Wednesday, 30 September 2015

30 September 2015 - Foto Komsel Gabungan






























30 September 2015

BILLIONAIRE




Maleakhi 3:8, “Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?’ Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!” Selain membawa Persembahan Persepuluhan, kita juga membawa Persembahan Khusus (persembahan atas dasar sukarela) & Persembahan/Investasi Iman (Pengorbanan atas dasar Iman/Komitmen). Bila selama sebulan ini kita sudah belajar bersama dalam Seri Billionares (Menabur-Menuai), percayalah 2 Kor 9:6, “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Amin.

Respon
Ada orang-orang yang mungkin hampir sepanjang usianya dilalui dalam kemuraman. Dan di tengah-tengah dunia yang dilanda krisis demi krisis dari waktu ke waktu, jumlah orang-orang yang tertekan, suram, murung & tenggelam dalam persoalan-persoalan hidup akan terus bertambah. Namun, hidup selayaknya dijalani dengan sukacita. Itulah yang membuat hidup ini indah & berarti. Dan sebagaimana sukacita hilang karena hidup dilihat & dirasakan sebagai sesuatu yang menyedihkan, menakutkan, membosankan, tanpa harapan & penuh dengan alasan untuk menjadi kuatir maka sukacita tumbuh di hati karena kebalikannya: mengetahui masih ada, bahkan banyak kebaikan dalam hidup. Caranya? Dengan HIDUP DALAM SIKAP HATI YANG BERSYUKUR SETIAP HARI (1 Tes. 3:9; Maz. 44:9; Ef. 5:4,20; Kol. 3:16,17; 1 Tes. 5:18). -Hidup penuh syukur berarti secara aktif mencari & menemukan hal-hal baik atau potensi-potensi kebaikan yang bisa terjadi di hidup kita dengan pertolongan Roh Kudus-Nya. Bersyukur “memaksa” kita menyadari betapa banyak hal-hal baik di samping yang buruk yang kita pikir terus menerus terjadi pada kita. -Mengatakan “Terima kasih, Tuhan” jauh lebih baik daripada bertanya “Mengapa, Tuhan?” sebab dengan mengucap syukur pada-Nya dalam kondisi-kondisi terburuk sekalipun kita disadarkan bahwa kita tidak pernah sendirian. Lebih dari itu, kita berkesempatan melalui segalanya bersama Yesus, sahabat terbaik kita. -Dengan mengucap syukur setiap waktu, kita meletakkan seluruh iman & pengharapan pada Tuhan; suatu deklarasi bahwa seburuk apapun yang telah & mungkin bisa terjadi kita memilih tetap yakin bahwa Tuhan akan mengubahkan semuanya itu bagi kebaikan yang menguntungkan kita dimana semua indah pada waktu-Nya. Dari mendisiplin diri mengucap syukur maka sukacita akan bersemi, tumbuh hingga berbuah-buah -sampai dunia melihatnya & bertanya-tanya bagaimana sukacita semacam itu masih tetap ada hari ini. Maukah Anda memilih bersyukur pada Tuhan apapun yang terjadi supaya sepanjang hidup Anda dipenuhi sukacita sejati? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Tuesday, 29 September 2015

29 September 2015

BILLIONAIRE




Imamat 27:30, “Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon- pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN.” 1 Kor 16:2, “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing-- sesuai dengan apa yang kamu peroleh-- menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.” Perpuluhan = 1/10 = 10%, bagian yang wajib kita kembalikan kepada Tuhan. Baik dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, mengajarkan agar kita membawa Persembahan Perpuluhan untuk ‘menguji DIA’ apakah DIA juga sungguh-sungguh memberkati kita setelah kita membawa Perpuluhan? Amin.

Respon 1
Rasa tertuduh akan membuat lumpuh potensi didalam hidupmu. Ada kemerdekaan didalam Kristus. Roma 8:1, ‘Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman (condemnation = tuduhan) bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.’ (GNCC)

Respon 2
“Kebahagiaan sejati tidak perlu dicari karena dia ada di dalam diri.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
Yeremia 32:27 – Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku? Tiap hari kita akan menghadapi 2 hal, kalau bukan mujizat, pasti pelajaran-pelajaran iman. Percayalah kekuatiran tidak pernah mengubah hasil. Kita tidak mungkin lebih sukses gara-gara kekuatiran. Saat kita berpikir tidak sanggup, dengarlah Tuhan berkata “AKU sanggup”. Dia tahu masa depan kita dan Dia juga sudah ada disana. Tuhan selalu tahu waktu terbaik untuk memberikan yang terbaik bagi kita. When our circumstances feel bigger than God, fill our heart with worship instead of worry. Nothing is impossible! Kami bersyukur Bapa, Kau telah memberikan sister yang bisa saling berbagi. Kami tahu bahwa kami adalah orang-orang yang bisa dipercaya dan hidup dewasa dalam jalan-jalanMu dan memiliki iman percaya. Ajar kami: Liching-Siusiang untuk saling mendukung, saling mengasihi dan saling memperhatikan. Kerjakan karya mujizatMu Bapa pada saat kami berdoa. Terima kasih Yesus. Kami mau, dalam apapun juga, kehendakMu yang jadi dan bukan kehendak kami. In Jesus name we pray and receive. Amin. (Ibu Caroline – Bandung)

Monday, 28 September 2015

28 September 2015

BILLIONAIRE




Mengapa Tuhan ingin saya memberi? 1) Dengan memberi: sembuh dari materialistis (1 Tim 6:17-19). 2) Dengan memberi = memperkuat iman kita (Amsal 3:5,9 & 10). 3) Dengan memberi = menjadi makmur (Amsal 11:25). Kita memang HIDUP dari apa yang kita PEROLEH (hasil kerja) & akan tetapi kita “MENDAPATkan HIDUP” atau sukacita atau kebahagiaan dari apa yang kita BERI. Amin.

Respon 1
Dalam mazmurnya yang fenomenal, yang digubahnya tidak lama setelah nabi Natan menyampaikan pesan profetiknya pada Daud setelah kejatuhannya dengan Batsyeba, ada sesuatu yang penting mengenai bagaimana seharusnya kita menyikapi firman Tuhan yang datang pada kita. Tidak kurang hampir (mungkin lebih) 20 kali banyaknya, Daud menggunakan kata ganti “aku” menyangkut dosa, noda, pelanggaran kesalahan & kejahatan yang dilakukannya di hadapan Tuhan. Tidak satu kata pun ia menyebut peran orang lain, juga tiada kalimat yang menunjukkan ia melemparkan tanggung jawab atas kesalahan itu. Daud mendengar perkataan Tuhannya & mengoreksi diri. Ia tidak membela diri tetapi menyelidiki hati & hidupnya. Ia tidak melihat keluar dari dirinya; ia melihat ke relung-relung hatinya yang terdalam lalu menemukan & mengakui setiap dosa & kegagalannya. Daud merenungkan teguran-teguran Allahnya lalu BERURUSAN DENGAN DIRINYA SENDIRI DI HADIRAT TUHAN. Sikap Daud menanggapi pesan-pesan ilahi patut menjadi teladan bagi kita. Bahkan dalam penempelakan yang terang-terangaan, sebagai seorang raja yang sangat berkuasa waktu itu, Daud memilih mengakui & mengambil tanggung jawab atas perbuatan salah itu. Ia mungkin mampu membungkam sang nabi, melemparkan kesalahan pada Batsyeba yang begitu menggoda, atau ia setidaknya lebih dari sanggup berbantah-bantah atau menyangkal sambil bersilat lidah membela diri atau meminta dimaklumi sebagai sesuatu yang tidak perlu dibesar-besarkan. Faktanya, Daud tidak memilih satupun dari itu semua. Ia memilih dengan jujur & tulus mengakui dosa-dosanya. Bertobat. Tidak banyak yang menerima firman lalu mengoreksi diri, mohon pengampunan & berubah. Yang lebih sering adalah menggunakan firman untuk menunjuk-nunjuk kesalahan orang atau mengutip ayat-ayat Alkitab untuk menutup-nutupi dosanya. Inilah Kristen agamawi yang tampak benar di hadapan orang tapi hatinya busuk di hadapan Tuhan. Tahu firman tapi hidup tanpa pertobatan & kehancuran hati ialah Farisi-Farisi rohani (Mat. 3:7-8). Jadi, akankah Anda menyambut firman seperti Daud? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
“Ketika orang ingin kompetisi tanpa introspeksi diri dia bisa jadi orang yang tinggi hati.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Senin, 28 September 2015. KEBESARAN HATI. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil (Yohanes 3:30). Charles Dickens pernah memberikan pernyataan tentang siapakah sebenarnya orang yang disebut terbesar itu. Ia berkata, “Ada orang besar yang menjadi besar dengan cara mengecilkan dan merendahkan orang lain. Tetapi, seorang besar sejati adalah seorang yang mampu membuat setiap orang merasa dirinya besar.” Hampir setiap orang ingin menjadi nomor satu dan terkemuka. Tidak semua orang mempunyai kebesaran hati untuk menjadi orang nomor dua. Namun, Yohanes Pembaptis memahami benar arti sebuah kebesaran sejati. Di saat begitu banyak orang mulai ribut dan membanding-bandingkannya dengan Yesus, Yohanes Pembaptis justru menunjukkan kebesaran hatinya. Pernyataannya bahwa Yesus harus makin besar, tetapi ia harus makin kecil menunjukkan betapa ia tidak berusaha membesarkan dirinya sendiri. Ia tahu panggilan Tuhan baginya sebagai pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang (ay. 28). Tujuan hidupnya adalah mengarahkan hati orang-orang kepada Yesus, Sang Mesias, dan bukan kepada dirinya sendiri. Bagaimana dengan kita? Bagaimana reaksi kita ketika di hadapan kita berdiri orang-orang yang siap menggantikan posisi kita? Apa reaksi kita ketika banyak orang mulai membanding-bandingkan kemampuan kita dengan orang lain? Apakah kita mulai terganggu? Seorang besar sejati tentu tidak akan terganggu dengan semua itu. Sebaliknya, ia akan menunjukkan kebesaran hatinya untuk membuat orang lain merasa dirinya besar. Ia akan memberi dukungan dan turut senang dengan keberhasilan orang lain –SYS. ORANG YANG MEMILIKI KEBESARAN HATI AKAN TERBEBAS DARI GODAAN UNTUK BERSAING. Selamat pagi. Welcome Monday. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Sunday, 27 September 2015

27 September 2015

BILLIONAIRE




2 Kor 9:6-8, 6Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” Amin. Kita harus memberi dengan RELA HATI, jangan terpaksa & dengan sukacita karena Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan SUKACITA, Tuhan berkuasa memberi berkat kepada kita berkat yang melimpah supaya kita selalu mempunyai apa yang kita butuhkan, bahkan kita akan berkelebihan untuk berbuat baik. Amin. Sudahkah kita memberi dengan RELA & SUKACITA?

Respon 1
Minggu, 27 September 2015. Bahan Bacaan: Maleakhi 1:6-14. Nats: Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? (Maleakhi 1:6). BERPAKAIAN yang PANTAS. Pak Tirta diundang Pak Bupati ke rumahnya. Dua hari sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri; mencukur rambutnya, membeli kemeja batik baru, menyemir sepatunya. Ia tidak mau berpakaian apa adanya, sebab bisa-bisa Pak Bupati menganggap ia tidak menghormatinya. Begitulah, ketika kita akan berkunjung ke rumah seseorang yang kita hormati, kita akan berusaha tampil ‘prima’, tidak asal-asalan. Alangkah baiknya kalau ‘prinsip’ demikian diberlakukan juga ketika kita beribadah di gereja. Bukan berarti kita harus selalu berpakaian baru, tetapi setidaknya berusahalah tampil baik. Minimal rapih dan bersih. Sayangnya selalu saja ada orang yang datang ke gereja dengan berpakaian seperti kalau mau jalan-jalan ke mal, atau bahkan ke pasar. Mungkin mereka beralasan, Tuhan menilai hati bukan pakaian. Tidak salah, tetapi jangan lupa, apa yang tampak dari luar biasanya merupakan cerminan yang ada di dalam hati. Umat Tuhan mendapat teguran keras melalui Nabi Maleakhi. Mereka telah mempersembahkan korban secara sembarangan asal-asalan (ayat 7,8). Bisa jadi mereka juga berpikir, Tuhan tidak melihat wujud dari persembahan itu. Ternyata tindakan mereka mengundang murka Tuhan, sebab mereka telah menunjukkan sikap tidak hormat tidak menghargai Tuhan, Sang Raja di atas segala raja (ayat 14). Hal ini bisa jadi pelajaran buat kita. Ketika kita akan datang ke rumah Tuhan, nilailah dulu, apakah yang kita kenakan itu cukup pantas dan sopan untuk hadir di hadirat Sang Raja Mahakudus. PENAMPILAN yang PANTAS TIDAK HARUS BAGUS DAN MAHAL CUKUP TIDAK MENJADI BATU SANDUNGAN BAGI ORANG LAIN. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 2
Peristiwa Yesus dielu-elukan di Yerusalem (Mat. 21:1-11 & catatan Injil lainnya) dengan penyaliban-Nya telah menjadi suatu ironi. Kerumunan massa yang menghamparkan jubah, meletakkan dahan-dahan di sepanjang jalan sambil melambai-lambaikan daun palem untuk menyambut Yesus masuk kota itu kurang lebih tidak jauh berbeda dengan khalayak gaduh di depan Pilatus sambil memekik, “Salibkan Dia!” enam hari berikutnya. Yang memuji-muji & mengagung-agungkan Dia, nyatanya juga menjadi penyalib-penyalibNya. Semua itu semu belaka. Ini bisa terjadi atas kumpulan yang berduyun-duyun di ruang-ruang gereja setiap minggunya jika: -Penyembahan itu sekedar gerakan emosi semata. Yoh. 12:17-18 memberitahu kita darimana lautan manusia itu datang. Kegemparan karena Lazarus bangkit setelah 4 hari mati ialah pemicunya. Sayangnya, takjub menyaksikan mujizat lebih membangkitkan sensasi sesaat daripada pengenalan pribadi akan Tuhan atau komitmen kepada-Nya - jika berhenti pada pengalaman itu saja. -Puji-pujian itu bersumber dari kata-kata orang & mengikuti aliran mayoritas massa. Semua yang terlibat keramaian itu sebelumnya telah mendengar tentang “Nabi Yesus dari Nazaret” -bukannya Anak Allah yang hidup (Mat. 21:10-11). Ibadah yang didasarkan kesaksian orang atau kumpulan jemaat yang besar jelas menggugah perasaan, tapi tanpa pengenalan pribadi akan siapa Yesus, yang berasal dari pengalaman berjalan bersama Dia setiap hari, semua itu dangkal & mudah pudar. -Pengagungan itu terbit dari harapan-harapan duniawi ketimbang dari kerinduan hati Tuhan. Selagi hendak menjadikan Yesus pahlawan pembebas atas kondisi hidup mereka yang tertindas, 4 Injil mencatat bahwa setelah peristiwa itu Yesus justru menyucikan bait Allah. Yesus bermaksud menegakkan kerajaan rohani, massa menghendaki kemakmuran jasmani. Penyembahan yang berkenan di hadapan Tuhan berasal dari hati yang mengalami & mengenal Dia secara pribadi -dimana oleh kemurahan-Nya kita dimampukan mengiring Dia hingga kesudahannya & tidak mengkhianati Dia. Bagaimana dengan ibadah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 3
“Di saat kita merasa tidak butuh apa-apa, pada saat itulah kita paling butuh Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.

Saturday, 26 September 2015

26 September 2015

BILLIONAIRE




Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Ayat 11: “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Jika kita diberi tanggung jawab pekerjaan sekecil apappun, kita harus kerjakan dengan sebaik-baiknya & dengan sejujur-jujurnya, nantinya kita akan diberi tanggung jawab yang lebih besar lagi. Amin. Sudahkah kita setia dalam perkara-perkara yang kecil?

