SURVIVAL
VS REVIVAL
Survival
x Revival Day 26 – BANGKIT: WaktuNya Membangun Rumah Tuhan (Hagai
1: 1-14).
Keadaan Bangsa Israel tidak baik saat membiarkan rumah Tuhan menjadi
reruntuhan karena mereka masing-masing sibuk dengan rumahnya sendiri.
Mereka berkata belum waktunya untuk membangun rumah Tuhan. Akibatnya
segala upaya mereka menjadi sia-sia: Menabur banyak, tetapi menuai
serba sedikit. Makan banyak tetapi tidak sampai kenyang.Minum banyak
tetapi tidak sampai puas. Berpakaian berlapis-lapis namun badannya
tidak menjadi panas. Mereka bekerja untuk untuk mendapatkan upah
tetapi upahnya segera habis seperti ditaruh di dalam pundi-pundi yang
berlubang. Itulah kondisi orang Israel saat itu. Bagaimana Respon
Zerubabel bin Sealtiel, Yosua bin Yozadak dan bangsa Israel saat
mendengar Firman Tuhan yang disampaikan oleh Nabi Hagai?? Baca ayat
12-14, “12Lalu
Zerubabel bin Sealtiel dan Yosua bin Yozadak, imam besar, dan
selebihnya dari bangsa itu mendengarkan suara TUHAN, Allah mereka,
dan juga perkataan nabi Hagai, sesuai dengan apa yang disuruhkan
kepadanya oleh TUHAN, Allah mereka; lalu takutlah bangsa itu kepada
TUHAN. 13Maka
berkatalah Hagai, utusan TUHAN itu, menurut pesan TUHAN kepada bangsa
itu, demikian: ‘Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN.’
14TUHAN
menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan
semangat Yosua bin Yozadak, imam besar, dan semangat selebihnya dari
bangsa itu, maka datanglah mereka, lalu melakukan pekerjaan
pembangunan rumah TUHAN semesta alam, Allah mereka.”
Amin. Kalau kita bangkit/fokus bekerja untuk membangun rumah Tuhan
dan bukan kepada guncangan yang terjadi, maka tujuan dari guncangan
yang terjadi agar kekayaan bangsa-bangsa mengalir ke dalam rumah
Tuhan (Hagai 2:8). Jadi rumah Tuhan harus bersiap diri untuk
menerimanya. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#SurvivalXRevivalSeries
Note:
Jangan
lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL:
Yosua 22, 23, 24
PB:
Kisah Para Rasul 23:1-11
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoved
#HappySunday
#HappyServingGod
Bp.
Anto – Citraland
Saya
mengajak saudara mengucapkan kata-kata ini hari ini: “I will face
my future with faith, for I have God beside me” (Saya akan
menghadapi hari esok dengan iman, karena saya mempunyai Allah yang
ada di samping saya) --Robert Schuller. Selamat beribadah Minggu Cik
SiuSiang.
Bp.
Peter – WCS
*MENJADI
MURID* Oleh: Peter B, MA.
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/03/menjadi-murid-1.html
Menjadi
murid adalah bagian dari mengiring Yesus. Ia menghendaki kita
mengikuti teladan-Nya dan menjadi murid-murid-Nya. Kerumunan massa
yang banyak itu tidak menarik minat-Nya. Simpatisan yang bergerombol
di sekeliling-Nya tak membuat hati-Nya berbunga. Apalagi yang sekedar
mencari Dia untuk mendapatkan sesuatu dari-Nya. Ya, Ia berbelas
kasihan pada mereka. Siapa saja yang percaya dijamah dan
ditolong-Nya. Mujizat-mujizat dilakukan-Nya bagi mereka. Tapi Yesus
mencari yang lebih dari itu. Ia mencari pengikut-pengikut. Yang setia
dan mau melanjutkan pekerjaan dan meneruskan ajaran-Nya. Ia mencari
murid-murid. Keempat Injil menyebutkan sangat banyak mengenai
murid-murid. Yesus memanggil secara khusus ke-12 murid-Nya. Dan
hampir keseluruhan Injil merupakan catatan mengenai interaksi Yesus
dengan para murid-Nya, yang kemudian direkam dan dicatat oleh
murid-murid-Nya itu. Melalui murid-murid Yesus pula kita memiliki
Injil bahkan Alkitab Perjanjian Baru kita. Dan melalui murid-murid
Yesus jugalah berita Injil dengan segala kedalaman serta kemuliaan
ajaran Kristus kita terima dan ikuti hingga kini. Murid-murid adalah
bagian penting dari kekristenan. Tokoh-tokoh utama dalam kegerakan
Tuhan waktu demi waktu hingga akhir segala zaman dan sampai Yesus
Kristus datang kedua kalinya. Saya percaya murid-murid Kristus yang
sejatilah yang memastikan tempat mereka di sorga sebab seumur hidup
mereka telah menjadikan panggilan dan pilihan Tuhan dalam hidup
mereka semakin teguh dan tak tergoyahkan (2 Pet. 1:3-11) oleh karena
komitmen mereka pada ajaran Kristus dan karena mereka mengikut Dia
kemanapun Ia pergi dan berada. Menjadi murid Tuhan ialah salah satu
tahap panggilan utama dalam hidup kita. Setiap orang percaya
dikehendaki-Nya melangkah lebih lanjut menjadi murid-murid Sang
Mesias. Menjadi murid berarti mengambil keputusan untuk mengikut Dia
dan meneladani kehidupan-Nya. Menjadi orang yang menetapkan iman dan
hatinya untuk meninggalkan segala sesuatu lalu mempercayakan hidup
untuk melakukan kehendak Bapa. Mengikuti teladan kehidupan Yesus,
hidup para murid tidak pernah sama lagi. Bukan saja menjadi ciptaan
baru tetapi benar-benar hidup sebagai manusia-manusia yang baru yang
menjalani cara dan hidup yang berbeda dengan dunia yang belum
mengenal Allah. Hidup para murid dibaharui sehari demi sehari makin
serupa dengan Sang Guru Agung mereka, Yesus Kristus. Patut
disayangkan bila kekristenan modern nyatanya cukup puas dengan tahap
orang-orang Kristen sebagai “orang percaya”. Meskipun Tuhan
menghargai setiap orang yang datang kepada-Nya, namun menerima
panggilan Tuhan dan hidup dalam panggilan mengikut Tuhan jelas
sesuatu yang berbeda. Percaya pada ketuhanan Kristus dengan
mempercayakan diri lalu tunduk pada ketuhanan Kristus bukan satu hal
yang sama. Orang-orang percaya melewati berbagai hal dapat kembali
menjadi orang-orang yang tidak percaya atau murtad. Namun murid
Kristus selangkah lebih maju. Bagaikan akar tanaman yang mendesak
masuk lebih dalam menembus ke dalam tanah, begitulah para murid di
pemandangan Tuhan. Meskipun seorang murid dapat undur, namun
prosesnya tidak semudah mereka yang sekedar mengaku percaya. Menjadi
murid adalah langkah awal menikmati sebuah perjalanan penuh
petualangan yang baru dan luar biasa di dalam Tuhan. Murid-murid
sangat berharga bagi Tuhan dan juga bagi hamba-hamba-Nya yang dahulu
pernah dimuridkan. Seperti yang Paulus katakan, “Dan karena itulah
kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab
kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan
sebagai perkataan manusia, tetapi — dan memang sungguh-sungguh
demikian — sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu
yang percaya. “Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut
jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus,
karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala
sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi. _Sebab siapakah
PENGHARAPAN kami atau SUKACITA kami atau MAHKOTA KEMEGAHAN kami di
hadapan Yesus, Tuhan kita, pada waktu kedatangan-Nya, kalau bukan
kamu? Sungguh, kamulah KEMULIAAN kami dan SUKACITA kami” (1 Tes.
2:13-14,19-20). Persoalannya, di era penyesatan besar-besaran ini,
banyak orang merasa dan memandang dirinya telah menjadi murid
Kristus. Beberapa memang murid sejati. Sebagian yang lain adalah
murid-murid palsu, yang mengaku-ngaku sebagai murid Tuhan -entah
mereka sengaja maupun tidak. Oleh sebab itu, adalah penting untuk
memastikan bahwa diri kita adalah murid sejati. Yesaya 50:4
memberikan beberapa petunjuk kepada kita mengenai bagaimana seorang
murid itu. “Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang
murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada
orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk
mendengar seperti seorang murid.” Ada dua bagian yang disebut murid
di sana. Pertama “lidah seorang murid” lalu “mendengar seperti
seorang murid”. Apa yang dimaksud dalam nats di atas sebenarnya
cukup sulit dipahami. Namun dengan melihat beberapa terjemahan
Alkitab yang lain, pesannya akan terlihat makin terang. Seperti
misalnya Terjemahan Lama Bahasa Indonesia menyebutkan “lidah
seorang murid” diterjemahkan sebagai “lidah orang fasih” atau
“kemampuan menjadi juru bicara Tuhan” (dalam terjemahan New
English Translation/NET) dan “lidah orang-orang yang diajar”
(dalam terjemahan Authorized Standard Version/ASV). Begitu pula frasa
“mendengar seperti seorang murid” diterjemahkan sebagai
“mendengar seperti orang yang diajarkan” (TL), “mendengarkan
dengan penuh perhatian seperti seorang murid” (NET) dan “mendengar
seperti orang-orang yang telah diajar” (ASV). Jadi, “lidah
seorang murid” memiliki pengertian: “lidah yang terpelajar,
berhikmat, yang perkataan-perkataannya tidak sembarangan dan asal
bunyi, yang lahir dari suatu proses diajar dan belajar, yang kemudian
perkataan-perkataan itu memberikan kekuatan dan semangat bagi yang
letih lesu dalam hidupnya”. Dengan kata lain, inilah perkataan yang
membawa berkat, yang membangkitkan jiwa dan roh yang lemah sehingga
dikuatkan kembali dalam Tuhan melalui apa yang disampaikannya itu.
Lidah yang demikian lahir dan merupakan hasil dari “telinga yang
terbuka, terjaga, yang ditajamkan oleh Tuhan; yang mau diajar oleh
Tuhan; yang sebelumnya telah menempatkan dirinya tiap-tiap hari
sebagai seorang murid”. Sebelum membahas lebih jauh mengenai
hubungan frasa-frasa itu, kita dapat melihat poin-poin penting yang
dapat kita pelajari di sini:
*1.
SEORANG MURID ADALAH SEORANG YANG BELAJAR. DAN MURID TERBAIK ADALAH
MURID YANG PALING GIAT BELAJAR.*
Setelah
menjadi percaya, kita melangkah dalam tahap rohani selanjutnya
sebagai murid Yesus. Bahkan masih ada tahap-tahap yang lain setelah
itu. Rick Joyner mengatakan bahwa tahapan dalam proses mengikut Yesus
ada lima tingkatan: menjadi petobat atau orang percaya, menjadi
murid, menjadi hamba, menjadi sahabat Tuhan dan puncaknya menjadi
anak yang serupa dengan Bapanya. Ketika kita melangkah maju atau naik
dalam tiap tahapan, kita tidak berhenti melakukan tahap sebelumnya.
Bagaikan anak tangga yang harus dinaiki setingkat demi setingkat,
tahap sebelumnya harus tetap ada (dalam hal ini tetap dikerjakan)
karena merupakan dasar bagi tahap selanjutnya. Oleh karena itu,
ketika menjadi murid, kita tidak berhenti menjadi orang percaya. Kita
tetap orang percaya yang sekarang menjalani kehidupan seorang murid.
Dan ketika kita melangkah lebih jauh untuk menjalani kehidupan
seorang hamba (bukan menjadi pendeta tapi cara hidup seorang hamba,
lihat 1 Korintus 7:22b) kita tidak berhenti menjadi murid tetapi kita
kini menjadi murid yang hidup menghamba pada Tuhan. Dan seterusnya.
Seorang murid ditandai dengan ciri utama yaitu BELAJAR. Dan selama
kita mengikut Kristus, kita yang adalah seorang murid dan tidak
pernah berhenti menjadi seorang murid, seharusnya TIDAK PERNAH
BERHENTI UNTUK BELAJAR. Menjadi seorang murid berarti memiliki sikap
hati dan gaya hidup yang bersedia untuk belajar, diajar, dituntun,
diarahkan dan dibimbing oleh Tuhan demi mengenal dan memahami
jalan-jalan-Nya. Sikap ini tidak boleh berubah atau mengalami
penurunan selagi proses pengenalan kita akan Tuhan terus berlangsung.
Dan karena mustahil kita dapat memahami keseluruhan pribadi Tuhan
maupun jalan-jalan-Nya, maka sesungguhnya TIDAK AKAN PERNAH ADA KATA
CUKUP ATAU SELESAI DALAM HAL MENJADI PEMBELAJAR DAN MURID. Dengan
kata lain, tidak boleh terjadi ada orang yang merasa dirinya telah
cukup pandai, telah lulus, telah banyak tahu dan paham secara tuntas
dalam perkara-perkara rohani yang berhubungan dengan Tuhan kita lalu
merasa tidak perlu belajar lagi, tidak perlu mendengarkan pengajaran
atau nasihat-nasihat dari orang lain, atau lebih lanjut lagi merasa
lebih tahu, lebih mengerti dan lebih paham sehingga menuntut orang
lain harus tunduk dan taat pada apa yang diajarkan dan
disampaikannya! Kita semua adalah murid Kristus. Hanya saja,
pertumbuhan kita berbeda-beda. Namun semakin pesat pertumbuhan kita,
jika kita memang benar-benar murid sejati, maka Roh Kristus itupun
seharusnya nyata di dalam kita dan tampak melalui hidup kita. Itulah
roh kerendahan hati. Seperti Bapa, Yesus dan Roh Kudus yang mencipta
dan berkuasa atas semesta namun memilih menjangkau dan melayani kita,
maka roh kerendahan hati yang sama akan dimiliki murid-murid
sejati-Nya. Semakin rohani kita bertumbuh secara benar maka semakin
nyata rupa Kristus itu dalam hidup kita. Dan sebagai murid kita harus
dengan rendah hati bersedia belajar dari siapapun dan apapun yang
Tuhan pakai untuk mendidik dan mengajar kita. Entah itu dari orang
yang lebih muda, anak-anak sekalipun atau dari seorang pelayan Tuhan
yang tampak biasa bahkan dari orang yang baru bertobat sekalipun.
Jika kita memilih-milih cara kita belajar dan diajar, jelas hati
seorang murid belum terbentuk dalam diri kita. Seorang murid
senantiasa membawa hati yang siap dan terbuka untuk diajar. Ia akan
belajar dari gurunya melalui berbagai sarana yang dipakai oleh sang
guru untuk mendidiknya. Entah belajar dalam kelas atau di luar kelas,
di ruang laboratorium atau di lapangan sekolah, mengerjakan PR atau
mendengarkan presentasi -semuanya harus diikuti seorang murid dengan
seksama supaya ia menyerap ilmu yang sedang diajarkan. Sikap hati
seorang murid dalam prakteknya - yang juga merupakan ciri-ciri murid
sejati - nyata dalam hal-hal berikut ini: ia tidak merasa dirinya
tahu atau telah mampu; ia tidak berpikir untuk membantah atau segera
meragukan pelajaran yang diterimanya; ia memberikan telinganya untuk
mendengarkan sebaik-baiknya untuk dapat mencerna dan mempelajari apa
yang hendak disampaikan kepadanya; ia merendahkan diri sampai pada
posisi dimana ia siap untuk diajari, bukan untuk berdebat,
berbantah-bantahan atau bahkan balik mengajari gurunya; ia bersedia
mengikuti proses belajar dengan penuh kerelaan dan kesungguhan karena
ia percaya pada gurunya; ketika ia tidak mengerti atau belum memahami
apa yang diajarkan kepadanya, ia akan terus mempelajarinya lebih
lanjut. Jika kemudian ia tetap belum menangkap yang dimaksudkan, ia
akan bertanya dengan cara yang penuh hormat dan sikap rendah hati
penuh penundukan supaya sampai ia terasa menyalahkan atau merendahkan
gurunya. Dan guru yang baik akan menjawab dengan senang hati karena
guru yang baik bersuka melihat kerinduan untuk belajar dari muridnya
itu. Selesai menerima pelajaran, ia tidak berdiam diri melainkan
terus memperdalam dengan merenungkan bahkan mempraktekkan apa yang
telah dipelajari itu supaya pengetahuan yang diperolehnya menjadi
bagian hidupnya dan ia kemudian menjadi sama dengan gurunya. Kerelaan
dan semangat kita untuk menerima pengajaran menentukan kualitasnya
sebagai seorang murid. Murid yang baik dan yang akan berhasil ialah
ia yang menaruh perhatian yang besar pada apa yang diajarkan dan
dipelajarinya. Ketaatan dan penundukan diri pada sang guru ialah
kunci untuk menjadi murid yang mewarisi pengetahuan, ilmu dan
kemampuan dari sang guru. Demikian pula jika kita ingin menjadi
seperti Guru Agung kita, maka kesungguhan kita untuk dengar-dengaran
akan Dia lalu mengikuti pimpinan dan teladannya harus nyata dalam
kehidupan batin yang juga ditampakkan dari sikap hidup sehari-hari
yang mencerminkan ajaran dan nilai-nilai yang ada pada pribadi
Kristus itu sendiri. Keberhasilan seorang murid ditentukan oleh dua
hal. Kualitas sang guru dan kualitas sang murid. Guru yang hebat
dengan murid yang malas berakhir dengan kesia-siaan. Guru yang payah
tapi mengajari murid yang brillian hanya menghambat kemajuan sang
murid saja. Nah, Guru kita bukan saja luar biasa dan hebat. Dia Guru
Agung. Tak ada kekurangan pada-Nya sebagai pembimbing kita. Bagaimana
sikap kita terhadap Allah yang siap sedia membimbing kita menuju pada
keberhasilan? Akankah kita menolak, ragu-ragu, masih pikir-pikir atau
setengah hati untuk belajar dari Dia?
*2.
MENJADI MURID TUHAN BERARTI MENERIMA PENGAJARAN DAN DIDIKAN DARI
TUHAN SENDIRI, BUKAN HANYA MENERIMA DIDIKAN DARI ORANG LAIN.*
Nats
Yesaya 50:4 memberikan petunjuk mengenai hal ini: “Tuhan ALLAH
telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan
perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih
lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar
seperti seorang murid.” Perhatikan. Adalah TUHAN sendiri yang
memberikan lidah yang dapat membagi berkat itu. Dia pula yang
membangunkan kita untuk belajar serta mempertajam pendengaran kita
hingga kita mengerti perkara-perkara dari-Nya. Sesungguhnya Dialah
yang mengajar kita. Menuntun kita dan memampukan kita mengerti
seluruh kebenaran, pikiran dan jalan-Nya (Yoh. 16:13-15). Tanpa Dia
membimbing, pastilah kita sesat dan gagal mengenal Dia (Ef. 1:16-17).
Kesalahan fatal dari banyak orang percaya baru ialah bahwa meskipun
sebagai bayi-bayi rohani memang benar membutuhkan perawatan,
perhatian dan bantuan dari yang sudah lebih dewasa rohaninya akan
tetapi setiap orang percaya harus melanjutkan pertumbuhannya untuk
dapat berjalan bersama dengan Tuhan secara pribadi, BUKAN TERUS
BERGANTUNG PADA FIGUR ROHANI TERTENTU dalam kehidupan rohaninya. Kita
menghargai kakak-kakak, senior kita atau bapa-bapa rohani yang ada.
Namun ketika kita terus bergantung pada “orang tua” rohani
sehingga kita terhalang memiliki pengalaman bergantung secara pribadi
dengan Tuhan, maka itu telah menjadi sesuatu yang kurang sehat. Itu
berarti pertumbuhan kita tidak normal, terhambat, tidak sesuai dengan
yang sewajarnya. Sebab, pernahkah Anda melihat seorang pria berusia
25 tahun masih tidak dapat tidur jika tidak minum susu dari botol
bayi dan ditemani tidur ibunya? Apa pendapat Anda tentang orang yang
demikian? Akankah kita menyebut hal itu wajar dan normal? Tentu
tidak. Serupa itu, kita menjadi abnormal ketika terus menerus menolak
untuk memiliki hubungan pribadi dan mandiri secara rohani dengan
Tuhan. Bapa rohani sejati mengarahkan anak-anak rohaninya kepada
Pribadi Bapa sorgawi, supaya mereka memiliki hubungan yang benar,
kuat dan dalam dengan Allah. Bapa rohani palsu menarik orang pada
dirinya dan membuat anak-anak didiknya bergantung dan terikat
padanya. Kepada para pembimbing semacam ini, kita semestinya waspada.
Selagi menolong kita bertumbuh, mereka yang sudah dewasa rohani
memberikan teladan dari hidup mereka yang mengikuti jejak Kristus
atau setidaknya, mereka memiliki roh yang sama dengan yang ada pada
Kristus, yaitu roh kasih dan kerendahan hati. Paulus berkata kepada
jemaat Korintus “Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi
pengikut Kristus” (1 Kor 11:1). Ini berarti bahwa hanya mereka yang
mengikuti jejak Kristus yang seharusnya kita jadikan pembimbing
rohani kita (bukan seseorang yang terlihat rohani atau punya jabatan
maupun gelar-gelar rohani saja) dan bahwa pembimbing sejati PADA
AKHIRNYA membawa murid-murid-Nya menjadi pengikut Kristus juga oleh
karena ia sebelumnya juga telah mengikut Kristus. Pun yang penting
dalam hal ini ialah, hanya seseorang yang benar-benar membuktikan
bahwa dirinya pengikut Kristus sejati yang dapat meminta yang lain
untuk meneladaninya. Jika kita dituntun untuk mengikuti teladan
seseorang tetapi tidak dibawa untuk mengalami didikan pribadi dari
Tuhan, maka kita sedang menjadi murid dari manusia, bukannya murid
Tuhan. Murid Tuhan sejati dilatih dan diajar oleh Roh Kudus sendiri
dengan nasihat serta dorongan dari saudara-saudara yang telah lebih
dewasa rohaninya. Ada perbedaan ketika kita belajar dari manusia
dengan belajar sebagai murid Tuhan sendiri. Belajar dari manusia
berarti belajar dari apa yang terbatas. Manusia tidaklah sempurna.
Pengetahuannya sedikit dan tidak sebanding dengan hikmat Tuhan
semesta alam. Manusia juga seringkali keliru menilai dan mempercayai
sesuatu. Baik sang guru atau murid adalah manusia-manusia yang bisa
keliru. Guru bisa salah mengajar, murid bisa salah menangkap dan
gagal dalam belajar. Pada titik inilah nyata perbedaan saat kita
belajar dari Allah Roh Kudus yang telah diutus untuk menjadi guru
kita saat ini sebagaimana diungkapkan salam 1 Yohanes 2:27 : “Sebab
di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari
pada-Nya. Karena itu tidak perlu kamu diajar oleh orang lain. Tetapi
sebagaimana pengurapan-Nya mengajar kamu tentang segala sesuatu —
dan pengajaran-Nya itu benar, tidak dusta — dan sebagaimana Ia
dahulu telah mengajar kamu, demikianlah hendaknya kamu tetap tinggal
di dalam Dia.” Pengurapan itulah Roh Kudus yang berdiam dalam kita
dan menyertai kita untuk menuntun kita berjalan pada seluruh
kebenaran yang hendak Tuhan ajarkan selama kehidupan kita mengikut
Dia. Belajar dari Tuhan sendiri berarti belajar dari Pribadi yang
sempurna, yang tidak mungkin keliru, yang tahu segala sesuatu dan
tidak ada keraguan dari apa yang diajarkan-Nya. Pengajaran Tuhan itu
murni sebab firman-Nya teruji. Ia tidak akan pernah dibingungkan oleh
pertanyaan-pertanyaan kita ataupun menjadi marah dengan sikap kritis
kita. Kelambanan kita tidak melelahkan-Nya. Kesulitan kita dalam
belajar tak membuat-Nya putus asa. Salomo justru mengingatkan kita:
“Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah
engkau bosan akan peringatan-Nya” (Ams. 3:11) yang menunjukkan
bahwa masalah utama dalam hal belajar dan menjadi seorang murid ialah
dari kita sendiri. Kitalah yang kerap menolak didikan Tuhan atau
menjadi bosan bahkan muak untuk belajar dan diajar. Bagaimana kita
dapat belajar dari Tuhan sendiri? Yesus berkata, “Pikullah kuk yang
Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat. 11:29). Ada syarat untuk
belajar dan menjadi murid Kristus. Sebelum kita memikul kuk yang Ia
berikan maka kita sukar belajar dari Dia. Kuk adalah kayu yang
dibebankan atau diletakkan pada punggung sapi yang hendak dikerahkan
menarik bajak untuk menggemburkan tanah sawah. Kegunaan kuk adalah
untuk memudahkan mengarahkannya berjalan pada jalur tanah yang akan
dibajak sehingga selanjutnya memudahkan penanaman bibit padi atau
gandum. Serupa dengan itu Tuhan mengumpamakan kita belajar pada-Nya.
Bersedia memikul kuk berarti kerelaan untuk menerima beban dan
pengendalian atasnya. Tidak lagi memberontak tetapi bersedia untuk
taat. Tak lagi melawan tapi tunduk dan ikut. Hanya hati yang telah
direlakan untuk taat pada petunjuk dan pengajaran Tuhan bahkan pada
pimpinan Tuhan sendiri, maka kita akan dengan cepat belajar hidup
dalam jalan-jalan-Nya. Taat berarti memilih untuk melakukan perintah
dan ketetapan Tuhan daripada mengikuti keinginan apalagi hawa nafsu
sendiri. TIAP-TIAP HARI Tuhan akan hadir dan membimbing kita UNTUK
TAAT DI JALAN-NYA. Jika kita mendengarkan bimbingan dan tuntunan yang
disampaikan lewat hati (nurani) kita itu dan melangkah dalam
kepatuhan, maka kita sedang menjadi murid-murid-Nya selagi Tuhan
menuntun kita langkah demi langkah dalam kehidupan kita. Misalkan,
saat hati kita terluka dan ingin melakukan pembalasan, kita akan
diantar untuk mengampuni. Seorang murid yang baik akan merelakan
dirinya untuk mengampuni sesuai ajaran dan teladan gurunya daripada
bertindak menurut caranya sendiri. Begitupun dalam hidup sehari-hari,
sesukar apapun seorang murid akan tetap mengikuti ajaran dan pedoman
yang diberikan guru kehidupannya, baik dalam hal berkata-kata,
bertindak, sampai dalam hal berpikir dan merasa. Murid sejati
meneladani gurunya dalam segala hal karena ia rindu menjadi sama
dengan sang guru.
*3.
SEBAGAI MURID TUHAN, KITA BELAJAR SETIAP HARI DIMANA DUNIA MENJADI
RUANG KELASNYA DAN URUSAN-URUSAN HIDUP SEHARI-HARI SEBAGAI MATA
PELAJARANNYA*
“Setiap
pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang
murid” (Yes. 50:4). Setiap pagi merujuk pada setiap hari baru. Dan
seperti itulah kita belajar. Setiap hari yang baru, Tuhan akan
menuntun kita masuk ruang kelas-Nya dan mengajari kita hikmat-Nya.
Mengenang kembali masa-masa sekolah dasar dan menengah yang sekarang
juga sedang dijalani anak-anak saya, setiap pagi apapun kondisinya,
jika ia murid sekolah maka ia harus memaksa dirinya untuk bangun,
mendisiplin dirinya untuk mandi, bersiap, mengambil perlengkapan
sekolah dan mengikuti pelajaran berjam-jam lamanya. Itu tidak
berhenti jika siang harinya ada pelajaran tambahan atau kursus.
Terkadang itupun masih berlanjut dengan pekerjaan rumah maupun
tugas-tugas sekolah untuk individu maupun kelompok. Bagi anak-anak
usia sekolah, hampir seluruh waktu digunakan untuk belajar.
Sayangnya, ketika masa-masa sekolah berakhir proses belajar ikut
terhenti pula. Mungkinkah itu juga yang terjadi setelah kita merasa
cukup tahu yang sedikit itu tentang Tuhan dan pribadi-Nya?
Sesungguhnya proses belajar, lebih-lebih belajar dari Tuhan, untuk
memperoleh hikmat-Nya merupakan proses yang tak ada batas akhirnya.
Tuhan itu terlalu luas, besar, tinggi dan dalam untuk dapat dipahami
dengan kemampuan otak manusia yang terbatas ini. Memahami yang
tersurat dalam Alkitab, mungkin saja tak pernah habis sepanjang usia
kita. Walau ribuan buku dan tafsir telah dibuat, kedalaman hikmat
Tuhan dalam firman-Nya tak terselami seluruhnya. Itu belum ditambah
bahwa Dia masih bekerja hingga hari ini dan terlibat aktif dalam
kehidupan anak-anak dan hamba-hamba-Nya, tak sedikitpun berkurang
campu tangan-Nya sejak hamba-hamba-Nya di zaman Kejadian hingga abad
ke-21 ini. Dia tetap akan memberikan hikmat dan pimpinan menghadapi
segala tantangan yang berbeda di tiap zaman yang dihadapi umat-Nya di
tiap generasi. Kita tidak akan pernah dapat berkata 'cukup' untuk
belajar dari-Nya! Sayangnya, karena kurang menyadari atau mungkin
malah tiada berniat menjadi murid Tuhan, maka kita seringkali
memasuki hari baru seperti orang-orang yang sombong. Kita merasa tahu
yang akan kita lakukan, memiliki tujuan dan cita-cita yang akan kita
tuju, merasa mampu mengejar target bahkan menepuk dada dengan bangga
bahwa kita adalah manusia-manusia yang unggul, hebat, penuh
kreatifitas dan akan meraih hal-hal yang besar. Atau, seperti
sebagian yang lain, kita merasa cukup kuat dengan bakat kita, profesi
kita, pekerjaan kita, kepandaian kita atau mungkin juga harta kita,
sehingga kita bersikap seperti seorang yang banyak tahu dan kerap
meremehkan orang lain yang kita pikir kurang keadaannya dari kita.
Sikap-sikap demikian bukanlah sikap murid Kristus. Orang-orang paling
berhasil menurut ukuran dunia merupakan orang-orang yang tidak lelah
dan tidak surut untuk belajar. Mereka terus mendalami minat, bidang
dan profesi mereka sehingga menjadi orang yang ahli dan mumpuni
melebihi yang lainnya. Sampai-sampai karena itu, mereka memperoleh
harta yang tidak sedikit. Ini pun berlaku dalam kehidupan rohani.
Pengikut-pengikut Kristus yang berhasil adalah murid-murid-Nya yang
terbaik, yang tidak pernah berhenti atau menyerah mengejar hikmat dan
menyelami jalan-jalan Tuhan. Sebaliknya, murid-murid yang malas akan
tinggal kelas, tetap tinggal dalam kebodohan dan menjalani kehidupan
yang sukar di kemudian hari. Hari yang baru ialah kelas yang baru
bagi murid-murid Tuhan. Sebaiknya kita menyambut dengan riang gembira
dan penuh semangat sebab Sang Guru Agung siap dan penuh harap dalam
mendidik kita. Masukilah ruang kelas Anda dengan penuh kesungguhan
untuk belajar. Selama jam-jam dan waktu-waktu yang berlalu, berilah
telinga Anda dan mintalah supaya senantiasa tetap peka akan bimbingan
Tuhan. Tangkaplah dan catatlah di relung hati Anda (dan jika perlu di
catatan harian Anda) pelajaran hikmat-Nya. Tanyakanlah yang belum
jelas dan teruslah renungkan. Anda akan menemukan begitu banyak harta
yang berharga jauh melampaui emas perak menjadi milik Anda saat
perkataan demi perkataan Guru Besar itu mengisi hati dan pikiran
Anda. Orang-orang yang kita temui, peristiwa yang kita lihat, kita
rasakan dan alami, bersama-sama dengan pengetahuan atau berita yang
kita terima serta tugas yang kita kerjakan -di dalam semuanya itu
terkandung pelajaran-pelajaran kehidupan yang terselip dari Tuhan,
yang hanya akan kita tangkap jika kita memiliki hati seorang murid.
Tantangan-tantangan dalam kehidupan merupakan pekerjaan rumah dan
latihan untuk menjadi semakin bijak di dalam Tuhan. Persoalan hiduo
yang sedang yang terjadi adalah ujian. Masalah yang kita hadapi ialah
sebuah tes apakah kita telah cukup memahami ajaran Tuhan sehingga
kita lulus dan mendapat nilai yang baik saat mempraktekkannya. Begitu
seterusnya hingga tanpa sadar, jika kita tekun belajar dan menjadi
seorang murid, kita naik kelas dan berada pada level berikutnya dalam
kelas-kelas kehidupan sejati. Kata kuncinya di sini ialah “disiplin”.
Dari sanalah kata “disciple” atau murid itu berasal. Kata
“discipline” dalam bahasa Inggris menurut kamus Webster
mengandung arti antara lain “suatu cara bersikap yang menunjukkan
kerelaan untuk mematuhi aturan atau perintah”; kebiasaan yang
dinilai dari seberapa baik dalam hal mengikuti serangkaian aturan
atau perintah; “penguasaan diri”. Dan orang yang berdisiplin
ialah mereka yang mengikuti perintah dengan baik, mengikuti latihan
yang mengoreksi, membentuk dan menyempurnakan diri sesuai standar
yang diberikan gurunya. Jadi, sejauh mana kita mau mendisiplinkan
diri atau rela didisiplinkan Tuhan dalam kelas-kelas dan
session-session kehidupan, sebanyak itulah keberhasilan kita sebagai
murid-murid Kristus. Sejauh mana kita memandang dan menjadikan
hari-hari kita sebagai ajang untuk bertumbuh dalam pengenalan akan
Tuhan, sejauh itu pula keberhasilam kita untuk menjadi semakin matang
sebagai murid Tuhan.
*4.
TUJUAN DARI MENJADI MURID TUHAN IALAH SUPAYA HIDUP KITA MENJADI
BERBUAH, MENJADI SALURAN BERKAT YANG MENOLONG DAN MEMBERKATI ORANG
BANYAK, SEPERTI HIDUP KRISTUS*
“…supaya
dengan perkataan, aku dapat memberi semangat baru kepada orang-orang
yang letih lesu” (Yes. 50:4) adalah salah satu tujuan dan hasil
yang Tuhan rindukan terjadi dalam hidup kita saat kita telah
bertumbuh sebagai seorang murid yang baik. Sebagaimana guru kita
demikianlah seharusnya kita sebagai murid-murid-Nya. Ia yang penuh
kasih dan kemurahan, senang memberi dan memberkati dalam kekayaan
kemuliaan-Nya, Ia pun ingin supaya setiap murid-Nya memiliki hati dan
pikiran seperti yang ada pada-Nya. Bertumbuh dan berubah menjadi
pribadi-pribadi yang sarat belas kasih dan selalu ingin membagikan
apa yang ada di hidupnya khususnya bagi dunia yang membutuhkan
jamahan dari sorga ini, merupakan tujuan Tuhan melatih para murid dan
pengikut-Nya. Seperti Yesus yang mengundang mereka yang letih lesu
dan berbeban berat, kita dipanggil dan dibentuk supaya melalui
perkataan-perkataan kita, perbuatan-perbuatan kita bahkan hidup kita
menyalurkan dan melepaskan kelegaan yang Tuhan sediakan bagi mereka
yang mau datang kepada-Nya. Air yang melimpah membutuhkan pipa atau
alat penyalur supaya berguna bagi kebutuhan banyak orang. Kitalah
penyalur-penyalur berkat Tuhan itu. Kitalah yang hendak dipakai-Nya
menjadi sarana pembagi, pembawa, penyampai serta pengimpartasi
kekayaan dan kehidupan ilahi itu kepada mereka yang membutuhkan. Itu
nyata dari kehidupan Kristus yang saat kita mengetahui ini seharusnya
melahirkan suatu tekad di hati kita untuk melayani banyak orang:
“Karena Anak Manusia juga datang BUKAN UNTUK DILAYANI, melainkan
UNTUK MELAYANI...” (Mark. 10:45). Sebagai murid-murid Tuhan, sudah
seharusnya kita memiliki jiwa melayani dan rindu membagi-bagikan apa
yang telah kita peroleh dari Tuhan secara melimpah sebagai
murid-murid Tuhan. Murid sejati cepat atau lambat, disadari
sepenuhnya atau tidak, bertumbuh makin serupa dengan gurunya.
Sepanjang pelayanan-Nya, Yesus telah menunjukkan bagaimana Ia
mengajar secara luar biasa. Tidak ada yang dapat mengajar seperti
Yesus. Sudah seharusnya pula dimulai dari setidaknya
PERKATAAN-PERKATAAN KITA, banyak yang beroleh jamahan kuasa Tuhan.
Kesaksian para penulis Injil menggambarkan kesan pendengar setelah
menerima pengajaran Yesus seperti ini: “Dan setelah Yesus
mengakhiri perkataan ini, TAKJUBLAH orang banyak itu mendengar
pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa,
tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka” (Mat. 7:28-29). “Kemudian
Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di
situ pada hari-hari Sabat. Mereka TAKJUB MENDENGAR PENGAJARAN-NYA,
sebab perkataan-Nya penuh kuasa” (Luk. 4:31-32). “Mereka tiba di
Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam
rumah ibadat dan mengajar. Mereka TAKJUB MENDENGAR PENGAJARAN-NYA,
sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti
ahli-ahli Taurat” (Mrk. 1:21-22). Kita akan dinilai berhasil
menjadi murid-murid Yesus ketika apa yang kita sampaikan dalam
komunikasi kita sehari-hari membuat orang takjub akan hikmat Tuhan,
menjadi disegarkan dan dikuatkan kembali rohnya dan dibawa dalam
pengenalan lebih lanjut pada Pribadi Tuhan. Perkataan Yesus BUKAN
SEMATA-MATA ujaran-ujaran yang bernuansa rohani, mengutip ayat atau
fasih dalam berbicara. Ada kuasa dalam perkataan Yesus. Terasa kasih
dan ketulusan di dalamnya. Khotbahnya bukan biasa dan rata-rata
apalagi membuat pendengarnya jenuh dan tersiksa mendengarnya. Yesus
menyegarkan jiwa pendengar-Nya, membawa-Nya pada kerohanian sejati
dan pengenalan yang benar akan Bapa. Pengajaran-Nya memukau karena
itu masuk ke setiap hati orang dan menjawab kebutuhan jiwa mereka. Ia
bukan sekedar memberi pelajaran, Ia mengajar dan menunjukkan pada
orang-orang dengan cara sedemikian rupa sehingga kuasa Tuhan menembus
masuk di hati setiap pendengarnya. Seperti Yesus yang membawa pesan
dan kuasa sorgawi, demikianlah Tuhan ingin kita menjadi. Perkataan
hikmat keluar dari mulut kita. Kebijaksanaan nyata dari setiap ucapan
dan pembicaraan kita. Melalui itu, terasa sungguh Tuhan bekerja.
Kata-kata itu menjadi berkat dan kekuatan bagi setiap pendengarnya
sebab memang “…lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan”
(Ams. 15:2) dan “…mendatangkan kesembuhan” (Ams. 12:18).
Kebenaran ini sekaligus menunjukkan seberapa banyak perkataan kita
boleh menjadi berkat bagi orang dengan membawa mereka pada sumber Air
kehidupan itu, sejauh itulah kualitas kita sebagai murid Tuhan.
Perkataan yang sembrono, asal diucapkan lebih-lebih ujaran-ujaran
jahat yang menyakiti dan merendahkan orang apalagi sampai
menghancurkan orang lain dengan fitnah dan tuduhan yang keji
menyingkapkan secara tidak langsung dari siapa dan apakah yang telah
mendidik jiwa kita sebenarnya selama ini.
*5.
LIDAH YANG MENDATANGKAN BERKAT, YANG MENJADI PENYAMPAI SUARA TUHAN
DAN YANG PENUH HIKMAT TIDAK MUNGKIN KITA MILIKI JIKA KITA SEBELUMNYA
TIDAK PERNAH MENJADI MURID SEJATI KRISTUS*
TUHAN
ALLAH telah mengaruniakan kepadaku lidah seorang murid (seorang yang
telah belajar dan diajari)…” (Yes. 50:4) Bagian terakhir yang tak
boleh diremehkan sebagai pelajaran bagi kita ialah bahwa sebelum kita
benar-benar menjadi seorang murid, hidup sebagai murid, bertumbuh
dalam pengenalan dan pengenalan akan Tuhan serta jalan-jalan-Nya,
MUSTAHIL kita memiliki suatu lidah yang menyalurkan berkat Tuhan.
Perkataan kita tidak akan pernah berasal dari hati dan pikiran Tuhan.
Semuanya akan lagi-lagi bersumber dari pikiran dan hati kita sendiri.
Yang dibesarkan dan dididik oleh hikmat duniawi dan melakukan segala
sesuatu dengan kekuatan manusiawi. Akhir zaman disebut sebagai
hari-hari yang jahat (2 Tim. 3:1). Salah satu alasan utamanya ialah
manusia semakin bebas berbuat jahat. Mereka semakin berani bersikap
sombong dan angkuh. Dan banyak yang bersikap demikian karena memiliki
sarana-sarana untuk melakukan dan memamerkan kecongkakan mereka.
Media sosial ialah salah satunya. Melalui media sosial yang
mengaktualisasi kepribadian orang, semua orang merasa berhak unjuk
diri. Yang mempunyai kelebihan fisik dan rupa, yang dahulu bersikap
biasa dan paling-paling hanya menyimpan pujian-pujian dari sekitarnya
dalam hati, kini melalui media sosial mereka bisa menjadi pusat
perhatian sedunia. Yang pendiam dan biasa merenung sendiri tanpa
berani berkata-kata atau berkomentar dalam suatu pembicaraan, di masa
kini oleh karena merasa tak diketahui identitasnya, menjadi berani
mengeluarkan pikiran dan perasaannya secara bebas. Mereka membully,
menghina, mencaci maki, merendahkan bahkan menyebarkan fitnah yang
lahir dari kebencian-kebencian yang bercokol di hati mereka. Bahkan
mereka bangga disebut sebagai “haters” dan merasa hebat disebut
sebagai “hoaxers”. Media sosial, dengan segala keuntungan dan
manfaatnya, kembali menjadi sarana yang digunakan bagi keburukan dan
kejahatan oleh karena sifat manusia yang telah rusak. Melalui media
sosial, orang tanpa sadar semakin digiring untuk menjadi para
komentator, pengamat, penilai dan hakim atas orang lain. Ini ekses
atau dampak yang tidak dapat dihindari. Beberapa orang berhenti
menggunakan media sosial saat merasa lebih banyak dampak buruk yang
mereka rasakan telah meracuni jiwa mereka. Meski demikian, bukan
berarti kita harus anti terhadap kemajuan teknologi yang sebenarnya
memberikan manfaat yang tidak sedikit ini. Agar terhindar dari
jebakan kuasa gelap ini, maka kita semestinya menggunakan MEDIA
SOSIAL SEBAGAI TEMPAT BELAJAR DAN BERBAGI BERKAT ROHANI. Dimana satu
sama lain dapat berbagi dengan banyak saudara yang lain akan apa yang
Tuhan taruh di hati mereka sebagai murid-murid Tuhan. Jika kita semua
murid sejati Kristus, kita akan sama-sama belajar dari sesama saudara
dalam iman. Kesalahan terbesar orang-orang Kristen hari ini dalam
pergaulan dunia maya ialah dengan menggunakannya sebagai sarana
memamerkan kepandaian mereka atau lebih buruk menyampaikan pendapat
mereka SEBELUM BENAR-BENAR PERNAH MENJADI ORANG YANG BELAJAR. Saat
ini terjadi begitu masif, maka tidak mengherankan apabila kini
terjadi kekacauan informasi dan provokasi yang hampir tanpa batas
oleh karena orang-orang yang tidak pernah benar-benar belajar akan
perkara-perkara yang benar apalagi yang berasal dari Tuhan saling
mengomentari, saling berargumen, saling menyerang bahkan saling
menghujat satu sama lain. Dari kualitas dan isi perkataan merekalah,
kita tahu siapa murid Tuhan sejati dan yang bukan. Dari apa yang
disampaikan lambat laun kita mengenal roh apa yang sedang bekerja dan
membuat setiap orang mengeluarkan berbagai ucapan yang disampaikan di
media-media sosial itu. Pastinya, seorang murid sejati akan memiliki
lidah yang menjadi berkat bagi banyak orang. Tidak melemahkan atau
menghancurkan orang lain melalui kata-kata kasar, kotor, tuduhan atau
fitnah tapi membangun dan menyembuhkan jiwa-jiwa yang lain melalui
hikmat yang Tuhan berikan padanya. Lebih dari itu, melalui pesan
mengenai pemuridan ini, seharusnya kita menyadari dengan benar bahwa
tidak akan ada orang berhikmat, yang lidah bibirnya mengucapkan
perkataan-perkataan yang mendatangkan berkat dan penuh hikmat SEBELUM
IA MERENDAHKAN DIRI DAN MENJALANI PROSES SEORANG MURID. Seseorang
bisa saja merasa dirinya seorang yang ahli, berpengalaman, tahu
banyak akan bidangnya bahkan telah menjadi guru, dosen, pendidik atau
profesor sekalipun AKAN TETAPI hikmat Tuhan pertama-tama akan
diberikan kepada orang-orang yang mau merendahkan diri dan cukup
rendah hati menjadi seorang murid lebih dahulu. Sungguh, “Hikmat
ada pada orang yang rendah hati” (Ams. 11:2), dan orang yang rendah
hati ialah yang akan menjadi murid sejati Tuhan. Mereka yang tidak
menjadi murid dan berhenti menjadi murid Tuhan, tidak akan mampu
menyampaikan pikiran, pendapat dan pandangan yang tepat sesuai
pikiran dan hati Tuhan. Begitu pula yang sekedar menjadi murid
manusia yang lain. Mereka hanya akan menyuarakan ajaran panutan atau
guru (manusia) mereka itu. Hanya mereka yang berjalan bersama Tuhan
dan mengikut Dia serta belajar dari-Nya akan mendapatkan hikmat
sejati, yang perkataannya menjadi berkat dan membawa orang lain pada
perjumpaan dan pengenalan akan Tuhan. Lalu, bagaimana kita tahu bahwa
kita sekarang masih dan memang seorang murid Tuhan? Untuk menjawab
ini, kita harus jujur pada diri dan kepada Tuhan. Kita harus
memeriksa hati kita apakah kita masih mengikuti sekolah-Nya setiap
hari atau tidak. Mulailah dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini
sejujur-jujurnya. Apakah kita memberikan telinga untuk mencari Dia
dan belajar dari-Nya melalui apapun di sekitar kita? Adakah kita
lebih cepat meragukan dan mempertanyakan sebuah informasi, pesan atau
ajaran rohani ketimbang mencari tahu, menguji dan menyelidiki lebih
lanjut apakah benar demikian? Apakah kita lebih cenderung membantah
dan berpandangan sendiri saat menerima masukan, nasihat atau bahkan
teguran di hati kita terkait pendirian kita yang mungkin salah selama
ini? Apakah kita sering bersikap keras hati ataukah bersikap aktif
memeriksa dan mengoreksi diri melalui perenungan yang mendalam? Juga
apakah kita lebih banyak melakukan introspeksi diri atau justru
sepanjang hari lebih sering menilai dan mengoreksi orang? Adakah kita
bertanya dan mencari tahu lebih lanjut melalui penyelidikan firman
atau berdiskusi dengan sesama rekan kita apabila terasa ada sesuatu
yang belum jelas dalam hal-hal rohani atau lebih condong merasa tidak
ada masalah dengan kerohanian kita? Termasuk, bagaimana kita dalam
menilai diri kita sebagai orang yang merasa lebih tahu, lebih kaya,
lebih tua, lebih berpengalaman dan memiliki jabatan atau posisi
rohani atau status sosial yang tinggi di masyarakat? Apabila kita
mengukur semua itu sebagai dasar untuk kita tidak mendengarkan yang
lain dan belajar dari Tuhan, sesungguhnyalah kita bukan murid
sejati-Nya. Pertanyaan-pertanyaan di atas harus dijawab dengan jujur
sebelum kita mendapatkan jawaban yang benar apakah kita masih
terbilang sebagai murid Yesus atau bukan. Dari sana semestinya kita
tahu, sejauh mana kita bisa mengukur diri jika kita bermaksud
menasihati atau mengajar orang lain. Guru-guru sejati yang dipanggil
Tuhan tidak lain sebelumnya adalah murid-murid sejati. Hanya mereka
yang telah belajar dengan benar akan dapat mengajarkan kebenaran
Tuhan dengan benar, tepat sesuai hati-Nya. Mereka yang tak pernah
menjadi murid sejati, sebaliknya, akan menjadi guru-guru yang sesat
dan berbahaya karena mereka mengajarkan pendapat dan pikiran mereka
sendiri, bukan yang dari Tuhan. Mereka akan seperti yang dikatakan
rasul Yudas mengenai guru-guru palsu: “Sebab ternyata ada orang
tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu
orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah
orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita
untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal
satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.” Akan tetapi
mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui dan justru
apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang tidak
berakal, itulah yang mengakibatkan kebinasaan mereka. Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena
mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam,
dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah. Mereka inilah
noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap
dan hanya mementingkan dirinya sendiri; mereka bagaikan awan yang tak
berair, yang berlalu ditiup angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang
dalam musim gugur tidak menghasilkan buah, pohon-pohon yang terbantun
dengan akar-akarnya dan yang mati sama sekali. Mereka bagaikan ombak
laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri; mereka
bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia
kekelaman untuk selama-lamanya. _Mereka itu orang-orang yang
menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa
nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang
bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan”
(Yudas 4,10-13,16). Ayat 11 menyimpulkan siapa guru-guru yang bukan
dari Tuhan ini: mereka mengikuti jalan Kain, menceburkan diri dalam
kesesatan Bileam dan durhaka hingga binasa seperti Korah. Persamaan
dari ketiganya telah jelas. Mereka semua bukan murid-murid Tuhan.
Mereka tidak pernah mau belajar jalan-jalan Tuhan tapi menempuh jalan
mereka sendiri hingga berbuat durhaka melawan kehendak dan
jalan-jalan Tuhan itu sendiri. *PENUTUP : DICARI MURID SEJATI*
Lee
Camp dalam bukunya, Pemuridan Yang Murni: Kekristenan Radikal di
Dunia Yang Memberontak, mengatakan: “Yesus dari Nazaret selalu
meminta murid-murid-Nya untuk mengikut Dia -bukan sekedar “menerima
Dia”, bukan hanya “percaya pada Dia”, bukan semata “menyembah
Dia” tetapi untuk mengikut Dia: orang harus mengikut Dia atau tidak
mengikut Dia. Tidak ada pengkotak-kotakan iman; tiada wilayah, tidak
ada tempat, tiada bisnis, tada politik dimana ketuhanan Kristus
dikecualikan. Kita harus menjadikan Dia Tuhan atas segala tuhan, atau
kita menolaknya sebagai Tuhan dari apapun.” Dan memang demikian
adanya, jika kita mengaku sebagai pengikut-Nya dan murid-Nya, kita
sudah seharusnya mempraktekkan prinsip dan ketetapan-Nya dalam setiap
bidang kehidupan. Tanpa terkecuali. Dalam hal penyerahan hidup kita
untuk mengasihi Tuhan dan mengamalkan ajaran-Nyalah kita akan DIKENAL
SEBAGAI MURID KRISTUS YANG SESUNGGUHNYA. Selagi banyak yang berpikir
bahwa “cukup percaya saja” sebagai orang Kristen, saya ingin
menyampaikan bahwa menjadi Kristen, - dimana bahkan istilah Kristen
itu itu sendiri- adalah bermakna mengikut Kristus. Sebelum kita
benar-benar menjadi murid-murid Yesus, sesungguhnya kita belum sampai
kepada iman sejati, yang menyelamatkan. Iman sejati ialah iman yang
hidup, yang nyata dalam perbuatan-perbuatan kita. Dan
perbuatan-perbuatan itu ialah HIDUP SEBAGAI MURID-MURID-NYA: hidup
dalam penundukan diri di hadapan-Nya, tiap-tiap hari taat dan menjadi
pelaku hukum-hukum Kerajaan Allah, menolak kompromi dan mendalami
perkara-perkara dunia namun mencari dan memikirkan perkara-perkara
yang di atas, bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan
jalan-jalan-Nya sampai kehendak dan rencana-Nya makin terang dalam
hidup kita. Dan dengan demikian kita tidak menyia-nyiakan kasih
karunia Tuhan tetapi mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan
gentar (Fil. 2:12). Jika Anda telah menerima kasih karunia Tuhan
melalui iman dan percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dan Tuhan bagi
kehidupan Anda, Ia menyediakan KASIH KARUNIA YANG LEBIH BESAR LAGI
BAGI ANDA hari ini. Ia memanggil Anda menjadi murid-Nya, mengikut Dia
menempuh jalan terbaik yang telah disiapkan-Nya bagi Anda. Menolak
pangglan ini akan menjadi kerugian besar bagi Anda dan mendukakan
hati-Nya yang sangat mengasihi Anda. Hidup Anda terancam kembali
terhilang atau sesat jalan ditelan kehampaan yang besar karena hidup
tanpa makna. Sebaliknya, menerima panggilan ini akan membawa sukacita
di hati Tuhan dan Ia akan melimpahkan yang terbaik bagi Anda
sepanjang perjalanan hidup Anda di dunia yang sekarang hingga upah
kekal bagi Anda di sorga nanti. Ambillah waktu sejenak tanpa ada
suara apapun yang lainnya selain suara hati Anda dan bisikan Roh
Tuhan di hati Anda. Pikirkan kesempatan terbaik dalam hidup Anda ini.
Untuk belajar dari Guru Terbaik yang pernah ada dan hidup dalam hidup
terbaik yang bisa Anda jalani. Tidakkah Anda mendengar suara-Nya
memanggil, “Ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
Akankah Dia mendengar Anda berkata, “Mengikut Yesus keputusanku, ku
tak akan menoleh ke belakang dan berbalik lagi pada dunia?” SALAM
REVIVAL! Indonesia penuh kemuliaan Tuhan.
Madam
Ossy
Minggu,
26 Maret 2017. Bacaan: Kejadian 13: 7-13. Setahun: Hakim-Hakim 10-11.
Nas: Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu... (Kejadian
13:11). Yang Paling Bernilai. Abram menawarkan penyelesaian konflik
(ay. 9), dan Lot menyetujui. Sikap itu memberi kesan bahwa Lot
berbudi luhur. Tetapi, langkah Lot berikutnya menampilkan watak
aslinya. Sebagai wujud respek kepada Abram, paman dan pemimpinnya,
Lot mestinya menyilakan Abram yang menentukan. Tetapi, begitu Abram
selesai berbicara, Lot menatap kawasan subur Lembah Yordan (ay. 10),
dan langsung memilih area itu untuknya (ay. 11). Lot tahu, penduduk
lembah itu hidup bergelimang dosa (ay.13). Itu alasan serius untuk
menjauh dari sana. Tetapi, Lot menafikan fakta itu. Baginya, bisnis
ternaklah yang terpenting. Apa yang kita lihat? Bagi Lot, hal yang
utama bukan respek kepada pemimpin, melainkan diri sendiri. Bukan
pertimbangan moral, melainkan keuntungan finansial. Dari kisah Lot,
kita melihat bahwa tindakan seseorang selalu didorong oleh (dan
secara tepat menunjukkan) apa yang oleh orang itu dipandang paling
bernilai. Hal itu berlaku atas kita semua. Ketika seorang rekan
dirawat di rumah sakit, saya memilih bermain futsal, bukan
menengoknya. Artinya, having fun saya anggap lebih bernilai ketimbang
kepedulian dan persahabatan. Tiap kali ada peluang, saya melakukan
manipulasi. Jelas, kejujuran tidak penting bagi saya. Undangan
sekolah (untuk berkonsultasi tentang anak saya) saya keluhkan sebagai
gangguan. Dapatkah saya berkata bahwa anak saya penting bagi saya?
Rupanya, membina diri-agar nilai-nilai yang baik menjadi yang utama,
yang mendorong tiap tindakan kita-adalah langkah penting yang tak
boleh ditawar –EE. PILIHAN YANG KITA AMBIL MENUNJUKKAN APA YANG
KITA YAKINI PALING PENTING DAN PALING BERNILAI.