah tahu kita sedang berdusta. Memuakkan. Berdusta di
hadapan Tuhan berarti memandang rendah Dia dengan berpikir bahwa Dia yang
mustahil didustai dapat ditipu oleh manusia. Dia yang menilik pikiran &
hati setiap orang tahu benar betapa tega & jahatnya mereka yang menipu
& betapa terlukanya orang-orang yang dikelabui. Tidak mudah berbicara jujur
di dunia yang penuh kebohongan ini. Namun, tidak ada yang mustahil karena Dia
yang memerintahkan kita berkata 'ya' di atas 'ya' dan 'tidak' di atas 'tidak'
pasti akan memampukan kita berbicara jujur dengan cara-cara yang bijaksana.
Anak-anak Tuhan akan diakui & dikenal sebagai orang-orang yang perkataan-perkataannya
paling dapat dipercaya. Perkataan Anda yang tulus & jujur menyenangkan hati
Tuhan. Itulah cara menjadi berkat -bukan kutuk- bagi dunia. Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)
Respon 6
Kamis, 28 Mei 2015.
Bacaan: Yosua 18:1-10. Setahun: 2 Tawarikh 25-27. Nats: Sebab itu berkatalah
Yosua kepada orang Israel: "Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga
tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah
nenek moyangmu? (Yosua 18:3). MENOLAK MALAS. Seorang penganggur meminta nasihat
pada temannya. Dianjurkan berjualan siomai keliling, ia menolak dengan alasan
gengsi. Dianjurkan buka usaha jus, ia menolak dengan alasan untungnya kecil.
Dianjurkan jualan soto karena untungnya cukup besar, ia menolak dengan alasan
capek. Dianjurkan jadi guru les privat, ia menolak dengan alas an pemalu.
Temannya angkat tangan. Kenapa si penganggur menolak semua nasihat itu? Bukan
karena tidak mampu, melainkan karena malas. Orang malas menjadi beban bagi
orang lain. Kemalasan juga menjangkiti umat Israel saat mereka memasuki tanah
perjanjian. Sebagian suku sudah menerima bagian milik pusaka mereka, sedangkan
tujuh suku belum (ay. 2). Penyebabnya, mereka bermalas-malasan (ay. 3). Karena
itu Yosua mengumpulkan dan menegur mereka, meminta mereka mengajukan tiga orang
dari tiap suku untuk menjelajahi negeri itu dan mencatat keadaannya, lalu
kembali untuk melaporkan hasilnya (ay. 4). Ia tak ingin tujuh suku yang belum
mendapat bagian wilayah itu tak jelas nasibnya. Ia lalu melakukan pembagian
sisa tanah Kanaan di Silo (ay. 10). Yosua tak membiarkan umat Israel
bermalas-malasan, dan menyuruh mereka bertindak. Dalam setiap usaha pasti ada
risiko rugi, dan mau tidak mau kita perlu ulet dan mau bersusah payah. Tuhan
akan memampukan dan menguatkan kita menjalaninya. Jangan menunggu sesuatu
menjadi mudah lebih dahulu, namun bertindaklah. Masalah gagal atau rugi, itu
bisa diatasi sambil jalan dan menjadi bagian dari proses pembelajaran --Richard
Try. ORANG RAJIN PUNYA 1001 ALASAN UNTUK BERUSAHA, ORANG MALAS PUNYA 1001
ALASAN UNTUK TAK MELAKUKAN APA-APA. (Ibu Caroline – Bandung)

No comments:
Post a Comment