Wednesday, 31 May 2017

Kemarahan yang Dikuduskan - (D)ANGER #4

(D)ANGER






Kemarahan yang Dikuduskan
(D)ANGER Part 4
Alfa Omega Church Sunday Service
Preacher: Ps. Elijah Soetopo
May 28th 2016


INTRO:
Minggu 1 – Kemarahan Tiba-Tiba dan kita belajar: itu perlu dikendalikan.
Minggu 2 – Kemarahan yang Berdosa: perlu disingkirkan.
Minggu 3 – Kemarahan yang Membandel: perlu belajar naik lebih tinggi, berkata baik, kenakanlah kasih.

Mungkin sebagian Anda bertanya, kenapa kita memiliki potensial marah dalam hidup ini kalau bentuk marah-marah kemarin kita bahas ternyata semuanya perlu: entah dikendalikan, dibuang, dilihat lebih kecil, dll? Kenapa ada potensial kemarahan dalam hidup kita? Karena ada bentuk kemarahan berikutnya yang akan kita bahas yang perlu justru untuk DIPELIHARA.

Bagian yang terakhir – Kemarahan yang DIKUDUSKAN.
Kemarahan yang benar perlu DIPELIHARA dan DISALURKAN.

BODY
Kemarahan yang dikuduskan, kemarahan ini harus diarahkan pada tujuan dan arah kepada Tuhan.

A.      Kemarahan Kudus Yesus
Markus 3:1-5
Jika Anda perhatikan, fokus dari kemarahan Yesus adalah hati orang-orang itu. Yesus jadi marah karena kekerasan hati mereka dan kemarahan yang membandel pada orang-orang itu. Matahari sudah turun. Matahari sudah naik lagi. Iblis sudah menanamkan jejak dalam hidup orang-orang itu. Dan Yesus jadi marah karena kemarahan yang membandel dalam hati orang-orang tersebut.

B.      Kemarahan yang Dikuduskan adalah Hal yang Anda dan Saya Butuhkan, Kita Butuhkan Sebagai Gereja
Contoh: Cerita “ONE DAY WITH GOD”. Kemarahan yang benar perlu DIPELIHARA dan DISALURKAN. Contoh: Cerita Blake Mycoskie. Apa satu aspek dari kehidupan dari dunia yang tidak beres ini, di mana Anda sedang melihatnya, menyentuhnya, mendekatinya, Anda itu seperti ingin membereskan?

Kemarahan yang benar perlu DIPELIHARAN dan DISALURKAN.

Jadi marahlah tapi jangan berdosa. Jangan biarkan matahari terbenam dengan amarahmu. Jangan ijinkan Iblis letakkan jejak kakinya dalam hidupmu. Tapi arahkan kemarahan itu sehingga ambil bagian untuk menyelesaikan kemenangan untuk Yesus.

APA YANG DAPAT KITA LAKUKAN?
1)      Miliki hati yang MEMBANGUN, bukan menghancurkan
Kalau kemarahan muncul, pikirkan kemarahan ini akan membangun kehidupan Anda dan sekitar Anda atau justru menghancurkan?

2)      RENUNGKAN kemarahan apa yang ADA dalam diri kita?
Coba kita pikirkan lagi, apa hal yang membara yang membangun dalam hidup kita? Mungkin selama ini belum disalurkan. Kita diamkan, kita perlu bangkitkan, pikirkan, tuliskan.

3)      BERI kesempatan buat kemarahan KUDUS itu DISALURKAN
Tahukah Anda, ada beberapa tipe orang yang duduk di sini: punya kemarahan tapi didiamkan atau Anda belum memiliki kemarahan.

Apa yang dapat Anda lakukan?
Doa minta sama Tuhan, apa kemarahan yang Tuhan titipkan dalam hidup kita? Dan kalau sudah ada, bangkit, bergerak, doa minta kepada Tuhan kesempatan untuk menyalurkannya.

Kemarahan yang benar perlu DIPELIHARA dan DISALURKAN.

CONCLUSION:
Jika Anda bergerak dalam hidup ini menyalurkan kemarahan yang “dikuduskan” ini, hidup Anda akan jadi berguna bagi banyak orang.
Anda mungkin tidak akan punya waktu untuk kemarahan yang menghancurkan. Karena Anda cukup sibuk untuk melakukan kemarahan yang membangun yang dikuduskan ini.

Kemarahan yang Membandel - (D)ANGER #3

(D)ANGER






Kemarahan yang Membandel
(D)ANGER Part 3
Alfa Omega Church Sunday Service
Preacher: Ps. Elisha Soetopo
May 21st 2017


Pernah marah sama orang, jengkel sampai kepikiran beberapa hari? Nggak hanya itu, mungkin sampai beberapa bulan, masih ingat kesalahannya. Ini disebut Kemarahan yang Membandel – yang akan kita bahas hari ini.

Apa sih Kemarahan yang Membandel itu? Ciri-ciri:
1.       Sudah lebih dari 1-2 hari, kita masih jengkel.
2.       Tiap kali dibahas, hati masih panas atau masih terganggu, masih jengkel.
3.       Disadari atau tidak mengganggu kehidupan kita.
4.       Lihat orangnya, langsung ingat “kesalahannya” atau situasi yang pernah terjadi itu.
5.       Perasaan “awas ya, lihat saja suatu hari…”, dst.

Efesus 4:26
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.”

Kalimat “janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu” ini adalah majas atau ungkapan yang terkenal di zaman itu. Dikaitkan dengan kebiasaan orang Pythagorean (salah satu kelompok orang GREECE/YUNANI) – tradisi mereka adalah kalau ada perdebatan dan perbedaan di antara mereka, apapun yang terjadi, apapun situasinya, mereka harus sudah salaman saat matahari terbenam.

Nah, hubungannya dengan kita hari ini… Seperti Paulus menulis untuk gereja di Efesus zaman itu, Paulus juga menulis untuk gereja dan orang zaman sekarang. “Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu.” Artinya, marahnya jangan lama-lama!

“Holding on to anger is like drinking poison and expecting the other person to die”
Memelihara kemarahan itu ibarat meminum racun dan berharap orang lain yang mati

Kemarahan itu bukan untuk dipelihara dan disimpan. Saat matahari dan panasnya hari sudah berakhir, baiklah marah kita juga berakhir. Karena, saat marah itu dipelihara, kemarahan ini bisa memproduksi hal-hal yang negatif.
®     Saat Anda marah, pikiran jadi negatif.
®     Saat pikiran jadi negatif, kita bisa merancangkan hal-hal jahat.
®     Saat ini terus dipelihara dan dilanjutkan, diberi tempat di dalam hati kita, akhirnya yang kita lakukan juga jahat.
®     Belum lagi, itu membuka celah untuk kita bisa dipecahbelahkan (keluarga dipecah belah, pernikahan dipecah belah, hubungan antar saudara, kesatuan perusahaan, kesatuan pelayanan, dll)

Mazmur 37:8-9
Remember:
“Holding on to anger is like drinking poison and expecting the other person to die”
Memelihara kemarahan itu ibarat meminum racun dan berharap orang lain yang mati

Kita memang tidak bisa meminum racun sendiri. Tapi saat kita memelihara kemarahan kita, kita seperti minum racun sendiri, tapi menunggu dan berharap orang lain yang mati. Nggak mungkin. Yang mati ya kita. Yang digerogoti ya kita, keluarga kita, pekerjaan kita, pelayanan kita. Yang rugi kita.

Matius 5:21-4

Bahkan pelayanan kita, ternyata bisa mubazir kalau kita lakukan tapi hati masih panas dan lagi ada masalah yang tidak terselesaikan dengan orang di sekitar kita.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
1.       NAIK LEBIH TINGGI DARI PERASAAN ANDA (Rise Up Your Feeling)
Contoh: waktu Anda naik pesawat. Waktu nunggu untuk take off, kita nggak bisa lihat apa-apa kecuali bangunan bandara atau hanya rumput-rumput saja. Tapi begitu pesawat naik, ternyata kota itu bukan hanya tembok bandara dan rumput saja. Ternyata, ada rumah-rumah, ada gedung pencakar langit yang lebih tinggi dan lebih besar dari bandara yang barusan kita lewati. There is so much to the city than just the airport building and gress!

Illust: tangga aluminium. Saat kita berdiri biasa gini, yang kelihatan ya orang dan kursi. Kelihatannya besar, bisa kita lihat detil, ter-zoom-in semua. Tapi saat kita naik ke tangga ini, perspektifnya jadi beda. Oh, ternyata isi ruangan itu bukan hanya orang dan kursi tapi juga banyak hal lain yang tidak kalah pentingnya. Dalam hidup ini sama. Kalau kita hanya melihat dan berkutat pada perasaan marah dan jengkel kita, rasa marah dan jengkel ini kelihatan besar sekali! Tapi perlu kita naik ke tangga emosi kita dan perhatikan… There is so much more to life than your little anger!

Think about it. Analyze your feelings. Worth it nggak dilakukan. Worth it nggak dirasakan, bisa dapat untung apa untuk situasi ini? Masuk akal nggak? Kalau nggak, dibuang saja.

Kolose 3:8-10; Amsal 16:32

2.       BICARAKAN DENGAN BAIK
“Attack the problem, not the person” (bereskan masalahnya, bukan menyerang orangnya). Amsal 15:1. Story: anak laki-laki, paku dan pagar kayu.

