Monday, 25 May 2015

25 Mei 2015



CULTURAL


1 Tesalonika 5:17, “TETAPLAH BERDOA!” Apakah DOA masih menjadi penuntun hidup kita ataukah justru menjadi pilihan terakhir ketika ada kesulitan? Atau berDOA hanya pada saat kita telah putus asa? Tuhan memang ingin kita datang DI SAAT SAAT kita MEMBUTUHKAN PERTOLONGAN, tetapi DIA juga ingin kita INGAT bahwa kita MEMERLUKAN-Nya SETIAP SAAT & Tuhan selalu dapat diakses KAPAN SAJA kita MEMBUTUHKAN-Nya. Amin J

Respon 1
Senin, 25 Mei 2015. Bacaan: Lukas 19:1-10. Setahun: 2 Tawarikh 14-17. Nats: Tuhan, lihatlah, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat (Lukas 19:8). PERLU DIBERI ANGKA. Pak Janji Kosong berdoa, “Tuhan, kupersembahkan hidupku kepadamu.” Bu Gita Sumbang bernyanyi, “... pakailah aku jadi alat-Mu.” Mas Bualan Saja suka berucap, “Orang melayani yang penting 'kan hatinya...” Semuanya indah terdengar dan benar. Tak ada yang salah. Tetapi, ketika kita bertanya wujudnya, acap kali masih abstrak. Malah kemungkinan tidak ada sama sekali. Kenapa? Cerita Zakheus tidak asing bagi kita. Terutama pertobatannya yang mengesankan. Namun cermatilah baik-baik. Ada perbedaan besar antara ucapan Zakheus dan perkataan banyak orang Kristen lazimnya. Di manakah perbedaan itu? Ia berani mengutarakan sesuatu yang konkrit. Frasa “setengah dari milikku” dan “empat kali lipat” sungguh penting dan menentukan realisasi ucapannya. Ia berani mengikat dirinya dengan angka yang terukur sehingga janjinya tidak menjadi abstrak, kosong tak berwujud. Sebaliknya, konkrit dan terukur. Zakheus mengajari kita apa artinya berkomitmen. Bagaimana kita? Sudah terukurkah doa dan ucapan janji kita? Berapa menit kita luangkan waktu dalam sehari untuk berdoa? Berapa pasal Alkitab kita baca dalam sehari? Berapa kali dalam sebulan kita bergabung dalam persekutuan? Berapa jumlah persembahan syukur bulanan yang kita sisihkan bagi Tuhan? Jam berapa kita menetapkan untuk tiba sebelum ibadah mulai? Dengan angka semuanya jadi lebih menantang dan mengikat. Tetapi, sekaligus melahirkan perbedaan. Tetapkan sebuah angka pada komitmen Anda dan tepatilah. Lalu lihatlah bedanya! --Pipi Dhali. TUHAN TIDAK TERKESAN PADA UCAPAN INDAH NAMUN HAMPA. DIA MENCARI KOMITMEN YANG DIBUKTIKAN NYATA. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 2
Maz 34:4 – aku telah mencari TUHAN, lalu IA menjawab aku dan melepaskan aku dari segala kegentaranku! Wooww luar biasa YESUSku. Ayoo hidup bersama-NYA. Ciamikk puolll! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 3
“Saat merasa tidak punya apa-apa, kita sebenarnya masih punya Bapa yang punya segalanya.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
SAAT TEDUH. Senin, 25 Mei 2015. Sedia Payung. Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit (Nehemia 2:4). Diserbu musim kering dahsyat, tiga petani sepakat untuk berdoa memohon hujan. Setiap hari mereka berlutut di sawah. Kekeringan tetap merajalela. Mereka pun tetap berdoa. Suatu hari seorang asing bertanya pada mereka, dan menggelengkan kepala ketika mendengar jawaban mereka. Ketiga petani meyakinkan si orang asing akan keseriusan doa itu. Karena ia masih saja menggelengkan kepala, para petani itu tersinggung dan bertanya, “Coba kalau kamu jadi kami, apa yang akan kau lakukan?” Jawabnya, “Aku akan berdoa dan membawa payung--siap-siap menyambut hujan.” Nehemia seorang pendoa yang serius. Memoarnya dibuka dengan kisah bagaimana ia dengan serius berdoa untuk bangsanya (psl. 1), seperti yang dikatakannya tatkala raja Artahsasta bertanya kepadanya (ay. 4). Tetapi, ia bukan hanya berdoa meratapi nasib bangsanya. Ia juga menyusun rencana untuk berkunjung ke Yerusalem demi membangun kembali tembok-temboknya yang sudah runtuh (ay. 5). Langkah pertamanya adalah meminta restu sekaligus surat jalan dari raja (ay. 7-8). Ia berdoa dengan iman dan melakukan langkah-langkah iman. Lazimnya kita berdoa supaya terjadi perubahan. Namun, sudahkah kita sungguh siap jika hal itu benar-benar terjadi? Kita berdoa minta tubuh sehat. Siapkah kita untuk hidup sehat: mengonsumsi makanan sehat dan berpikir serta beraktivitas sehat? Kita minta sukses. Sudahkah kita punya etos kerja yang tinggi, bekerja keras, bijaksana membagi waktu layaknya orang-orang sukses? Jika hujan yang kita minta, siapkanlah payungnya!—PAD. BERDOA BUKAN SEKEDAR UCAPAN, PERLU KESIAPAN MENYAMBUT PERUBAHAN YANG DINANTIKAN. Sugeng enjing. Berkah Dalem Gusti. (Madam Ossy)

