MY HONOUR
Baca: 1 Kor
12:14-31. Ayat 27: “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-
masing adalah anggotanya.” Tuhan Yesus adalah kepala Gereja, Gereja &
kita orang percaya adalah tubuhNya. Sebagai anggota tubuh kita terikat &
memilki fungsi masing-masing. Mari berfungsi dalam gereja Lokal dengan MELAYANI
Tuhan. Sudahkah kita terlibat dalam 1 pelayanan di gereja lokal kita? Inilah
waktunya untuk kita ambil komitmen mulai melayani DIA, sekecil apapun bentuk
pelayanan itu, semuanya berharga dihadapan Tuhan. Jangan ada yang tidak
berfungsi, setiap kita harus berfungsi. Amin.
Respon 1
Aturan ibadah
Israel sebagai umat Tuhan telah ditetapkan melalui hukum taurat yang dituliskan
oleh Musa. Suatu tata cara yang khusus, unik, sama sekali berbeda dengan
cara-cara ibadah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah Abraham, Ishak &
Yakub. Dalam Ulangan 12, berkali-kali Tuhan menegaskan bahwa Dia tidak
menginginkan penyembahan yang serupa dengan penyembahan berhala yang selama ini
telah dipraktekkan secara luas baik di Mesir atau di tanah Kanaan
(Ula.12:2-4,29-31;18:9-10; Ima.18:3). Itu berarti, Tuhan sendiri telah merancang
& menetapkan aturan beribadah yang sesuai dengan hati-Nya, sesuai dengan
cara yang diinginkan-Nya -itulah yang dikehendaki untuk dilakukan Israel di
hadapan-Nya. Bagi Israel itu adalah berbagai ritual ibadah sebagaimana
dirumuskan dalam kitab-kitab taurat. Bagi kita, pesan di atas, lebih kepada hal
yang lebih mendalam, yang sesungguhnya juga Tuhan inginkan dipahami &
ditangkap maknanya secara rohani oleh bangsa Yahudi supaya mereka tidak
menjalankan ibadah secara tampilan luar belaka. Maksudnya ialah bahwa apa yang
Tuhan tetapkan dalam taurat memiliki makna-makna rohani yang penting, yang
harus kita pahami sebagai pedoman beribadah secara benar sesuai hati Tuhan.
Mazmur 51:19 ialah contoh kecil. “Korban sembelihan kepada Allah adalah jiwa
yang hancur & hati yang patah remuk,” demikianlah yang dipahami oleh Daud.
Korban persembahan ternak diatur taurat namun pesan rohani darinyalah yang
penting. Dengan pengertian-pengertian semacam itu, Tuhan sangat berkenan akan
ibadah & penyembahan Daud pada-Nya. Ada prinsip-prinsip ibadah yang tidak
sesuai dengan kehendak Tuhan, yang bukan berasal dari pikiran & hati-Nya.
Adakah kita mengetahuinya? Apakah kita telah yakin bahwa ibadah yang telah kita
lakukan bertahun-tahun lamanya setiap minggu atau hari demi hari telah tepat
sesuai dengan hati-Nya? Tahukah kita intisari penyembahan kita? Jangan menuruti
cara & pikiran Anda sendiri. Dalam penyembahan & bakti Anda pada Tuhan,
maukah Anda menyelami apa yang berkenan di mata-Nya? Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)
Respon 2
Untuk mencapai
tahap itu, dibutuhkan latihan yang progresif. Sama seperti seorang anak
berusaha berjalan dan berlari, yang awalnya dimulai dari perjuangan merangkak.
Karena itu jangan terkejut bila perjalanan iman kita juga bisa terasa curam.
Segalanya dimulai dari hal kecil. Kita belajar iman dengan percaya kepada Allah
dalam hal-hal kecil, seperti masalah dan kekhawatiran kecil yang mengganggu
hidup kita sehari-hari. Tetapi kemudian dengan tiap-tiap langkah iman, kita
melihat mujizat-mujizat kecil. Dengan perjalanan-perjalanan ini iman kita akan
terus bertumbuh, hingga kita tidak lagi merasakan kekhawatiran apa pun akan
hari esok. Jangan pula terkejut jika melayani Allah juga akan terasa semakin
sulit dari waktu ke waktu. Karena dengan hal itu Allah melatih kita. Kita
diajar untuk semakin bersikap rendah hati dalam melakukan hal-hal kecil, agar
kita juga bisa bersikap rendah hati dalam melakukan hal-hal besar. Sama seperti
Paulus yang telah dipercayakan Allah untuk memikul beban pelayan besar dengan
penuh kerendahan hati. Demikian pula dengan kita saat ini, pelayanan kecil
seperti membersihkan toilet gereja atau menyusun kursi adalah hal awal yang
akan mempersiapkan kita untuk melakukan hal besar. Karena itu jangan pernah
menimbang-nimbang pelayanan yang kita lakukan, sebab hal terkecil yang kita
lakukan dengan penuh ketaatan dan kerendahan hati akan menjadi berarti. Latihan
membuat setiap orang menjadi terlatih dan fasih, begitu pun dengan melatih
iman. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

No comments:
Post a Comment