Saturday, 9 May 2015

9 Mei 2015



CULTURAL



Baca: Lukas 10:25-37. Setiap orang pasti suka dipehatikan, suka dipedulikan. Keluarga adalah tempat kita berlatih untuk “SALING PEDULI”. Mengasihi Tuhan itu berarti mengasihi / PEDULI dengan sesama J. Sudahkah kita aplikasikan dalam kehidupan kita sehari hari? J.
P    = Perhatian
E    = Empati / ikut merasakan
D   = Dahulukan sesama
U   = Utamakan orang lain
L    = Layani dengan suka cita
I     = Ijinkan Tuhan berkarya lewat kepedulian kita
Happy week. Happy with your family. JBU all J.

Respon 1
Lukas 10:25-37 cerita tentang orang Samaria yang baik hati. Karena dia baik hati maka dia rela menolong orang yang dirampok dan dipukuli. Dia peduli pada orang yang malang itu. Setiap hari mulai mbuka mata kita pasti melihat banyak hal yang membutuhkan kepedulian kita. Apakah kita mau peduli atau mengabaikan? Peduli itu tergantung kita mau melakukan atau tidak. Kadang peduli itu simpel saja. Dengan memberi senyum pada orang disekitar kita itu sudah membuat orang merasa dipedulikan. Kalau ada teman atau keluarga yang lagi sumpek dan pengen curhat, kita cuma perlu meluangkan waktu dan mendengar itu sudah membuat orang itu merasa dipedulikan. Kadang orang curhat nggak butuh masukan cuma butuh didengar aja. Ya peduli itu simple, maukah kita jadi orang yang peduli terhadap lingkungan dan sesama? (Ibu Rita – PKS CL 8)



Respon 2
Pembukaan surat Paulus pada jemaat Filipi ialah: “Dari Paulus & Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus...” (Fil. 1:1). Bahasa asli Alkitab dari kata 'hamba' ialah 'doulos' atau 'budak'. Ya, Paulus & Timotius suka menyatakan diri sebagai “budak-budak Kristus”. Tampaknya itu menjadi kebanggaan meski dunia memandang seorang budak sebagai status yang sangat rendah & hina. Apakah Paulus seorang yang tidak memiliki pilihan lain dalam hidup selain menjadi budak? Tentu saja tidak. Dia seorang pemuda brillian. Anak seorang kaya dari suku Benyamin. Belajar dengan biaya mahal di sekolah terbaik yang dibimbing sendiri oleh Gamaliel, guru besar taurat waktu itu. Ia sendiri sudah tergolong sebagai salah satu pemuka agama dari golongan Farisi (lihat Fil. 3:3-4). Tidak hanya itu, karakternya kuat & hatinya penuh gairah bagi hukum-hukum Allah -seorang yang sangat potensial menjadi pemimpin Yahudi di masa depan! Jelas ada banyak pilihan karir, jabatan tinggi, kekayaan berlimpah, prospek masa depan yang luar biasa bagi Paulus jika dibandingkan kebanyakan orang. Juga jelas bahwa ia tidak pernah lahir sebagai budak, hidup sebagai budak & sangat kecil kemungkinan akan berakhir sebagai budak. Maka menjadi jelas bahwa Paulus menjadi budak Kristus karena pilihan. Bagi Paulus & Timotius, menjadi pelayan bahkan budak dari Yesus Kristus itu lebih mulia daripada menjadi tuan atau pejabat yang berkedudukan tinggi di dunia. Melayani Tuhan yang memiliki & menguasai jagad raya, Sang Raja Diraja, jauh lebih mulia daripada melayani siapapun apalagi sekedar melayani kepentingan, tujuan & nafsu-nafsu pribadi. Budak Kristus berarti pelaksana segala kehendak-Nya. Entah itu melayani sepenuh waktu, menjadi karyawan atau pebisnis, jika itu dilakukan karena kehendak Tuhan, dialah seorang hamba bagi Kristus. Tidak ada orang ingin menjadi budak. Tapi, menurut perhitungan Paulus, tidak ada yang lebih beruntung, lebih mulia & lebih manis selain menjadi budak Kristus. Bagaimana dengan Anda?
Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 3
Wah 3:7 – Apabila TUHAN membuka, nggak ada yang dapat menutup; apabila TUHAN menutup, nggak ada yang dapat membuka! Semua KUNCInya di tangan TUHAN. Ayoo hidup benar. Pasti selalu ada JALAN! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Malang.



No comments:

Post a Comment