Respon 5
Mengabaikan firman Tuhan itu sama dengan: 1) tidak peduli dengan firman Tuhan; 2) mendengar firman tetapi melupakannya; 3) mengetahui firman tapi menunda-nunda penerapannya, atau; 4) memahami kebenaran namun menolak hidup di dalamnya. Ini berlaku untuk setiap firman tertulis atau nasihat Tuhan yang Roh Kudus sampaikan kepada kita secara pribadi. Beberapa orang meremehkan pesan firman Tuhan dengan berpikir & berkata, “Sepertinya biasa-biasa & tidak ada apa-apa meski aku tidak mempraktekkan firman!” Bisa jadi kita berjalan terus & merasa aman tanpa memperhatikan petunjuk-petunjukNya. Jika Anda termasuk yang merasa demikian, berhati-hatilah. Kini mungkin Anda masih dalam zona kasih karunia Tuhan, sedangkan tanpa disadari Anda perlahan-lahan bergeser ke garis batas & kurang selangkah masuk dalam zona keadilan-Nya. Amsal 1:24-26 mengatakan bahwa Sang Hikmat akan menertawakan & berolok-olok atas setiap orang yang menolak nasihat tegurannya. Ini sejajar dengan Tuhan mengolok-olok kesombongan manusia-manusia yang bodoh hendak menentang Dia & meremehkan hukum-hukumNya (Maz. 2:4; 37:13; 59:9). Maksudnya di sini ialah akan ada waktunya kasih karunia Tuhan dihentikan & digantikan suatu sikap yang keras yang akan memberikan hajaran kepada orang-orang yang sebelumnya mengolok-olok Dia & firman-Nya. Meskipun Dia Allah yang penuh kasih & sayang senantiasa namun ganjaran yang setimpal juga akan Dia jatuhkan kepada orang-orang yang tidak takut akan Dia & bermaksud mempermainkan kasih karunia-Nya. Tuhan mencari ketulusan, kesungguhan, kesetiaan & kerelaan yang besar supaya kita memperhatikan arahan-arahanNya & tidak mengikuti jalan pikiran kita sendiri sambil mengharap Tuhan memberkati setiap ambisi & keinginan kita yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. DIA Allah yang agung. Kita harus takut & menghormati Dia. Perkataan-perkataanNya harus menjadi 'perintah' bagi hidup kita. Biarlah kita memiliki hati seperti Daud, “Aku datang ya Tuhan untuk melakukan kehendak-Mu sebab firman-Mu ada dalam dadaku” (Maz 40:9). Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment