CULTURAL
Baca: Kejadian
2:19-20. Sejak awal Tuhan sudah memberi MANDAT kepada manusia untuk
bekerja & berkarya lewat menamai segala makhuk ciptaanNya (Kejadian
2:19-20). Itu artinya Tuhan ingin agar hidup kita maksimal melalui
pekerjaan & karya-karya kita. Sudahkah kita MAKSIMAL dalam setiap apa yang
kita kerjakan? J. Bekerja atau berkaryalah bagi
kemuliaan namaNya J. Kolose 3:23, “Apapun juga yang
kamu perbuat, perbuatanlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan
untuk manusia.”
Respon 1
SAAT TEDUH. Minggu, 3 Mei 2015. Gunung yang Salah? Di sana masuklah ia
ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya,
demikian: ‘Apakah kerjamu di sini, hai Elia?’ (1 Raja-raja 19:9). Berbagai
perubahan yang berlangsung di dunia ini tidak jarang mengancam kehidupan kita.
Gelombang PHK, inflasi, dan kegentingan situasi sosial-politik tidak pernah
membuat kita merasa benar-benar aman. Secara naluriah, manusia akan mencari
tempat perlindungan yang dikiranya kebal ancaman. Elia pernah lari. Terancam
jiwanya, pekerjaan impiannya hancur lebur di depan mata, dan visi hidupnya
terasa sia-sia. Ia bahkan meminta Tuhan mencabut saja nyawanya (ay. 4). Elia
mencari tempat sembunyi yang aman. Manusiawi. Kita pun kerap buru-buru menambah
frekuensi dan intensitas doa saat situasi memburuk; membayangkan tangan Tuhan
yang Mahakuasa mengambil dan menyembunyikan kita ke tempat yang tak terjangkau
oleh segala persoalan. Elia pun pergi ke Gunung Horeb. Namun, di sana Tuhan
justru bertanya, ‘Apakah kerjamu di sini, hai Elia?’ (ay. 9, 13). Mirip seperti
kita, Elia lantas membeberkan kesulitan dan ketidakberdayaannya (ay. 10, 14).
Akan tetapi, Tuhan berfirman bahwa pekerjaan kita tidak bisa dilakukan di
'tempat persembunyian' (ay. 15-18). Kita harus keluar dan menjadi bagian dari
perubahan tersebut, bukan untuk kalah dan terpinggirkan, tetapi untuk bertumpu
pada landasan sejati. Perubahan adalah salah satu cara Tuhan mengungkapkan
cinta-Nya agar kita menepis rasa aman yang palsu dan memperbarui landasan
tempat kita bertumpu di tengah perubahan, bukannya berlari sambil merengek.
Tuhan pun dengan cara-Nya yang ajaib tidak pernah meninggalkan Elia-dan kita
—EMA. KETIMBANG SEMBUNYI, AJAK TUHAN BERJALAN BERSAMA KITA. Selamat pagi.
Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 2
“Janji adalah ikatan suci.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
Bagi yang telah merasakan sendiri kuasa Tuhan menjamah hidupnya akan
mengaku seperti para pemazmur bani Korah: “Allah itu bagi kita tempat
perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti”
(Maz. 46:2). Dengan kata lain, Allah kita diakui sebagai yang “sangat dapat
diandalkan, amat terpercaya & lebih dari cukup pertolongan-Nya pada
masa-masa kesesakan.” Kegoncangan alam (yaitu tanah yang bergeser, gunung yang
pindah tenggelam ke dasar laut, gelombang laut yang menggelora & gempa bumi
yang membuat gunung-gunung bergetar) dalam ayat 3-4 Mazmur 46 sesungguhnya
menggambarkan suatu kegoncangan yang paling dahsyat di dunia sebab alam
dipahami sebagai sesuatu yang jarang mengalami situasi yang ekstrem. Jika
persoalan-persoalan atau tantangan & hidup yang kita hadapi setiap hari
telah terasa demikian menekan betapa ngerinya membayangkan dasar-dasar bumi
& laut bangkit menelan kita! Namun begitu “...kita tidak takut...” kata
pemazmur. Sebab apa? Sebab perlindungan & kekuatan kita ada pada Tuhan yang
mencipta & mengendalikan itu semua. Jika darat, laut, gunung, angin, bahkan
matahari ada dalam kuasa-Nya, apakah lagi yang kita takutkan menghadapi
perubahan-perubahan kehidupan (harga kebutuhan & biaya hidup yang tinggi
misalnya)? Jika bencana alam sekalipun semestinya tak membuat kita gentar,
masakan kita putus asa jika satu atau dua masalah besar menimpa hidup kita? Dan
meski akhirnya dunia tempat kita berada ini runtuh & lenyap, kita yang
percaya ada tempat baru nan permai di sorga, masihkah kita akan bimbang menatap
tahun-tahun di depan yang harus kita lalui? Jika kita sungguh-sungguh berjalan
bersama Dia, kita tidak takut menghadapi apapun jua. Permasalahan, pergumulan,
kematian sekalipun. Buktikanlah. Alamilah. Nanti-nantikanlah Dia. Saat Anda
mendengar suara-Nya: “Diamlah & ketahuilah, Akulah Allah!” (Maz 46:11) maka
“dalam tinggal tenang & percaya terletak kekuatan Anda” (Yes. 30:15).
Biarlah setiap kesesakan Anda menjadi kesempatan membuktikan kebesaran
kuasa-Nya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment