CULTURAL
Kis 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke
atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan
Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Menjadi TERANG/SAKSI itu harus dimulai
dari keluarga terlebih dahulu, baru setelah itu di marketplace kita
masing-masing. Bagaimana aplikasinya? Apakah mudah menghadapi orang-orang
yang paling dekat dengan kita? Justru di keluarga inilah tempat kita
BERLATIH sebelum kita keluar menjadi SAKSI sampai keujung bumi, ada
amin? J Mau menjadi berkat buat keluarga kita
terlebih dulu? J
Respon 1
Yes 32:17 – Di mana ada KEBENARAN di situ akan tumbuh DAMAI SEJAHTERA
dan akibat kebenaran ialah KETENANGAN dan KETENTERAMAN untuk selama-lamanya.!
Yes... Ok... Pasti! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.
Respon 2
“Di luar Tuhan, orang yang paling kita percayai pun seringkali justru
yang paling mengecewakan.” Xavier Quentin Pranata.
Respon 3
SAAT TEDUH. Kamis, 7 Mei 2015. Pendayung Kapal Perang. Demikianlah hendaknya
orang memandang kami: Sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan
rahasia Allah (1 Korintus 4:1). Paulus menyebut dirinya sebagai seorang hamba
Kristus (ay. 1). Dalam bagian tersebut, kata hamba memakai kata huperetes, yang
berarti seorang pendayung kapal perang. Ia ditempatkan di bagian bawah kapal
sehingga tidak nampak dari luar. Meskipun huperetes berperan sebagai pendayung
kapal, tetap saja arah perjalanan sebuah kapal ditentukan oleh sang nakhoda. Ke
mana pun nakhoda memerintahkan kapal untuk pergi, huperetes harus melakukannya.
Ketika kapal tersebut memenangkan sebuah pertempuran, tentunya yang mendapatkan
pujian bukanlah para pendayung kapal, melainkan sang nakhoda. Paulus sengaja
memakai kata huperetes untuk menggambarkan dirinya. Ia ingin menunjukkan bahwa
pelayanannya adalah ekspresi dari ketaatannya kepada kehendak Kristus, Sang
Nakhoda. Ketika pelayanan Paulus berhasil, bukan Paulus yang membusungkan dada,
melainkan Kristus yang terlihat dan dimuliakan. Ketika Paulus memenangkan jiwa,
bukan diri Paulus yang dipuji-puji, melainkan Kristus, Nakhoda, yang
diagungkan. Bagaimana dengan kita? Seberapa sering kita justru mengambil tempat
dan posisi yang seharusnya menjadi milik Kristus? Seberapa sering kita memiliki
motivasi untuk menonjolkan diri untuk mendapatkan pujian orang lain ketika
melayani Dia? Bukankah seharusnya kita mengambil peran, kedudukan, dan
tanggungjawab seperti seorang huperetes? Biarlah kehidupan kita tersembunyi di
dalam Kristus. Biarlah Kristus menyatakan kehidupan-Nya melalui hidup kita.
Biarlah hidup kita memuliakan nama-Nya —SPP. BUKAN HAMBA YANG DIPUJI DAN
DIMULIAKAN, MELAINKAN TUANNYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam
Ossy)
Respon 4
Salah satu nama sebutan Tuhan ialah Sang Hikmat. Itu sebabnya Dia
membenci kebodohan. Tuhan menentang orang-orang yang memilih tinggal dalam
kebodohan. Orang-orang bodoh tidak sama dengan orang-orang yang tidak
berpendidikan. Di mata dunia, bisa saja mereka orang-orang sukses &
terpandang. Sayangnya mereka memilih hidup dalam kebodohan. Memilih kebodohan
berarti menolak hikmat yang sejati tetapi lebih suka tinggal dalam
ketidaktahuan, kegelapan pikiran & kesesatan hidup. Secara umum,
orang-orang bodoh menolak pengenalan akan Allah & memilih percaya jalan
pikirannya sendiri yang tanpa pernah diketahuinya menuju pada kecelakaan,
kerugian bahkan kebinasaan. Namun ada yang menarik jika membaca Amsal 26:12.
Ada tipe orang yang lebih buruk daripada orang bodoh, yang menjadikan orang
bodoh tampak lebih baik: “Orang yang bodoh sekali masih lebih baik daripada
orang yang menganggap dirinya pandai” (terj. Alkitab BIS). Merasa diri pandai
itu sama dengan kesombongan. Jadi, dengan kata lain, orang-orang yang sombong
lebih buruk keadaannya di hadapan Tuhan daripada orang-orang bodoh. Mengapa
demikian? Dalam terjemahan baru, Amsal 26:12 mengatakan “harapan masih ada bagi
orang yang bodoh daripada yang merasa dirinya bijak”. Ya, tidak ada harapan
bagi orang-orang sombong. Itu karena mereka bukan saja menolak hikmat Tuhan
tetapi melangkah lebih jauh dengan memandang diri mereka telah berhikmat &
mengenal kebenaran sejati. Tidak hanya itu. Karena merasa pandai, mereka
mengajarkan kebodohan mereka pada banyak orang. Kesesatan pun semakin meluas.
Tipe ini tampak dalam diri orang-orang Farisi & ahli-ahli taurat yang
menentang Yesus; kaum agamawi yang merasa pandangannya yang paling tepat benar
padahal di hadapan Tuhan itu kemunafikan & kesesatan belaka (Mat. 23).
Tuhan menghendaki kita tidak tinggal dalam kebodohan yang dekat dengan kesombongan
jika kita mengeraskan hati. Tuhan rindu hati melihat hati kita selalu siap
belajar & diajar, dikoreksi & terbuka bagi bisikan-bisikan nasihat-Nya.
Seumur hidup kita. Demikiankah hati Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)

No comments:
Post a Comment