MY HONOUR
Persekutuan
dengan Allah Melalui Firman (Baca: Yoh 1:1-14). Ayat 1: “Pada mulanya
adalah Firman; Firman itu bersama- sama dengan Allah dan Firman itu adalah
Allah. Firman itu adalah Allah.” Bersekutu dengan Allah = bersekutu dengan
FirmanNya (membaca Firman Tuhan). Firman: Suara Allah. Jadi melalui
FirmanNya, Tuhan berbicara kepada kita. Persekutuan dengan Firman akan
menghasilkan IMAN, yang membawa kita TAAT & menang atas persoalan hidup.
Saat kita bersekutu dengan FirmanNya, apa yang harus kita lakukan? Kita harus
menerima, merenungkan, melakukan & membagikan (4M). Jadi setelah kita
membaca/menerima FirmanNya, kita renungkan, kita lakukan dalam kehidupan kita
kemudian kita saksikan/bagikan kepada orang lain. Amin. Sudahkah kita SARAPAN
PAGI melalui FirmanNya hari ini??
Respon 1
Wahyu 3:7 – Bila
TUHAN membuka, nggak ada yang bisa nutup; bila TUHAN menutup, nggak ada yang
bisa buka! Kunci di tangan TUHAN. Ayo andalkan DIA!Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.
Respon 2
“Persekutuan dengan
Allah melalui Firman”. Yoh 1:1-14 (Pada mulanya adalah Firman; Firman itu
bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah). Allah berbicara kepada
kita melalui firmanNya, perintah-perintah apa yang harus kita lakukan, melalui
firmanNya Allah mengingatkan kita untuk bertobat misalnya bertobat dari
ketakutan, kekuatiran, kebencian dan masih buanyak lagi dosa-dosa baik yang
kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Melalui firmanNya kita akan tahu
janji-janji Tuhan dan kita pegang janji-janji itu sehingga kita bisa hidup
penuh sukacita, tidak suka kuatir, takut, senantiasa bersyukur. Puji Tuhan ya,
pagi ini kita diingatkan untuk lebih rajin dan lebih antusias di dalam membaca,
mendengar dan melakukan firmanNya. FIRMAN ITU ADALAH ALLAH.
Respon 3
Ayat bacaan:
Yakobus 1:19-27. Nats: Saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: Setiap
orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan
juga lambat untuk marah (Yakobus 1:19). Stop Marah. Satu batang pohon dapat
diolah menjadi jutaan batang korek api. Sebaliknya, satu batang korek api dapat
membakar jutaan pohon. Jadi satu pikiran negatif dapat membakar sekian banyak
pikiran positif. Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak;
tidaklah mengherankan jika ketika ada gesekan kecil saja, si korek api mudah
terbakar. Berbeda dengan manusia: kita mempunyai kepala dan juga otak, maka
kita tidak lekas terbakar amarah hanya karena persoalan sepele. Rasul Yakobus
menggambarkan salah satu kecenderungan umum manusia. Mereka ingin orang lain
mendengarkan perkataan mereka, namun mereka enggan menyimak baik-baik perkataan
orang lain. Mereka cepat berkata-kata, cepat mengambil kesimpulan--yang
biasanya salah karena terburu-buru--dan cepat marah. Celaka, bukan? Yakobus
memperingatkan kita, agar belajar untuk mengendalikan diri dan menjauhi
kecenderungan buruk itu. Kita perlu berpikir baik-baik sebelum berkata-kata,
dan juga tidak gampang marah. Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di
hadapan Allah dan malah menjadikan ibadah kita sia-sia. Kita tentu pernah
menghadapi pergesekan atau situasi yang tidak menyenangkan. Namun, kita tidak
perlu lekas-lekas marah, bukan? Amarah menetap dalam dada orang bodoh (Pkh.
7:9). Kemarahan pada akhirnya mendatangkan kejahatan. Belajarlah mengendalikan
amarah dan meninggalkan panas hati. Dengan berserah sepenuhnya pada pimpinan
Roh Kudus, buah Roh yaitu penguasaan diri akan nyata dalam kehidupan kita.
Semangat pagi teman-teman, Tuhan memberkati. (Madam Ossy)
Respon 4
“Usia Tuhan yang
punya, namun kitalah yang bertanggung jawab mengisinya.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 5
Yang telah membaca
keempat Injil yang mencatat kehidupan Yesus, yang bahkan yang membacanya dengan
teliti sekali, harus mengakui bahwa ia kesulitan menemukan catatan bahwa Yesus
membela diri ketika difitnah, dituduh dengan berbagai tuduhan yang jahat, atau
bahkan ketika hendak dilempari batu. Pada sisi lain, Yesus tidak pernah
merencanakan sesuatu apapun untuk membalas orang-orang yang telah merendahkan
& menyakiti diri-Nya. Dia tidak pernah melatih pasukan, menyusun gerakan
bawah tanah, atau menggalang dukungan untuk mengambil alih & memisahkan
diri dari kekuasaan. Dia justru menangisi orang-orang yang berlaku jahat
pada-Nya, menempelkan telinga prajurit yang terputus oleh pedang murid-Nya,
menitipkan ibu-Nya pada Yohanes, murid-Nya. Dia mengampuni setiap
penyalib-penyalibNya & seolah tanpa daya, Dia berteriak pilu kepada Bapa
yang meninggalkan-Nya. Dia lahir tanpa keagungan duniawi, hidup tanpa kehebatan
pencapaian kekuasaan manusiawi, mati dalam kesendirian tanpa ada yang menemani.
Pahitkah Yesus? Sia-siakah sengsara Yesus? Atau bodohkah Yesus? Tentu saja
jawaban semuanya adalah tidak. Yesus adalah peragaan hidup Manusia yang
dipenuhi kasih. Meski tidak membela diri, Yesus tidak pernah membiarkan
diri-Nya dipandang rendah. Dia percaya akan cara yang diambil-Nya & kepada
siapa Dia menyerahkan diri-Nya. Apa yang Yesus lakukan mengilhami model-model
gerakan yang sama. Seperti yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi, Martin Luther
King & mungkin Nelson Mandela. Gerakan-gerakan perlawanan tanpa kekerasan.
Jika ada orang-orang atau pemimpin dunia yang tak beriman akan ketuhanan Yesus
mengikuti cara & teladan Yesus, betapa lebih lagi seharusnya kita yang
mengaku sebagai pengikut-pengikut & murid-muridNya. Mereka yang mengenal
Tuhan di segala zaman tahu bahwa yang terbaik ialah menanti Tuhan mengadakan
pembalasan (Maz. 37:1-11). Kita semestinya sanggup sebab pada kita
dianugerahkan hikmat & kekuatan bahkan kasih dari Tuhan sendiri untuk
melakukannya. Sama seperti Yesus. Percayakah Anda dengan cara Tuhan ini? Salam
revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment