MY HONOUR
Seri bulan
Agustus: “My Honour” / “Merendahkan Diri” (Menyembah). Mazmur 95:6, “Masuklah,
marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.”
Sikap hati yang menyembah/berlutut ini berbicara tentang sikap hati yang
merendahkan diri di hadapan Tuhan, artinya respect/hormat terhadap
keberadaan Tuhan yang lebih tinggi. Contoh: kalau kita mau menemui owner/pemimpin
di perusahaan tempat kita bekerja, tentunya sikap kita tidak akan loyo, tidak
akan sembarangan, tetapi pasti sikap kita sopan, santun, & menghormati.
Apalagi bertemu Tuhan segala tuhan, pasti sikap kita ‘menghormatiNya’ ya?
Amin J.
Sudahkah kita menjadi Penyembah Sejati? Apakah kita memiliki kerinduan
untuk bergaul karib dengan DIA melalui penyembahan kita?? J
Respon 1
Menurut Anda,
apakah yang disebut beroleh kasih karunia Tuhan itu? Apakah mendapatkan
pengampunan dosa? Atau, merasakan hidup penuh kemudahan dalam segala sesuatu?
Apakah memperoleh harta berlimpah, menjadi kaya & berhasil meraih sesuatu
yang disebut kesuksesan seperti yang diidamkan kebanyakan orang itu? Mungkinkah
itu dengan mendapat jaminan tempat di sorga? Tidak ada yang mengetahui hal itu
sebaik Musa. Ia berkata di hadapan Tuhan, “Dari manakah gerangan akan
diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku
dengan umat-Mu ini? Bukankah KARENA ENGKAU BERJALAN BERSAMA-SAMA DENGAN KAMI
sehingga kami, …dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?” Ya,
Musa tahu kasih karunia Tuhan yang terbesar bagi manusia ialah bahwa Allah yang
mahakuasa & mahatinggi itu berkenan untuk hadir menyertai kita secara
langsung. Dia sangat mengasihi kita sehingga tidak rela membiarkan kita
berjalan seorang diri. Dia tahu kita ini tak mampu & pasti tersesat jika
Dia tidak menuntun & membimbing kita. Itu sebabnya Dia disebut sebagai
Bapa, Gembala, Pemimpin, Guru, Terang, Penolong, Penghibur, Hikmat, Teladan
Hidup, Penyelamat kita. Allah yang sejati itu dekat dengan umat-Nya. Yang
bergelar pengasih dan penyayang, yang panjang sabar & berlimpah kasih setia-Nya
itu telah menunjukkan & membuktikan cinta-Nya setiap waktu. Dia bangga
menyebut diri-Nya Imanuel, Allah yang dekat & menyertai umat-Nya. Sejarah
kitab suci ialah sejarah kisah penyertaan & campur tangan Allah bagi umat
pilihan-Nya. Selagi semua yang disebut tuhan & ilah terasa jauh & sukar
dihubungi, Allah kita begitu dekat. Awan & api itu masih menjaga kita,
yaitu Roh-Nya yang lembut namun perkasa. Dia berdiam dalam kita & membawa
kita kepada jalan-jalan kebenaran-Nya. Masihkah kita mengabaikan kasih karunia
ini? Jika kita masih kerap menujukan diri pada berkat-berkat selain dari
kehadiran-Nya dalam hidup Anda maka kita belum mengenal benar kasih
karunia-Nya. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center
Surabaya)
Respon 2
Hal yang serupa
juga berlaku pada sebagian orang. Akibat gagal melawan iblis, mereka menyerah
pada godaan dan menyimpang dari jalan yang direncanakan Allah bagi mereka.
Bukan seperti Daniel yang “berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya” (Daniel
1:8), mereka malah tunduk pada tekanan-tekanan dunia dan berkompromi terhadap
apa yang mereka anggap benar. Dalam tulisannya kepada para pengikut Kristus,
Yohanes mengatakan bahwa kita dapat memenangkan pergumulan kita melawan
kejahatan, sebab “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada
di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4). Untuk itu ketahuilah bahwa kita bisa menjadi
penakluk, bukannya yang ditaklukkan! Tidak satu pun yang dapat menghalangi kita
untuk melalui jalur yang sudah ditetapkan Allah bagi kita. Sehingga kita tidak
boleh menyerah pada godaan atau musuh apa pun. Minta Roh Kudus yang tinggal
dalam hati kita untuk menguatkan, agar dapat tetap berdiri teguh. Kita tidak
akan tersesat, bila berjalan di jalan yang lurus dan sempit. Jalan kita tidak
akan “bengkok”, bila kita memutuskan untuk tidak mengikuti begitu saja alur
yang paling sedikit hambatannya --Richard De Haan. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

No comments:
Post a Comment