Wednesday, 12 August 2015

12 Agustus 2015

MY HONOUR




Persekutuan dengan Allah Melalui Firman (Baca: Yoh 1:1-14). Ayat 1: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama- sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu adalah Allah.” Bersekutu dengan Allah = bersekutu dengan FirmanNya (membaca Firman Tuhan). Firman: Suara Allah. Jadi melalui FirmanNya, Tuhan berbicara kepada kita. Persekutuan dengan Firman akan menghasilkan IMAN, yang membawa kita TAAT & menang atas persoalan hidup. Saat kita bersekutu dengan FirmanNya, apa yang harus kita lakukan? Kita harus menerima, merenungkan, melakukan & membagikan (4M). Jadi setelah kita membaca/menerima FirmanNya, kita renungkan, kita lakukan dalam kehidupan kita kemudian kita saksikan/bagikan kepada orang lain. Amin. Sudahkah kita SARAPAN PAGI melalui FirmanNya hari ini??

Respon 1
Wahyu 3:7 – Bila TUHAN membuka, nggak ada yang bisa nutup; bila TUHAN menutup, nggak ada yang bisa buka! Kunci di tangan TUHAN. Ayo andalkan DIA!Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 2
“Persekutuan dengan Allah melalui Firman”. Yoh 1:1-14 (Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah). Allah berbicara kepada kita melalui firmanNya, perintah-perintah apa yang harus kita lakukan, melalui firmanNya Allah mengingatkan kita untuk bertobat misalnya bertobat dari ketakutan, kekuatiran, kebencian dan masih buanyak lagi dosa-dosa baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Melalui firmanNya kita akan tahu janji-janji Tuhan dan kita pegang janji-janji itu sehingga kita bisa hidup penuh sukacita, tidak suka kuatir, takut, senantiasa bersyukur. Puji Tuhan ya, pagi ini kita diingatkan untuk lebih rajin dan lebih antusias di dalam membaca, mendengar dan melakukan firmanNya. FIRMAN ITU ADALAH ALLAH.

Respon 3
Ayat bacaan: Yakobus 1:19-27. Nats: Saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah (Yakobus 1:19). Stop Marah. Satu batang pohon dapat diolah menjadi jutaan batang korek api. Sebaliknya, satu batang korek api dapat membakar jutaan pohon. Jadi satu pikiran negatif dapat membakar sekian banyak pikiran positif. Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak; tidaklah mengherankan jika ketika ada gesekan kecil saja, si korek api mudah terbakar. Berbeda dengan manusia: kita mempunyai kepala dan juga otak, maka kita tidak lekas terbakar amarah hanya karena persoalan sepele. Rasul Yakobus menggambarkan salah satu kecenderungan umum manusia. Mereka ingin orang lain mendengarkan perkataan mereka, namun mereka enggan menyimak baik-baik perkataan orang lain. Mereka cepat berkata-kata, cepat mengambil kesimpulan--yang biasanya salah karena terburu-buru--dan cepat marah. Celaka, bukan? Yakobus memperingatkan kita, agar belajar untuk mengendalikan diri dan menjauhi kecenderungan buruk itu. Kita perlu berpikir baik-baik sebelum berkata-kata, dan juga tidak gampang marah. Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah dan malah menjadikan ibadah kita sia-sia. Kita tentu pernah menghadapi pergesekan atau situasi yang tidak menyenangkan. Namun, kita tidak perlu lekas-lekas marah, bukan? Amarah menetap dalam dada orang bodoh (Pkh. 7:9). Kemarahan pada akhirnya mendatangkan kejahatan. Belajarlah mengendalikan amarah dan meninggalkan panas hati. Dengan berserah sepenuhnya pada pimpinan Roh Kudus, buah Roh yaitu penguasaan diri akan nyata dalam kehidupan kita. Semangat pagi teman-teman, Tuhan memberkati. (Madam Ossy)

Respon 4
“Usia Tuhan yang punya, namun kitalah yang bertanggung jawab mengisinya.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 5
Yang telah membaca keempat Injil yang mencatat kehidupan Yesus, yang bahkan yang membacanya dengan teliti sekali, harus mengakui bahwa ia kesulitan menemukan catatan bahwa Yesus membela diri ketika difitnah, dituduh dengan berbagai tuduhan yang jahat, atau bahkan ketika hendak dilempari batu. Pada sisi lain, Yesus tidak pernah merencanakan sesuatu apapun untuk membalas orang-orang yang telah merendahkan & menyakiti diri-Nya. Dia tidak pernah melatih pasukan, menyusun gerakan bawah tanah, atau menggalang dukungan untuk mengambil alih & memisahkan diri dari kekuasaan. Dia justru menangisi orang-orang yang berlaku jahat pada-Nya, menempelkan telinga prajurit yang terputus oleh pedang murid-Nya, menitipkan ibu-Nya pada Yohanes, murid-Nya. Dia mengampuni setiap penyalib-penyalibNya & seolah tanpa daya, Dia berteriak pilu kepada Bapa yang meninggalkan-Nya. Dia lahir tanpa keagungan duniawi, hidup tanpa kehebatan pencapaian kekuasaan manusiawi, mati dalam kesendirian tanpa ada yang menemani. Pahitkah Yesus? Sia-siakah sengsara Yesus? Atau bodohkah Yesus? Tentu saja jawaban semuanya adalah tidak. Yesus adalah peragaan hidup Manusia yang dipenuhi kasih. Meski tidak membela diri, Yesus tidak pernah membiarkan diri-Nya dipandang rendah. Dia percaya akan cara yang diambil-Nya & kepada siapa Dia menyerahkan diri-Nya. Apa yang Yesus lakukan mengilhami model-model gerakan yang sama. Seperti yang dilakukan oleh Mahatma Gandhi, Martin Luther King & mungkin Nelson Mandela. Gerakan-gerakan perlawanan tanpa kekerasan. Jika ada orang-orang atau pemimpin dunia yang tak beriman akan ketuhanan Yesus mengikuti cara & teladan Yesus, betapa lebih lagi seharusnya kita yang mengaku sebagai pengikut-pengikut & murid-muridNya. Mereka yang mengenal Tuhan di segala zaman tahu bahwa yang terbaik ialah menanti Tuhan mengadakan pembalasan (Maz. 37:1-11). Kita semestinya sanggup sebab pada kita dianugerahkan hikmat & kekuatan bahkan kasih dari Tuhan sendiri untuk melakukannya. Sama seperti Yesus. Percayakah Anda dengan cara Tuhan ini? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment