Sunday, 23 August 2015

23 Agustus 2015

MY HONOUR




Baca: 1 Kor 12:14-31. Ayat 27: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing- masing adalah anggotanya.” Tuhan Yesus adalah kepala Gereja, Gereja & kita orang percaya adalah tubuhNya. Sebagai anggota tubuh kita terikat & memilki fungsi masing-masing. Mari berfungsi dalam gereja Lokal dengan MELAYANI Tuhan. Sudahkah kita terlibat dalam 1 pelayanan di gereja lokal kita? Inilah waktunya untuk kita ambil komitmen mulai melayani DIA, sekecil apapun bentuk pelayanan itu, semuanya berharga dihadapan Tuhan. Jangan ada yang tidak berfungsi, setiap kita harus berfungsi. Amin.

Respon 1
Aturan ibadah Israel sebagai umat Tuhan telah ditetapkan melalui hukum taurat yang dituliskan oleh Musa. Suatu tata cara yang khusus, unik, sama sekali berbeda dengan cara-cara ibadah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah Abraham, Ishak & Yakub. Dalam Ulangan 12, berkali-kali Tuhan menegaskan bahwa Dia tidak menginginkan penyembahan yang serupa dengan penyembahan berhala yang selama ini telah dipraktekkan secara luas baik di Mesir atau di tanah Kanaan (Ula.12:2-4,29-31;18:9-10; Ima.18:3). Itu berarti, Tuhan sendiri telah merancang & menetapkan aturan beribadah yang sesuai dengan hati-Nya, sesuai dengan cara yang diinginkan-Nya -itulah yang dikehendaki untuk dilakukan Israel di hadapan-Nya. Bagi Israel itu adalah berbagai ritual ibadah sebagaimana dirumuskan dalam kitab-kitab taurat. Bagi kita, pesan di atas, lebih kepada hal yang lebih mendalam, yang sesungguhnya juga Tuhan inginkan dipahami & ditangkap maknanya secara rohani oleh bangsa Yahudi supaya mereka tidak menjalankan ibadah secara tampilan luar belaka. Maksudnya ialah bahwa apa yang Tuhan tetapkan dalam taurat memiliki makna-makna rohani yang penting, yang harus kita pahami sebagai pedoman beribadah secara benar sesuai hati Tuhan. Mazmur 51:19 ialah contoh kecil. “Korban sembelihan kepada Allah adalah jiwa yang hancur & hati yang patah remuk,” demikianlah yang dipahami oleh Daud. Korban persembahan ternak diatur taurat namun pesan rohani darinyalah yang penting. Dengan pengertian-pengertian semacam itu, Tuhan sangat berkenan akan ibadah & penyembahan Daud pada-Nya. Ada prinsip-prinsip ibadah yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, yang bukan berasal dari pikiran & hati-Nya. Adakah kita mengetahuinya? Apakah kita telah yakin bahwa ibadah yang telah kita lakukan bertahun-tahun lamanya setiap minggu atau hari demi hari telah tepat sesuai dengan hati-Nya? Tahukah kita intisari penyembahan kita? Jangan menuruti cara & pikiran Anda sendiri. Dalam penyembahan & bakti Anda pada Tuhan, maukah Anda menyelami apa yang berkenan di mata-Nya? Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 2
Untuk mencapai tahap itu, dibutuhkan latihan yang progresif. Sama seperti seorang anak berusaha berjalan dan berlari, yang awalnya dimulai dari perjuangan merangkak. Karena itu jangan terkejut bila perjalanan iman kita juga bisa terasa curam. Segalanya dimulai dari hal kecil. Kita belajar iman dengan percaya kepada Allah dalam hal-hal kecil, seperti masalah dan kekhawatiran kecil yang mengganggu hidup kita sehari-hari. Tetapi kemudian dengan tiap-tiap langkah iman, kita melihat mujizat-mujizat kecil. Dengan perjalanan-perjalanan ini iman kita akan terus bertumbuh, hingga kita tidak lagi merasakan kekhawatiran apa pun akan hari esok. Jangan pula terkejut jika melayani Allah juga akan terasa semakin sulit dari waktu ke waktu. Karena dengan hal itu Allah melatih kita. Kita diajar untuk semakin bersikap rendah hati dalam melakukan hal-hal kecil, agar kita juga bisa bersikap rendah hati dalam melakukan hal-hal besar. Sama seperti Paulus yang telah dipercayakan Allah untuk memikul beban pelayan besar dengan penuh kerendahan hati. Demikian pula dengan kita saat ini, pelayanan kecil seperti membersihkan toilet gereja atau menyusun kursi adalah hal awal yang akan mempersiapkan kita untuk melakukan hal besar. Karena itu jangan pernah menimbang-nimbang pelayanan yang kita lakukan, sebab hal terkecil yang kita lakukan dengan penuh ketaatan dan kerendahan hati akan menjadi berarti. Latihan membuat setiap orang menjadi terlatih dan fasih, begitu pun dengan melatih iman. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)



No comments:

Post a Comment