Friday, 7 August 2015

7 Agustus 2015

MY HONOUR



Dampak Penyembahan (Part 2). Dampak selanjutnya bila kita menyembah ke 3: Mempererat hubungan kita dengan Tuhan. Yakobus 4:8a, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” Ke 4: Memberi kekuatan. Mazmur 138:3: “Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku, bahkan memberikan kelepasan.” Baca: Kis 16:19-42. Ayat 25: “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” Ayat 26: “Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.” Percayalah pada saat kita memuji menyembah DIA, maka sendi-sendi = hal-hal yang tidak kelihatan; pintu = kesempatan akan dibukakan, bahkan belenggu/semua ‘beban’/‘keterikatan’ dilepaskan. Amin. Sudahkah kita memuji & menyembah DIA pagi hari ini?? Jangan tinggalkan hari ini sebelum kita ‘Bersarapan Pagi’ bersama DIA J. Amin.

Respon 1
Pengkotbah 3:11 – TUHAN membuat segala sesuatu INDAH pada waktunya! Indah rencana-MU TUHAN didalam hidupku. DIA tidak pernah terlambat tapi tepat pada waktunya! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 2
Berubahlah dan perbaharui pikiranmu dengan KEBENARAN. Penuhi hatimu senantiasa dengan KASIH. Hidup bukan untulk dilayani melainkan untuk MELAYANI.


Respon 3
Namun apa yang terjadi dalam beberapa hari setelahnya? Sebagian dari orang banyak itu berbalik dan menuntut agar Yesus disalibkan Matius 27:20-23. Pada hari Minggu mereka menyembah Dia, tetapi pada hari Jumat mereka tak lagi menginginkan Dia. Dalam hubungan dengan Tuhan, janganlah kita berubah-ubah sikap. Kadang kita menyembah Yesus dengan segenap hati di hari Minggu, tetapi tepat keesokan harinya, kita hidup dengan sikap seakan-akan kehadiran-Nya mengganggu kita. Atau, di hari Minggu kita mengatakan kepada-Nya bahwa kita mengasihi Dia, tetapi kemudian kita lalai menaati Dia sepanjang minggu itu. Janganlah menjadi pengikut Yesus yang tidak konsisten. Jangan jadi pengikut tak setia yang berkata mengasihi Tuhan, tetapi setiap hari menjauh dari-Nya dan firman-Nya yang menghidupkan. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 4
SAAT TEDUH. Jumat, 7 Agustus 2015. Keberuntungan Kimhan. Tetapi inilah hambamu Kimham, ia boleh ikut dengan tuanku raja; perbuatlah kepadanya apa yang tuanku pandang baik (2 Samuel 19:37). George Washington, presiden pertama Amerika Serikat, memiliki banyak budak kulit hitam. Namun, ia terbilang tuan yang baik. Ia melarang budaknya dijual kepada majikan lain jikalau budak itu memiliki hubungan keluarga dengan budak lain miliknya juga, sebab ia tak mau mereka dipisahkan dari keluarganya. Dalam surat wasiat tertulisnya, semua budaknya boleh bebas jika ia dan istrinya telah meninggal. Washington memikirkan nasib para budaknya. Beruntunglah Kimham, budak Barzilai. Tuannya orang yang baik. Sebagai pendukung setia raja, Barzilai amat berjasa kala Daud sedang terancam oleh upaya kudeta yang dipimpin Absalom. Maka, sesudah berhasil kembali ke takhta, Daud bermaksud menghadiahinya kesempatan yang tak didapatkan oleh sembarang orang: tinggal bersama raja di istana (ay. 33). Barzilai menolak dengan alasan usia. Sebagai gantinya, ia mengajukan Kimham, agar Daud membawanya ke istana menjadi hamba raja (ay. 37). Barzilai melihat ada kesempatan baik untuk Kimham. Ia memikirkan budaknya itu. Hidup seseorang bisa berubah ketika ada pihak yang mau memikirkannya. Memikirkan kesehatannya, kesejahteraannya, pendidikannya, masa depannya, dan sebagainya. Karena memikirkan, ia ikut memperjuangkan atau mencarikan jalan demi kebaikannya. Adakah seseorang yang kehidupannya berubah karena Anda ikut memikirkan dia? Kimham beruntung karena ada Barzilai. Siapakah yang beruntung karena ada Anda dalam hidupnya? —PAD. SEMAKIN TULUS DAN SERIUS KITA MEMIKIRKAN SESEORANG, SEMAKIN NYATA KITA BERBUAT SESUATU DEMI KEBAIKANNYA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

Respon 5
Adalah suatu fakta yang telah menjadi sejarah bagi bangsa Israel saat Yosua mengatakan perkataan Tuhan ini: “Kepada Esau Kuberikan pegunungan Seir menjadi miliknya, sedang Yakub serta anak-anaknya pergi ke Mesir” (Yos. 24:4). Sungguh benar bahwa kepada Esau, Tuhan -dalam kedaulatan & kasih karunia-Nya pada keturunan hamba-hambaNya- memberikan bagian warisan pada Esau & keturunannya, dimana itu tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun juga bahkan oleh Israel yang adalah umat pilihan-Nya sendiri (Kej. 36:8; Ula. 2:4-6,12,22). Jadi, mengapa Esau mendapatkan warisan & tempat untuk berdiam dengan aman & tenang sedangkan Yakub & anak-anaknya harus menumpang di negeri orang? Bukankah hak kesulungan ada pada Yakub? Tidakkah Yakub semestinya mendapatkan tempat lebih dahulu & lebih baik daripada Esau? Mengapa keturunan Yakub yang adalah bangsa pilihan Allah harus diperbudak di Mesir & baru menempuh perjalanan kepada warisannya 400 tahun kemudian dengan melalui padang belantara selama 40 tahun? Mengapa hidup Esau & keturunannya tampak lebih mudah, sedangkan Israel harus jatuh bangun menerima warisannya? Dari sini kita belajar satu pelajaran penting. Yaitu bahwa kehidupan anak-anak yang dikasihi-Nya, tidak dipenuhi & ditandai dengan kelancaran & kemudahan. Justru hidup orang-orang pilihan Tuhan sering banyak diwarnai kesukaran, penderitaan, jalan yang tidak mulus. Bukankah kakak-kakak Daud telah berkarir di bidang militer sedangkan Daud masih terkucil menggembala domba? Meski demikian, tidak ada yang lebih baik & lebih indah selain hidup di dalam penyertaan & rancangan-rancanganNya bagi kita. Ada proses menyakitkan yang harus dilalui memang, namun hasil akhirnya adalah kemuliaan bagi yang mau & rela menjalaninya. Esau bisa jadi hidup nyaman ia namun kehilangan persekutuan & pengalaman yang indah berjalan bersama Tuhan. Selagi hampir semua orang mencari kenyamanan & keamanan dalam hidup, maukah Anda masuk & merangkul petualangan bersama Tuhan & masuk dalam rencana terbaik-Nya bagi hidup Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment