Thursday, 27 August 2015

27 Agustus 2015

MY HONOUR




Siapakah yang akan Kita Jangkau?? Kis 1:8, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Tuhan ingin kita memiliki IMPIAN yang membawa dampak bukan hanya bagi segelintir orang/marketplace kita, melainkan bagi komunitas, bangsa-bangsa & kerajaanNya. Sudahkah kita terlibat untuk menjangkau jiwa-jiwa dengan membawa maximum impact? Percayalah karya Roh Kudus yang akan bekerja memampukan kita yang MAU untuk menjadi saksi-saksiNya tidak hanya bagi marketplace / lingkungan dimana kita berada, juga kota-dimana kita tinggal, tetapi sampai kepada suku-suku bangsa, dan negara/penjuru dunia J. Amin. MAUkah kita diutus untuk menjangkau jiwa-jiwa??

Respon 1
Praise God!! “Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena 'tidak berakar'...” [Mrk 4:6-20]. Jika merenungkan lebih dalam... Mrk 4: 6-20 mengajarkan kepada kita bahwa yang membuat kita dapat hidup 'Berakar Dalam' (Radikal) kokoh tak tergoyahkan, tak mudah tercabut karena tekanan keadaan, masalah & peka terhadap siasat si jahat adalah... Bagaimana hati kita meresponi kebenaran Firman Tuhan. Benih sudah ditabur. Bagaimana kita menerima, merenungkan lebih dalam, melakukan, meluruskan hidup kita sesuai prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan itu (akrab dengan Firman Tuhan) merupakan... ‘proses’ tumbuhnya akar yang makin panjang & kuat bertumbuh ke dalam. Let's do it! So, radikal dibangun dengan... 1) Cinta Tuhan yang didasari oleh mengenal kehendak Tuhan dengan benar. Akrab dengan Firman Tuhan, itu saja! Tidak ada alternatif lain. 2) Keberanian & Ketulusan. Melakukan sepenuhnya bukan karena ‘upah penggenapan janji’. Tapi karena sadar betul bahwa itu yang Tuhan mau kita lakukan. Keberanian + Keberanian menjadi arogan/sombong. Ketulusan + Ketulusan menjadi lemah. 3) Kesiapan untuk menanggung resiko menghidupi kebenaran. Radikal beresiko & tidak radikal juga beresiko. Radikal beresiko terbatasi hanya saat hidup di dunia (paling lama 80 tahun) tapi hidup bersama DIA dalam kekekalan. 4) Keteguhan untuk tidak terpengaruh. Berani berkata 'tidak' terhadap dosa & keinginan yang salah  atau hawa nafsu. Sepakat hanya kepada Firman Tuhan. Prakteknya setiap saat, setiap hari. Radikal bukan fanatik yang ngawur, tapi sejauh mana kita bergerak oleh kendali & komando Firman Tuhan sehingga tiap gerak hidup kita jelas dasar & patokannya. Morning... Jbu all. (Madam Ossy)

Respon 2
Hanya ada seorang saja yang bisa membuatmu bahagia dan orang itu adalah engkau sendiri. Filipi 4:4, ‘Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!’ (GNCC)

Respon 3
“Gengsi adalah kata mati bagi yang ingin eksis di bumi." Xavier Quentin Pranata.

Respon 4
Ayat bacaan: Ibrani 4:14-16. Nats : Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15). Di Tangan yang Baik. Suatu kali saya harus dioperasi karena radang usus buntu. Cukup tenang saya menjalaninya karena sebagian orang yang terlibat saya kenal. Ahli biusnya teman dekat saya. Kepala perawatnya juga. Mereka merekomendasikan dokter yang sama untuk operasi itu. Saya percaya kasus saya berada di tangan yang baik. Benar saja. Operasi berlangsung dengan lancar. Meskipun perut saya kini dihiasi bekas luka sepuluh jahitan, toh kondisi tubuh saya kian membaik dan pulih. Kepercayaan pada tim dokter memberi ketenangan dalam menjalani operasi; terlebih lagi kepercayaan pada Yesus, Imam Besar Agung kita! Yesus dapat berempati dengan segala kelemahan manusia. Dia turut merasakan kelemahan kita karena Dia juga pernah dicobai sama seperti kita. Hanya bedanya, kita serba gagal mengatasinya; Dia menang telak atas segala pencobaan itu! Dan, Dia menyediakan kemenangan itu bagi kita yang percaya, agar kita memperoleh pertolongan dalam menghadapi kelemahan hidup. Bukankah hal ini--bahwa kita berada di Tangan yang baik--selayaknya membangkitkan ketenteraman yang besar bagi kita dalam menjalani hidup ini? Lalu, kenapa kita lebih mudah cemas dan kalut? Bisa jadi kita belum betul-betul meresapi peran Yesus sebagai Imam Besar ini. Kita lebih sering membayangkan, untuk menerima pertolongan Tuhan, kita mesti memenuhi syarat moral yang tinggi--yang sesungguhnya mustahil kita genapi. Tidak pahamkah kita bahwa Yesus sudah menggenapi segala syarat itu bagi kita, dan kita tinggal menerimanya dalam iman? Semangat pagi teman-teman, salam sukses selalu. Tuhan memberkati. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 5
Without prayer, we return to our own ability rather than to God (Beth Moore). Tanpa doa, kita kembali kepada kemampuan kita sendiri daripada kemampuan Tuhan (Beth Moore). (Ibu Caroline – Bandung)
Respon 6
Orang-orang Israel telah beribu-ribu tahun mengikuti petunjuk taurat, beribadah & menyembah Yahweh. Dasar keberadaan mereka sebagai suatu bangsa diletakkan oleh Musa dengan prinsip-prinsip ketuhanan yang sangat ketat. Israel, hingga kini, ialah bangsa yang rohani, taat beribadah, ketat dalam mengikuti peraturan-peraturan kepercayaannya. Allah yang sama yang telah membentuk Israel & memberikan hukum-hukumNya kepada mereka -Allah itu pulalah yang kitab & hukum-hukumNya diajarkan Yesus sewaktu melayani di bumi. Hukum Taurat & ajaran Yesus tidak bertentangan karena berasal dari pikiran Tuhan yang sama. Sebab itu, keduanya semestinya serasi & terhubung satu sama lain. Sayangnya tidak demikian. Yesus menyebut orang-orang Yahudi yang rajin beribadah itu sebagai anak-anak iblis (Yoh. 8:44) karena mereka menentang Dia. Orang-orang Farisi & ahli-ahli taurat (pemimpin-pemimpin agama mereka) sebagai ular-ular & keturunan ular beludak (Mat. 23:33). Terbukti, mereka berkali-kali berusaha menjebak Yesus, bahkan menyebut Yesus berasal dari Beelzebul/setan-setan. Tak kalah mengejutkan pula ketika Yesus menyebut salah satu murid yang dipilih-Nya sendiri, Yudas Iskariot, adalah setan (Yoh.6:70-71), yang memang demikianlah adanya (Yoh. 13:2,27). Meski sama-sama mengakui Allah dari taurat, hasilnya ternyata berbeda bahkan bertolak belakang sama sekali. Para tokoh & pemimpin agama Yahudi terbukti selama berabad-abad justru menjadi penantang, musuh, penganiaya & pembunuh hamba-hamba Tuhan sejati, termasuk pada Kristus sendiri. Bagaimana mungkin sesuatu yang bersumber dari Pribadi yang sama, menjadi sesuatu yang lalu bertentangan satu sama lain? Inilah suatu misteri yang besar. Melalui ajaran-ajaran tentang kebaikan, moral, spiritual, atau agama yang tampak baik, bahkan yang berasal Tuhan sendiri, iblispunya kemampuan menyimpangkannya untuk melawan apa yang sejatinya dari Tuhan (2 Kor. 11:2-4,13-14). Inikah yang dimaksud Agur dengan “jalan ular di atas cadas”(Ams. 30:19b) yang begitu halus, tanpa jejak & suara tetapi sangat mematikan itu? Kiranya hikmat menuntun kita. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

No comments:

Post a Comment