Thursday, 7 May 2015

7 Mei 2015



CULTURAL



Kis 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Menjadi TERANG/SAKSI itu harus dimulai dari keluarga terlebih dahulu, baru setelah itu di marketplace kita masing-masing. Bagaimana aplikasinya? Apakah mudah menghadapi orang-orang yang paling dekat dengan kita? Justru di keluarga inilah tempat kita BERLATIH sebelum kita keluar menjadi SAKSI sampai keujung bumi, ada amin? J Mau menjadi berkat buat keluarga kita terlebih dulu? J

Respon 1
Yes 32:17 – Di mana ada KEBENARAN di situ akan tumbuh DAMAI SEJAHTERA dan akibat kebenaran ialah KETENANGAN dan KETENTERAMAN untuk selama-lamanya.! Yes... Ok... Pasti! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

Respon 2
“Di luar Tuhan, orang yang paling kita percayai pun seringkali justru yang paling mengecewakan.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 3
SAAT TEDUH. Kamis, 7 Mei 2015. Pendayung Kapal Perang. Demikianlah hendaknya orang memandang kami: Sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah (1 Korintus 4:1). Paulus menyebut dirinya sebagai seorang hamba Kristus (ay. 1). Dalam bagian tersebut, kata hamba memakai kata huperetes, yang berarti seorang pendayung kapal perang. Ia ditempatkan di bagian bawah kapal sehingga tidak nampak dari luar. Meskipun huperetes berperan sebagai pendayung kapal, tetap saja arah perjalanan sebuah kapal ditentukan oleh sang nakhoda. Ke mana pun nakhoda memerintahkan kapal untuk pergi, huperetes harus melakukannya. Ketika kapal tersebut memenangkan sebuah pertempuran, tentunya yang mendapatkan pujian bukanlah para pendayung kapal, melainkan sang nakhoda. Paulus sengaja memakai kata huperetes untuk menggambarkan dirinya. Ia ingin menunjukkan bahwa pelayanannya adalah ekspresi dari ketaatannya kepada kehendak Kristus, Sang Nakhoda. Ketika pelayanan Paulus berhasil, bukan Paulus yang membusungkan dada, melainkan Kristus yang terlihat dan dimuliakan. Ketika Paulus memenangkan jiwa, bukan diri Paulus yang dipuji-puji, melainkan Kristus, Nakhoda, yang diagungkan. Bagaimana dengan kita? Seberapa sering kita justru mengambil tempat dan posisi yang seharusnya menjadi milik Kristus? Seberapa sering kita memiliki motivasi untuk menonjolkan diri untuk mendapatkan pujian orang lain ketika melayani Dia? Bukankah seharusnya kita mengambil peran, kedudukan, dan tanggungjawab seperti seorang huperetes? Biarlah kehidupan kita tersembunyi di dalam Kristus. Biarlah Kristus menyatakan kehidupan-Nya melalui hidup kita. Biarlah hidup kita memuliakan nama-Nya —SPP. BUKAN HAMBA YANG DIPUJI DAN DIMULIAKAN, MELAINKAN TUANNYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
Salah satu nama sebutan Tuhan ialah Sang Hikmat. Itu sebabnya Dia membenci kebodohan. Tuhan menentang orang-orang yang memilih tinggal dalam kebodohan. Orang-orang bodoh tidak sama dengan orang-orang yang tidak berpendidikan. Di mata dunia, bisa saja mereka orang-orang sukses & terpandang. Sayangnya mereka memilih hidup dalam kebodohan. Memilih kebodohan berarti menolak hikmat yang sejati tetapi lebih suka tinggal dalam ketidaktahuan, kegelapan pikiran & kesesatan hidup. Secara umum, orang-orang bodoh menolak pengenalan akan Allah & memilih percaya jalan pikirannya sendiri yang tanpa pernah diketahuinya menuju pada kecelakaan, kerugian bahkan kebinasaan. Namun ada yang menarik jika membaca Amsal 26:12. Ada tipe orang yang lebih buruk daripada orang bodoh, yang menjadikan orang bodoh tampak lebih baik: “Orang yang bodoh sekali masih lebih baik daripada orang yang menganggap dirinya pandai” (terj. Alkitab BIS). Merasa diri pandai itu sama dengan kesombongan. Jadi, dengan kata lain, orang-orang yang sombong lebih buruk keadaannya di hadapan Tuhan daripada orang-orang bodoh. Mengapa demikian? Dalam terjemahan baru, Amsal 26:12 mengatakan “harapan masih ada bagi orang yang bodoh daripada yang merasa dirinya bijak”. Ya, tidak ada harapan bagi orang-orang sombong. Itu karena mereka bukan saja menolak hikmat Tuhan tetapi melangkah lebih jauh dengan memandang diri mereka telah berhikmat & mengenal kebenaran sejati. Tidak hanya itu. Karena merasa pandai, mereka mengajarkan kebodohan mereka pada banyak orang. Kesesatan pun semakin meluas. Tipe ini tampak dalam diri orang-orang Farisi & ahli-ahli taurat yang menentang Yesus; kaum agamawi yang merasa pandangannya yang paling tepat benar padahal di hadapan Tuhan itu kemunafikan & kesesatan belaka (Mat. 23). Tuhan menghendaki kita tidak tinggal dalam kebodohan yang dekat dengan kesombongan jika kita mengeraskan hati. Tuhan rindu hati melihat hati kita selalu siap belajar & diajar, dikoreksi & terbuka bagi bisikan-bisikan nasihat-Nya. Seumur hidup kita. Demikiankah hati Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment