Sunday, 3 May 2015

3 Mei 2015



CULTURAL



Baca: Kejadian 2:19-20. Sejak awal Tuhan sudah memberi MANDAT kepada manusia untuk bekerja & berkarya lewat menamai segala makhuk ciptaanNya (Kejadian 2:19-20). Itu artinya Tuhan ingin agar hidup kita maksimal melalui pekerjaan & karya-karya kita. Sudahkah kita MAKSIMAL dalam setiap apa yang kita kerjakan? J. Bekerja atau berkaryalah bagi kemuliaan namaNya J. Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatanlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu, 3 Mei 2015. Gunung yang Salah? Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: ‘Apakah kerjamu di sini, hai Elia?’ (1 Raja-raja 19:9). Berbagai perubahan yang berlangsung di dunia ini tidak jarang mengancam kehidupan kita. Gelombang PHK, inflasi, dan kegentingan situasi sosial-politik tidak pernah membuat kita merasa benar-benar aman. Secara naluriah, manusia akan mencari tempat perlindungan yang dikiranya kebal ancaman. Elia pernah lari. Terancam jiwanya, pekerjaan impiannya hancur lebur di depan mata, dan visi hidupnya terasa sia-sia. Ia bahkan meminta Tuhan mencabut saja nyawanya (ay. 4). Elia mencari tempat sembunyi yang aman. Manusiawi. Kita pun kerap buru-buru menambah frekuensi dan intensitas doa saat situasi memburuk; membayangkan tangan Tuhan yang Mahakuasa mengambil dan menyembunyikan kita ke tempat yang tak terjangkau oleh segala persoalan. Elia pun pergi ke Gunung Horeb. Namun, di sana Tuhan justru bertanya, ‘Apakah kerjamu di sini, hai Elia?’ (ay. 9, 13). Mirip seperti kita, Elia lantas membeberkan kesulitan dan ketidakberdayaannya (ay. 10, 14). Akan tetapi, Tuhan berfirman bahwa pekerjaan kita tidak bisa dilakukan di 'tempat persembunyian' (ay. 15-18). Kita harus keluar dan menjadi bagian dari perubahan tersebut, bukan untuk kalah dan terpinggirkan, tetapi untuk bertumpu pada landasan sejati. Perubahan adalah salah satu cara Tuhan mengungkapkan cinta-Nya agar kita menepis rasa aman yang palsu dan memperbarui landasan tempat kita bertumpu di tengah perubahan, bukannya berlari sambil merengek. Tuhan pun dengan cara-Nya yang ajaib tidak pernah meninggalkan Elia-dan kita —EMA. KETIMBANG SEMBUNYI, AJAK TUHAN BERJALAN BERSAMA KITA. Selamat pagi. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
“Janji adalah ikatan suci.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
Bagi yang telah merasakan sendiri kuasa Tuhan menjamah hidupnya akan mengaku seperti para pemazmur bani Korah: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (Maz. 46:2). Dengan kata lain, Allah kita diakui sebagai yang “sangat dapat diandalkan, amat terpercaya & lebih dari cukup pertolongan-Nya pada masa-masa kesesakan.” Kegoncangan alam (yaitu tanah yang bergeser, gunung yang pindah tenggelam ke dasar laut, gelombang laut yang menggelora & gempa bumi yang membuat gunung-gunung bergetar) dalam ayat 3-4 Mazmur 46 sesungguhnya menggambarkan suatu kegoncangan yang paling dahsyat di dunia sebab alam dipahami sebagai sesuatu yang jarang mengalami situasi yang ekstrem. Jika persoalan-persoalan atau tantangan & hidup yang kita hadapi setiap hari telah terasa demikian menekan betapa ngerinya membayangkan dasar-dasar bumi & laut bangkit menelan kita! Namun begitu “...kita tidak takut...” kata pemazmur. Sebab apa? Sebab perlindungan & kekuatan kita ada pada Tuhan yang mencipta & mengendalikan itu semua. Jika darat, laut, gunung, angin, bahkan matahari ada dalam kuasa-Nya, apakah lagi yang kita takutkan menghadapi perubahan-perubahan kehidupan (harga kebutuhan & biaya hidup yang tinggi misalnya)? Jika bencana alam sekalipun semestinya tak membuat kita gentar, masakan kita putus asa jika satu atau dua masalah besar menimpa hidup kita? Dan meski akhirnya dunia tempat kita berada ini runtuh & lenyap, kita yang percaya ada tempat baru nan permai di sorga, masihkah kita akan bimbang menatap tahun-tahun di depan yang harus kita lalui? Jika kita sungguh-sungguh berjalan bersama Dia, kita tidak takut menghadapi apapun jua. Permasalahan, pergumulan, kematian sekalipun. Buktikanlah. Alamilah. Nanti-nantikanlah Dia. Saat Anda mendengar suara-Nya: “Diamlah & ketahuilah, Akulah Allah!” (Maz 46:11) maka “dalam tinggal tenang & percaya terletak kekuatan Anda” (Yes. 30:15). Biarlah setiap kesesakan Anda menjadi kesempatan membuktikan kebesaran kuasa-Nya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)



No comments:

Post a Comment