3.       PAKAILAH KASIH (Wear Love)
Loved people, love people. Forgiven people, forgive people (orang yang dikasihi akan mengasihi orang lain. Orang yang diampuni akan mengampuni orang lain).

Kolose 3:12
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, KENAKANLAH belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.

Kenakanlah = enduo (Greek) = to sink into = menenggelamkan diri di dalam sesuatu.

Kolose 3:13:15
“…Dan di atas semuanya itu: KENAKANLAH (again) kasih…”

Remember:
“Holding on to anger is like drinking poison and expecting the other person to die”
Memelihara kemarahan itu ibarat meminum racun dan berharap orang lain yang mati

(D)ANGER #2

(D)ANGER






(D)ANGER Part 2
Alfa Omega Church Sunday Service
Preacher: Ps. Ezra Soetopo
May 14th 2017


MINGGU PERTAMA: Marah bisa bahaya. Kenyataannya, ANGER is just one letter short of DANGER.

Ada 4 tipe amarah yang terjadi dalam hidup manusia yang dijelaskan oleh Alkitab yang akan kita pelajari dalam bulan ini. 4 TIPE KEMARAHAN:
1.       Kemarahan tiba-tiba
2.       Kemarahan yang berdosa
3.       Kemarahan yang membandel
4.       Kemarahan yang dikuduskan

KEMARAHAN YANG BERDOSA.
Coba pikirkan: Marah itu dosakah? Ada orang yang sedikit tegas, terus merasa berdosa. Tapi ada orang yang sudah marah-marah gila, merasa tidak salah. Contoh: Lying – karena banyak orang berbohong bukan berarti benar. Gossip – yang kita katakana mungkin benar, tapi tidak harus diceritakan.

Ada akar kemarahan: Sanctified Anger and Sinful Anger.

Our response to anger that lead us to do right things or wrong things
(Respon kita terhadap kemarahan mengarahkan kita ke hal yang benar atau ke hal yang salah)

POINT:
Efesus 4:26-27 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa, janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. Dan janganlah beri kesempatan kepada iblis.

Kata kesempatan (topos) – opportunity, control room.

Dalam kemarahan kita, jangan kasih iblis ruang kontrol di hati kita, di pikiran kita. Saat kamu dikuasai amarah, kamu sedang ijinkan iblis kendalikan control room dalam hidupmu.

Contoh: Di PL – 2 saudara bagaimana kemarahan mengarah ke arah yang salah.

Our response to anger that lead us to do right things or wrong things

Kain dan Habel. Sama kasih persembahan ke Tuhan. Kain ditolak, Habel diterima.

KEJADIAN 4:6, 7

Ada 2 cara orang mengekspresikan kemarahan. There are stewer and spewers.

SPEWERS – Mengekspresikan Kemarahannya. Orang ini ekspresif. Amsal 29:11, “Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.” SPEWERS punya ciri: Kita ekspresikan meledak-ledak, kita merasa baik, tapi belum tentu orang-orang di sekitar merasa lebih baik. Bahkan, besar kerusakan bagi sekitar kita, lebih dari yang kita bayangkan. Ini dapat melukai, menyakiti orang sekitar kita.

THE STEWERS – Memendam (Deep Down). Mazmur 32:3, “Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari.”

Peace Giver not Rage Bringer
Pembawa damai bukan pembawa kemarahan

Ilustrasi:
In Bible – Anger = Fire (api, obor, lilin, dll). Api tidak selalu buruk. Contoh: Northern Alaska, butuh api, api esensi hidup mereka, tapi di sisi lain api bisa membakar rumah. Kemarahan juga seperti “api”, bisa baik bisa sangat amat buruk.

WHAT TO DO? APA YANG KITA LAKUKAN?
1.       Sinful Anger (Kemarahan yang Berdosa)
Amsal 17:14, “Membuka pertengkaran adalah seperti membuka jalan air. Jadi undurlah sebelum perbantahan dimulai.” Anda punya kemampuan untuk mengontrol sikap perilaku Anda ketika Anda marah. BE A PEACE GIVER not RAGE BRINGER.
Yakobus 1:19; Yakobus 1:20. SINFUL ANGER = PUT IT OUT (blow candle or whatever).

2.       RIGHTEOUS ANGER (Kemarahan yang Benar) = FLAME IT (Nyalakan)
Markus 3:4-5


CONCLUSION:
Ada Sanctified Anger in Sinful Anger. “Our response to anger that lead us to do right things or wrong things.”

Terhadap Sinful Anger: PUT IT OUT.
Terhadap RIGHTEOUS ANGER = FLAME IT.

Jesus didn’t give us Rage, but Mercy! He is Peace Giver not Rage Bringer