Tuesday, 18 August 2015

18 Agustus 2015

MY HONOUR




Baca: Filemon 1:8-22. Onesimus adalah seorang hamba milik Filemon, telah melarikan diri, mungkin dengan membw harta milik tuannya (ayat 15,16,18,19). Paulus melalui surat ini memohon agar Filemon menerima Onesimus kembali dengan kelemahlembutan, kasih & pengampunan. Amin. Bagaimana dengan kita? Sebagai mentor / pembina / pemurid apakah kita sudah memiliki hati yang lemah lembut, kasih & pengampunan kepada anak-anak rohani kita?? Bahkan dengan lemah lembut membimbing mereka untuk semakin maju dalam iman??

Respon 1
Orang-orang Kristen sering disebut sebagai orang-orang percaya (believers). Sebutan yang berasal dari ajaran Kristen yang berdasar iman. Sayangnya, percaya mengandung tingkatan-tingkatan. Tidak semua yang disebut percaya merupakan percaya yang diinginkan Tuhan. Seorang yang percaya Tuhan itu ada belum tentu ia percaya jika Tuhan yang ada itu mengatur hidupnya. Seorang yang yakin bahwa Tuhan itu baik, bisa jadi tidak percaya bahwa Yesus Kristuslah Tuhan yang baik itu. Ada ukuran tertentu untuk kepercayaan atau iman yang disyaratkan oleh Tuhan, yang diperhitungkan-Nya sebagai iman sejati & kebenaran di hadapan-Nya. Seperti itulah yang tersirat sewaktu Yesus berkata di depan banyak orang: “BAGAIMANAKAH KAMU DAPAT PERCAYA, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain & yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?” (Yoh. 5:44). Bertepatan dengan suatu hari raya sekaligus hari Sabat, di hadapan orang-orang Yahudi & pemimpin-pemimpinnya yang hari itu semakin dikuatkan untuk menganiaya & membunuh-Nya, sesungguhnya Yesus menyampaikan suatu rahasia yang besar. Yesus sedang mengatakan bahwa sekalipun mereka rajin beribadah, mengetahui & menjalankan hukum taurat (yaitu agama & kepercayaan mereka sejak nenek moyang) & mengaku sebagai penyembah-penyembah Tuhan -mereka tidak pernah benar-benar percaya kepada Tuhan sejati & satu-satunya itu. Sebab apa? Sebab mereka mengarahkan ibadah mereka untuk memperoleh keuntungan pribadi, pengakuan manusia & kemegahan diri. Bukan semata-mata kepada Tuhan. Kepercayaan kita diperhitungkan Tuhan bukan karena kita beragama atau rajin menjalankan kewajiban agama. Iman kita berharga di mata-Nya sebab kita menggantungkan jiwa raga, hidup & mati kita semata-mata pada-Nya, mencari hormat, pengakuan & kemuliaan yang daripada-Nya saja. Tidak mengherankan jika rajin dalam kegiatan-kegiatan rohani bahkan menjadi pemimpin rohani tidak menjamin orang mengenal Tuhan & mengalami perubahan hidup. Sebab Dia hanya dapat dikenal melalui hati yang mempercayakan seluruh hidup hanya pada Dia. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
Efesus 6:10, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.” Finally my brethren, be strong in the Lord and in the power of His mighy. (GNCC)

Respon 3
“Saat kita menghamba pada Tuhan yang benar kita tidak ikut tercemar.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
MENGHADAPI MUSUH. Bacaan: Mazmur 27. NATS: Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku (Mazmur 27:3). Semasa Perang Saudara Amerika Serikat, meletuslah sebuah pertempuran yang sengit di dekat Moorefield, Virginia Barat. Karena terletak di dekat di garis musuh, maka kota tersebut dikendalikan secara bergantian oleh pasukan Serikat dan pasukan Konfederasi. Di pusat kota itu, tinggallah seorang wanita yang sudah tua. Menurut kesaksian seorang pendeta Presbiterian, pada suatu pagi beberapa tentara musuh menggedor pintu rumah wanita tersebut dan menuntut agar mereka disediakan makan pagi. Ia kemudian mengajak mereka masuk dan berkata bahwa ia akan menyiapkan sesuatu bagi mereka. Ketika makanan telah siap, ia berkata, Saya biasa membaca Alkitab dan berdoa sebelum makan pagi. Saya harap kalian tidak keberatan mengikuti kebiasaan saya. Mereka pun setuju. Kemudian ia mengambil Alkitabnya, membukanya secara acak, dan mulai membaca Mazmur 27. Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? (ayat 1). Ia membacanya terus hingga ayat terakhir: Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! (ayat 14). Setelah selesai membaca, ia berkata, Marilah kita berdoa. Ketika ia sedang berdoa, ia mendengar suara para tentara itu mondar-mandir di dalam ruangan rumahnya. Pada saat ia berkata amin dan mengangkat kepala, ternyata para tentara itu sudah pergi dari situ. Renungkanlah Mazmur 27. Jika Anda sedang menghadapi musuh, Allah akan menggunakan firman-Nya untuk menolong Anda –HWR. IZINKANLAH KETAKUTAN MEMBAWA ANDA KEPADA BAPA SURGAWI. (Ibu Caroline – Bandung)


No comments:

Post a Comment