Sunday, 16 August 2015

16 Agustus 2015

MY HONOUR




Tujuan Menjadi Pengikut Kristus. Yohanes 14:12, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Baca: Yohanes 14:12-14). Ketika seseorang percaya pada Kristus, Allah menciptakan ia dalam Kristus (diciptakan dalam Kristus Yesus). Efesus 2:10, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Allah menciptakan kita sedemikian indah, karena ada sebuah TUJUAN/PURPOSE yang ingin IA capai melalui kita, yaitu untuk menjadikan kita tidak hanya sekedar “pengikut Kristus” tetapi untuk menjadikan kita MURID bahkan menjadi Duta Kasih KaruniaNya (melakukan pekerjaan-pekerjaan yang LEBIH BESAR). Amin. Allah akan memampukan kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar/menjadi “Duta KerajaanNya” yaitu membawa pendamaian bagi dunia ini dalam Kristus. Melalui apa?? Yaitu melalui rumah tangga, kantor, gereja & marketplace kita masing-masing. Setelah kita menjalankan tugas sebagai Duta Kasih karuniaNya apa langkah selanjutnya? Bawa jiwa-jiwa baru untuk mengenal & mendekat dengan Komunitas Kasih KaruniaNya yaitu gerejaNya/KomSel. Amin J.

Respon 1
“Kita mungkin akan terlambat sampai tujuan jika kita berhenti sejenak untuk beristirahat, namun kita akan tiba di tujuan dengan lebih sehat dan bersemangat.” Xavier Quentin Pranata.


Respon 2
Banyak pelajaran-pelajaran rohani mengenai jemaat mula-mula yang sangat berharga saat merenungkan detail-detail catatan dokter Lukas dalam Kitab Kisah Para Rasul. Jika kita dapat menangkap isi hati Tuhan dari setiap rekaman yang tertulis di sana, maka kita akan terus meregangkan diri & membayar harga untuk menjadi gereja yang akan tampil sebagai Mempelai Kristus yang sempurna & siap menyambut kedatangan-Nya kedua kali. Salah satunya adalah catatan peristiwa dalam Kisah Rasul 20:7-12. Paulus bersama tim pelayanan apostolik sampai di Troas & sudah 7 hari untuk bertemu jemaat di sana. Hari itu hari Minggu & mungkin hari terakhir Paulus di sana (Kis. 20:7). Mereka mengadakan pertemuan petang itu di lantai 3 sebuah rumah. Lampu-lampu yang banyak menunjukkan pertemuan dihadiri banyak orang & bukan secara sembunyi-sembunyi. Ibadah & pengajaran berlangsung hingga tengah malam. Lalu hal buruk terjadi. Seorang anak muda yang jatuh dari jendela lantai atas itu & mati. Paulus, tanpa ragu, berdoa & membangkitkannya kembali oleh kuasa Tuhan. Pertemuan tetap berlanjut dengan memecah-mecahkan roti & pengajaran kembali hingga fajar menyingsing. Dan seharusnya pertanyaan-pertanyaan ini menghampiri benak kita: Mengapa Paulus merelakan waktu demikian banyak bagi jemaat? Bukankah khotbah 45 menit atau maksimal 2 kalinya cukup lelah untuk ditangkap jemaat? Mengapa jemaat begitu antusias -beribadah, bersekutu, berdoa, menyembah, menerima pengajaran & mungkin urutannya diulang kembali- hingga setidaknya bertahan hampir 12 jam? Bukankah satu jam saja terasa telah cukup (lama) melewatkan waktu bersama jemaat? Jemaat mula-mula bersekutu seolah tak mengenal waktu & tidak dapat dihambat oleh masalah atau peristiwa buruk apapun juga. Mengapa bisa demikian? Dan mengapa jemaat masa kini jauh berbeda? Mungkinkah kerinduan & kasih kita kepada Tuhan tidak seperti mereka? Haruskah jemaat mula-mula yang memahami kita atau kita yang harus menyesuaikan dengan standard jemaat mula-mula ini? Jika mau jujur, Anda telah tahu jawabannya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 3
Ayat bacaan: Efesus 5:22-33. Nats: Dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela (Efesus 5:27). Tidak Mengungkit Kesalahan. Pernikahan membuat saya banyak belajar tentang kasih Kristus. Salah satunya adalah memandang pasangan dengan kacamata yang positif. Pada awal pernikahan, saya sering kecewa akan kelemahan istri dan selalu ingin mengoreksinya. Padahal, kelebihannya sangat istimewa, melampaui kelemahannya. Saat ini, saya terus belajar melihat sisi positifnya, mengabaikan kelemahannya, tidak mempersoalkan kesalahannya, dan ada kalanya berupaya menutupi kekurangannya. Kekaguman saya terhadapnya juga semakin besar. Saya semakin menyadari betapa tipisnya kasih saya jika dibandingkan dengan kasih Kristus sebagaimana yang dilukiskan Rasul Paulus. Sungguh sulit menyelami betapa besar, luas, dan dalamnya kasih Kristus kepada kita. Oleh hikmat Allah, Paulus menggambarkan kasih Kristus sebagai kasih suami kepada istrinya. Jemaat, yang diumpamakan sebagai istri, sesungguhnya adalah kumpulan orang percaya yang penuh cacat dan dosa. Kasih Kristus membuat jemaat cemerlang tanpa cela di hadapan-Nya. Kondisi kudus sempurna itu terjadi karena Kristus menyerahkan diri-Nya untuk kita (ay. 25). Kesatuan antara suami dan istri menggambarkan hubungan Kristus yang menyatu dengan kita dalam kasih yang tak terpisahkan oleh apa pun juga (bnd. Roma 8:38-39). Apakah Anda sangat kritis melihat kesalahan dan kelemahan orang lain? Mungkin Anda cenderung tidak sabar melihat kekurangan orang lain? Saatnya belajar mengasihi. Kiranya kasih Kristus senantiasa menginspirasi, mendorong, dan memberi kita kekuatan untuk mengasihi sesama. Semangat hari Minggu teman-teman, selamat beribadah raya. Tuhan memberkati. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)



No comments:

Post a Comment