Monday, 10 August 2015

10 Agustus 2015

MY HONOUR




Manfaat Persekutuan/Komunitas Sel. Baca: Efesus 2:19-22. Ayat 19, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” Sebagai anggota keluarga Allah yang ‘menyambut’ anggota yang baru kita perlu untuk menyambut dengan bersikap ramah, hangat, memperhatikan, membimbing bahkan melibatkan/mengajak jiwa-jiwa baru tersebut untuk datang ke Komunitas Sel, melibatkan mereka dalam pelayanan, dll sebagainya J. Sebagai ‘gereja’/komunitas kasih karunia orang percaya digambarkan sebagai ‘batu-batu yang dipakai untuk membangun bangunan bagi Allah’. Yaitu sebagai ‘batu’ yang mengarahkan, batu yang mendukung seluruh bangunan Allah yaitu menyatukan & mendukung gereja & keluarga kita. Dengan demikian Komunitas Kasih Karunia/Komunitas Sel ini dapat terus dimultiplikasi/dilipatgandakan. Amin. Sudah-kah kita tergabung dalam Komunitas Kasih Karunia / Komsel?

Respon 1
Kisah Rasul 14. Jika membacanya begitu saja, hanya perlu 3-4 menit. Namun jika membayangkan kisah nyata di dalamnya, apa yang kira-kira muncul di pikiran kita? Kisah dibuka di kota Ikonium. Paulus & Barnabas memberitakan injil di sana, di tengah-tengah orang Yahudi & Yunani. Kebangunan rohani terjadi sehingga terjadi pro & kontra di seantero kota. Namun kaum agamawi berhasil membuat gerakan (persis seperti yang pernah dilakukan Paulus sebelum mengenal Kristus) untuk melempari mereka dengan batu. Mengetahui itu, mereka menyingkir ke kota lain, Listra & Derbe, sambil terus menginjil. Lalu mujizat terjadi. Seorang lumpuh disembuhkan & berjalan kembali. Orang banyak mengira dewa-dewa telah turun dalam rupa manusia. Mereka mulai menyembah Paulus & Barnabas. Mereka bisa saja menjadi terkenal & kaya raya. Tapi mereka memilih jalan hamba. Mereka mengaku sebagai manusia biasa & memuliakan nama Tuhan saja. Lalu bagaimana? Penghasut-penghasut agamawi yang sebelumnya hendak membunuh mereka di Ikonium mengejar ke sana. Mereka berhasil mempengaruhi orang-orang di sana. Paulus yang paling gigih menjadi korban. Ia dirajam, dikira mati & mayatnya dibuang di luar kota. Tak terbayangkan penderitaan Paulus demi Injil Kristus. Tapi Paulus belum tamat. Saudara-saudara seiman di sana menangisi & mendoakannya. Ia pun bangkit kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Esok harinya, ia bersama Barnabas ke Derbe. Tidak jera atau menyerah. Memberitakan Injil. Melayani Tuhan. Begitu setia. Tanpa mencari keuntungan diri meski difitnah, diintimidasi, dianiaya, hampir mati, dibuang di jalanan. Semakin teguh dalam panggilan Tuhan, mereka tetap memberitakan injil & menguatkan semua saudara (Kis. 14:21-28). Merekalah pengikut Kristus sejati -dalam bentuk yang paling nyata & terang-terangan! Akankah kisah di atas membuat Anda ciut hati & berharap itu jangan terjadi atas diri Anda sebagai Kristen? Atau hati Anda justru berkobar untuk melayani Tuhan & hidup bagi tujuan-tujuanNya? Jawaban Anda ialah kualitas kekristenan Anda. Salam revival! GBU.

Respon 2
Ayat bacaan: Amsal 13:1-4. Nats: Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan (Amsal 13:4). Maumu Apa? Suatu saat seseorang meminta saran saya tentang cara menulis. Saya menyarankannya banyak membaca buku, ia menolak karena tidak suka baca. Saya menyarankannya berkenalan dengan penulis atau ikut komunitas penulis, ia menolak karena pemalu. Saya menyarankannya mencari petunjuk di internet, ia menolak karena gagap teknologi dan tak punya modem. Saya jengkel, dan bertanya, “Lalu maumu apa?” Ia menjawab, “Ya diberi saran agar bisa menulis.” Kenapa dia menolak semua saran saya? Tampaknya bukan karena saran itu sulit atau ia tak bisa melakukannya, melainkan karena ia malas. Firman Tuhan memberikan peringatan khusus terhadap kemalasan: “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan” (ay. 4). Menurut saya, kalau ia mau mencoba dengan tekun, lama-kelamaan ia akan mampu menulis. Tuhan dan manusia tidak bersemangat terhadap orang malas karena mereka memiliki kemampuan, tetapi tidak mau berusaha. Keinginannya banyak, tetapi ia tak mau rugi. Maunya semua berjalan dengan mudah dan lancar. Akibatnya, ia dibunuh oleh keinginannya sendiri karena tangannya enggan bekerja (Ams. 21:25). Kalau kita gigih berusaha, hasilnya mungkin banyak, mungkin hanya sedikit. Namun, kalau malas, hasilnya sudah pasti nol! Marilah kita menjadi orang rajin, mau mencoba dan segera bertindak, tidak menunggu sesuatu menjadi mudah lebih dahulu. Pakailah segenap sumber daya yang Tuhan percayakan pada kita untuk mengupayakan yang terbaik! --Richard Tri Gunadi. Selamat berkarya... Tuhan memberkati. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 3
“Saat kita melakukan perkara kecil dengan keseriusan tinggi, kita sudah melakukan tanggung jawab ilahi.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment