CULTURAL
Respon 1
“It's not important
how long we live. The most important one is how deep our love to Jesus and how
large our positive influence to others.” Xavier Quentin Pranata. “Yang
terpenting bukan seberapa panjang hidup kita di muka bumi, tetapi seberapa
dalam cinta kita kepada Tuhan Yesus dan seberapa luas pengaruh positif kita
terhadap sesama.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Minggu,
24 Mei 2015. Sabun Mandi. Aku mengucap syukur kepada Allahku karena
persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini
(Filipi 1:5). Bersama para pendeta pendahulu di jemaat itu, saya mengalami
kebaikan hati Ibu Hana (bukan nama sebenarnya). Usianya lanjut. Berpembawaan
tenang. Wajahnya teduh. Tak banyak bicara, tapi murah senyum. Ia bukan aktivis
yang banyak tampil. Tapi ada satu hal 'sederhana' yang selalu ia lakukan dengan
setia. Mungkin bagi orang lain bukan apa-apa, namun bagi kami yang mengalami,
sikap penuh kasih itu terasa hangat dan menyentuh. Secara tetap ia berbagi
berkat berupa sabun mandi kegemarannya. Paulus, penginjil besar. Tampil di
depan layar, berkeliling dengan rute perjalanan yang terbilang fantastis kala
itu. Tetapi, ia tak pernah merasa berkarya sendirian. Surat Filipi menyingkap
pengakuannya akan pihak-pihak yang berperan di belakang layar. Peran
Epafroditus (2:25). Peran Euodia dan Sintikhe serta Klemens dan kawan-kawan
sekerja lain (4:2-3). Bahkan peran setiap anggota jemaat Filipi yang
keterlibatan mereka dengan berita Injil nyata dan berharga (ay. 5, 7). Termasuk
di dalamnya: pribadi-pribadi yang tak mampu pergi sendiri. Perhatian, doa,
dukungan dana mereka merupakan sumbangsih yang berarti. Mereka pun ikut
menginjil. Ibu Hana bukan penginjil atau pendeta. Aktivis jemaat pun bukan.
Namun, dalam orkestrasi pelayanan injil ia punya bagiannya sendiri. Sama
seperti banyak orang Kristen lain. Menyediakan kamar. Mencuci piring. Menanak
nasi. Mengetik surat. Menjemput di stasiun. Dan masih banyak lagi. Sesederhana
apa pun bagian Anda, lakukan itu dengan ikhlas, sukacita, dan setia —PAD.
PEKABARAN INJIL ADALAH KARYA BERSAMA YANG MELIBATKAN BANYAK PERAN, TERMASUK
PEMERAN-PEMERAN DI BELAKANG LAYAR. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat
melayani. Kasih Tuhan Yesus melimpah hari ini. (Madam Ossy)
Respon 3
SELAMAT PAGI. S =
Sebelum; E = Engkau; L = Lakukan segala; A = Aktifitasmu; M = Mintalah pada; A
= Allah untuk; T = Turut bersamamu. KARENA, P = Pada Dia; A = Ada kekuatan; G =
Gairah serta suka cita yang; I = Indah dan luar biasa. (Bp. Sutikno)
Respon 4
Semuanya itu kita
lebih dari pada orang-orang yang MENANG, oleh DIA yang telah mengasihi kita!
Kita LEBIH DARI PEMENANG. Sip. Pasti menang, menang dan menang. Selamat ibadah
dan pelayanan! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 5
Di zaman modern
dimana mesin menjadi sesuatu yang vital bagi manusia, ada yang mengajarkan
berhubungan dengan Tuhan serupa dengan menggunakan mesin: ikuti petunjuk
penggunaannya, pastikan prosedurnya benar maka Anda akan mendapatkan hasilnya.
Hal ini tampaknya diterapkan pada Bapa yang dipandang sebagai sumber berkat.
Dengan datang ke gereja, memberikan persembahan & perpuluhan, menaikkan
puji-pujian & doa maka berkat-berkat jasmani diklaim akan mengalir &
kelimpahan materi pun datanglah. Itulah salah satu delusi (khayalan rekaan
sendiri) rohani. Dengan jelas, Kitab Suci mengatakan Dia Tuhan yang melihat
tidak seperti manusia melihat. Dia melihat hati (1 Sam. 16:7). Bahkan doa-doa
kita pun tidak akan didengar-Nya jika ada maksud-maksud jahat & egois dalam
hati kita! (Maz. 66:18; Yak. 4:3) Sebagai contoh, ada ajaran yang menekankan
bahwa kunci berkat-berkat jasmani dicurahkan dalam hidup kita ialah dengan
memberikan persembahan perpuluhan dengan setia. Ini memang diungkapkan dalam
Maleakhi 3:10, karena memang Tuhan berjanji memelihara hidup umat-Nya yang mau
taat pada ketetapan-ketetapanNya -walau terkadang sulit diterima akal sehat.
Masalahnya kemudian, ini menjadi suatu formula rohani: ingin limpah berkat
jasmani, berikan perpuluhan & persembahan keuangan terbaik (baca:
terbesar). Motif utama ialah lebih banyak berkat materi yang tidak lain berakar
dari ketamakan. Tuhan ingin kita tahu bahwa hukum perpuluhan diberikan sebagai
dukungan penuh kepada salah satu suku yang tidak mendapatkan warisan harta
duniawi atau diijinkan mencari mata pencarian dengan bekerja sehari-hari, yang
dipanggil & ditetapkan semata-mata melayani sepenuh waktu di hadapan Tuhan,
yang hari ini dinyatakan dalam sosok pelayan-pelayan Tuhan yang meninggalkan
pekerjaan sekuler untuk melayani penuh waktu (Mal. 3:10b). Perpuluhan
pertama-tama bukan untuk keuntungan & menyamankan tempat-tempat ibadah
kita. Tapi supaya Kerajaan Sorga diperluas. Jiwa-jiwa dimuridkan jadi milik
Kristus. Dari motif demikianlah, janji kelimpahan akan digenapkan. Salam
revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment