CULTURAL
Baca: Lukas
10:25-37. Setiap orang pasti suka dipehatikan, suka dipedulikan.
Keluarga adalah tempat kita berlatih untuk “SALING PEDULI”. Mengasihi Tuhan itu
berarti mengasihi / PEDULI dengan sesama J.
Sudahkah kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari hari? J.
P = Perhatian
E = Empati / ikut merasakan
D = Dahulukan sesama
U = Utamakan orang lain
L = Layani dengan suka cita
I = Ijinkan Tuhan berkarya lewat kepedulian
kita
Happy week. Happy with your family. JBU all J.
Respon 1
Lukas 10:25-37 cerita tentang orang Samaria yang baik hati. Karena dia
baik hati maka dia rela menolong orang yang dirampok dan dipukuli. Dia peduli
pada orang yang malang itu. Setiap hari mulai mbuka mata kita pasti melihat
banyak hal yang membutuhkan kepedulian kita. Apakah kita mau peduli atau
mengabaikan? Peduli itu tergantung kita mau melakukan atau tidak. Kadang peduli
itu simpel saja. Dengan memberi senyum pada orang disekitar kita itu sudah
membuat orang merasa dipedulikan. Kalau ada teman atau keluarga yang lagi
sumpek dan pengen curhat, kita cuma perlu meluangkan waktu dan mendengar itu
sudah membuat orang itu merasa dipedulikan. Kadang orang curhat nggak butuh
masukan cuma butuh didengar aja. Ya peduli itu simple, maukah kita jadi orang
yang peduli terhadap lingkungan dan sesama? (Ibu Rita – PKS CL 8)
Respon 2
Pembukaan surat Paulus pada jemaat Filipi ialah: “Dari Paulus &
Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus...” (Fil. 1:1). Bahasa asli Alkitab dari
kata 'hamba' ialah 'doulos' atau 'budak'. Ya, Paulus & Timotius suka
menyatakan diri sebagai “budak-budak Kristus”. Tampaknya itu menjadi kebanggaan
meski dunia memandang seorang budak sebagai status yang sangat rendah & hina.
Apakah Paulus seorang yang tidak memiliki pilihan lain dalam hidup selain
menjadi budak? Tentu saja tidak. Dia seorang pemuda brillian. Anak seorang kaya
dari suku Benyamin. Belajar dengan biaya mahal di sekolah terbaik yang
dibimbing sendiri oleh Gamaliel, guru besar taurat waktu itu. Ia sendiri sudah
tergolong sebagai salah satu pemuka agama dari golongan Farisi (lihat Fil.
3:3-4). Tidak hanya itu, karakternya kuat & hatinya penuh gairah bagi
hukum-hukum Allah -seorang yang sangat potensial menjadi pemimpin Yahudi di
masa depan! Jelas ada banyak pilihan karir, jabatan tinggi, kekayaan berlimpah,
prospek masa depan yang luar biasa bagi Paulus jika dibandingkan kebanyakan
orang. Juga jelas bahwa ia tidak pernah lahir sebagai budak, hidup sebagai
budak & sangat kecil kemungkinan akan berakhir sebagai budak. Maka menjadi
jelas bahwa Paulus menjadi budak Kristus karena pilihan. Bagi Paulus &
Timotius, menjadi pelayan bahkan budak dari Yesus Kristus itu lebih mulia
daripada menjadi tuan atau pejabat yang berkedudukan tinggi di dunia. Melayani
Tuhan yang memiliki & menguasai jagad raya, Sang Raja Diraja, jauh lebih
mulia daripada melayani siapapun apalagi sekedar melayani kepentingan, tujuan
& nafsu-nafsu pribadi. Budak Kristus berarti pelaksana segala kehendak-Nya.
Entah itu melayani sepenuh waktu, menjadi karyawan atau pebisnis, jika itu
dilakukan karena kehendak Tuhan, dialah seorang hamba bagi Kristus. Tidak ada
orang ingin menjadi budak. Tapi, menurut perhitungan Paulus, tidak ada yang
lebih beruntung, lebih mulia & lebih manis selain menjadi budak Kristus.
Bagaimana dengan Anda?
Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 3
Wah 3:7 – Apabila TUHAN membuka, nggak ada yang dapat menutup; apabila
TUHAN menutup, nggak ada yang dapat membuka! Semua KUNCInya di tangan TUHAN.
Ayoo hidup benar. Pasti selalu ada JALAN! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.

No comments:
Post a Comment