MY HONOUR
Siapakah yang
akan Kita Jangkau?? Kis 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh
Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di
seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Tuhan ingin kita
memiliki IMPIAN yang membawa dampak bukan hanya bagi segelintir orang/marketplace
kita, melainkan bagi komunitas, bangsa-bangsa & kerajaanNya. Sudahkah kita
terlibat untuk menjangkau jiwa-jiwa dengan membawa maximum impact?
Percayalah karya Roh Kudus yang akan bekerja memampukan kita yang MAU
untuk menjadi saksi-saksiNya tidak hanya bagi marketplace / lingkungan
dimana kita berada, juga kota-dimana kita tinggal, tetapi sampai kepada
suku-suku bangsa, dan negara/penjuru dunia J. Amin. MAUkah kita diutus
untuk menjangkau jiwa-jiwa??
Respon 1
Praise God!!
“Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena 'tidak
berakar'...” [Mrk 4:6-20]. Jika merenungkan lebih dalam... Mrk 4: 6-20 mengajarkan
kepada kita bahwa yang membuat kita dapat hidup 'Berakar Dalam' (Radikal) kokoh
tak tergoyahkan, tak mudah tercabut karena tekanan keadaan, masalah & peka
terhadap siasat si jahat adalah... Bagaimana hati kita meresponi kebenaran
Firman Tuhan. Benih sudah ditabur. Bagaimana kita menerima, merenungkan lebih
dalam, melakukan, meluruskan hidup kita sesuai prinsip-prinsip kebenaran Firman
Tuhan itu (akrab dengan Firman Tuhan) merupakan... ‘proses’ tumbuhnya akar yang
makin panjang & kuat bertumbuh ke dalam. Let's do it! So, radikal dibangun
dengan... 1) Cinta Tuhan yang didasari oleh mengenal kehendak Tuhan dengan
benar. Akrab dengan Firman Tuhan, itu saja! Tidak ada alternatif lain. 2)
Keberanian & Ketulusan. Melakukan sepenuhnya bukan karena ‘upah penggenapan
janji’. Tapi karena sadar betul bahwa itu yang Tuhan mau kita lakukan.
Keberanian + Keberanian menjadi arogan/sombong. Ketulusan + Ketulusan menjadi
lemah. 3) Kesiapan untuk menanggung resiko menghidupi kebenaran. Radikal
beresiko & tidak radikal juga beresiko. Radikal beresiko terbatasi hanya
saat hidup di dunia (paling lama 80 tahun) tapi hidup bersama DIA dalam
kekekalan. 4) Keteguhan untuk tidak terpengaruh. Berani berkata 'tidak'
terhadap dosa & keinginan yang salah
atau hawa nafsu. Sepakat hanya kepada Firman Tuhan. Prakteknya setiap
saat, setiap hari. Radikal bukan fanatik yang ngawur, tapi sejauh mana kita
bergerak oleh kendali & komando Firman Tuhan sehingga tiap gerak hidup kita
jelas dasar & patokannya. Morning... Jbu all. (Madam Ossy)
Respon 2
Hanya ada seorang
saja yang bisa membuatmu bahagia dan orang itu adalah engkau sendiri. Filipi
4:4, ‘Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan:
Bersukacitalah!’ (GNCC)
Respon 3
“Gengsi adalah kata
mati bagi yang ingin eksis di bumi." Xavier Quentin Pranata.
Respon 4
Ayat bacaan: Ibrani
4:14-16. Nats : Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang
tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan
kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15). Di Tangan yang
Baik. Suatu kali saya harus dioperasi karena radang usus buntu. Cukup tenang
saya menjalaninya karena sebagian orang yang terlibat saya kenal. Ahli biusnya
teman dekat saya. Kepala perawatnya juga. Mereka merekomendasikan dokter yang
sama untuk operasi itu. Saya percaya kasus saya berada di tangan yang baik.
Benar saja. Operasi berlangsung dengan lancar. Meskipun perut saya kini dihiasi
bekas luka sepuluh jahitan, toh kondisi tubuh saya kian membaik dan pulih.
Kepercayaan pada tim dokter memberi ketenangan dalam menjalani operasi;
terlebih lagi kepercayaan pada Yesus, Imam Besar Agung kita! Yesus dapat
berempati dengan segala kelemahan manusia. Dia turut merasakan kelemahan kita
karena Dia juga pernah dicobai sama seperti kita. Hanya bedanya, kita serba
gagal mengatasinya; Dia menang telak atas segala pencobaan itu! Dan, Dia
menyediakan kemenangan itu bagi kita yang percaya, agar kita memperoleh
pertolongan dalam menghadapi kelemahan hidup. Bukankah hal ini--bahwa kita berada
di Tangan yang baik--selayaknya membangkitkan ketenteraman yang besar bagi kita
dalam menjalani hidup ini? Lalu, kenapa kita lebih mudah cemas dan kalut? Bisa
jadi kita belum betul-betul meresapi peran Yesus sebagai Imam Besar ini. Kita
lebih sering membayangkan, untuk menerima pertolongan Tuhan, kita mesti
memenuhi syarat moral yang tinggi--yang sesungguhnya mustahil kita genapi.
Tidak pahamkah kita bahwa Yesus sudah menggenapi segala syarat itu bagi kita,
dan kita tinggal menerimanya dalam iman? Semangat pagi teman-teman, salam
sukses selalu. Tuhan memberkati. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)
Respon 5
Without prayer, we
return to our own ability rather than to God (Beth Moore). Tanpa doa, kita
kembali kepada kemampuan kita sendiri daripada kemampuan Tuhan (Beth Moore).
(Ibu Caroline – Bandung)
Respon 6
Orang-orang Israel
telah beribu-ribu tahun mengikuti petunjuk taurat, beribadah & menyembah
Yahweh. Dasar keberadaan mereka sebagai suatu bangsa diletakkan oleh Musa
dengan prinsip-prinsip ketuhanan yang sangat ketat. Israel, hingga kini, ialah
bangsa yang rohani, taat beribadah, ketat dalam mengikuti peraturan-peraturan
kepercayaannya. Allah yang sama yang telah membentuk Israel & memberikan
hukum-hukumNya kepada mereka -Allah itu pulalah yang kitab & hukum-hukumNya
diajarkan Yesus sewaktu melayani di bumi. Hukum Taurat & ajaran Yesus tidak
bertentangan karena berasal dari pikiran Tuhan yang sama. Sebab itu, keduanya
semestinya serasi & terhubung satu sama lain. Sayangnya tidak demikian.
Yesus menyebut orang-orang Yahudi yang rajin beribadah itu sebagai anak-anak
iblis (Yoh. 8:44) karena mereka menentang Dia. Orang-orang Farisi &
ahli-ahli taurat (pemimpin-pemimpin agama mereka) sebagai ular-ular &
keturunan ular beludak (Mat. 23:33). Terbukti, mereka berkali-kali berusaha
menjebak Yesus, bahkan menyebut Yesus berasal dari Beelzebul/setan-setan. Tak
kalah mengejutkan pula ketika Yesus menyebut salah satu murid yang dipilih-Nya
sendiri, Yudas Iskariot, adalah setan (Yoh.6:70-71), yang memang demikianlah
adanya (Yoh. 13:2,27). Meski sama-sama mengakui Allah dari taurat, hasilnya
ternyata berbeda bahkan bertolak belakang sama sekali. Para tokoh &
pemimpin agama Yahudi terbukti selama berabad-abad justru menjadi penantang,
musuh, penganiaya & pembunuh hamba-hamba Tuhan sejati, termasuk pada
Kristus sendiri. Bagaimana mungkin sesuatu yang bersumber dari Pribadi yang
sama, menjadi sesuatu yang lalu bertentangan satu sama lain? Inilah suatu
misteri yang besar. Melalui ajaran-ajaran tentang kebaikan, moral, spiritual,
atau agama yang tampak baik, bahkan yang berasal Tuhan sendiri, iblispunya
kemampuan menyimpangkannya untuk melawan apa yang sejatinya dari Tuhan (2 Kor.
11:2-4,13-14). Inikah yang dimaksud Agur dengan “jalan ular di atas cadas”(Ams.
30:19b) yang begitu halus, tanpa jejak & suara tetapi sangat mematikan itu?
Kiranya hikmat menuntun kita. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:
Post a Comment