Respon 1
Sabtu, 26 September 2015. Bacaan: Matius 18:6-11. Setahun: Nahum 1-Habakuk 3. Nats: Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini (Matius 18:10). MENGHARGAI ANAK. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, sepanjang tahun 2013 terjadi 1.620 kasus kekerasan terhadap anak, yang terdiri atas kekerasan fisik (30%), kekerasan emosional (19%), dan yang tertinggi adalah kekerasan seksual (51%). Statistik yang memprihatinkan. Anak-anak yang semestinya dirawat dan ditumbuhkembang-kan jadi pribadi unggul, malah jadi korban kekerasan. Yesus mengecam keras orang yang memperlakukan anak kecil secara jahat. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (ay. 6). Kata ‘menyesatkan’, skandalizo, berarti menjerat, membuat tersandung, menyebabkan orang meninggalkan jalan yang benar. Yesus serius memperhatikan iman anak kecil sehingga Dia serius menghukum orang yang menyesatkan anak kecil. Yesus sangat menghargai anak kecil dan menentang orang yang merendahkan mereka. Peringatan Yesus itu dalam konteks iman, namun dapat diterapkan secara lebih luas. Banyak orangtua kurang menghargai anak dengan membanding-bandingkan anak dengan anak lain, berfokus pada kesalahan anak, tidak memberi anak kesempatan berbicara atau mengemukakan pendapat, dan sebagainya. Perlakuan semacam ini dapat berdampak buruk, tak kalah dari kekerasan secara fisik. Karena itu, biarlah kasih Yesus di dalam hati kita, mengajar kita untuk mengasihi anak-anak seperti Yesus mengasihi mereka. Kiranya pula anak-anak itu boleh mengenal Tuhan mereka sejak dini --Lim Ivenina Natasya. MENGASIHI ANAK BERARTI MENGHARGAI MEREKA DAN MENOLONG MEREKA MENGALAMI KASIH TUHAN. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 2
“Ketekunan tiba-tiba secara mengejutkan bisa menyalib kepandaian.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Sabtu, 26 September 2015. TEKANAN HIDUP. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu (Yakobus 5:8-9). Saya pernah tinggal di rumah kayu yang lapuk sehingga dapat mendengar perkataan tetangga sebelah kiri-kanan. Suatu kali nenek di rumah sebelah memarahi dan memaki cucunya cukup lama. Pencetus kemarahannya mungkin sepele bagi sebagian kita, namun tidak bagi mereka. Si cucu menumpahkan bedak nenek, padahal bedak itu terhitung barang mahal bagi keluarga yang hidup sangat pas-pasan itu. Tekanan hidup kerap memantik kemarahan kita, bahkan kadang-kadang sampai meledak tak terkendali. Menghadapi tekanan hidup, kita cenderung bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Yakobus menyebutnya sebagai dosa yang dapat mengundang hukuman. Menggerutu dan mempersalahkan pihak lain mungkin dapat sedikit meringankan perasaan. Namun, Tuhan menghendaki kita bersabar dan tekun. Penderitaan adalah bagian dari ujian iman. Yakobus mengingatkan bahwa Tuhan, Hakim Agung itu, sudah dekat. Kita bakal memetik hasil manis ketekunan kita sama seperti petani yang menantikan hasil tanamnya (ay. 7). Juga seperti Ayub yang memperoleh karunia berlimpah setelah melalui masa penderitaan (ay. 11). Apakah saat ini Anda sedang dihimpit oleh tekanan hidup? Anda lelah dan penat, seolah penderitaan Anda tidak pernah akan berakhir? Relasi Anda dengan keluarga, teman, dan rekan kerja pun semakin memburuk? Ingatkan diri Anda bahwa Tuhan itu penyayang dan penuh belas kasihan (ay. 11). Kesabaran Anda menghadapi tekanan pasti akan berbuah manis ketika Tuhan datang kembali dalam kemuliaan-Nya —HEM. TEKANAN HIDUP HARUS DIHADAPI DENGAN SABAR DAN TEKUN. NISCAYA KITA PUN BEROLEH KEBAHAGIAAN TAK TERKIRA BILA SAATNYA TIBA. Selamat pagi. Selamat berkahir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Friday, 25 September 2015

25 September 2015

BILLIONAIRE



Ulangan 14:22, “Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun.” “Lalu Abram memberikan kepadaNya sepersepuluh dari semuanya” (Kejadian 14:20b). Inilah untuk pertama kalinya Persepuluhan disebut dalam Alkitab. Apakah kita sudah membawa Persembahan Perpuluhan ke rumah Tuhan?? Ingatlah bahwa segala ‘milik kita’ adalah ‘milik Tuhan’, sehingga apa yang ada pada kita bukan milik kita sendiri, melainkan telah dipercayakan Tuhan kepada kita (kita tidak punya hak milik atas apa yang ada pada kita). Amin :).

Respon 1
“Hal-hal kecil dan sederhana yang kita lakukan secara rutin justru membuat perbedaan besar dan bermakna.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat, 25 September 2015. JANGAN BEDAKAN AKU. Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia (Kejadian 37:3). Pada 20 Desember 1989, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan Konvensi Hak Anak dan memberlakukannya sebagai hukum internasional pada 2 September 1990. Konvensi ini dipandang perlu karena bagaimanapun anak masih rentan terhadap perlakuan yang salah, masih bergantung pada orang dewasa, dan sedang mengalami masa tumbuh kembang. Salah satu hak anak yang diatur di dalamnya adalah hak untuk tidak diperlakukan secara diskriminatif. Yakub begitu mengasihi Yusuf, anak yang lahir pada usia tuanya. Besarnya cinta Yakub terhadap Yusuf membuatnya memperlakukan Yusuf secara istimewa. Contohnya, ia menghadiahi Yusuf jubah yang sangat indah. Perlakuan istimewa ini tidak diberikan Yakub kepada anak-anaknya yang lain. Akibatnya timbul kebencian dan kemarahan mereka terhadap Yusuf (ay. 4). Tentunya ini menimbulkan relasi yang tidak baik di antara kakak-beradik itu, ditambah lagi Yakub terkesan membiarkan situasi ini terjadi (ay. 11). Nantinya mereka berniat membunuh Yusuf dan kemudian menjualnya sebagai budak. Orangtua kadang-kadang terjebak untuk memperlakukan anak secara pilih kasih. Ada anak yang disayangi lebih dari saudaranya yang lain. Lewat pelajaran kisah Yusuf, kita belajar untuk memperlakukan anak secara adil. Setiap anak istimewa dan, karenanya, layak diperlakukan secara istimewa pula. Orangtua perlu belajar memberikan cinta kasih secara adil dan wajar sehingga tidak menimbulkan iri hati dan kebencian yang dapat merusak hubungan antarsaudara —AAS. DISKRIMINASI MEMECAH-BELAH KELUARGA, KASIH MEMPERSATUKAN DAN MENGERATKAN HUBUNGAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Banyak orang tidak siap & berpikiran negatif saat mendengar istilah “menyangkal diri”. Ada yang menjauhinya. Ada pula yang menjadikannya alasan tidak menjadi orang Kristen. Sebagian lainnya beranggapan itu sesuatu yang hanya akan dilakukannya pada masa tua. Apapun pandangan orang di muka bumi mengenai “menyangkal diri”, firman Tuhan tidak berubah. Menyangkal diri ialah salah satu syarat utama mengikut Yesus. Titik. Yang tidak melakukannya, tidak layak bagi-Nya & tidak akan diperhitungkan sebagai pengikut-Nya (Mat. 16:24; Mrk. 8:34; Luk. 9:23). Dan pertanyaan ini mungkin melintas di hati kita: mengapa harus seperti itu? Inilah beberapa alasannya: 1- Sebab jalan-jalan Tuhan bertentangan dengan jalan dunia ini (Yak. 4:4). Yang ikut arus dunia ini menuju ke arah yang berbeda dengan kemana Tuhan hendak membawa kita. Jika kita tidak melawan segala keinginan dosa & keduniawian yang bergejolak dalam kita, pastilah kita tertarik & terseret gelombang dunia yang menuju kebinasaan ini (1 Yoh. 2:17). Jelas, menyangkal diri merupakan perintah yang berujung kebaikan & keselamatan jiwa kita. 2- Menyangkal diri adalah suatu sikap yang membuktikan kesungguhan & kesetiaan kita mengikut Kristus (1 Yoh. 2:6; 1 Pet.1:13-19). Bandingkanlah dengan orang-orang yang memuja penguasa-penguasa kegelapan, yang rela menjalani ritual-ritual paling menyakitkan, bertingkah bak orang hilang ingatan, hingga mengorbankan anak-anak & keturunan-keturunan mereka sebagai tumbal hanya demi kenyamanan hidup sesaat, yang kelak berakhir dalam kematian abadi di neraka. Oh, betapa ringan & gembira mengikut Kristus meski harus melawan dosa seketika lamanya. 3- Hidup menyangkal diri membuktikan bahwa kita hidup dalam kekuatan & kuasa kasih karunia-Nya yang mengubah hidup (2 Kor. 5:15; Fil. 3:7-8). Tak seorangpun sanggup melawan dirinya sendiri yang dikuasai dosa kecuali ia telah beroleh kekuatan yang besar untuk melakukannya. Itulah kuasa kasih-Nya (the power of His love) yang memampukan kita mengubah cara hidup yang lama. Bukankah demikian? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)


Thursday, 24 September 2015

24 September 2015

BILLIONAIRE




Yesaya 32:20, “Berbahagialah kamu yang boleh menabur di segala tempat di mana terdapat air, yang dapat membiarkan sapi dan keledainya pergi ke mana-mana!” Benih akan ‘berguna, bertumbuh dengan subur’ jika ditabur di tanah/‘di tempat yang baik’/di tempat yang TEPAT (di mana terdapat air). Menabur/memberi adalah salah satu kunci hidup berkelimpahan, umur panjang & memperlebar Kerajaan Surga. Amin. Sudahkah kita menabur benih di tempat yang tepat? Lakukan apa yang menjadi ‘bagian kita’/menabur maka Tuhan yang akan melakukan bagianNya/memberkati kita. Amin :).

Respon 1
Banyak yang setuju untuk mengatakan bahwa cinta ialah suatu misteri. Tidak ada yang pernah benar-benar tahu mengapa seseorang bisa mencintai orang lain. Cinta terkadang datang & pergi tanpa kita benar-benar sadari. Ada yang sesaat berlangsung; ada pula yang bertahan berpuluh tahun sampai sehidup semati dengan pasangannya. Terkadang kita berpikir melihat suatu pasangan yang serasi di hadapan kita, namun nyatanya tidak demikian. Atau sebaliknya, logika kita berkata pasangan itu tidak cocok & sepadan -faktanya keduanya begitu saling menyayangi. Memahami hubungan kasih di antara dua orang (laki-laki & perempuan) sepelik mengerti hati manusia itu sendiri & serumit menyelami pikiran orang yang selalu tersembunyi di hadapan siapapun selain Tuhan. Itulah mengapa Agur yang penuh hikmat menyebutkannya sebagai salah satu dari 4 hal yang terlalu sukar dipahaminya: jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis (Ams. 30:19d). Hanya dua orang itu yang benar-benar memahami mengapa mereka melangkah bersama dalam cinta. Serupa dengan itulah gambaran antara Kristus & mempelainya yaitu kita, gereja-Nya. Kita tidak pernah benar-benar tahu mengapa Bapa sangat mengasihi kita sehingga mengutus Yesus untuk mati bagi kita & mengirim Roh Kudus yang dengan penuh kesabaran menuntun & mengajari kita. Sebuah pujian menggambarkan-nya dengan baik: “Ku tak tahu mengapa Yesus mengasihiku. Ku tak tahu mengapa Dia pedulikanku. Ku tak tahu mengapa Dia korbankan hidup-Nya. Oh, tapiku bersuka, bersyukur Dia telah perbuat itu bagiku” (terjemahan bebas dari lagu “I don't know why Jesus loves me”). Bisa jadi kita memang tidak pernah tahu alasan kasih Tuhan bagi kita, namun satu hal harus kita pastikan. Kita harus menyadari kasih itu & menanggapinya dengan semestinya. Yaitu dengan melakukan perintah-Nya: mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi & kekuatan kita. Oh biarlah keberadaan kita, yang terlihat ataupun tidak, seluruhnya menyatakan bahwa kita mencintai Tuhan. Lebih dari segala-galanya. Setujukah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
Maz 121:2 – Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi! YESUS sumber PERTOLONGANku! Mulai besok 25/9-5/10 “kiriman AYAT-LIBUR” sebab saya sekeluarga pelayanan dan antar Eva anak saya kuliah di Sydney-Aussie! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 3
“Banyak orang membeli gengsi ketimbang fungsi, mengejar prestise daripada prestasi.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
MENEMUKAN ARUS. Bacaan: Yohanes 7:32-44. NATS: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup (Yohanes 7:38). Apakah yang dapat merusak pelayanan baik sebuah gereja? Cukup seseorang yang haus kekuasaan. Salah seorang pendeta yang pernah menjadi teman saya semasa kuliah, mengirimkan surat kepada saya dan menceritakan tentang gangguan yang terjadi di gerejanya. Orang-orang di gerejanya telah beriman kepada Kristus, dan jumlah jemaatnya berkembang menjadi empat kali lipat. Anggota-anggota gereja aktif melayani di gereja dan masyarakat. Namun kemudian, seseorang yang duduk di posisi kepemimpinan mulai merasa iri dengan pengaruh sang pendeta. Karena ia merasa patut memperoleh kekuasaan lebih, maka mulailah ia menjelek-jelekkan sang pendeta. Ia berharap hal ini dapat meningkatkan kualitasnya. Ia tidak peduli tindakannya berpengaruh negatif terhadap karya Allah; ia hanya menginginkan kekuasaan dan pengakuan. Ia memicu kekacauan yang menyebabkan teman saya akhirnya mengundurkan diri. Apabila kita melayani Kristus, kita tidak punya hak untuk mencari kekuasaan. Kita tidak berhak memperoleh gengsi. Kita tidak memiliki alasan untuk mencari peningkatan harga diri dan pengakuan. Betapa lebih baik jika kita melayani dengan diam-diam di belakang, sambil mengingat Yesus, teladan kita yang “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Matius 20:28). Apakah Anda seorang pendeta? Pengajar? Diaken? Misionaris? Anggota gereja? Jika Anda mencari kekuasaan, Anda barangkali akan mendapatkannya. Akan tetapi, kekuasaan yang Anda dapatkan itu akan menjadi kekuasaan yang merusak pelayanan baik dari gereja Anda. KITA KEHILANGAN PERKENANAN ALLAH APABILA MENCARI PUJIAN MANUSIA. (Bp. Budi – PT. MPU)

Wednesday, 23 September 2015

23 September 2015

BILLIONAIRE




Kis 25:35, “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Amin. Memberi adalah salah satu ‘bentuk persembahan’, persembahan adalah salah satu pengakuan bahwa Tuhan-lah sumber kehidupan kita. Dengan MEMBERI itu artinya kita memghormati Tuhan. MEMBERI melatih kita agar tidak melekat kepada harta duniawi tetapi hanya Tuhan yang ‘melekat’ dihati kita. Amin. MEMBERI lebih BERBAHAGIA daripada MENERIMA. Mari mulai menabur dengan MEMBERI yang terbaik untuk hormat kemuliaanNya J.

Respon 1
Ketidakpercayaan sama dengan kepercayaan yang tidak konsisten. Misalnya: saat dalam masalah, kita bilang percaya sih Tuhan tolong kita tapi... Atau saat sakit, kita bilang percaya sih Tuhan itu menyembuhkan tapi... Itu sama aja dengan kepercayaan yang tidak konsisten.. Kita harus mulai melatih diri untuk konsisten percaya. Mau Tuhan jawab doa kita atau nggak jawab doa kita, percaya saja... Kita harus seimbangkan pada saat Tuhan jawab doa kita dan saat Tuhan tidak menjawab doa kita. INGAT saat Tuhan tidak menjawab doa kita, itu tidak mengganggu realita bahwa dia Allah yang menjawab doa kita. Percaya kita pada Tuhan jangan diombang-ambingkan karena Tuhan tidak jawab doa kita. Daniel 3:1-15, Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, mereka tetap konsisten percaya kalau Allah mereka akan menolong, sekalipun tidak menolong, mereka tetap tidak akan menyembah patung Nebukadnezar tersebut. Wahyu 2:4-5, Tuhan akan cela hidup kita ketika kita meninggalkan kasih mula-mula... Apa sih kasih mula-mula itu? Kisah 19:8-10, Kasih mula-mula itu pada waktu kita berhenti jadi MURID maka kasih mula-mula kita sudah hilang. Muridkan orang lain dengan cara sharing quality of life. JADILAH TELADAN! Bapa, pagi ini kami kembali merendahkan diri kami: Liching-Siusiang. Sadarkan kami kalau firmanMu adalah makanan jiwa bagi kami dan tidak dapat hidup tanpanya. Jadikan kami pelaku firmanMu sehingga kami mengetahui arah kami, memiliki hikmatMu, hidup dalam kebenaranMu dan taat. Terima kasih untuk sukacitaMu dan pertumbuhan iman kami yang semakin stronger in You Lord. Kami alaskan semua kerinduan kami ini kepada-Mu pagi ini Tuhan. And we believe that kami akan terus menjadi anakMu yang semakin lulus berhasil melakukan firmanMu. Amin. Morning sister... Today is a beautiful day that God has made, cheers up and rejoice in Him. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 2
Jika dihadapkan dua macam hidangan, dimana yang satu berasal dari bahan-bahan makanan berharga mahal, bergizi tinggi dengan bahan-bahan yang sukar didapat namun dimasak oleh seseorang yang baru belajar kuliner sedangkan yang satu lagi merupakan makanan dengan bahan-bahan umum & biasa ditemukan di pasar tetapi dimasak oleh seorang chef terkenal di dunia, manakah yang akan Anda pilih untuk makan? Saya yakin sebagian besar dari kita akan memilih olahan chef terkenal tadi. Mengapa? Sebab yang penting bukanlah bahan-bahannya tapi siapa yang meraciknya. Dari tangan-tangan mereka yang ahli di bidangnya, terkadang dari bahan dasar atau perkakas yang tidak kita sangka muncul karya atau cara-cara yang spektakuler. Demikian pula karya Tuhan dalam hidup manusia. Di tangan Tuhan, orang-orang sederhana seperti Petrus, Yohanes, Yakobus atau orang-orang biasa seperti Matius, Natanael, Filipus & Andreas dan yang lainnya dapat diproses-Nya menjadi sesuatu yang mencengangkan banyak orang. Bahkan Paulus yang brillian mungkin hanya akan dikenang sebagai seorang Farisi keras, yang dalam kebrutalannya membunuh pengikut-pengikut sekte baru di zamannya. Tapi di tangan Tuhan, ia jadi rasul yang masih menggemparkan dunia ribuan tahun lamanya hingga kini. Dan oleh sentuhan tangan dingin kasih karunia Tuhan melalui Daud maka “ … setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, (1 Sam. 22:2)” diubahkan-Nya menjadi prajurit-prajurit gagah perkasa yang menumbangkan raksasa-raksasa. Dia masih melakukannya hingga kini: memilih apa yang bodoh, lemah, tak terpandang, yang hina & tak berarti untuk mempermalukan apa yang hebat menurut dunia (1 Kor. 1:27-28). Dunia mungkin memiliki orang-orang terbaiknya, tapi di tangan Tuhan yang ahli & ajaib hasil akhirnya akan berbeda. Sebab buluh yang terkulai masih akan ditegakkannya & sumbu yang memudar apinya masih akan dirawat & dijaganya agar kembali bersinar! (Yes. 42:3). Saat menyerahkan hidup ke tangan Tuhan, Anda menjadi mahakarya. Percayakah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 3
Maz 27:1 – TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Nggak ada! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Tuesday, 22 September 2015

22 September 2015

BILLIONAIRE




Yohanes 15:7, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Dengan CARA bagaimana saudara “berusaha TETAP tinggal didalam Yesus”?? Agar kita TETAP tinggal dalam Kristus, mari menabur firmanNya/bersaksi karena Allah sudah ‘menabur’ terlebih dahulu dengan memberikan anakNya Tuhan Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia dari maut. Amin.

Respon 1
“Satu level di atas mempercayai Tuhan adalah bisa dipercaya oleh Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 2
Pergumulan dan pertolongan Tuhan adalah bagian dari kisah kehidupan manusia. Keluaran 18:8, ‘Sesudah itu Musa menceritakan kepada mertuanya segala yang dilakukan TUHAN kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka.’ (GNCC)

Respon 3
Roma 10:15 – Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa KABAR BAIK! Yukkk sebarkan firman TUHAN yang merupakan kabar baik ini. STOP! Berita-berita yang jelek! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 4
Adalah merupakan fakta Alkitab bahwa Allah kita ialah Tuhan yang suka memberkati umat-Nya. Dialah Bapa yang baik, Gembala yang baik, Dia baik adanya dalam segala keberadaan-Nya. Segala pemberian yang baik & anugerah yang sempurna berasal dari pada-Nya (Yak. 1:17). Dia juga sumber segala berkat (Ul. 28:2; Ef. 1:3), pada-Nya ada kuasa untuk menjadikan kaya (Ul. 8:17-18; 1 Taw. 29:11-12; 1 Sam. 2:7; Ams. 10:22). Sesungguhnya umat Tuhan dikehendaki-Nya menjadi suatu umat yang diberkati! (Ul. 28:3-14). Pertanyaannya, bagaimana jika kita menyembah Allah Israel itu demi memperoleh berkat-berkatNya semata? Beribadah kepada-Nya supaya dilancarkan segala sesuatunya & meraih hidup sukses di dunia ini? Dan akankah kita memperoleh curahan berkat-Nya apabila itu yang menjadi motif utama kita memuja-Nya? Jika kita menyembah Tuhan semata-mata untuk apa yang Dia bisa lakukan bagi kita, maka motif kita sebenarnya serupa dengan kebanyakan orang yang memuja sesuatu yang supranatural demi beroleh berkah (dimana biasanya mereka pun memperoleh yang mereka inginkan). Di manakah bedanya dengan orang-orang yang mencari kekayaan mudah melalui memuja figur ilahi, dewa-dewa atau roh-roh gaib tertentu? Dan jika diajarkan sedemikian agar kita semangat & tekun beribadah ke gereja, bukankah itu menyamakan ajaran Kristus dengan kepercayaan-kepercayaan dari dunia ini? Tidakkah ini menuntun pada kesesatan? Perbedaan Tuhan kita dengan ilah manapun di semesta ini ialah bahwa Allah kita mengasihi kita & telah membuktikan kasih-Nya itu melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib untuk menebus kita. Pada sisi lain, kita pun dipanggil untuk mengasihi Dia, memperhatikan pikiran & isi hati-Nya, lalu mengikut Dia karena cinta & merindukan persekutuan dengan Dia. Sebagaimana tak seorang pun dari kita rela jika orang baik pada kita hanya untuk memanfaatkan kita demi kepentingannya sendiri, demikian pula Tuhan, yang bukan cuma memberkati namun juga mendidik kita dengan kasih. Jadi, akankah penyembahan kita didapati tulus di hadapan-Nya? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Monday, 21 September 2015

21 September 2015

BILLIONAIRE




Galatia 6:7b, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” MEMBERI/MENABUR dengan sukacita selain memuliakan Tuhan, menolong orang lain juga memberkati diri sendiri. Amin. Ketika kita meneruskan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita, DIA dimuliakan, orang lain terbantu & kita diberkati.  Amin. Menabur = Menuai. Taburlah sesuatu yang baik, entah itu waktu, persahabatan, semangat/motivasi ataupun hanya telinga yang mendengar PASTI akan menuai kebaikan, tidak hanya untuk orang tersebut tetapi juga untuk diri sendiri. Amin.

Respon 1
God knows everything about you and every matter concerning you. Nothing is hidden from His sight. So submit to God »Beth Moore«. Tuhan mengetahui semuanya mengenai anda dan segala hal yang berurusan dengan anda. Tidak ada yang tersembunyi dari pandanganNya. Jadi serahkanlah kepada Tuhan »Beth Moore«. Good morning Father, we praise You, we Love You and we adore You. Terima kasih selalu untuk hari yang indah dan terima kasih Yesus, oleh kasih karuniaMu, kami bisa selalu hidup bersyukur untuk setiap keadaan. Bapa, kuduskan dan sucikan setiap kami, suami kami dan anak-anak kami. Biarlah hidup takut akan Engkau yang tetap menjadi kebutuhan utama kami, bagi suami dan anak-anak kami. Bawa kami Bapa untuk tetap haus dan lapar akan Engkau, akan firmanMu. Bawa kami per keluarga hidup semakin taat dan menjadi pelaku firman-Mu. Please hold us tight Jesus, we really need You deeply. All of us here Jesus, need you deeply: Liching-Siusiang. Berikan kami terus hikmat-Mu, dalam berjalan di dunia ini, mampu mempraktekkan hidup, yang tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular. Thank You Jesus. Segala kemuliaan hanya untukMu saja. Dan kami semua akan melakukan kembali aktivitas kami dalam seminggu ini, apapun yang kami dan keluarga kami lakukan pasti berhasl dan beruntung. In Jesus name we pray. Amin. Morning sister. Have a blessed week and walk in faith. Gbu. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 2
Maz 81:17 – Umat-KU akan KUberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu AKU akan mengenyangkan-NYA! Alami sendiri PEMELIHARAAN-NYA yang ajaib! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 3
“Dipercaya Tuhan adalah anugerah yang luar biasa.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
Ayat bacaan: Kolose 3:5-17. Nats: Karena itu, matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang yang tidak taat]. (Kolose 3:5,6). Mati Terhadap Dunia. Di beberapa daerah di Indonesia, kita dapat menjumpai pemandangan seperti ini: sesajen berbentuk makanan dan minuman diletakkan di nisan-nisan. Keluarga orang yang meninggal memperlakukan almarhum seolah-olah masih hidup. Tetapi, seenak apa pun makanan yang disajikan, orang yang meninggal itu tak tergoda sedikit pun untuk menikmatinya. Mengapa? Karena ia sudah mati terhadap kehidupan dunia ini, termasuk makanan lezat sekali pun. Sebagai orang percaya, kita diperintahkan untuk mematikan segala sesuatu yang duniawi, hal-hal yang berlawanan dengan kehendak Allah, seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, dan penyembahan berhala. Sehebat apa pun hal itu menggoda, seharusnya kita tidak meresponnya lagi. Mengapa? Karena sekarang di dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru, pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya. Kita dipanggil untuk melakukan perbuatan-perbuatan kasih dan bukan perbuatan-perbuatan kegelapan. Sebagai manusia baru, kita tak perlu lagi merespons godaan hal-hal duniawi dan perbuatan kegelapan. Sebaliknya, kita harus membuangnya dan, sebagai gantinya, mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, pengampunan, dan damai sejahtera. Biarlah perkataan Kristus dan segala kekayaannya berdiam dalam diri kita. Dikuasai Kristus memungkinkan kita mengatakan 'tidak' terhadap segala sesuatu yang duniawi. Ya, ingatlah identitas kita sebagai ciptaan baru, dan hiduplah sesuai dengan identitas tersebut! Semangat pagi, Tuhan memberkati. (Bp. Budi – PT. MPU)

Sunday, 20 September 2015

20 September 2015

BILLIONAIRE




Mazmur 126:5-6, 5Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 6Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Amin. Kesedihan yang mendalam (mencucurkan air mata) dalam menabur sambil bergumul dalam DOA, akan mendatangkan berkat-berkat dari Tuhan yang ajaib. Sebagai orang percaya kita diyakinkan bahwa apa yang kita taburkan dengan rajin sekarang ini akan diberkati dengan berlimpah-limpah oleh Tuhan dimasa depan. Mari kita ‘menabur’ dengan kesetiaan, kebenaran, doa sekalipun harus mengalami ‘kepedihan’ karena mengetahui bahwa akan ada tuaian besar yang Tuhan curahkan. Amin.

Respon 1
Maz 84:11 – Sebab lebih baik 1 hari di pelataran-MU dari pada 1.000 hari di tempat lain! Yuk ibadah, rasakan hadirat TUHAN, Firman yang hidup. Sip. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 2
Ada jarak sekitar hampir 200 tahun antara raja pertama kerajaan Israel yang terdiri sepuluh suku, Yerobeam I dengan raja Yerobeam II. Tidak kebetulan keduanya yang memiliki nama sama. Seolah itu membuka & menutup era kasih karunia Tuhan. Yerobeam II adalah raja Israel terakhir yang memerintah dengan relatif damai & tenang, sebab 6 raja sesudahnya (yang berkuasa relatif singkat) membawa Israel dalam krisis yang kian parah hingga hancurnya kerajaan itu menjadi tawanan bangsa Asyur. Yerobeam II juga adalah keturunan ke-4 atau terakhir dari Yehu yang sempat mengembalikan Israel ke jalur yang benar dengan menumpas Izebel, seluruh keturunan serta sistem pemerintahannya yang keji itu. Antara pemerintahan Yehu hingga Yerobeam II ada rentang waktu kira-kira 100 tahun. Sesungguhnya cukup lama Tuhan bersabar. Sebab sejak zaman Yerobeam I, Tuhan memiliki keberatan hingga Yerobeam I memerintah. Catatan kitab Raja-Raja yang pertama (1 Raja-Raja) menunjukkan bahwa dalam 4 generasi Yehu, Tuhan terus menyoroti dosa Yerobeam I yang tidak pernah diubah oleh 4 generasi Yehu, yang seharusnya menjadi reformator-reformator Israel. Dosa apakah? Dosa mengadakan ibadah penyembahan patung lembu emas yang disebut sebagai Allah Israel yang membebaskan mereka dari Mesir, serupa dengan yang dilakukan oleh Harun di padang gurun. Terhadap penyembahan itulah Tuhan menjadi murka sebab selama hampir 200 tahun penyembahan demikian terus berlangsung padahal semua itu jauh dari yang ditetapkan-Nya melalui Musa. Dan karena itu, Tuhan mengirim nabi Hosea & nabi Yunus (Hosea 1:1; 2 Raja-Raja 14:25) demi menyadarkan mereka. Ada kesesatan yang besar dalam ibadah Israel sedemikian lamanya. Itu karena mereka tidak mau benar-benar mengenal Allah. Baik imam atau rakyatnya menolak pengenalan akan Allah (Hos. 4:4-6). Ibadah kita harus semata-mata tertuju pada Tuhan & dilakukan dengan cara-Nya -yang lahir dari pengenalan yang benar & sungguh akan Dia (Hos. 6:1-6). Bukankah semuanya itu untuk menyenangkan hatinya & bukan untuk membuat-Nya murka? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 3
“Tiga kata yang Tuhan rindu kita ucapkan: ‘Selamat pagi, Bapa.’” Xavier Quentin Pranata.


Respon 4
SAAT TEDUH. Minggu, 20 September 2015. SEPERTI EMAS. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas (Ayub 23:10). Emas termasuk logam mulia, yaitu logam yang tahan terhadap oksidasi dan korosi (karat). Berbeda dengan kayu yang menjadi abu bila dibakar, emas tetap bertahan dalam kobaran api. Hanya wujudnya yang mencair pada suhu sekitar 1000°C. Ayub menggambarkan pengalaman dan ujian hidupnya sebagai proses pemurnian emas (ay. 10). Ia juga menyadari hidup ini penuh misteri, termasuk fakta bahwa Allah seolah diam saja. Di situ Ayub belajar beriman bahwa Allah itu hidup dan sedang menguji dirinya. Seolah-olah, Ayub berkata kepada sahabatnya, “Hai Elifas, Bildad, dan Zofar, sekalipun aku tak mampu menemukan hadirat Allah, aku yakin Dia hidup dan mengetahui jalan hidupku. Dia tahu jalan yang kutempuh. Aku percaya kepada-Nya. Setelah ujian ini berlalu, Dia akan membenarkan aku, sebab Dia tahu bagaimana aku hidup di hadapan-Nya. Aku akan timbul seperti emas yang sudah teruji oleh api pencobaan. Aku bersaksi bahwa aku menuruti jalan-Nya, dan firman-Nya aku simpan dalam hatiku” (ay. 8-12). Kisah penderitaan Ayub ini dimaksudkan untuk mengajarkan kepada kita bahwa selalu ada rencana terbaik di balik setiap ujian hidup yang Tuhan izinkan menimpa kita. Cara Ayub memandang persoalan mengajar kita bahwa Tuhan memegang kendali kehidupan kita. Hidup kita ibarat emas dan begitu berharga di mata Tuhan. Jika Tuhan ‘membakar’ hidup kita, Dia tidak bermaksud menghancurkannya. Sebaliknya, Dia ingin mendapati kualitas iman yang teruji, yang murni, sebuah kehidupan yang tanpa cela di hadapan-Nya —SYS. TUHAN MENGUJI BUKAN UNTUK MENGHANCURKAN HIDUP KITA. SEBALIKNYA, DIA SEDANG MEMURNIKAN KITA SEPERTI EMAS. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Saturday, 19 September 2015

19 September 2015

BILLIONAIRE




Prinsip Tabur Tuai (2 Kor 9:6-8). 2 Kor 9:6, “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Semua yang kita miliki berasal dari Allah, apapun yang kita berikan dengan kerelaan hati, Allah sanggup mengembalikannya kepada kita. Bahkan dalam jumlah yang lebih besar, Rasul Paulus mendorong orang percaya supaya memberi dengan murah hati & dengan sukacita (ayat 7). Ketika kita memberi, kita akan mendapati bagaimana kita diberkati sebagai alasannya (Ayat 8). Apa yang terlintas dalam pikiran kita bila kita diberi kesempatan “membantu/memberi” seseorang yang sedang berada dalam “kesulitan/kekurangan”?? Apakah itu merupakan ‘kesempatan untuk menabur’ atau untuk ‘kehilangan’? Amin.

Respon 1
1 Pet 2:24 – Oleh bilur-bilur-NYA kamu telah SEMBUH! Gejala/sakit (jasmani maupun rohani) apapun sekarang SEMBUH dalam nama TUHAN YESUS. Percayalah! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 2
SAAT TEDUH. Sabtu, 19 September 2015. Kasih Tidak Berkesudahan (1 Korintus 13:8). Di Surabaya, seorang suami diduga membunuh istrinya. Setelah tertangkap polisi, ia mengaku membunuh istri karena cemburu. Menurutnya, istrinya berhubungan dengan pria lain. Ia dan istrinya sudah sering bertengkar. Dalam pertengkaran terakhir, si istri berusaha menghindar dari suaminya sambil menggandeng anak mereka. Si suami terus mengejar sampai, di sebuah gang sempit, istrinya terjatuh. Laki-laki itu memukul kepala istrinya dengan empat pot bunga yang terbuat dari semen sehingga istrinya tewas. Kecemburuan memang salah satu penyebab keributan dalam rumah tangga. Orang sering keliru menganggap cemburu sebagai tanda cinta seseorang kepada pasangannya. Pada kenyataannya, yang terjadi malah sebaliknya, cemburu membuat orang jadi tidak sabar, marah, menyimpan kesalahan orang, dan berujung dengan perbuatan yang menyakiti dan membahayakan orang lain. Dalam 1 Korintus 13, Paulus menjelaskan tentang sifat kasih, yang jelas-jelas bertentangan dengan kecemburuan. Sebaliknya, kasih justru sabar, bermurah hati, tidak egois mengutamakan kepentingan diri sendiri. Orang yang mengasihi juga tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (ay. 4-5). Sebagai keluarga orang percaya, kita diundang untuk merawat dan memelihara keutuhan rumah tangga di dalam kasih. Jangan terbakar oleh cemburu terhadap pasangan, melainkan bersedialah saling mengakui kesalahan, saling percaya, dan sabar menanggung segala sesuatu (ay. 7). Biarlah kasih melingkupi dan menopang kehidupan rumah tangga kita —IN. KASIH MEMADAMKAN API KECEMBURUAN DAN MEMBANGUN SENDI-SENDI KEHIDUPAN RUMAH TANGGA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 3
Hari itu jelas hari yang tak akan terlupakan bagi Maria, gadis dari desa terpencil, Nazaret. Penghulu malaikat, Gabriel, datang menjumpainya secara pribadi & memberitahukan padanya bahwa ia mendapat kasih karunia Tuhan (Luk.1:28-30). Dan berbeda dengan pemikiran kebanyakan orang bahwa beroleh kasih karunia Tuhan itu sama dengan mendapat kemudahan hidup, Maria mendapat kasih karunia untuk… mengandung secara ajaib oleh Roh Kudus (yang pada sisi lain, ia akan hamil tanpa suami & berisiko dirajam atau minimal dikucilkan masyarakat). Nyatanya sejak hari itu, hidup Maria tidak pernah sama lagi -istilah yang lebih halus dari pada “semakin sulit”. Semua karena ia mendapat kasih karunia Tuhan (mengetahui ini, masihkah Anda menginginkannya lebih lagi?). Sesungguhnya hari itu pula, Maria mengetahui rencana Tuhan yang sempurna bagi dirinya, tujuan keberadaannya di muka bumi. Ia akan melahirkan bayi & membesarkan seorang manusia yang merupakan inkarnasi illahi, seorang Juruselamat yang bernama Yesus & akan bergelar Kristus, Sang Mesias itu sendiri. Mengetahui tujuan hidup merupakan suatu kasih karunia yang besar sebab hanya sedikit dari bermilyar-milyar orang, yang pernah & masih ada di dunia ini, mengetahui gambaran masa depan terbaik yang ada di pikiran sang penciptanya. Sebab seperti kita tahu, kita terbiasa mengikuti jalan hidup & angan-angan kita sendiri. Kita ingin sukses, berprestasi, menjadi kaya atau dikenal banyak orang, atau memiliki profesi terpandang atau membangun bisnis yang menguntungkan. Setiap orang memiliki cita-cita & impiannya sendiri. Masalahnya, apakah itu telah sesuai dengan hati Tuhan, perancang & pemilik hidup kita? Jika bersedia jujur pada diri, bukankah di antara anak-anak Tuhan sampai para pemimbing rohani sekalipun masih kabur dalam memahami tujuan hidup? Masih ada kasih karunia itu bagi Anda sebab Tuhan rindu membukakan rahasia-Nya bagi Anda. Rindukah Anda memperoleh kasih karunia untuk mengubah dunia & membuat sejarah bersama Tuhan? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Friday, 18 September 2015

18 September 2015

BILLIONAIRE




1 Tim 6:17, “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” Apa yang kita miliki tidak ada hubungan dengan siapa kita. Salomo orang yang paling berhikmat & juga paling kaya disegala zaman berkata: “Siapa mencintai uang/kekayaan tidak akan puas dengan uang” (Pengkotbah 5:9). Allah telah membuatnya menjadi jelas, uang/kekayaan tidak dapat memberikan apa yang benar-benar kita butuhkan sebab hanya DIA yang sanggup memberikan segala sesuatu untuk kita nikmati. Amin. Tuhan tidak peduli seberapa banyak/seberapa sedikit uang yang dimiliki seseorang, Tuhan hanya peduli dengan HATI kita, yaitu HATI yang terpusat kepadaNya & yang bermurah hati atas segala sesuatu. “sebab hidupnya tidaklah bergantung kepada kekayaannya itu” (Lukas 12:15b). Amin.

Respon 1
Mazmur 42:6 – Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku! (GNCC)

Respon 2
Jumat, 18 September 2015. Bacaan: Keluaran 17:1-7. Setahun: Daniel 10-12. Nats: Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?” (Keluaran 17:2). KEKERINGAN ROHANI. Ketika masih kuliah saya mengalami kemarau panjang yang sangat merepotkan. Ketika itu saya tinggal di kos bersama lima orang teman. Kami harus sangat berhemat agar persediaan air cukup untuk memenuhi kebutuhan harian. Demi menghemat air, kami antara lain makan dengan menggunakan kertas makan, bukan piring. Sungguh tersiksa kami saat itu. Air merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan kita. Bahkan saat menghabiskan waktu untuk melakukan aktivitas ringan pun, kita membutuhkan air untuk minum. Wajar jika masalah kekurangan air yang dialami oleh bangsa Israel di padang gurun membuat mereka resah. Tetapi, yang membuat tidak wajar adalah ketika mereka bersungut-sungut dan kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Mereka tidak hanya mengalami kekeringan secara jasmani, namun juga rohani. Mereka telah mengalami penyertaan dan pemeliharaan Tuhan di sepanjang perjalanan dari tanah Mesir. Tetapi, mereka belum juga belajar bersandar kepada Tuhan. Di balik dahaga jasmani yang mereka alami, sesungguhnya bangsa Israel mengalami dahaga rohani. Hal inilah yang menjadikan mereka merasa lebih baik tinggal di Mesir. Mereka tidak memahami arti kemerdekaan dari perbudakan. Kekeringan rohani membutakan mereka akan kehadiran Tuhan yang menyegarkan hidup, yang menjanjikan hari depan penuh harapan. Apakah kita mengalami kekeringan rohani? Jangan biarkan jiwa kita mengalami gejala kekeringan dan dahaga. Mari segarkan dahaga kita dengan meminum air hidup yang Tuhan sediakan! --Endang Lestari. MINUMLAH AIR HIDUP YANG TUHAN SEDIAKAN! NISCAYA KITA TIDAK AKAN PERNAH DAHAGA SELAMANYA. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 3
“Semut yang diinjak bisa menggigit, bisa juga mati sebelum sempat menggigit.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
SAAT TEDUH. Jumat, 18 September 2015. Tak Menanggapi. Karena itu, matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang yang tidak taat] (Kolose 3:5-6). Sebuah SMS masuk ke HP saya. Seolah berasal dari mahasiswi kesepian yang minta ditemani. Bukannya merasa senang, saya malah membayangkan seorang penipu sedang mengincar saya untuk dijadikan mangsa. Si pengirim tentu tidak mengenal saya. Bila direspons, penipu itu akan tahu banyak detail pribadi saya. Mungkin ia akan menggunakannya untuk memeras saya. SMS itu pun segera saya hapus. Menurut dugaan saya, SMS itu dikirim ke banyak orang, dan bisa jadi menelan korban. Godaan berdosa dapat masuk lewat banyak pintu. Sasarannya keduniawian dalam diri kita, yaitu hawa nafsu dan nafsu jahat. Selain percabulan, nafsu duniawi mencakup pula keinginan untuk memperoleh uang secara cepat tanpa perlu bekerja keras. Kenikmatan dan kepuasan yang bersifat sementara sering sangat memikat dan dapat menyebabkan kejatuhan kita. Rasul Paulus mengajarkan dua cara untuk menghadapinya. Pertama, dengan mencari dan memikirkan hal-hal surgawi. Kedua, dengan tidak lagi hidup seperti manusia lama. Di dalam Kristus, kita telah mati terhadap dosa. Ketika menghadapi godaan, kita tidak perlu menanggapinya, sama seperti orang mati tidak bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Apakah selama ini Anda berusaha menekan hawa nafsu agar tidak jatuh dalam dosa? Mungkin semakin ditekan, semakin sulit Anda mengendalikan desakan nafsu itu? Saatnya menggunakan anjuran Rasul Paulus, yaitu dengan tidak merespons rangsangan keduniawian. Sembari Anda memusatkan perhatian pada hal-hal surgawi —HEM. MARI BELAJAR UNTUK TIDAK MENANGGAPI GODAAN KEDUNIAWIAN SAMBIL TERUS MEMUSATKAN DIRI PADA PERKARA SURGAWI. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Thursday, 17 September 2015

17 September 2015

BILLIONAIRE




Pengkhotbah 5:9, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilan-nya. Inipun sia-sia.” Maksudnya: Uang & harta yang berlimpah-limpah tidak dapat memberi arti kepada hidup, dengan demikian tidak bisa mendatangkan kebahagiaan sejati :(. Uang & kekayaan itu tetaplah terbatas sebab uang bukanlah sumber kebahagiaan & kepuasan hidup. Uang memiliki keterbatasan sebab uang adalah ciptaan bukan sebagai Pencipta J. Amin.

Respon 1
2 Raja-Raja 6:16 – Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka! Bukalah mata rohani kita, ada YESUS yang sanggup menolong kita! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 2
Jangan sampai hilang pengharapanmu karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Roma 5:5, ‘Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.’ (GNCC)

Respon 3
10 PESAN BIJAK. “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat & mulut penuh tipu muslihat” (Amsal 8:13). 1. Ketika kita merasa hidup kita terlalu berat, sudahkah kita BERSYUKUR atas nafas kita hari ini? Sudahkah kita SENYUM atas indahnya pagi? 2. Tak peduli apa yang telah hilang dalam hidup kita, selama kita masih mampu BERSYUKUR pada TUHAN, kita tidak akan pernah kehilangan apapun. 3. Cantik bukan berarti baik, kaya bukan berarti bahagia, karena KECANTIKAN & KEKAYAAN BUKAN JAMINAN KESEMPURNAAN. 4. HIDUP INI SINGKAT... Jalani hidup kita selagi bisa, jangan peduli apa yang orang katakan tentang kita. Lakukan apa yang membuat kita bahagia seturut KEHENDAK TUHAN. 5. Setiap masalah yang datang dalam hidup adalah cara TUHAN mempersiapkan diri kita untuk masa depan. TUHAN tahu yang terbaik untuk kita. 6. Kitalah PEMIMPIN dalam hidup kita. Orang lain boleh MEMPENGARUHI kita, tapi kita sendiri yang harus MENENTUKAN. 7. Setiap orang yang BERSALAH dalam hidup kita mengajarkan kita satu hal: Hati yang kuat adalah hati yang sanggup MEMAAFKAN, bukan MELUPAKAN. 8. HIDUP MEMANG TAK MUDAH, tapi selama kita TAK MENYERAH, setiap AIRMATA & TAWA akan jadikan kita pribadi yang lebih BIJAKSANA. 9. Jika kita tak ingin orang lain MEMPERMAINKAN PERASAAN kita, berhenti MENGGANTUNGKAN HIDUP kita pada orang lain. 10. Jangan pernah merasa kita HIDUP SENDIRI di dunia ini, karena tanpa kita sadari, begitu banyak yang PEDULI pada kita. COBALAH MEMBUKA HATI... “Tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-NYA turun temurun” (Mazmur 33:11). Good morning Father, thank you for today, thank you for our lovely families and thank you for everything. Kami rindu air hidupMu tetap mengalir di dalam kami baik hari ini maupun sepanjang hidup kami. Roh Kudus tetaplah tinggal dalam setiap kami, dan kami menjadi pelaku firmanMu dan tidak selalu gagal dalam menjalankan apa yang Kau perintahkan. Ampuni semua dosa dan kesalahan kami dalam nama YESUS kami berdoa. Amin. (Ibu Caroline – Bandung)


Respon 4
“Sakit hati lebih sulit disembuhkan ketimbang sakit fisik.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 5
SAAT TEDUH. Kamis, 17 September 2015. Di Tangan yang Baik. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15). Suatu kali saya harus dioperasi karena radang usus buntu. Cukup tenang saya menjalaninya karena sebagian orang yang terlibat saya kenal. Ahli biusnya teman dekat saya. Kepala perawatnya juga. Mereka merekomendasikan dokter yang sama untuk operasi itu. Saya percaya kasus saya berada di tangan yang baik. Benar saja. Operasi berlangsung dengan lancar. Meskipun perut saya kini dihiasi bekas luka sepuluh jahitan, toh kondisi tubuh saya kian membaik dan pulih. Kepercayaan pada tim dokter memberi ketenangan dalam menjalani operasi; terlebih lagi kepercayaan pada Yesus, Imam Besar Agung kita! Yesus dapat berempati dengan segala kelemahan manusia. Dia turut merasakan kelemahan kita karena Dia juga pernah dicobai sama seperti kita. Hanya bedanya, kita serbagagal mengatasinya; Dia menang telak atas segala pencobaan itu! Dan, Dia menyediakan kemenangan itu bagi kita yang percaya, agar kita memperoleh pertolongan dalam menghadapi kelemahan hidup. Bukankah hal ini—bahwa kita berada di Tangan yang baik—selayaknya membangkitkan ketenteraman yang besar bagi kita dalam menjalani hidup ini? Lalu, kenapa kita lebih mudah cemas dan kalut? Bisa jadi kita belum betul-betul meresapi peran Yesus sebagai imam besar ini. Kita lebih sering membayangkan, untuk menerima pertolongan Tuhan, kita mesti memenuhi syarat moral yang tinggi—yang sesungguhnya mustahil kita genapi. Tidak pahamkah kita bahwa Yesus sudah menggenapi segala syarat itu bagi kita, dan kita tinggal menerimanya dalam iman?—ARS. MEMERCAYAI KEBAIKAN DAN KEMENANGAN YESUS, IMAM BESAR AGUNG KITA, MEMBANGKITKAN KENTENTERAMAN YANG BESAR DALAM MENJALANI HIDUP. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 6
Pengkhotbah 5:9, ‘siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia sia.” Punya pendapatan berapapun kalau nuruti keinginan ya pasti kurang. Karena keinginan manusia itu tak terbatas. Jadi... uang itu tidak bisa memberi kepuasan. Meski berperan dalam hidup kita tapi uang tidak bisa menjadi sumber kepuasan kita. Uang punya keterbatasan karena uang adalah ciptaan bukan sebagai pencipta. (Ibu Rita – PKS CL 4)

Respon 7
Tuhan mencurahkan berkat-berkatNya atas tangan orang-orang yang rajin bekerja. Meski demikian, berkat-berkat terbesar & terlengkap Tuhan janjikan & berikan bagi umat-Nya yang hidup berbakti kepada-Nya. Sekali lagi, ini bukan bagi mereka yang rajin datang ke tempat-tempat ibadah atau orang-orang yang menghabiskan waktu untuk berdoa atau bermeditasi. Janji “diberkatilah kau di kota & di ladang; diberkati hasil bumi, hasil ternakmu, bakulmu & adonanmu; diberkatilah keluar & masukmu” (Ul. 28:3-6) dimana “TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu” (28:8) akan digenapkan bagi mereka yang “mendengarkan suara Tuhan & melakukan segala perintah-Nya” dimana melakukan segala ketetapan-Nya itu berkaitan dengan suatu cara hidup sedemikian, yang menyatakan bahwa kita adalah umat yang dikasihi & yang mengasihi Tuhan. Bekerja keras dengan rajin demi mencukupi kebutuhan hidup adalah baik. Tapi Alkitab menegaskan ada lebih daripada sekedar menjalani hidup, memenuhi kebutuhan hidup atau menikmati kenyamanan hidup dari hasil jerih payah kita. Ada panggilan untuk mencari Kerajaan Allah & kebenaran-Nya sebagai prioritas utama (Mat. 6:33). Ada fungsi & peran utuk menjadi garam & terang dunia yang membawa warna & dampak rohani bagi dunia yang gelap ini (Mat. 5:13-16). Pula, ada amanat agung, suatu tugas suci untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus (Mat. 28:18-20). Itulah sebabnya diperintahkan supaya “jika kita makan atau minum atau melakukan apapun yang lain, kita harus melakukannya untuk kemuliaan nama Tuhan” (1 Kor. 10:31) & itulah mengapa setelah ditebus, seharusnya kita “tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri melainkan untuk Dia yang telah mati & bangkit bagi kita” (2 Kor. 5:14). Sehingga pekerjaan atau pelayanan kita menjadi ibadah sejati. Bukan hanya rajin bekerja, tapi juga giat bagi kepentingan-kepentingan Kerajaan Allah & bagi kemuliaan nama-Nya -itulah hidup yang diinginkan Tuhan. Yang atasnya Dia pasti mencurahkan berkat-berkat terbaik-Nya. Setujukah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)