Thursday, 28 May 2015

28 Mei 2015



CULTURAL



Pengkhotbah 10:18, “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” Dibutuhkan MOTIVASI yang kuat, KEMAUAN untuk terus belajar sesuatu yang baru serta menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan POTENSI/KREATIVITAS yang luar biasa kepada setiap kita. Jadilah anak-anak Tuhan yang rajin mengembangkan kreativitas & berdampak positif bagi setiap marketplace kita masing-masing. Karena itulah yang akan membangun budaya generasi dibelakang kita. Amin.

Respon 1
Amsal 12:25, “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang...” Anxiety in the heart of man causes depression... (GNCC)

Respon 2
Yos 21:45 – Dari segala yang BAIK yang dijanjikan TUHAN kepada kita, tidak ada yang tidak dipenuhi, semuanya TERPENUHI! YESUS pasti genapi janji-NYA. Pasti! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 3
Pengk 4:17, ‘Jagalah langkahmu kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik daripada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.’ Merupakan suatu kebodohan jika kita rajin ke gereja tetapi hidup tidak taat kepada TUHAN, sebaliknya TUHAN ingin ketika kita ke rumah ibadah, sungguh-sungguh membuka telinga dan hati kita untuk menerima memahami FirmanNYA, untuk kita bisa hidup taat akan firmanNYA. Amin. Ybu. (Ibu Inggita – PKS CL 4)
Respon 4
SAAT TEDUH. Kamis, 28 Mei 2015. Diberi Kuasa. Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus (Kis. 13:9). Belasan anak muda digembleng untuk menjadi relawan dalam memberitakan kabar baik. Dari para ahli dan hamba Tuhan, mereka belajar berbagai pengetahuan menyangkut budaya, cara bergaul, dan sebagainya. Tentu saja yang paling utama adalah pengajaran tentang Tuhan Yesus Kristus. Mereka dimotivasi untuk bertekun di jalan Tuhan karena diri mereka harus menjadi kesaksian yang hidup bagi orang-orang di sekitar mereka. Cukupkah segala bekal tersebut? Tentu saja tidak! Pelatihan itu tak akan berarti jika mereka tidak diperlengkapi dengan kuasa oleh Roh Kudus. Belajar dari pengalaman rasul Paulus dan Barnabas kala memberitakan Injil Yesus Kristus, mereka juga berhasil bukan semata-mata karena kekuatan dan kemampuan pribadi. Ada Roh Kudus yang menyertai mereka. Roh Kudus yang membimbing dan memerintah, memberikan arahan (ay. 4). Di Pulau Siprus, ketika Gubernur Sergius Paulus bermaksud mengikut Yesus, ia dialang-alangi oleh sahabatnya, yaitu tukang sihir atau petenung yang bernama Baryesus. Iblis rupanya tidak suka ada anak manusia bertobat. Namun, Paulus, yang dipenuhi Roh Kudus, membuat penyihir itu buta. Akhirnya, gubernur itu pun percaya kepada Yesus. Ketika kita menjadi anak Tuhan dan rindu membawa sesama untuk percaya kepada-Nya, tetaplah mengandalkan Roh Kudus. Bekal apa pun perlu untuk menunjang pelayanan, namun yang utama tetaplah peran Roh Kudus. Biarlah kita terus menjadi pribadi yang rendah hati dan siap dipakai oleh-Nya. Biarlah kuasa-Nya yang bekerja —TG. SEMUA ANAK TUHAN DIBERI KUASA UNTUK MEMBERITAKAN KABAR BAIK-NYA. Puji Tuhan. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 5
Lidah dusta termasuk dalam tujuh hal yang keji di hadapan Tuhan (Ams. 6:17). Keji berarti jahat & menjijikkan di hadapan Tuhan; sesuatu yang sangat dibenci-Nya. Itu sebabnya kita perlu memperhatikannya supaya kita tidak turut ambil bagian di dalamnya. Yang dimaksud lidah dusta ialah segala sesuatu yang diucapkan yang mengandung dusta atau kebohongan -sesuatu yang tidak berdasar kenyataan. Diantara yang termasuk di dalamnya ialah kebiasaan-kebiasaan seperti membesar-besarkan diri atau membual atau mengarang-ngarang cerita atau pengalaman-pengalaman palsu untuk mengesankan orang lain. Begitu pula puji-pujian yang berlebihan pada seseorang yang tidak berdasar fakta apalagi disertai maksud-maksud memanfaatkan atau menjerumuskannya. Tidak terkecuali rayuan-rayuan gombal demi memanipulasi lawan jenis & juga gosip-gosip yang dibumbui sedemikian rupa hingga sangat menyesatkan. Mengapa ini keji di pemandangan Tuhan? Karena sesungguhnya tidak ada seorangpun rela & senang dibohongi -bahkan orang-orang yang suka berdusta itu sendiri! Kebohongan itu menyakitkan; penipuan itu mengecewakan karena ternyata hanya kepalsuan, jauh dari bayangan yang kita harapkan. Lebih-lebih berkata-kata dusta di hadapan Sang Mahatahu. Itu sama dengan begitu semangatnya menceritakan kebohongan di hadapan orang yang sudah tahu kita sedang berdusta. Memuakkan. Berdusta di hadapan Tuhan berarti memandang rendah Dia dengan berpikir bahwa Dia yang mustahil didustai dapat ditipu oleh manusia. Dia yang menilik pikiran & hati setiap orang tahu benar betapa tega & jahatnya mereka yang menipu & betapa terlukanya orang-orang yang dikelabui. Tidak mudah berbicara jujur di dunia yang penuh kebohongan ini. Namun, tidak ada yang mustahil karena Dia yang memerintahkan kita berkata 'ya' di atas 'ya' dan 'tidak' di atas 'tidak' pasti akan memampukan kita berbicara jujur dengan cara-cara yang bijaksana. Anak-anak Tuhan akan diakui & dikenal sebagai orang-orang yang perkataan-perkataannya paling dapat dipercaya. Perkataan Anda yang tulus & jujur menyenangkan hati Tuhan. Itulah cara menjadi berkat -bukan kutuk- bagi dunia. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 6
Kamis, 28 Mei 2015. Bacaan: Yosua 18:1-10. Setahun: 2 Tawarikh 25-27. Nats: Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: "Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu? (Yosua 18:3). MENOLAK MALAS. Seorang penganggur meminta nasihat pada temannya. Dianjurkan berjualan siomai keliling, ia menolak dengan alasan gengsi. Dianjurkan buka usaha jus, ia menolak dengan alasan untungnya kecil. Dianjurkan jualan soto karena untungnya cukup besar, ia menolak dengan alasan capek. Dianjurkan jadi guru les privat, ia menolak dengan alas an pemalu. Temannya angkat tangan. Kenapa si penganggur menolak semua nasihat itu? Bukan karena tidak mampu, melainkan karena malas. Orang malas menjadi beban bagi orang lain. Kemalasan juga menjangkiti umat Israel saat mereka memasuki tanah perjanjian. Sebagian suku sudah menerima bagian milik pusaka mereka, sedangkan tujuh suku belum (ay. 2). Penyebabnya, mereka bermalas-malasan (ay. 3). Karena itu Yosua mengumpulkan dan menegur mereka, meminta mereka mengajukan tiga orang dari tiap suku untuk menjelajahi negeri itu dan mencatat keadaannya, lalu kembali untuk melaporkan hasilnya (ay. 4). Ia tak ingin tujuh suku yang belum mendapat bagian wilayah itu tak jelas nasibnya. Ia lalu melakukan pembagian sisa tanah Kanaan di Silo (ay. 10). Yosua tak membiarkan umat Israel bermalas-malasan, dan menyuruh mereka bertindak. Dalam setiap usaha pasti ada risiko rugi, dan mau tidak mau kita perlu ulet dan mau bersusah payah. Tuhan akan memampukan dan menguatkan kita menjalaninya. Jangan menunggu sesuatu menjadi mudah lebih dahulu, namun bertindaklah. Masalah gagal atau rugi, itu bisa diatasi sambil jalan dan menjadi bagian dari proses pembelajaran --Richard Try. ORANG RAJIN PUNYA 1001 ALASAN UNTUK BERUSAHA, ORANG MALAS PUNYA 1001 ALASAN UNTUK TAK MELAKUKAN APA-APA. (Ibu Caroline – Bandung)

No comments:

Post a Comment