Saturday, 1 August 2015

1 Agustus 2015

MY HONOUR



Seri bulan Agustus: “My Honour” / “Merendahkan Diri” (Menyembah). Mazmur 95:6, “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.” Sikap hati yang menyembah/berlutut ini berbicara tentang sikap hati yang merendahkan diri di hadapan Tuhan, artinya respect/hormat terhadap keberadaan Tuhan yang lebih tinggi. Contoh: kalau kita mau menemui owner/pemimpin di perusahaan tempat kita bekerja, tentunya sikap kita tidak akan loyo, tidak akan sembarangan, tetapi pasti sikap kita sopan, santun, & menghormati. Apalagi bertemu Tuhan segala tuhan, pasti sikap kita ‘menghormatiNya’ ya? Amin J. Sudahkah kita menjadi Penyembah Sejati? Apakah kita memiliki kerinduan untuk bergaul karib dengan DIA melalui penyembahan kita?? J

Respon 1
Menurut Anda, apakah yang disebut beroleh kasih karunia Tuhan itu? Apakah mendapatkan pengampunan dosa? Atau, merasakan hidup penuh kemudahan dalam segala sesuatu? Apakah memperoleh harta berlimpah, menjadi kaya & berhasil meraih sesuatu yang disebut kesuksesan seperti yang diidamkan kebanyakan orang itu? Mungkinkah itu dengan mendapat jaminan tempat di sorga? Tidak ada yang mengetahui hal itu sebaik Musa. Ia berkata di hadapan Tuhan, “Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah KARENA ENGKAU BERJALAN BERSAMA-SAMA DENGAN KAMI sehingga kami, …dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?” Ya, Musa tahu kasih karunia Tuhan yang terbesar bagi manusia ialah bahwa Allah yang mahakuasa & mahatinggi itu berkenan untuk hadir menyertai kita secara langsung. Dia sangat mengasihi kita sehingga tidak rela membiarkan kita berjalan seorang diri. Dia tahu kita ini tak mampu & pasti tersesat jika Dia tidak menuntun & membimbing kita. Itu sebabnya Dia disebut sebagai Bapa, Gembala, Pemimpin, Guru, Terang, Penolong, Penghibur, Hikmat, Teladan Hidup, Penyelamat kita. Allah yang sejati itu dekat dengan umat-Nya. Yang bergelar pengasih dan penyayang, yang panjang sabar & berlimpah kasih setia-Nya itu telah menunjukkan & membuktikan cinta-Nya setiap waktu. Dia bangga menyebut diri-Nya Imanuel, Allah yang dekat & menyertai umat-Nya. Sejarah kitab suci ialah sejarah kisah penyertaan & campur tangan Allah bagi umat pilihan-Nya. Selagi semua yang disebut tuhan & ilah terasa jauh & sukar dihubungi, Allah kita begitu dekat. Awan & api itu masih menjaga kita, yaitu Roh-Nya yang lembut namun perkasa. Dia berdiam dalam kita & membawa kita kepada jalan-jalan kebenaran-Nya. Masihkah kita mengabaikan kasih karunia ini? Jika kita masih kerap menujukan diri pada berkat-berkat selain dari kehadiran-Nya dalam hidup Anda maka kita belum mengenal benar kasih karunia-Nya. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
Hal yang serupa juga berlaku pada sebagian orang. Akibat gagal melawan iblis, mereka menyerah pada godaan dan menyimpang dari jalan yang direncanakan Allah bagi mereka. Bukan seperti Daniel yang “berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya” (Daniel 1:8), mereka malah tunduk pada tekanan-tekanan dunia dan berkompromi terhadap apa yang mereka anggap benar. Dalam tulisannya kepada para pengikut Kristus, Yohanes mengatakan bahwa kita dapat memenangkan pergumulan kita melawan kejahatan, sebab “Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4). Untuk itu ketahuilah bahwa kita bisa menjadi penakluk, bukannya yang ditaklukkan! Tidak satu pun yang dapat menghalangi kita untuk melalui jalur yang sudah ditetapkan Allah bagi kita. Sehingga kita tidak boleh menyerah pada godaan atau musuh apa pun. Minta Roh Kudus yang tinggal dalam hati kita untuk menguatkan, agar dapat tetap berdiri teguh. Kita tidak akan tersesat, bila berjalan di jalan yang lurus dan sempit. Jalan kita tidak akan “bengkok”, bila kita memutuskan untuk tidak mengikuti begitu saja alur yang paling sedikit hambatannya --Richard De Haan. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

No comments:

Post a Comment