Wednesday, 30 September 2015
30 September 2015
BILLIONAIRE
Maleakhi 3:8, “Bolehkah
manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: ‘Dengan cara
bagaimanakah kami menipu Engkau?’ Mengenai persembahan persepuluhan dan
persembahan khusus!” Selain membawa Persembahan Persepuluhan, kita
juga membawa Persembahan Khusus (persembahan atas dasar sukarela) &
Persembahan/Investasi Iman (Pengorbanan atas dasar Iman/Komitmen). Bila selama
sebulan ini kita sudah belajar bersama dalam Seri Billionares
(Menabur-Menuai), percayalah 2 Kor 9:6, “Camkanlah ini: Orang yang menabur
sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai
banyak juga.” Amin.
Respon
Ada orang-orang
yang mungkin hampir sepanjang usianya dilalui dalam kemuraman. Dan di
tengah-tengah dunia yang dilanda krisis demi krisis dari waktu ke waktu, jumlah
orang-orang yang tertekan, suram, murung & tenggelam dalam
persoalan-persoalan hidup akan terus bertambah. Namun, hidup selayaknya
dijalani dengan sukacita. Itulah yang membuat hidup ini indah & berarti.
Dan sebagaimana sukacita hilang karena hidup dilihat & dirasakan sebagai
sesuatu yang menyedihkan, menakutkan, membosankan, tanpa harapan & penuh
dengan alasan untuk menjadi kuatir maka sukacita tumbuh di hati karena
kebalikannya: mengetahui masih ada, bahkan banyak kebaikan dalam hidup.
Caranya? Dengan HIDUP DALAM SIKAP HATI YANG BERSYUKUR SETIAP HARI (1 Tes. 3:9;
Maz. 44:9; Ef. 5:4,20; Kol. 3:16,17; 1 Tes. 5:18). -Hidup penuh syukur berarti
secara aktif mencari & menemukan hal-hal baik atau potensi-potensi kebaikan
yang bisa terjadi di hidup kita dengan pertolongan Roh Kudus-Nya. Bersyukur
“memaksa” kita menyadari betapa banyak hal-hal baik di samping yang buruk yang
kita pikir terus menerus terjadi pada kita. -Mengatakan “Terima kasih, Tuhan”
jauh lebih baik daripada bertanya “Mengapa, Tuhan?” sebab dengan mengucap
syukur pada-Nya dalam kondisi-kondisi terburuk sekalipun kita disadarkan bahwa
kita tidak pernah sendirian. Lebih dari itu, kita berkesempatan melalui
segalanya bersama Yesus, sahabat terbaik kita. -Dengan mengucap syukur setiap
waktu, kita meletakkan seluruh iman & pengharapan pada Tuhan; suatu
deklarasi bahwa seburuk apapun yang telah & mungkin bisa terjadi kita
memilih tetap yakin bahwa Tuhan akan mengubahkan semuanya itu bagi kebaikan
yang menguntungkan kita dimana semua indah pada waktu-Nya. Dari mendisiplin
diri mengucap syukur maka sukacita akan bersemi, tumbuh hingga berbuah-buah
-sampai dunia melihatnya & bertanya-tanya bagaimana sukacita semacam itu
masih tetap ada hari ini. Maukah Anda memilih bersyukur pada Tuhan apapun yang
terjadi supaya sepanjang hidup Anda dipenuhi sukacita sejati? Salam revival!
GBU. (Worship Center Surabaya)
Tuesday, 29 September 2015
29 September 2015
BILLIONAIRE
Imamat 27:30, “Demikian
juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah
maupun dari buah pohon- pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus
bagi TUHAN.” 1 Kor 16:2, “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu
hendaklah kamu masing-masing-- sesuai dengan apa yang kamu peroleh--
menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu
baru diadakan, kalau aku datang.” Perpuluhan = 1/10 = 10%, bagian yang
wajib kita kembalikan kepada Tuhan. Baik dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru, mengajarkan agar kita membawa Persembahan Perpuluhan untuk ‘menguji
DIA’ apakah DIA juga sungguh-sungguh memberkati kita setelah kita membawa
Perpuluhan? Amin.
Respon 1
Rasa tertuduh akan
membuat lumpuh potensi didalam hidupmu. Ada kemerdekaan didalam Kristus. Roma
8:1, ‘Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman (condemnation = tuduhan) bagi
mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.’ (GNCC)
Respon 2
“Kebahagiaan sejati
tidak perlu dicari karena dia ada di dalam diri.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
Yeremia 32:27 –
Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang
mustahil untuk-Ku? Tiap hari kita akan menghadapi 2 hal, kalau bukan mujizat,
pasti pelajaran-pelajaran iman. Percayalah kekuatiran tidak pernah mengubah hasil.
Kita tidak mungkin lebih sukses gara-gara kekuatiran. Saat kita berpikir tidak
sanggup, dengarlah Tuhan berkata “AKU sanggup”. Dia tahu masa depan kita dan
Dia juga sudah ada disana. Tuhan selalu tahu waktu terbaik untuk memberikan
yang terbaik bagi kita. When our circumstances feel bigger than God, fill our
heart with worship instead of worry. Nothing is impossible! Kami bersyukur
Bapa, Kau telah memberikan sister yang bisa saling berbagi. Kami tahu bahwa
kami adalah orang-orang yang bisa dipercaya dan hidup dewasa dalam
jalan-jalanMu dan memiliki iman percaya. Ajar kami: Liching-Siusiang untuk
saling mendukung, saling mengasihi dan saling memperhatikan. Kerjakan karya
mujizatMu Bapa pada saat kami berdoa. Terima kasih Yesus. Kami mau, dalam
apapun juga, kehendakMu yang jadi dan bukan kehendak kami. In Jesus name we
pray and receive. Amin. (Ibu Caroline – Bandung)
Monday, 28 September 2015
28 September 2015
BILLIONAIRE
Mengapa Tuhan ingin
saya memberi? 1) Dengan memberi: sembuh dari materialistis (1 Tim
6:17-19). 2) Dengan memberi = memperkuat iman kita (Amsal 3:5,9 &
10). 3) Dengan memberi = menjadi makmur (Amsal 11:25). Kita memang HIDUP
dari apa yang kita PEROLEH (hasil kerja) & akan tetapi kita “MENDAPATkan
HIDUP” atau sukacita atau kebahagiaan dari apa yang kita BERI. Amin.
Respon 1
Dalam mazmurnya
yang fenomenal, yang digubahnya tidak lama setelah nabi Natan menyampaikan
pesan profetiknya pada Daud setelah kejatuhannya dengan Batsyeba, ada sesuatu
yang penting mengenai bagaimana seharusnya kita menyikapi firman Tuhan yang
datang pada kita. Tidak kurang hampir (mungkin lebih) 20 kali banyaknya, Daud
menggunakan kata ganti “aku” menyangkut dosa, noda, pelanggaran kesalahan &
kejahatan yang dilakukannya di hadapan Tuhan. Tidak satu kata pun ia menyebut
peran orang lain, juga tiada kalimat yang menunjukkan ia melemparkan tanggung
jawab atas kesalahan itu. Daud mendengar perkataan Tuhannya & mengoreksi
diri. Ia tidak membela diri tetapi menyelidiki hati & hidupnya. Ia tidak
melihat keluar dari dirinya; ia melihat ke relung-relung hatinya yang terdalam
lalu menemukan & mengakui setiap dosa & kegagalannya. Daud merenungkan
teguran-teguran Allahnya lalu BERURUSAN DENGAN DIRINYA SENDIRI DI HADIRAT
TUHAN. Sikap Daud menanggapi pesan-pesan ilahi patut menjadi teladan bagi kita.
Bahkan dalam penempelakan yang terang-terangaan, sebagai seorang raja yang
sangat berkuasa waktu itu, Daud memilih mengakui & mengambil tanggung jawab
atas perbuatan salah itu. Ia mungkin mampu membungkam sang nabi, melemparkan
kesalahan pada Batsyeba yang begitu menggoda, atau ia setidaknya lebih dari
sanggup berbantah-bantah atau menyangkal sambil bersilat lidah membela diri
atau meminta dimaklumi sebagai sesuatu yang tidak perlu dibesar-besarkan.
Faktanya, Daud tidak memilih satupun dari itu semua. Ia memilih dengan jujur
& tulus mengakui dosa-dosanya. Bertobat. Tidak banyak yang menerima firman
lalu mengoreksi diri, mohon pengampunan & berubah. Yang lebih sering adalah
menggunakan firman untuk menunjuk-nunjuk kesalahan orang atau mengutip
ayat-ayat Alkitab untuk menutup-nutupi dosanya. Inilah Kristen agamawi yang
tampak benar di hadapan orang tapi hatinya busuk di hadapan Tuhan. Tahu firman
tapi hidup tanpa pertobatan & kehancuran hati ialah Farisi-Farisi rohani
(Mat. 3:7-8). Jadi, akankah Anda menyambut firman seperti Daud? Salam revival!
GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 2
“Ketika orang ingin
kompetisi tanpa introspeksi diri dia bisa jadi orang yang tinggi hati.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Senin,
28 September 2015. KEBESARAN HATI. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin
kecil (Yohanes 3:30). Charles Dickens pernah memberikan pernyataan tentang
siapakah sebenarnya orang yang disebut terbesar itu. Ia berkata, “Ada orang
besar yang menjadi besar dengan cara mengecilkan dan merendahkan orang lain.
Tetapi, seorang besar sejati adalah seorang yang mampu membuat setiap orang
merasa dirinya besar.” Hampir setiap orang ingin menjadi nomor satu dan
terkemuka. Tidak semua orang mempunyai kebesaran hati untuk menjadi orang nomor
dua. Namun, Yohanes Pembaptis memahami benar arti sebuah kebesaran sejati. Di
saat begitu banyak orang mulai ribut dan membanding-bandingkannya dengan Yesus,
Yohanes Pembaptis justru menunjukkan kebesaran hatinya. Pernyataannya bahwa
Yesus harus makin besar, tetapi ia harus makin kecil menunjukkan betapa ia
tidak berusaha membesarkan dirinya sendiri. Ia tahu panggilan Tuhan baginya
sebagai pembuka jalan bagi Mesias yang akan datang (ay. 28). Tujuan hidupnya
adalah mengarahkan hati orang-orang kepada Yesus, Sang Mesias, dan bukan kepada
dirinya sendiri. Bagaimana dengan kita? Bagaimana reaksi kita ketika di hadapan
kita berdiri orang-orang yang siap menggantikan posisi kita? Apa reaksi kita
ketika banyak orang mulai membanding-bandingkan kemampuan kita dengan orang
lain? Apakah kita mulai terganggu? Seorang besar sejati tentu tidak akan
terganggu dengan semua itu. Sebaliknya, ia akan menunjukkan kebesaran hatinya
untuk membuat orang lain merasa dirinya besar. Ia akan memberi dukungan dan
turut senang dengan keberhasilan orang lain –SYS. ORANG YANG MEMILIKI KEBESARAN
HATI AKAN TERBEBAS DARI GODAAN UNTUK BERSAING. Selamat pagi. Welcome Monday.
Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Sunday, 27 September 2015
27 September 2015
BILLIONAIRE
2 Kor 9:6-8, “6Camkanlah
ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang
menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7Hendaklah masing-masing
memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena
paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 8Dan
Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu
senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam
pelbagai kebajikan.” Amin. Kita harus memberi dengan RELA HATI, jangan
terpaksa & dengan sukacita karena Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan
SUKACITA, Tuhan berkuasa memberi berkat kepada kita berkat yang melimpah supaya
kita selalu mempunyai apa yang kita butuhkan, bahkan kita akan berkelebihan
untuk berbuat baik. Amin. Sudahkah kita memberi dengan RELA & SUKACITA?
Respon 1
Minggu, 27
September 2015. Bahan Bacaan: Maleakhi 1:6-14. Nats: Jika Aku ini bapa, di
manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang
kepada-Ku itu? (Maleakhi 1:6). BERPAKAIAN yang PANTAS. Pak Tirta diundang Pak
Bupati ke rumahnya. Dua hari sebelumnya ia sudah mempersiapkan diri; mencukur
rambutnya, membeli kemeja batik baru, menyemir sepatunya. Ia tidak mau
berpakaian apa adanya, sebab bisa-bisa Pak Bupati menganggap ia tidak
menghormatinya. Begitulah, ketika kita akan berkunjung ke rumah seseorang yang
kita hormati, kita akan berusaha tampil ‘prima’, tidak asal-asalan. Alangkah
baiknya kalau ‘prinsip’ demikian diberlakukan juga ketika kita beribadah di
gereja. Bukan berarti kita harus selalu berpakaian baru, tetapi setidaknya berusahalah
tampil baik. Minimal rapih dan bersih. Sayangnya selalu saja ada orang yang
datang ke gereja dengan berpakaian seperti kalau mau jalan-jalan ke mal, atau
bahkan ke pasar. Mungkin mereka beralasan, Tuhan menilai hati bukan pakaian.
Tidak salah, tetapi jangan lupa, apa yang tampak dari luar biasanya merupakan
cerminan yang ada di dalam hati. Umat Tuhan mendapat teguran keras melalui Nabi
Maleakhi. Mereka telah mempersembahkan korban secara sembarangan asal-asalan
(ayat 7,8). Bisa jadi mereka juga berpikir, Tuhan tidak melihat wujud dari
persembahan itu. Ternyata tindakan mereka mengundang murka Tuhan, sebab mereka
telah menunjukkan sikap tidak hormat tidak menghargai Tuhan, Sang Raja di atas
segala raja (ayat 14). Hal ini bisa jadi pelajaran buat kita. Ketika kita akan
datang ke rumah Tuhan, nilailah dulu, apakah yang kita kenakan itu cukup pantas
dan sopan untuk hadir di hadirat Sang Raja Mahakudus. PENAMPILAN yang PANTAS
TIDAK HARUS BAGUS DAN MAHAL CUKUP TIDAK MENJADI BATU SANDUNGAN BAGI ORANG LAIN.
Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 2
Peristiwa Yesus
dielu-elukan di Yerusalem (Mat. 21:1-11 & catatan Injil lainnya) dengan
penyaliban-Nya telah menjadi suatu ironi. Kerumunan massa yang menghamparkan
jubah, meletakkan dahan-dahan di sepanjang jalan sambil melambai-lambaikan daun
palem untuk menyambut Yesus masuk kota itu kurang lebih tidak jauh berbeda
dengan khalayak gaduh di depan Pilatus sambil memekik, “Salibkan Dia!” enam
hari berikutnya. Yang memuji-muji & mengagung-agungkan Dia, nyatanya juga
menjadi penyalib-penyalibNya. Semua itu semu belaka. Ini bisa terjadi atas
kumpulan yang berduyun-duyun di ruang-ruang gereja setiap minggunya jika:
-Penyembahan itu sekedar gerakan emosi semata. Yoh. 12:17-18 memberitahu kita
darimana lautan manusia itu datang. Kegemparan karena Lazarus bangkit setelah 4
hari mati ialah pemicunya. Sayangnya, takjub menyaksikan mujizat lebih
membangkitkan sensasi sesaat daripada pengenalan pribadi akan Tuhan atau
komitmen kepada-Nya - jika berhenti pada pengalaman itu saja. -Puji-pujian itu
bersumber dari kata-kata orang & mengikuti aliran mayoritas massa. Semua
yang terlibat keramaian itu sebelumnya telah mendengar tentang “Nabi Yesus dari
Nazaret” -bukannya Anak Allah yang hidup (Mat. 21:10-11). Ibadah yang didasarkan
kesaksian orang atau kumpulan jemaat yang besar jelas menggugah perasaan, tapi
tanpa pengenalan pribadi akan siapa Yesus, yang berasal dari pengalaman
berjalan bersama Dia setiap hari, semua itu dangkal & mudah pudar.
-Pengagungan itu terbit dari harapan-harapan duniawi ketimbang dari kerinduan
hati Tuhan. Selagi hendak menjadikan Yesus pahlawan pembebas atas kondisi hidup
mereka yang tertindas, 4 Injil mencatat bahwa setelah peristiwa itu Yesus
justru menyucikan bait Allah. Yesus bermaksud menegakkan kerajaan rohani, massa
menghendaki kemakmuran jasmani. Penyembahan yang berkenan di hadapan Tuhan
berasal dari hati yang mengalami & mengenal Dia secara pribadi -dimana oleh
kemurahan-Nya kita dimampukan mengiring Dia hingga kesudahannya & tidak
mengkhianati Dia. Bagaimana dengan ibadah Anda? Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)
Respon 3
“Di saat kita
merasa tidak butuh apa-apa, pada saat itulah kita paling butuh Tuhan.” Xavier
Quentin Pranata.
Saturday, 26 September 2015
26 September 2015
BILLIONAIRE
Lukas 16:10, “Barangsiapa
setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.
Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga
dalam perkara-perkara besar.” Ayat 11: “Jadi, jikalau kamu tidak setia
dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu
harta yang sesungguhnya?” Jika kita diberi tanggung jawab pekerjaan sekecil
apappun, kita harus kerjakan dengan sebaik-baiknya & dengan
sejujur-jujurnya, nantinya kita akan diberi tanggung jawab yang lebih besar
lagi. Amin. Sudahkah kita setia dalam perkara-perkara yang kecil?
Respon 1
Sabtu, 26 September
2015. Bacaan: Matius 18:6-11. Setahun: Nahum 1-Habakuk 3. Nats: Ingatlah,
jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini (Matius 18:10).
MENGHARGAI ANAK. Berdasarkan data Komisi Nasional Perlindungan Anak, sepanjang
tahun 2013 terjadi 1.620 kasus kekerasan terhadap anak, yang terdiri atas
kekerasan fisik (30%), kekerasan emosional (19%), dan yang tertinggi adalah
kekerasan seksual (51%). Statistik yang memprihatinkan. Anak-anak yang
semestinya dirawat dan ditumbuhkembang-kan jadi pribadi unggul, malah jadi
korban kekerasan. Yesus mengecam keras orang yang memperlakukan anak kecil
secara jahat. “Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini
yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan
pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut” (ay. 6). Kata ‘menyesatkan’,
skandalizo, berarti menjerat, membuat tersandung, menyebabkan orang
meninggalkan jalan yang benar. Yesus serius memperhatikan iman anak kecil
sehingga Dia serius menghukum orang yang menyesatkan anak kecil. Yesus sangat
menghargai anak kecil dan menentang orang yang merendahkan mereka. Peringatan
Yesus itu dalam konteks iman, namun dapat diterapkan secara lebih luas. Banyak
orangtua kurang menghargai anak dengan membanding-bandingkan anak dengan anak
lain, berfokus pada kesalahan anak, tidak memberi anak kesempatan berbicara
atau mengemukakan pendapat, dan sebagainya. Perlakuan semacam ini dapat berdampak
buruk, tak kalah dari kekerasan secara fisik. Karena itu, biarlah kasih Yesus
di dalam hati kita, mengajar kita untuk mengasihi anak-anak seperti Yesus
mengasihi mereka. Kiranya pula anak-anak itu boleh mengenal Tuhan mereka sejak
dini --Lim Ivenina Natasya. MENGASIHI ANAK BERARTI MENGHARGAI MEREKA DAN
MENOLONG MEREKA MENGALAMI KASIH TUHAN. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 2
“Ketekunan
tiba-tiba secara mengejutkan bisa menyalib kepandaian.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Sabtu,
26 September 2015. TEKANAN HIDUP. Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan
hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu
bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum.
Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu (Yakobus 5:8-9). Saya pernah
tinggal di rumah kayu yang lapuk sehingga dapat mendengar perkataan tetangga
sebelah kiri-kanan. Suatu kali nenek di rumah sebelah memarahi dan memaki
cucunya cukup lama. Pencetus kemarahannya mungkin sepele bagi sebagian kita,
namun tidak bagi mereka. Si cucu menumpahkan bedak nenek, padahal bedak itu
terhitung barang mahal bagi keluarga yang hidup sangat pas-pasan itu. Tekanan
hidup kerap memantik kemarahan kita, bahkan kadang-kadang sampai meledak tak
terkendali. Menghadapi tekanan hidup, kita cenderung bersungut-sungut dan
menyalahkan orang lain. Yakobus menyebutnya sebagai dosa yang dapat mengundang
hukuman. Menggerutu dan mempersalahkan pihak lain mungkin dapat sedikit
meringankan perasaan. Namun, Tuhan menghendaki kita bersabar dan tekun.
Penderitaan adalah bagian dari ujian iman. Yakobus mengingatkan bahwa Tuhan,
Hakim Agung itu, sudah dekat. Kita bakal memetik hasil manis ketekunan kita
sama seperti petani yang menantikan hasil tanamnya (ay. 7). Juga seperti Ayub
yang memperoleh karunia berlimpah setelah melalui masa penderitaan (ay. 11).
Apakah saat ini Anda sedang dihimpit oleh tekanan hidup? Anda lelah dan penat,
seolah penderitaan Anda tidak pernah akan berakhir? Relasi Anda dengan
keluarga, teman, dan rekan kerja pun semakin memburuk? Ingatkan diri Anda bahwa
Tuhan itu penyayang dan penuh belas kasihan (ay. 11). Kesabaran Anda menghadapi
tekanan pasti akan berbuah manis ketika Tuhan datang kembali dalam
kemuliaan-Nya —HEM. TEKANAN HIDUP HARUS DIHADAPI DENGAN SABAR DAN TEKUN.
NISCAYA KITA PUN BEROLEH KEBAHAGIAAN TAK TERKIRA BILA SAATNYA TIBA. Selamat
pagi. Selamat berkahir pekan. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Friday, 25 September 2015
25 September 2015
BILLIONAIRE
Respon 1
“Hal-hal kecil dan
sederhana yang kita lakukan secara rutin justru membuat perbedaan besar dan
bermakna.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
SAAT TEDUH. Jumat,
25 September 2015. JANGAN BEDAKAN AKU. Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua
anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan
ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia (Kejadian 37:3). Pada 20
Desember 1989, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengesahkan Konvensi Hak Anak dan
memberlakukannya sebagai hukum internasional pada 2 September 1990. Konvensi
ini dipandang perlu karena bagaimanapun anak masih rentan terhadap perlakuan
yang salah, masih bergantung pada orang dewasa, dan sedang mengalami masa
tumbuh kembang. Salah satu hak anak yang diatur di dalamnya adalah hak untuk
tidak diperlakukan secara diskriminatif. Yakub begitu mengasihi Yusuf, anak
yang lahir pada usia tuanya. Besarnya cinta Yakub terhadap Yusuf membuatnya
memperlakukan Yusuf secara istimewa. Contohnya, ia menghadiahi Yusuf jubah yang
sangat indah. Perlakuan istimewa ini tidak diberikan Yakub kepada anak-anaknya
yang lain. Akibatnya timbul kebencian dan kemarahan mereka terhadap Yusuf (ay.
4). Tentunya ini menimbulkan relasi yang tidak baik di antara kakak-beradik
itu, ditambah lagi Yakub terkesan membiarkan situasi ini terjadi (ay. 11).
Nantinya mereka berniat membunuh Yusuf dan kemudian menjualnya sebagai budak.
Orangtua kadang-kadang terjebak untuk memperlakukan anak secara pilih kasih.
Ada anak yang disayangi lebih dari saudaranya yang lain. Lewat pelajaran kisah
Yusuf, kita belajar untuk memperlakukan anak secara adil. Setiap anak istimewa
dan, karenanya, layak diperlakukan secara istimewa pula. Orangtua perlu belajar
memberikan cinta kasih secara adil dan wajar sehingga tidak menimbulkan iri
hati dan kebencian yang dapat merusak hubungan antarsaudara —AAS. DISKRIMINASI
MEMECAH-BELAH KELUARGA, KASIH MEMPERSATUKAN DAN MENGERATKAN HUBUNGAN. Selamat
pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 3
Banyak orang tidak
siap & berpikiran negatif saat mendengar istilah “menyangkal diri”. Ada
yang menjauhinya. Ada pula yang menjadikannya alasan tidak menjadi orang
Kristen. Sebagian lainnya beranggapan itu sesuatu yang hanya akan dilakukannya
pada masa tua. Apapun pandangan orang di muka bumi mengenai “menyangkal diri”,
firman Tuhan tidak berubah. Menyangkal diri ialah salah satu syarat utama
mengikut Yesus. Titik. Yang tidak melakukannya, tidak layak bagi-Nya &
tidak akan diperhitungkan sebagai pengikut-Nya (Mat. 16:24; Mrk. 8:34; Luk.
9:23). Dan pertanyaan ini mungkin melintas di hati kita: mengapa harus seperti
itu? Inilah beberapa alasannya: 1- Sebab jalan-jalan Tuhan bertentangan dengan
jalan dunia ini (Yak. 4:4). Yang ikut arus dunia ini menuju ke arah yang
berbeda dengan kemana Tuhan hendak membawa kita. Jika kita tidak melawan segala
keinginan dosa & keduniawian yang bergejolak dalam kita, pastilah kita
tertarik & terseret gelombang dunia yang menuju kebinasaan ini (1 Yoh.
2:17). Jelas, menyangkal diri merupakan perintah yang berujung kebaikan &
keselamatan jiwa kita. 2- Menyangkal diri adalah suatu sikap yang membuktikan
kesungguhan & kesetiaan kita mengikut Kristus (1 Yoh. 2:6; 1 Pet.1:13-19).
Bandingkanlah dengan orang-orang yang memuja penguasa-penguasa kegelapan, yang
rela menjalani ritual-ritual paling menyakitkan, bertingkah bak orang hilang
ingatan, hingga mengorbankan anak-anak & keturunan-keturunan mereka sebagai
tumbal hanya demi kenyamanan hidup sesaat, yang kelak berakhir dalam kematian
abadi di neraka. Oh, betapa ringan & gembira mengikut Kristus meski harus
melawan dosa seketika lamanya. 3- Hidup menyangkal diri membuktikan bahwa kita
hidup dalam kekuatan & kuasa kasih karunia-Nya yang mengubah hidup (2 Kor.
5:15; Fil. 3:7-8). Tak seorangpun sanggup melawan dirinya sendiri yang dikuasai
dosa kecuali ia telah beroleh kekuatan yang besar untuk melakukannya. Itulah
kuasa kasih-Nya (the power of His love) yang memampukan kita mengubah cara
hidup yang lama. Bukankah demikian? Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)
Thursday, 24 September 2015
24 September 2015
BILLIONAIRE
Yesaya 32:20, “Berbahagialah
kamu yang boleh menabur di segala tempat di mana terdapat air, yang dapat
membiarkan sapi dan keledainya pergi ke mana-mana!” Benih akan ‘berguna,
bertumbuh dengan subur’ jika ditabur di tanah/‘di tempat yang baik’/di tempat
yang TEPAT (di mana terdapat air). Menabur/memberi adalah salah satu kunci
hidup berkelimpahan, umur panjang & memperlebar Kerajaan Surga. Amin.
Sudahkah kita menabur benih di tempat yang tepat? Lakukan apa yang menjadi ‘bagian
kita’/menabur maka Tuhan yang akan melakukan bagianNya/memberkati kita. Amin
:).
Respon 1
Banyak yang setuju
untuk mengatakan bahwa cinta ialah suatu misteri. Tidak ada yang pernah
benar-benar tahu mengapa seseorang bisa mencintai orang lain. Cinta terkadang
datang & pergi tanpa kita benar-benar sadari. Ada yang sesaat berlangsung;
ada pula yang bertahan berpuluh tahun sampai sehidup semati dengan pasangannya.
Terkadang kita berpikir melihat suatu pasangan yang serasi di hadapan kita,
namun nyatanya tidak demikian. Atau sebaliknya, logika kita berkata pasangan
itu tidak cocok & sepadan -faktanya keduanya begitu saling menyayangi.
Memahami hubungan kasih di antara dua orang (laki-laki & perempuan) sepelik
mengerti hati manusia itu sendiri & serumit menyelami pikiran orang yang
selalu tersembunyi di hadapan siapapun selain Tuhan. Itulah mengapa Agur yang
penuh hikmat menyebutkannya sebagai salah satu dari 4 hal yang terlalu sukar
dipahaminya: jalan seorang laki-laki dengan seorang gadis (Ams. 30:19d). Hanya
dua orang itu yang benar-benar memahami mengapa mereka melangkah bersama dalam
cinta. Serupa dengan itulah gambaran antara Kristus & mempelainya yaitu
kita, gereja-Nya. Kita tidak pernah benar-benar tahu mengapa Bapa sangat
mengasihi kita sehingga mengutus Yesus untuk mati bagi kita & mengirim Roh
Kudus yang dengan penuh kesabaran menuntun & mengajari kita. Sebuah pujian
menggambarkan-nya dengan baik: “Ku tak tahu mengapa Yesus mengasihiku. Ku tak
tahu mengapa Dia pedulikanku. Ku tak tahu mengapa Dia korbankan hidup-Nya. Oh,
tapiku bersuka, bersyukur Dia telah perbuat itu bagiku” (terjemahan bebas dari
lagu “I don't know why Jesus loves me”). Bisa jadi kita memang tidak pernah
tahu alasan kasih Tuhan bagi kita, namun satu hal harus kita pastikan. Kita
harus menyadari kasih itu & menanggapinya dengan semestinya. Yaitu dengan
melakukan perintah-Nya: mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi
& kekuatan kita. Oh biarlah keberadaan kita, yang terlihat ataupun tidak,
seluruhnya menyatakan bahwa kita mencintai Tuhan. Lebih dari segala-galanya.
Setujukah Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 2
Maz 121:2 –
Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi! YESUS sumber
PERTOLONGANku! Mulai besok 25/9-5/10 “kiriman AYAT-LIBUR” sebab saya sekeluarga
pelayanan dan antar Eva anak saya kuliah di Sydney-Aussie! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.
Respon 3
“Banyak orang
membeli gengsi ketimbang fungsi, mengejar prestise daripada prestasi.” Xavier
Quentin Pranata.
Respon 4
MENEMUKAN ARUS.
Bacaan: Yohanes 7:32-44. NATS: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, seperti yang
dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air
hidup (Yohanes 7:38). Apakah yang dapat merusak pelayanan baik sebuah gereja?
Cukup seseorang yang haus kekuasaan. Salah seorang pendeta yang pernah menjadi
teman saya semasa kuliah, mengirimkan surat kepada saya dan menceritakan
tentang gangguan yang terjadi di gerejanya. Orang-orang di gerejanya telah
beriman kepada Kristus, dan jumlah jemaatnya berkembang menjadi empat kali
lipat. Anggota-anggota gereja aktif melayani di gereja dan masyarakat. Namun
kemudian, seseorang yang duduk di posisi kepemimpinan mulai merasa iri dengan
pengaruh sang pendeta. Karena ia merasa patut memperoleh kekuasaan lebih, maka
mulailah ia menjelek-jelekkan sang pendeta. Ia berharap hal ini dapat
meningkatkan kualitasnya. Ia tidak peduli tindakannya berpengaruh negatif
terhadap karya Allah; ia hanya menginginkan kekuasaan dan pengakuan. Ia memicu
kekacauan yang menyebabkan teman saya akhirnya mengundurkan diri. Apabila kita
melayani Kristus, kita tidak punya hak untuk mencari kekuasaan. Kita tidak
berhak memperoleh gengsi. Kita tidak memiliki alasan untuk mencari peningkatan
harga diri dan pengakuan. Betapa lebih baik jika kita melayani dengan diam-diam
di belakang, sambil mengingat Yesus, teladan kita yang “datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani” (Matius 20:28). Apakah Anda seorang
pendeta? Pengajar? Diaken? Misionaris? Anggota gereja? Jika Anda mencari
kekuasaan, Anda barangkali akan mendapatkannya. Akan tetapi, kekuasaan yang
Anda dapatkan itu akan menjadi kekuasaan yang merusak pelayanan baik dari
gereja Anda. KITA KEHILANGAN PERKENANAN ALLAH APABILA MENCARI PUJIAN MANUSIA.
(Bp. Budi – PT. MPU)
Wednesday, 23 September 2015
23 September 2015
BILLIONAIRE
Kis 25:35, “Dalam
segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja
demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat
perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih
berbahagia memberi dari pada menerima.” Amin. Memberi adalah salah satu ‘bentuk
persembahan’, persembahan adalah salah satu pengakuan bahwa Tuhan-lah sumber
kehidupan kita. Dengan MEMBERI itu artinya kita memghormati Tuhan. MEMBERI
melatih kita agar tidak melekat kepada harta duniawi tetapi hanya Tuhan yang ‘melekat’
dihati kita. Amin. MEMBERI lebih BERBAHAGIA daripada MENERIMA. Mari mulai
menabur dengan MEMBERI yang terbaik untuk hormat kemuliaanNya J.
Respon 1
Ketidakpercayaan
sama dengan kepercayaan yang tidak konsisten. Misalnya: saat dalam masalah,
kita bilang percaya sih Tuhan tolong kita tapi... Atau saat sakit, kita bilang
percaya sih Tuhan itu menyembuhkan tapi... Itu sama aja dengan kepercayaan yang
tidak konsisten.. Kita harus mulai melatih diri untuk konsisten percaya. Mau
Tuhan jawab doa kita atau nggak jawab doa kita, percaya saja... Kita harus
seimbangkan pada saat Tuhan jawab doa kita dan saat Tuhan tidak menjawab doa
kita. INGAT saat Tuhan tidak menjawab doa kita, itu tidak mengganggu realita
bahwa dia Allah yang menjawab doa kita. Percaya kita pada Tuhan jangan
diombang-ambingkan karena Tuhan tidak jawab doa kita. Daniel 3:1-15, Sadrakh,
Mesakh, dan Abednego, mereka tetap konsisten percaya kalau Allah mereka akan
menolong, sekalipun tidak menolong, mereka tetap tidak akan menyembah patung
Nebukadnezar tersebut. Wahyu 2:4-5, Tuhan akan cela hidup kita ketika kita
meninggalkan kasih mula-mula... Apa sih kasih mula-mula itu? Kisah 19:8-10,
Kasih mula-mula itu pada waktu kita berhenti jadi MURID maka kasih mula-mula
kita sudah hilang. Muridkan orang lain dengan cara sharing quality of life.
JADILAH TELADAN! Bapa, pagi ini kami kembali merendahkan diri kami:
Liching-Siusiang. Sadarkan kami kalau firmanMu adalah makanan jiwa bagi kami
dan tidak dapat hidup tanpanya. Jadikan kami pelaku firmanMu sehingga kami
mengetahui arah kami, memiliki hikmatMu, hidup dalam kebenaranMu dan taat.
Terima kasih untuk sukacitaMu dan pertumbuhan iman kami yang semakin stronger
in You Lord. Kami alaskan semua kerinduan kami ini kepada-Mu pagi ini Tuhan.
And we believe that kami akan terus menjadi anakMu yang semakin lulus berhasil
melakukan firmanMu. Amin. Morning sister... Today is a beautiful day that God
has made, cheers up and rejoice in Him. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 2
Jika dihadapkan dua
macam hidangan, dimana yang satu berasal dari bahan-bahan makanan berharga
mahal, bergizi tinggi dengan bahan-bahan yang sukar didapat namun dimasak oleh
seseorang yang baru belajar kuliner sedangkan yang satu lagi merupakan makanan
dengan bahan-bahan umum & biasa ditemukan di pasar tetapi dimasak oleh
seorang chef terkenal di dunia, manakah yang akan Anda pilih untuk makan? Saya
yakin sebagian besar dari kita akan memilih olahan chef terkenal tadi. Mengapa?
Sebab yang penting bukanlah bahan-bahannya tapi siapa yang meraciknya. Dari
tangan-tangan mereka yang ahli di bidangnya, terkadang dari bahan dasar atau
perkakas yang tidak kita sangka muncul karya atau cara-cara yang spektakuler.
Demikian pula karya Tuhan dalam hidup manusia. Di tangan Tuhan, orang-orang
sederhana seperti Petrus, Yohanes, Yakobus atau orang-orang biasa seperti
Matius, Natanael, Filipus & Andreas dan yang lainnya dapat diproses-Nya
menjadi sesuatu yang mencengangkan banyak orang. Bahkan Paulus yang brillian
mungkin hanya akan dikenang sebagai seorang Farisi keras, yang dalam kebrutalannya
membunuh pengikut-pengikut sekte baru di zamannya. Tapi di tangan Tuhan, ia
jadi rasul yang masih menggemparkan dunia ribuan tahun lamanya hingga kini. Dan
oleh sentuhan tangan dingin kasih karunia Tuhan melalui Daud maka “ … setiap
orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang,
setiap orang yang sakit hati, (1 Sam. 22:2)” diubahkan-Nya menjadi
prajurit-prajurit gagah perkasa yang menumbangkan raksasa-raksasa. Dia masih
melakukannya hingga kini: memilih apa yang bodoh, lemah, tak terpandang, yang
hina & tak berarti untuk mempermalukan apa yang hebat menurut dunia (1 Kor.
1:27-28). Dunia mungkin memiliki orang-orang terbaiknya, tapi di tangan Tuhan
yang ahli & ajaib hasil akhirnya akan berbeda. Sebab buluh yang terkulai masih
akan ditegakkannya & sumbu yang memudar apinya masih akan dirawat &
dijaganya agar kembali bersinar! (Yes. 42:3). Saat menyerahkan hidup ke tangan
Tuhan, Anda menjadi mahakarya. Percayakah Anda? Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)
Respon 3
Maz 27:1 – TUHAN
adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN
adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Nggak ada! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Tuesday, 22 September 2015
22 September 2015
BILLIONAIRE
Yohanes 15:7, “Jikalau
kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa
saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Dengan CARA bagaimana
saudara “berusaha TETAP tinggal didalam Yesus”?? Agar kita TETAP tinggal dalam
Kristus, mari menabur firmanNya/bersaksi karena Allah sudah ‘menabur’ terlebih
dahulu dengan memberikan anakNya Tuhan Yesus Kristus untuk menyelamatkan
manusia dari maut. Amin.
Respon 1
“Satu level di atas
mempercayai Tuhan adalah bisa dipercaya oleh Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 2
Pergumulan dan
pertolongan Tuhan adalah bagian dari kisah kehidupan manusia. Keluaran 18:8, ‘Sesudah
itu Musa menceritakan kepada mertuanya segala yang dilakukan TUHAN kepada
Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka
alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka.’ (GNCC)
Respon 3
Roma 10:15 – Betapa
indahnya kedatangan mereka yang membawa KABAR BAIK! Yukkk sebarkan firman TUHAN
yang merupakan kabar baik ini. STOP! Berita-berita yang jelek! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Respon 4
Adalah merupakan fakta
Alkitab bahwa Allah kita ialah Tuhan yang suka memberkati umat-Nya. Dialah Bapa
yang baik, Gembala yang baik, Dia baik adanya dalam segala keberadaan-Nya.
Segala pemberian yang baik & anugerah yang sempurna berasal dari pada-Nya
(Yak. 1:17). Dia juga sumber segala berkat (Ul. 28:2; Ef. 1:3), pada-Nya ada
kuasa untuk menjadikan kaya (Ul. 8:17-18; 1 Taw. 29:11-12; 1 Sam. 2:7; Ams.
10:22). Sesungguhnya umat Tuhan dikehendaki-Nya menjadi suatu umat yang
diberkati! (Ul. 28:3-14). Pertanyaannya, bagaimana jika kita menyembah Allah
Israel itu demi memperoleh berkat-berkatNya semata? Beribadah kepada-Nya supaya
dilancarkan segala sesuatunya & meraih hidup sukses di dunia ini? Dan
akankah kita memperoleh curahan berkat-Nya apabila itu yang menjadi motif utama
kita memuja-Nya? Jika kita menyembah Tuhan semata-mata untuk apa yang Dia bisa
lakukan bagi kita, maka motif kita sebenarnya serupa dengan kebanyakan orang
yang memuja sesuatu yang supranatural demi beroleh berkah (dimana biasanya
mereka pun memperoleh yang mereka inginkan). Di manakah bedanya dengan
orang-orang yang mencari kekayaan mudah melalui memuja figur ilahi, dewa-dewa
atau roh-roh gaib tertentu? Dan jika diajarkan sedemikian agar kita semangat
& tekun beribadah ke gereja, bukankah itu menyamakan ajaran Kristus dengan
kepercayaan-kepercayaan dari dunia ini? Tidakkah ini menuntun pada kesesatan? Perbedaan
Tuhan kita dengan ilah manapun di semesta ini ialah bahwa Allah kita mengasihi
kita & telah membuktikan kasih-Nya itu melalui pengorbanan Yesus Kristus di
kayu salib untuk menebus kita. Pada sisi lain, kita pun dipanggil untuk
mengasihi Dia, memperhatikan pikiran & isi hati-Nya, lalu mengikut Dia
karena cinta & merindukan persekutuan dengan Dia. Sebagaimana tak seorang
pun dari kita rela jika orang baik pada kita hanya untuk memanfaatkan kita demi
kepentingannya sendiri, demikian pula Tuhan, yang bukan cuma memberkati namun
juga mendidik kita dengan kasih. Jadi, akankah penyembahan kita didapati tulus
di hadapan-Nya? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Monday, 21 September 2015
21 September 2015
BILLIONAIRE
Galatia 6:7b, “Karena
apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” MEMBERI/MENABUR
dengan sukacita selain memuliakan Tuhan, menolong orang lain juga memberkati
diri sendiri. Amin. Ketika kita meneruskan apa yang telah Tuhan berikan
kepada kita, DIA dimuliakan, orang lain terbantu & kita diberkati. Amin. Menabur = Menuai. Taburlah
sesuatu yang baik, entah itu waktu, persahabatan, semangat/motivasi
ataupun hanya telinga yang mendengar PASTI akan menuai kebaikan, tidak
hanya untuk orang tersebut tetapi juga untuk diri sendiri. Amin.
Respon 1
God knows
everything about you and every matter concerning you. Nothing is hidden from
His sight. So submit to God »Beth Moore«. Tuhan mengetahui semuanya mengenai
anda dan segala hal yang berurusan dengan anda. Tidak ada yang tersembunyi dari
pandanganNya. Jadi serahkanlah kepada Tuhan »Beth Moore«. Good morning Father,
we praise You, we Love You and we adore You. Terima kasih selalu untuk hari
yang indah dan terima kasih Yesus, oleh kasih karuniaMu, kami bisa selalu hidup
bersyukur untuk setiap keadaan. Bapa, kuduskan dan sucikan setiap kami, suami
kami dan anak-anak kami. Biarlah hidup takut akan Engkau yang tetap menjadi
kebutuhan utama kami, bagi suami dan anak-anak kami. Bawa kami Bapa untuk tetap
haus dan lapar akan Engkau, akan firmanMu. Bawa kami per keluarga hidup semakin
taat dan menjadi pelaku firman-Mu. Please hold us tight Jesus, we really need
You deeply. All of us here Jesus, need you deeply: Liching-Siusiang. Berikan
kami terus hikmat-Mu, dalam berjalan di dunia ini, mampu mempraktekkan hidup,
yang tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular. Thank You Jesus. Segala
kemuliaan hanya untukMu saja. Dan kami semua akan melakukan kembali aktivitas
kami dalam seminggu ini, apapun yang kami dan keluarga kami lakukan pasti
berhasl dan beruntung. In Jesus name we pray. Amin. Morning sister. Have a
blessed week and walk in faith. Gbu. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 2
Maz 81:17 – Umat-KU
akan KUberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu AKU akan
mengenyangkan-NYA! Alami sendiri PEMELIHARAAN-NYA yang ajaib! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Respon 3
“Dipercaya Tuhan
adalah anugerah yang luar biasa.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
Ayat bacaan: Kolose
3:5-17. Nats: Karena itu, matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi,
yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang
sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas
orang-orang yang tidak taat]. (Kolose 3:5,6). Mati Terhadap Dunia. Di beberapa
daerah di Indonesia, kita dapat menjumpai pemandangan seperti ini: sesajen
berbentuk makanan dan minuman diletakkan di nisan-nisan. Keluarga orang yang
meninggal memperlakukan almarhum seolah-olah masih hidup. Tetapi, seenak apa
pun makanan yang disajikan, orang yang meninggal itu tak tergoda sedikit pun
untuk menikmatinya. Mengapa? Karena ia sudah mati terhadap kehidupan dunia ini,
termasuk makanan lezat sekali pun. Sebagai orang percaya, kita diperintahkan
untuk mematikan segala sesuatu yang duniawi, hal-hal yang berlawanan dengan
kehendak Allah, seperti percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat,
keserakahan, dan penyembahan berhala. Sehebat apa pun hal itu menggoda,
seharusnya kita tidak meresponnya lagi. Mengapa? Karena sekarang di dalam
Kristus, kita adalah ciptaan baru, pilihan Allah yang dikuduskan dan
dikasihi-Nya. Kita dipanggil untuk melakukan perbuatan-perbuatan kasih dan
bukan perbuatan-perbuatan kegelapan. Sebagai manusia baru, kita tak perlu lagi
merespons godaan hal-hal duniawi dan perbuatan kegelapan. Sebaliknya, kita
harus membuangnya dan, sebagai gantinya, mengenakan belas kasihan, kemurahan,
kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, pengampunan, dan damai sejahtera.
Biarlah perkataan Kristus dan segala kekayaannya berdiam dalam diri kita.
Dikuasai Kristus memungkinkan kita mengatakan 'tidak' terhadap segala sesuatu
yang duniawi. Ya, ingatlah identitas kita sebagai ciptaan baru, dan hiduplah
sesuai dengan identitas tersebut! Semangat pagi, Tuhan memberkati. (Bp. Budi –
PT. MPU)
Sunday, 20 September 2015
20 September 2015
BILLIONAIRE
Mazmur 126:5-6, “5Orang-orang
yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 6Orang
yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan
sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” Amin. Kesedihan yang mendalam
(mencucurkan air mata) dalam menabur sambil bergumul dalam DOA, akan
mendatangkan berkat-berkat dari Tuhan yang ajaib. Sebagai orang percaya kita
diyakinkan bahwa apa yang kita taburkan dengan rajin sekarang ini akan
diberkati dengan berlimpah-limpah oleh Tuhan dimasa depan. Mari kita ‘menabur’ dengan
kesetiaan, kebenaran, doa sekalipun harus mengalami ‘kepedihan’ karena
mengetahui bahwa akan ada tuaian besar yang Tuhan curahkan. Amin.
Respon 1
Maz 84:11 – Sebab
lebih baik 1 hari di pelataran-MU dari pada 1.000 hari di tempat lain! Yuk
ibadah, rasakan hadirat TUHAN, Firman yang hidup. Sip. Selamat ibadah dan
melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Respon 2
Ada jarak sekitar
hampir 200 tahun antara raja pertama kerajaan Israel yang terdiri sepuluh suku,
Yerobeam I dengan raja Yerobeam II. Tidak kebetulan keduanya yang memiliki nama
sama. Seolah itu membuka & menutup era kasih karunia Tuhan. Yerobeam II
adalah raja Israel terakhir yang memerintah dengan relatif damai & tenang,
sebab 6 raja sesudahnya (yang berkuasa relatif singkat) membawa Israel dalam
krisis yang kian parah hingga hancurnya kerajaan itu menjadi tawanan bangsa
Asyur. Yerobeam II juga adalah keturunan ke-4 atau terakhir dari Yehu yang
sempat mengembalikan Israel ke jalur yang benar dengan menumpas Izebel, seluruh
keturunan serta sistem pemerintahannya yang keji itu. Antara pemerintahan Yehu
hingga Yerobeam II ada rentang waktu kira-kira 100 tahun. Sesungguhnya cukup
lama Tuhan bersabar. Sebab sejak zaman Yerobeam I, Tuhan memiliki keberatan
hingga Yerobeam I memerintah. Catatan kitab Raja-Raja yang pertama (1 Raja-Raja)
menunjukkan bahwa dalam 4 generasi Yehu, Tuhan terus menyoroti dosa Yerobeam I
yang tidak pernah diubah oleh 4 generasi Yehu, yang seharusnya menjadi
reformator-reformator Israel. Dosa apakah? Dosa mengadakan ibadah penyembahan
patung lembu emas yang disebut sebagai Allah Israel yang membebaskan mereka
dari Mesir, serupa dengan yang dilakukan oleh Harun di padang gurun. Terhadap
penyembahan itulah Tuhan menjadi murka sebab selama hampir 200 tahun
penyembahan demikian terus berlangsung padahal semua itu jauh dari yang
ditetapkan-Nya melalui Musa. Dan karena itu, Tuhan mengirim nabi Hosea &
nabi Yunus (Hosea 1:1; 2 Raja-Raja 14:25) demi menyadarkan mereka. Ada
kesesatan yang besar dalam ibadah Israel sedemikian lamanya. Itu karena mereka
tidak mau benar-benar mengenal Allah. Baik imam atau rakyatnya menolak
pengenalan akan Allah (Hos. 4:4-6). Ibadah kita harus semata-mata tertuju pada
Tuhan & dilakukan dengan cara-Nya -yang lahir dari pengenalan yang benar
& sungguh akan Dia (Hos. 6:1-6). Bukankah semuanya itu untuk menyenangkan
hatinya & bukan untuk membuat-Nya murka? Salam revival! GBU. (Worship
Center Surabaya)
Respon 3
“Tiga kata yang
Tuhan rindu kita ucapkan: ‘Selamat pagi, Bapa.’” Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
SAAT TEDUH. Minggu,
20 September 2015. SEPERTI EMAS. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia
menguji aku, aku akan timbul seperti emas (Ayub 23:10). Emas termasuk logam
mulia, yaitu logam yang tahan terhadap oksidasi dan korosi (karat). Berbeda
dengan kayu yang menjadi abu bila dibakar, emas tetap bertahan dalam kobaran
api. Hanya wujudnya yang mencair pada suhu sekitar 1000°C. Ayub menggambarkan
pengalaman dan ujian hidupnya sebagai proses pemurnian emas (ay. 10). Ia juga
menyadari hidup ini penuh misteri, termasuk fakta bahwa Allah seolah diam saja.
Di situ Ayub belajar beriman bahwa Allah itu hidup dan sedang menguji dirinya.
Seolah-olah, Ayub berkata kepada sahabatnya, “Hai Elifas, Bildad, dan Zofar,
sekalipun aku tak mampu menemukan hadirat Allah, aku yakin Dia hidup dan
mengetahui jalan hidupku. Dia tahu jalan yang kutempuh. Aku percaya kepada-Nya.
Setelah ujian ini berlalu, Dia akan membenarkan aku, sebab Dia tahu bagaimana
aku hidup di hadapan-Nya. Aku akan timbul seperti emas yang sudah teruji oleh
api pencobaan. Aku bersaksi bahwa aku menuruti jalan-Nya, dan firman-Nya aku
simpan dalam hatiku” (ay. 8-12). Kisah penderitaan Ayub ini dimaksudkan untuk
mengajarkan kepada kita bahwa selalu ada rencana terbaik di balik setiap ujian
hidup yang Tuhan izinkan menimpa kita. Cara Ayub memandang persoalan mengajar
kita bahwa Tuhan memegang kendali kehidupan kita. Hidup kita ibarat emas dan
begitu berharga di mata Tuhan. Jika Tuhan ‘membakar’ hidup kita, Dia tidak
bermaksud menghancurkannya. Sebaliknya, Dia ingin mendapati kualitas iman yang
teruji, yang murni, sebuah kehidupan yang tanpa cela di hadapan-Nya —SYS. TUHAN
MENGUJI BUKAN UNTUK MENGHANCURKAN HIDUP KITA. SEBALIKNYA, DIA SEDANG MEMURNIKAN
KITA SEPERTI EMAS. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan
Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Saturday, 19 September 2015
19 September 2015
BILLIONAIRE
Prinsip Tabur
Tuai (2 Kor 9:6-8). 2 Kor 9:6, “Camkanlah ini: Orang yang menabur
sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai
banyak juga.” Semua yang kita miliki berasal dari Allah, apapun yang kita
berikan dengan kerelaan hati, Allah sanggup mengembalikannya kepada
kita. Bahkan dalam jumlah yang lebih besar, Rasul Paulus mendorong orang
percaya supaya memberi dengan murah hati & dengan sukacita (ayat 7). Ketika
kita memberi, kita akan mendapati bagaimana kita diberkati sebagai alasannya
(Ayat 8). Apa yang terlintas dalam pikiran kita bila kita diberi kesempatan
“membantu/memberi” seseorang yang sedang berada dalam “kesulitan/kekurangan”??
Apakah itu merupakan ‘kesempatan untuk menabur’ atau untuk ‘kehilangan’? Amin.
Respon 1
1 Pet 2:24 – Oleh
bilur-bilur-NYA kamu telah SEMBUH! Gejala/sakit (jasmani maupun rohani) apapun
sekarang SEMBUH dalam nama TUHAN YESUS. Percayalah! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.
Respon 2
SAAT TEDUH. Sabtu,
19 September 2015. Kasih Tidak Berkesudahan (1 Korintus 13:8). Di Surabaya,
seorang suami diduga membunuh istrinya. Setelah tertangkap polisi, ia mengaku
membunuh istri karena cemburu. Menurutnya, istrinya berhubungan dengan pria
lain. Ia dan istrinya sudah sering bertengkar. Dalam pertengkaran terakhir, si
istri berusaha menghindar dari suaminya sambil menggandeng anak mereka. Si
suami terus mengejar sampai, di sebuah gang sempit, istrinya terjatuh.
Laki-laki itu memukul kepala istrinya dengan empat pot bunga yang terbuat dari
semen sehingga istrinya tewas. Kecemburuan memang salah satu penyebab keributan
dalam rumah tangga. Orang sering keliru menganggap cemburu sebagai tanda cinta
seseorang kepada pasangannya. Pada kenyataannya, yang terjadi malah sebaliknya,
cemburu membuat orang jadi tidak sabar, marah, menyimpan kesalahan orang, dan
berujung dengan perbuatan yang menyakiti dan membahayakan orang lain. Dalam 1
Korintus 13, Paulus menjelaskan tentang sifat kasih, yang jelas-jelas
bertentangan dengan kecemburuan. Sebaliknya, kasih justru sabar, bermurah hati,
tidak egois mengutamakan kepentingan diri sendiri. Orang yang mengasihi juga
tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain (ay. 4-5). Sebagai
keluarga orang percaya, kita diundang untuk merawat dan memelihara keutuhan
rumah tangga di dalam kasih. Jangan terbakar oleh cemburu terhadap pasangan,
melainkan bersedialah saling mengakui kesalahan, saling percaya, dan sabar
menanggung segala sesuatu (ay. 7). Biarlah kasih melingkupi dan menopang kehidupan
rumah tangga kita —IN. KASIH MEMADAMKAN API KECEMBURUAN DAN MEMBANGUN
SENDI-SENDI KEHIDUPAN RUMAH TANGGA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.
(Madam Ossy)
Respon 3
Hari itu jelas hari yang
tak akan terlupakan bagi Maria, gadis dari desa terpencil, Nazaret. Penghulu
malaikat, Gabriel, datang menjumpainya secara pribadi & memberitahukan
padanya bahwa ia mendapat kasih karunia Tuhan (Luk.1:28-30). Dan berbeda dengan
pemikiran kebanyakan orang bahwa beroleh kasih karunia Tuhan itu sama dengan
mendapat kemudahan hidup, Maria mendapat kasih karunia untuk… mengandung secara
ajaib oleh Roh Kudus (yang pada sisi lain, ia akan hamil tanpa suami &
berisiko dirajam atau minimal dikucilkan masyarakat). Nyatanya sejak hari itu,
hidup Maria tidak pernah sama lagi -istilah yang lebih halus dari pada “semakin
sulit”. Semua karena ia mendapat kasih karunia Tuhan (mengetahui ini, masihkah
Anda menginginkannya lebih lagi?). Sesungguhnya hari itu pula, Maria mengetahui
rencana Tuhan yang sempurna bagi dirinya, tujuan keberadaannya di muka bumi. Ia
akan melahirkan bayi & membesarkan seorang manusia yang merupakan inkarnasi
illahi, seorang Juruselamat yang bernama Yesus & akan bergelar Kristus,
Sang Mesias itu sendiri. Mengetahui tujuan hidup merupakan suatu kasih karunia
yang besar sebab hanya sedikit dari bermilyar-milyar orang, yang pernah &
masih ada di dunia ini, mengetahui gambaran masa depan terbaik yang ada di
pikiran sang penciptanya. Sebab seperti kita tahu, kita terbiasa mengikuti
jalan hidup & angan-angan kita sendiri. Kita ingin sukses, berprestasi,
menjadi kaya atau dikenal banyak orang, atau memiliki profesi terpandang atau
membangun bisnis yang menguntungkan. Setiap orang memiliki cita-cita &
impiannya sendiri. Masalahnya, apakah itu telah sesuai dengan hati Tuhan,
perancang & pemilik hidup kita? Jika bersedia jujur pada diri, bukankah di
antara anak-anak Tuhan sampai para pemimbing rohani sekalipun masih kabur dalam
memahami tujuan hidup? Masih ada kasih karunia itu bagi Anda sebab Tuhan rindu
membukakan rahasia-Nya bagi Anda. Rindukah Anda memperoleh kasih karunia untuk
mengubah dunia & membuat sejarah bersama Tuhan? Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)
Friday, 18 September 2015
18 September 2015
BILLIONAIRE
1 Tim 6:17, “Peringatkanlah
kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan
berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah
yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.”
Apa yang kita miliki tidak ada hubungan dengan siapa kita. Salomo orang yang
paling berhikmat & juga paling kaya disegala zaman berkata: “Siapa
mencintai uang/kekayaan tidak akan puas dengan uang” (Pengkotbah 5:9).
Allah telah membuatnya menjadi jelas, uang/kekayaan tidak dapat memberikan apa
yang benar-benar kita butuhkan sebab hanya DIA yang sanggup memberikan segala
sesuatu untuk kita nikmati. Amin. Tuhan tidak peduli seberapa banyak/seberapa
sedikit uang yang dimiliki seseorang, Tuhan hanya peduli dengan HATI kita, yaitu
HATI yang terpusat kepadaNya & yang bermurah hati atas segala sesuatu. “sebab
hidupnya tidaklah bergantung kepada kekayaannya itu” (Lukas 12:15b). Amin.
Respon 1
Mazmur 42:6 –
Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah
kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
(GNCC)
Respon 2
Jumat, 18 September
2015. Bacaan: Keluaran 17:1-7. Setahun: Daniel 10-12. Nats: Jadi mulailah
mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami
supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu
bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?” (Keluaran 17:2).
KEKERINGAN ROHANI. Ketika masih kuliah saya mengalami kemarau panjang yang
sangat merepotkan. Ketika itu saya tinggal di kos bersama lima orang teman.
Kami harus sangat berhemat agar persediaan air cukup untuk memenuhi kebutuhan
harian. Demi menghemat air, kami antara lain makan dengan menggunakan kertas
makan, bukan piring. Sungguh tersiksa kami saat itu. Air merupakan kebutuhan
pokok bagi kehidupan kita. Bahkan saat menghabiskan waktu untuk melakukan
aktivitas ringan pun, kita membutuhkan air untuk minum. Wajar jika masalah
kekurangan air yang dialami oleh bangsa Israel di padang gurun membuat mereka
resah. Tetapi, yang membuat tidak wajar adalah ketika mereka bersungut-sungut
dan kehilangan kepercayaan kepada Tuhan. Mereka tidak hanya mengalami
kekeringan secara jasmani, namun juga rohani. Mereka telah mengalami penyertaan
dan pemeliharaan Tuhan di sepanjang perjalanan dari tanah Mesir. Tetapi, mereka
belum juga belajar bersandar kepada Tuhan. Di balik dahaga jasmani yang mereka
alami, sesungguhnya bangsa Israel mengalami dahaga rohani. Hal inilah yang
menjadikan mereka merasa lebih baik tinggal di Mesir. Mereka tidak memahami
arti kemerdekaan dari perbudakan. Kekeringan rohani membutakan mereka akan
kehadiran Tuhan yang menyegarkan hidup, yang menjanjikan hari depan penuh
harapan. Apakah kita mengalami kekeringan rohani? Jangan biarkan jiwa kita
mengalami gejala kekeringan dan dahaga. Mari segarkan dahaga kita dengan
meminum air hidup yang Tuhan sediakan! --Endang Lestari. MINUMLAH AIR HIDUP
YANG TUHAN SEDIAKAN! NISCAYA KITA TIDAK AKAN PERNAH DAHAGA SELAMANYA. (Ibu
Caroline – Bandung)
Respon 3
“Semut yang diinjak
bisa menggigit, bisa juga mati sebelum sempat menggigit.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 4
SAAT TEDUH. Jumat,
18 September 2015. Tak Menanggapi. Karena itu, matikanlah dalam dirimu segala
sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan
juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu
mendatangkan murka Allah [atas orang-orang yang tidak taat] (Kolose 3:5-6).
Sebuah SMS masuk ke HP saya. Seolah berasal dari mahasiswi kesepian yang minta ditemani.
Bukannya merasa senang, saya malah membayangkan seorang penipu sedang mengincar
saya untuk dijadikan mangsa. Si pengirim tentu tidak mengenal saya. Bila
direspons, penipu itu akan tahu banyak detail pribadi saya. Mungkin ia akan
menggunakannya untuk memeras saya. SMS itu pun segera saya hapus. Menurut
dugaan saya, SMS itu dikirim ke banyak orang, dan bisa jadi menelan korban.
Godaan berdosa dapat masuk lewat banyak pintu. Sasarannya keduniawian dalam
diri kita, yaitu hawa nafsu dan nafsu jahat. Selain percabulan, nafsu duniawi
mencakup pula keinginan untuk memperoleh uang secara cepat tanpa perlu bekerja
keras. Kenikmatan dan kepuasan yang bersifat sementara sering sangat memikat
dan dapat menyebabkan kejatuhan kita. Rasul Paulus mengajarkan dua cara untuk
menghadapinya. Pertama, dengan mencari dan memikirkan hal-hal surgawi. Kedua,
dengan tidak lagi hidup seperti manusia lama. Di dalam Kristus, kita telah mati
terhadap dosa. Ketika menghadapi godaan, kita tidak perlu menanggapinya, sama
seperti orang mati tidak bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Apakah selama
ini Anda berusaha menekan hawa nafsu agar tidak jatuh dalam dosa? Mungkin
semakin ditekan, semakin sulit Anda mengendalikan desakan nafsu itu? Saatnya
menggunakan anjuran Rasul Paulus, yaitu dengan tidak merespons rangsangan
keduniawian. Sembari Anda memusatkan perhatian pada hal-hal surgawi —HEM. MARI
BELAJAR UNTUK TIDAK MENANGGAPI GODAAN KEDUNIAWIAN SAMBIL TERUS MEMUSATKAN DIRI
PADA PERKARA SURGAWI. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Thursday, 17 September 2015
17 September 2015
BILLIONAIRE
Pengkhotbah 5:9, “Siapa
mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak
akan puas dengan penghasilan-nya. Inipun sia-sia.” Maksudnya: Uang &
harta yang berlimpah-limpah tidak dapat memberi arti kepada hidup, dengan demikian
tidak bisa mendatangkan kebahagiaan sejati :(. Uang & kekayaan itu tetaplah
terbatas sebab uang bukanlah sumber kebahagiaan & kepuasan hidup. Uang
memiliki keterbatasan sebab uang adalah ciptaan bukan sebagai Pencipta J. Amin.
Respon 1
2 Raja-Raja 6:16 –
Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai
mereka! Bukalah mata rohani kita, ada YESUS yang sanggup menolong kita! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 2
Jangan sampai
hilang pengharapanmu karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan.
Roma 5:5, ‘Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah
dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada
kita.’ (GNCC)
Respon 3
10 PESAN BIJAK.
“Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan,
kecongkakan, tingkah laku yang jahat & mulut penuh tipu muslihat” (Amsal
8:13). 1. Ketika kita merasa hidup kita terlalu berat, sudahkah kita BERSYUKUR
atas nafas kita hari ini? Sudahkah kita SENYUM atas indahnya pagi? 2. Tak
peduli apa yang telah hilang dalam hidup kita, selama kita masih mampu
BERSYUKUR pada TUHAN, kita tidak akan pernah kehilangan apapun. 3. Cantik bukan
berarti baik, kaya bukan berarti bahagia, karena KECANTIKAN & KEKAYAAN
BUKAN JAMINAN KESEMPURNAAN. 4. HIDUP INI SINGKAT... Jalani hidup kita selagi
bisa, jangan peduli apa yang orang katakan tentang kita. Lakukan apa yang
membuat kita bahagia seturut KEHENDAK TUHAN. 5. Setiap masalah yang datang
dalam hidup adalah cara TUHAN mempersiapkan diri kita untuk masa depan. TUHAN
tahu yang terbaik untuk kita. 6. Kitalah PEMIMPIN dalam hidup kita. Orang lain
boleh MEMPENGARUHI kita, tapi kita sendiri yang harus MENENTUKAN. 7. Setiap
orang yang BERSALAH dalam hidup kita mengajarkan kita satu hal: Hati yang kuat
adalah hati yang sanggup MEMAAFKAN, bukan MELUPAKAN. 8. HIDUP MEMANG TAK MUDAH,
tapi selama kita TAK MENYERAH, setiap AIRMATA & TAWA akan jadikan kita
pribadi yang lebih BIJAKSANA. 9. Jika kita tak ingin orang lain MEMPERMAINKAN
PERASAAN kita, berhenti MENGGANTUNGKAN HIDUP kita pada orang lain. 10. Jangan
pernah merasa kita HIDUP SENDIRI di dunia ini, karena tanpa kita sadari, begitu
banyak yang PEDULI pada kita. COBALAH MEMBUKA HATI... “Tetapi rencana TUHAN
tetap selama-lamanya, rancangan hati-NYA turun temurun” (Mazmur 33:11). Good
morning Father, thank you for today, thank you for our lovely families and
thank you for everything. Kami rindu air hidupMu tetap mengalir di dalam kami
baik hari ini maupun sepanjang hidup kami. Roh Kudus tetaplah tinggal dalam
setiap kami, dan kami menjadi pelaku firmanMu dan tidak selalu gagal dalam
menjalankan apa yang Kau perintahkan. Ampuni semua dosa dan kesalahan kami
dalam nama YESUS kami berdoa. Amin. (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 4
“Sakit hati lebih
sulit disembuhkan ketimbang sakit fisik.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 5
SAAT TEDUH. Kamis,
17 September 2015. Di Tangan yang Baik. Sebab Imam Besar yang kita punya,
bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,
sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibrani
4:15). Suatu kali saya harus dioperasi karena radang usus buntu. Cukup tenang
saya menjalaninya karena sebagian orang yang terlibat saya kenal. Ahli biusnya
teman dekat saya. Kepala perawatnya juga. Mereka merekomendasikan dokter yang
sama untuk operasi itu. Saya percaya kasus saya berada di tangan yang baik.
Benar saja. Operasi berlangsung dengan lancar. Meskipun perut saya kini dihiasi
bekas luka sepuluh jahitan, toh kondisi tubuh saya kian membaik dan pulih.
Kepercayaan pada tim dokter memberi ketenangan dalam menjalani operasi;
terlebih lagi kepercayaan pada Yesus, Imam Besar Agung kita! Yesus dapat
berempati dengan segala kelemahan manusia. Dia turut merasakan kelemahan kita
karena Dia juga pernah dicobai sama seperti kita. Hanya bedanya, kita
serbagagal mengatasinya; Dia menang telak atas segala pencobaan itu! Dan, Dia
menyediakan kemenangan itu bagi kita yang percaya, agar kita memperoleh
pertolongan dalam menghadapi kelemahan hidup. Bukankah hal ini—bahwa kita
berada di Tangan yang baik—selayaknya membangkitkan ketenteraman yang besar
bagi kita dalam menjalani hidup ini? Lalu, kenapa kita lebih mudah cemas dan
kalut? Bisa jadi kita belum betul-betul meresapi peran Yesus sebagai imam besar
ini. Kita lebih sering membayangkan, untuk menerima pertolongan Tuhan, kita
mesti memenuhi syarat moral yang tinggi—yang sesungguhnya mustahil kita genapi.
Tidak pahamkah kita bahwa Yesus sudah menggenapi segala syarat itu bagi kita,
dan kita tinggal menerimanya dalam iman?—ARS. MEMERCAYAI KEBAIKAN DAN
KEMENANGAN YESUS, IMAM BESAR AGUNG KITA, MEMBANGKITKAN KENTENTERAMAN YANG BESAR
DALAM MENJALANI HIDUP. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)
Respon 6
Pengkhotbah 5:9, ‘siapa
mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak
akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia sia.” Punya pendapatan berapapun
kalau nuruti keinginan ya pasti kurang. Karena keinginan manusia itu tak
terbatas. Jadi... uang itu tidak bisa memberi kepuasan. Meski berperan dalam
hidup kita tapi uang tidak bisa menjadi sumber kepuasan kita. Uang punya
keterbatasan karena uang adalah ciptaan bukan sebagai pencipta. (Ibu Rita – PKS
CL 4)
Respon 7
Tuhan mencurahkan
berkat-berkatNya atas tangan orang-orang yang rajin bekerja. Meski demikian,
berkat-berkat terbesar & terlengkap Tuhan janjikan & berikan bagi
umat-Nya yang hidup berbakti kepada-Nya. Sekali lagi, ini bukan bagi mereka
yang rajin datang ke tempat-tempat ibadah atau orang-orang yang menghabiskan
waktu untuk berdoa atau bermeditasi. Janji “diberkatilah kau di kota & di
ladang; diberkati hasil bumi, hasil ternakmu, bakulmu & adonanmu;
diberkatilah keluar & masukmu” (Ul. 28:3-6) dimana “TUHAN akan
memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu”
(28:8) akan digenapkan bagi mereka yang “mendengarkan suara Tuhan &
melakukan segala perintah-Nya” dimana melakukan segala ketetapan-Nya itu
berkaitan dengan suatu cara hidup sedemikian, yang menyatakan bahwa kita adalah
umat yang dikasihi & yang mengasihi Tuhan. Bekerja keras dengan rajin demi
mencukupi kebutuhan hidup adalah baik. Tapi Alkitab menegaskan ada lebih
daripada sekedar menjalani hidup, memenuhi kebutuhan hidup atau menikmati
kenyamanan hidup dari hasil jerih payah kita. Ada panggilan untuk mencari
Kerajaan Allah & kebenaran-Nya sebagai prioritas utama (Mat. 6:33). Ada
fungsi & peran utuk menjadi garam & terang dunia yang membawa warna
& dampak rohani bagi dunia yang gelap ini (Mat. 5:13-16). Pula, ada amanat
agung, suatu tugas suci untuk menjadikan segala bangsa murid Kristus (Mat.
28:18-20). Itulah sebabnya diperintahkan supaya “jika kita makan atau minum
atau melakukan apapun yang lain, kita harus melakukannya untuk kemuliaan nama
Tuhan” (1 Kor. 10:31) & itulah mengapa setelah ditebus, seharusnya kita
“tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri melainkan untuk Dia yang telah mati
& bangkit bagi kita” (2 Kor. 5:14). Sehingga pekerjaan atau pelayanan kita
menjadi ibadah sejati. Bukan hanya rajin bekerja, tapi juga giat bagi kepentingan-kepentingan
Kerajaan Allah & bagi kemuliaan nama-Nya -itulah hidup yang diinginkan
Tuhan. Yang atasnya Dia pasti mencurahkan berkat-berkat terbaik-Nya. Setujukah
Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Subscribe to:
Posts (Atom)













