Saturday, 16 May 2015

16 Mei 2015



CULTURAL



Susanti Eka Taruna: Kejadian 24:12, “Lalu berkatalah ia: ‘TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham.’” Saat kita berDOA, inilah keberanian kita percaya kepadaNya, yaitu bahwa IA mengabulkan DOA kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya (1 Yoh 5:14). IA Tuhan yang selalu dapat diakses / yang selalu mendengar DOA kita, kapan saja kita membutuhkannya J. Amin.

Respon 1
Peter B || pin 52951880 || Worship Center Sby: Salah satu hal tentang Salomo yang jarang dibahas di mimbar-mimbar gereja kita justru merupakan hal yang penting bagi kita. Banyak yang menginginkan kesuksesan & kebesaran Salomo, raja tersukses menurut ukuran duniawi. Hanya, berapa banyak yang tahu bagaimana akhir hidup Salomo? Siapakah yang tahu bahwa apa saja yang telah dicapainya disimpulkannya dengan kalimat ini: “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin”~ Pkh. 1:14. Artinya, apapun yang manusia lakukan selama ia hidup sesungguhnya kehampaan & kesia-siaan saja. Bisa jadi banyak yang tidak setuju. Tapi Salomo telah menyelidiki & menjalani semuanya. Ia yang sudah merasakan tahta, harta & wanita; yang sudah hidup di puncak-puncak dunia; yang telah merasakan yang terbaik dari hidup di dunia; ia orang paling berhikmat yang pernah hidup di muka bumi! Bukan dalam kebodohan & secara emosional saja ia menyimpulkan pernyataan di atas. Dengan kata lain, Salomo menyampaikan bahwa keadaan apapun dari manusia tidak akan membawa arti bagi hidupnya. Yang kaya, yang berprestasi, yang memegang kekuasaan, yang berilmu pengetahuan & banyak belajar, yang mendalami agama, yang memiliki berbagai kelebihan -hanya “merasa menemukan” arti hidup saja namun makna hidup sejati tidak pernah benar-benar mereka ketahui. Di bagian akhir tulisannya, Salomo alias Pengkhotbah mendorong kita untuk “ingat Pencipta pada masa muda” & “takut akan Allah & berpegang pada perintah-perintahNya” (Pkh. 12:1,13). Inilah hal-hal penting yang menurutnya sangat mendasar bagi tiap orang. Apapun yang dicapai manusia bagi dirinya tak akan pernah dapat memenuhi hasrat hatinya yang terdalam. Sebab kita tidak dirancang untuk bisa tenang sebelum hati kita mengenal Tuhan yang sejati -Dialah satu-satunya tujuan kita dicipta. Kita seharusnya mengingat Dia & takut akan Dia -bukan berusaha 'lepas' dari-Nya & berjalan sendiri. Dimiliki & memiliki Yesus. Itulah yang menjadikan hidup ini berarti. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
“Kadang-kadang, bahkan seringkali, kita membutuhkan orang lain untuk menemukan, menggali, dan mengasah bakat kita.” Xavier Quentin Pranata.


No comments:

Post a Comment