Sunday, 2 August 2015

2 Agustus 2015

MY HONOUR



My Honour: “Menghormati”. 1 Tawarikh 16:29, “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah menghadap Dia! Sujudlah menyembah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan.” Saat kita menyadari betapa besar dosa kita, betapa besar pengampunanNya, maka tidak ada hal lain kecuali: sujud menyembah kepada Bapa yang mengampuni dengan murahnya J. Amin. Bilamana kita menghormati Bapa/sujud memyembah Dia? Aplikasi apa yang tepat sebagai wujud kita menghormatiNya? Lakukan ketiga hal ini sebagai gaya hidup anak-anakNya yang menyembah:           (1) Sediakan waktu untuk kita intim dengan Bapa melalui pujian penyembahan, pembacaan Firman setiap hari & naikkan ucapan syukur kita melalui DOA/Sarapan Pagi bersama Yesus setiap hari. (2) Love God Love People (mengasihi Tuhan & mengasihi sesama melalui jiwa-jiwa yang Tuhan percayakan bagi kita). (3) Bagikan wujud penyembahan kita melalui kata-kata, tindakan yang memberkati orang lain/menjadi ‘kesaksian yang hidup’. Amin.

Respon 1
Kuda Liar. Salah satu hal yang khas dari masyarakat Sumbawa adalah SUSU. Yang unik adalah susu ini dihasilkan dari KUDA LIAR. Menurut sebuah artikel, cara menaklukkan kuda ini untuk diambil susunya cukup ‘kejam’, yaitu dengan menceburkan kuda liar ke dalam sungai sehingga kuda itu ketakutan, panik dan kehabisan tenaga. Saat itulah si penakluk datang menolong dan mengurung kuda itu di kandang untuk ditaklukkan di sana. Daud berpesan kepada umat Israel dalam Mazmur 32:9: “Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau.” Sebagai seorang dengan latar belakang gembala domba, Daud sangat mengerti akan karakter hewan-hewan seperti kuda dan bagal. Pesan itu ditujukan kepada seluruh umat TUHAN di Israel supaya tidak mengeraskan hati, menutup telinga untuk mendengar firman TUHAN. Terkadang TUHAN mengizinkan kita seperti seekor kuda liar yang dipaksa untuk masuk dalam sungai persoalan yang deras. Mungkin hal itu membuat kita panik, lelah dan takut. Namun, itulah cara untuk menyadarkan bahwa KEKUATAN kita sesungguhnya tidak seberapa dan sangat terbatas. Dan TUHAN tidak akan melakukan hal seperti itu jika saja kita mau TAAT. Tujuan TUHAN bukan untuk membuat kita menderita, tapi Ia mau mengajar dan menunjukkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh. TUHAN mau kita taat pada-Nya agar bisa menuntun kita menuju hidup dalam kemuliaan-Nya. SEMAKIN DERAS ARUS MASALAH MENERPA, SEMAKIN KITA BERSANDAR PADA KEKUATAN-NYA!! Selamat pagi. Selamat beribadah. Jesus Bless you all... (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 2
Maz 121:4-5 – Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjagamu. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naungan-mu... YESUS sumber PERLINDUNGAN kita. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 3
Di tengah kerumunan massa yang ribuan jumlahnya dimana hampir-hampir mereka terinjak-injak satu sama lain (Luk. 12:1, BIS dll), Yesus berpaling kepada murid-muridNya & berkata, “Hati-hatilah terhadap ragi orang Farisi, yaitu kemunafikan mereka.” Sungguh di luar kebiasaan. Bukannya tersenyum bangga melihat orang banyak menghadiri KKR-Nya atau mengatakan betapa suksesnya pelayanan mereka sejauh itu, Yesus malah memberikan pelajaran mengenai ragi orang Farisi yaitu kemunafikan. Apa hubungan kerumunan massa dengan ragi atau dengan orang-orang Farisi? Ragi ialah suatu zat untuk mengembangkan adonan roti sehingga yang tampak sedikit tampak banyak karena membesar. Ragi pun membuat roti terasa empuk & enak untuk dinikmati. Sedikit ragi dapat mempengaruhi seluruh adonan. Ajaran & hidup orang-orang Farisi yang sarat dengan kemunafikan disebut Yesus bagaikan ragi yang dengan cepat mempengaruhi banyak orang. Apa maksudnya? Maksudnya, kerumunan orang banyak dalam ibadah & acara-acara rohani bisa sangat menipu orang-orang yang melihatnya. Bagaikan roti yang mengembang namun bukan karena isinya yang padat tapi sebab pengaruh ragi yang membuatnya tampak besar -begitu pula orang-orang yang datang beribadah tidak semua datang dengan kerinduan yang tulus untuk mencari Tuhan. Inilah kemunafikan. Seperti orang-orang Farisi yang tampak saleh, beribadah & takut akan Tuhan, namun jauh di dasar hati, mereka tidak pernah menginginkan Tuhan secara nyata hadir dalam hidup mereka. Tuhan tidak mencari kerumunan orang. Lebih dari segala yang lain, pertama-tama, Dia mencari hati yang murni & tulus. Hati yang tidak mencari apa yang Tuhan bisa berikan bagi dirinya tapi mencari hubungan yang hidup & ketergantungan penuh pada Allah. Lalu hati yang mencintai-Nya lebih dari segala perkara sehingga rela mengabdi & setia pada-Nya, supaya tak terpisahkan selama-Nya dengan Dia. Orang yang banyak tak mempesonakan Tuhan -jika mereka berkumpul dalam kepalsuan jiwa. Ketulusan. Kerinduan yang murni saat datang menghadap-Nya. Itulah yang diindahkan-Nya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)


Respon 4
“Kita bisa lepas dari jerat dosa kalau kita melekat pada Pokok Anggur yang Benar.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment