Sunday, 30 August 2015

30 Agustus 2015

MY HONOUR




Baca: 1 Raja-Raja 10:1-13. Dari Kisah 1 Raja-Raja 10 ini memberikan pandangan sekilas bahwa Ratu Negeri Syeba tidak pulang dengan rasa kecewa, Dia melihat bahwa Tuhan yang disembah Salomo mengasihinya & memilih untuk memberkati Israel melalui kepemimpinan Salomo. Gambaran dari sudut pandang dunia/Ratu Syeba yang melihat anak-anak Tuhan/Salomo: hikmat & kemakmurannya melampaui segala sesuatu yang tidak ia duga sebelumnya (ayat 4-5). Seberapa besar upaya yang sudah kita berikan dalam menjangkau jiwa-jiwa? Adakah kita yang hidup di jaman ini lebih merindukan untuk mengikut Yesus yang menawarkan “kekayaan sejati & hikmat yang sempurna’ dengan menjangkau jiwa-jiwa lebih lagi??

Respon 1
Minggu, 30 Agustus 2015. Bacaan: Efesus 6:1-9. Setahun: Ratapan 1-2. Nats: ...dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia (Efesus 6:7). SEPERTI MELAYANI TUHAN. Saya sedang menunggu antrean pelayanan fotokopi di kios kecil. Udara sedang gerah dan antrean padat, namun remaja putri itu tetap melayani dengan ramah. Saya berada di urutan kelima sehingga sempat mengamatinya melayani empat pelanggan terdahulu. Remaja ini bekerja dengan gesit, penuh senyum, dengan tutur kata yang sopan. Ternyata keramahannya itu memengaruhi semua orang dalam antrian sehingga tak ada yang beranjak dan tetap mau menunggu dengan patuh sampai gilirannya tiba. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk bekerja dengan sepenuh hati dan bukan sekadar untuk menyenangkan hati atasan. Mau melayani dengan rela dan sukacita itu menandakan bahwa kita sedang melayani Tuhan dan bukan manusia (ay. 7). Ketika kita memberikan pelayanan yang terbaik, kita pun mengalami kasih Tuhan dan kiranya mendapatkan penghargaan dari manusia. Namun, kita sering melayani dengan asal-asalan, setengah hati, memandang ringan pelayanan terhadap sesama, bersungut-sungut, serta hanya memberikan sisa-sisa waktu, tenaga dan uang. Hal itu mendukakan hati Tuhan, yang hendak menyatakan pelayanan yang terbaik melalui hidup kita. Marilah bekerja dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab. Kasih karunia Tuhan akan terpancar lewat setiap gerakgerik, tutur kata dan tingkah laku kita ketika sedang melayani. Melayani dengan penuh rasa hormat tanpa pandang bulu, sama seperti kita sedang melayani Tuhan. Apa pun bentuk pekerjaan kita, bekerjalah dengan rela, penuh pengabdian dan dedikasi --Jacqualine Bunga. MELAYANI TUHAN BERARTI BEKERJA DENGAN PENUH DEDIKASI DAN PENGABDIAN. (Ibu Caroline – Bandung)

Respon 2
Praise God!! “Tapi orang yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan” [Mat 24:10-13]. Bertahan sampai akhir hidup dengan prinsip-prinsip kebanaran... Harusnya ini yang menjadi motivasi & tujuan hidup kita. Gagal bertahan sampai akhir & murtad karena tidak berakar dalam kebenaran Firman Tuhan, hidup dengan buat aturan sendiri, kompromi sebab tidak tahan menderita, kurang berjuang untuk jaga fokus sebab lebih tertarik pada pesona duniawi. Memang harus kita sadari bahwa untuk bertahan sampai akhir berhadapan dengan berbagai tantangan & persoalan... Pemicu kebencian & pengkhianatan (ay. 10). Pengajaran-pengajaran sesat yang menipu (ay. 11). Kejahatan-kejahatan yang merajalela (ay. 12a). Krisis kasih (ay. 12b). Inilah pentingnya selama hidup di dunia kita dipanggil untuk berjuang mengerjakan keselamatan [Flp 2:12]. Let's do it! Situasi sekitar kita sarat dengan tentangan yang selalu menyeret kita untuk mengerjakan hal-hal yang bertolak belakang dengan prinsip kebenaran Firman Tuhan. Keputusan terbaik kita sehari-hari adalah... Waspada terhadap tiap situasi yang kita harus hadapi, giat dalam persekutuan pribadi dengan Tuhan & firmanNya, meneguhkan hati kita untuk mengerjakan & menghidupi prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan, menjaga fokus kepada Tuhan’ (ingat Tuhan, tanya Tuhan, percaya Tuhan) tidak bergeser karena tantangan & penderitaan sesaat. Kok lagi-lagi prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan sih? Tidak ada jalan alternatif & tidak ada buku aturan lain yang dapat membawa kita kepada keselamatan kekal. Jaga hidup dengan lakukan Firman Tuhan dalam hidup ssehari-hari pasti selamat sampai kekekalan. Prinsip kebenaran Firman Tuhan yang kita hidupi memagari kita untuk tidak keluar dari anugerah keselamatan & membawa kita bertahan sampai akhir dalam kehendak & rancangan Tuhan. Selamat beribadah. Jbu all. (Madam Ossy)

Respon 3
“Saat yang membuat kita meriang adalah saat ketika orang-orang yang seharusnya melimpahkan kasih sayang justru menabuh genderang perang.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
Yeh 12:25 – Apa yang KUfirmankan akan terjadi dan firman itu tidak akan ditunda-tunda lagi! Pasti terjadi, janji-janji-NYA, firman-firman-NYA kita alami sekarang. Selamat ibadah dan melayani! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 5
SEPERTI EMAS. Bacaan: Ayub 23:1-17. Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas (Ayub 23:10). Bacaan setahun: Yeremia 49-50. Emas termasuk logam mulia, yaitu logam yang tahan terhadap oksidasi dan korosi (karat). Berbeda dengan kayu yang menjadi abu bila dibakar, emas tetap bertahan dalam kobaran api. Hanya wujudnya yang mencair pada suhu sekitar 1000°C. Ayub menggambarkan pengalaman dan ujian hidupnya sebagai proses pemurnian emas (ay. 10). Ia juga menyadari hidup ini penuh misteri, termasuk fakta bahwa Allah seolah diam saja. Di situ Ayub belajar beriman bahwa Allah itu hidup dan sedang menguji dirinya. Seolah-olah, Ayub berkata kepada sahabatnya, “Hai Elifas, Bildad, dan Zofar, sekalipun aku tak mampu menemukan hadirat Allah, aku yakin Dia hidup dan mengetahui jalan hidupku. Dia tahu jalan yang kutempuh. Aku percaya kepada-Nya. Setelah ujian ini berlalu, Dia akan membenarkan aku, sebab Dia tahu bagaimana aku hidup di hadapan-Nya. Aku akan timbul seperti emas yang sudah teruji oleh api pencobaan. Aku bersaksi bahwa aku menuruti jalan-Nya, dan firman-Nya aku simpan dalam hatiku” (ay. 8-12). Kisah penderitaan Ayub ini dimaksudkan untuk mengajarkan kepada kita bahwa selalu ada rencana terbaik di balik setiap ujian hidup yang Tuhan izinkan menimpa kita. Cara Ayub memandang persoalan mengajar kita bahwa Tuhan memegang kendali kehidupan kita. Hidup kita ibarat emas dan begitu berharga di mata Tuhan. Jika Tuhan ‘membakar’ hidup kita, Dia tidak bermaksud menghancurkannya. Sebaliknya, Dia ingin mendapati kualitas iman yang teruji, yang murni, sebuah kehidupan yang tanpa cela di hadapan-Nya. TUHAN MENGUJI BUKAN UNTUK MENGHANCURKAN HIDUP KITA.SEBALIKNYA, DIA SEDANG MEMURNIKAN KITA SEPERTI EMAS. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)


No comments:

Post a Comment