MY HONOUR
Manfaat
Persekutuan/Komunitas Sel. Baca: Efesus 2:19-22. Ayat 19, “Demikianlah
kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari
orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” Sebagai anggota
keluarga Allah yang ‘menyambut’ anggota yang baru kita perlu untuk menyambut
dengan bersikap ramah, hangat, memperhatikan, membimbing bahkan
melibatkan/mengajak jiwa-jiwa baru tersebut untuk datang ke Komunitas Sel,
melibatkan mereka dalam pelayanan, dll sebagainya J. Sebagai ‘gereja’/komunitas
kasih karunia orang percaya digambarkan sebagai ‘batu-batu yang dipakai untuk
membangun bangunan bagi Allah’. Yaitu sebagai ‘batu’ yang mengarahkan,
batu yang mendukung seluruh bangunan Allah yaitu menyatukan & mendukung
gereja & keluarga kita. Dengan demikian Komunitas Kasih Karunia/Komunitas
Sel ini dapat terus dimultiplikasi/dilipatgandakan. Amin. Sudah-kah kita
tergabung dalam Komunitas Kasih Karunia / Komsel?
Respon 1
Kisah Rasul 14.
Jika membacanya begitu saja, hanya perlu 3-4 menit. Namun jika membayangkan
kisah nyata di dalamnya, apa yang kira-kira muncul di pikiran kita? Kisah
dibuka di kota Ikonium. Paulus & Barnabas memberitakan injil di sana, di
tengah-tengah orang Yahudi & Yunani. Kebangunan rohani terjadi sehingga
terjadi pro & kontra di seantero kota. Namun kaum agamawi berhasil membuat
gerakan (persis seperti yang pernah dilakukan Paulus sebelum mengenal Kristus)
untuk melempari mereka dengan batu. Mengetahui itu, mereka menyingkir ke kota
lain, Listra & Derbe, sambil terus menginjil. Lalu mujizat terjadi. Seorang
lumpuh disembuhkan & berjalan kembali. Orang banyak mengira dewa-dewa telah
turun dalam rupa manusia. Mereka mulai menyembah Paulus & Barnabas. Mereka
bisa saja menjadi terkenal & kaya raya. Tapi mereka memilih jalan hamba.
Mereka mengaku sebagai manusia biasa & memuliakan nama Tuhan saja. Lalu
bagaimana? Penghasut-penghasut agamawi yang sebelumnya hendak membunuh mereka
di Ikonium mengejar ke sana. Mereka berhasil mempengaruhi orang-orang di sana.
Paulus yang paling gigih menjadi korban. Ia dirajam, dikira mati & mayatnya
dibuang di luar kota. Tak terbayangkan penderitaan Paulus demi Injil Kristus.
Tapi Paulus belum tamat. Saudara-saudara seiman di sana menangisi &
mendoakannya. Ia pun bangkit kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Esok
harinya, ia bersama Barnabas ke Derbe. Tidak jera atau menyerah. Memberitakan
Injil. Melayani Tuhan. Begitu setia. Tanpa mencari keuntungan diri meski
difitnah, diintimidasi, dianiaya, hampir mati, dibuang di jalanan. Semakin
teguh dalam panggilan Tuhan, mereka tetap memberitakan injil & menguatkan
semua saudara (Kis. 14:21-28). Merekalah pengikut Kristus sejati -dalam bentuk
yang paling nyata & terang-terangan! Akankah kisah di atas membuat Anda
ciut hati & berharap itu jangan terjadi atas diri Anda sebagai Kristen?
Atau hati Anda justru berkobar untuk melayani Tuhan & hidup bagi
tujuan-tujuanNya? Jawaban Anda ialah kualitas kekristenan Anda. Salam revival!
GBU.
Respon 2
Ayat bacaan: Amsal
13:1-4. Nats: Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati
orang rajin diberi kelimpahan (Amsal 13:4). Maumu Apa? Suatu saat seseorang
meminta saran saya tentang cara menulis. Saya menyarankannya banyak membaca
buku, ia menolak karena tidak suka baca. Saya menyarankannya berkenalan dengan
penulis atau ikut komunitas penulis, ia menolak karena pemalu. Saya
menyarankannya mencari petunjuk di internet, ia menolak karena gagap teknologi
dan tak punya modem. Saya jengkel, dan bertanya, “Lalu maumu apa?” Ia menjawab,
“Ya diberi saran agar bisa menulis.” Kenapa dia menolak semua saran saya?
Tampaknya bukan karena saran itu sulit atau ia tak bisa melakukannya, melainkan
karena ia malas. Firman Tuhan memberikan peringatan khusus terhadap kemalasan:
“Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin
diberi kelimpahan” (ay. 4). Menurut saya, kalau ia mau mencoba dengan tekun,
lama-kelamaan ia akan mampu menulis. Tuhan dan manusia tidak bersemangat
terhadap orang malas karena mereka memiliki kemampuan, tetapi tidak mau
berusaha. Keinginannya banyak, tetapi ia tak mau rugi. Maunya semua berjalan
dengan mudah dan lancar. Akibatnya, ia dibunuh oleh keinginannya sendiri karena
tangannya enggan bekerja (Ams. 21:25). Kalau kita gigih berusaha, hasilnya
mungkin banyak, mungkin hanya sedikit. Namun, kalau malas, hasilnya sudah pasti
nol! Marilah kita menjadi orang rajin, mau mencoba dan segera bertindak, tidak
menunggu sesuatu menjadi mudah lebih dahulu. Pakailah segenap sumber daya yang
Tuhan percayakan pada kita untuk mengupayakan yang terbaik! --Richard Tri
Gunadi. Selamat berkarya... Tuhan memberkati. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)
Respon 3
“Saat kita
melakukan perkara kecil dengan keseriusan tinggi, kita sudah melakukan tanggung
jawab ilahi.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment