MY HONOUR
Tujuan Menjadi
Pengikut Kristus. Yohanes 14:12, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya
barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang
Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab
Aku pergi kepada Bapa” (Baca: Yohanes 14:12-14). Ketika seseorang percaya
pada Kristus, Allah menciptakan ia dalam Kristus (diciptakan dalam Kristus
Yesus). Efesus 2:10, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus
Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia
mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Allah menciptakan kita sedemikian
indah, karena ada sebuah TUJUAN/PURPOSE yang ingin IA capai melalui
kita, yaitu untuk menjadikan kita tidak hanya sekedar “pengikut Kristus” tetapi
untuk menjadikan kita MURID bahkan menjadi Duta Kasih KaruniaNya (melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang LEBIH BESAR). Amin. Allah akan memampukan kita untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar/menjadi “Duta KerajaanNya” yaitu
membawa pendamaian bagi dunia ini dalam Kristus. Melalui apa?? Yaitu melalui
rumah tangga, kantor, gereja & marketplace kita masing-masing.
Setelah kita menjalankan tugas sebagai Duta Kasih karuniaNya apa langkah
selanjutnya? Bawa jiwa-jiwa baru untuk mengenal & mendekat dengan Komunitas
Kasih KaruniaNya yaitu gerejaNya/KomSel. Amin J.
Respon 1
“Kita mungkin akan
terlambat sampai tujuan jika kita berhenti sejenak untuk beristirahat, namun
kita akan tiba di tujuan dengan lebih sehat dan bersemangat.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 2
Banyak
pelajaran-pelajaran rohani mengenai jemaat mula-mula yang sangat berharga saat
merenungkan detail-detail catatan dokter Lukas dalam Kitab Kisah Para Rasul.
Jika kita dapat menangkap isi hati Tuhan dari setiap rekaman yang tertulis di
sana, maka kita akan terus meregangkan diri & membayar harga untuk menjadi
gereja yang akan tampil sebagai Mempelai Kristus yang sempurna & siap
menyambut kedatangan-Nya kedua kali. Salah satunya adalah catatan peristiwa
dalam Kisah Rasul 20:7-12. Paulus bersama tim pelayanan apostolik sampai di
Troas & sudah 7 hari untuk bertemu jemaat di sana. Hari itu hari Minggu
& mungkin hari terakhir Paulus di sana (Kis. 20:7). Mereka mengadakan
pertemuan petang itu di lantai 3 sebuah rumah. Lampu-lampu yang banyak
menunjukkan pertemuan dihadiri banyak orang & bukan secara sembunyi-sembunyi.
Ibadah & pengajaran berlangsung hingga tengah malam. Lalu hal buruk
terjadi. Seorang anak muda yang jatuh dari jendela lantai atas itu & mati.
Paulus, tanpa ragu, berdoa & membangkitkannya kembali oleh kuasa Tuhan.
Pertemuan tetap berlanjut dengan memecah-mecahkan roti & pengajaran kembali
hingga fajar menyingsing. Dan seharusnya pertanyaan-pertanyaan ini menghampiri
benak kita: Mengapa Paulus merelakan waktu demikian banyak bagi jemaat?
Bukankah khotbah 45 menit atau maksimal 2 kalinya cukup lelah untuk ditangkap
jemaat? Mengapa jemaat begitu antusias -beribadah, bersekutu, berdoa,
menyembah, menerima pengajaran & mungkin urutannya diulang kembali- hingga
setidaknya bertahan hampir 12 jam? Bukankah satu jam saja terasa telah cukup
(lama) melewatkan waktu bersama jemaat? Jemaat mula-mula bersekutu seolah tak
mengenal waktu & tidak dapat dihambat oleh masalah atau peristiwa buruk
apapun juga. Mengapa bisa demikian? Dan mengapa jemaat masa kini jauh berbeda?
Mungkinkah kerinduan & kasih kita kepada Tuhan tidak seperti mereka?
Haruskah jemaat mula-mula yang memahami kita atau kita yang harus menyesuaikan
dengan standard jemaat mula-mula ini? Jika mau jujur, Anda telah tahu
jawabannya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)
Respon 3
Ayat bacaan: Efesus
5:22-33. Nats: Dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan
cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat
kudus dan tidak bercela (Efesus 5:27). Tidak Mengungkit Kesalahan. Pernikahan
membuat saya banyak belajar tentang kasih Kristus. Salah satunya adalah
memandang pasangan dengan kacamata yang positif. Pada awal pernikahan, saya
sering kecewa akan kelemahan istri dan selalu ingin mengoreksinya. Padahal,
kelebihannya sangat istimewa, melampaui kelemahannya. Saat ini, saya terus
belajar melihat sisi positifnya, mengabaikan kelemahannya, tidak mempersoalkan
kesalahannya, dan ada kalanya berupaya menutupi kekurangannya. Kekaguman saya
terhadapnya juga semakin besar. Saya semakin menyadari betapa tipisnya kasih
saya jika dibandingkan dengan kasih Kristus sebagaimana yang dilukiskan Rasul
Paulus. Sungguh sulit menyelami betapa besar, luas, dan dalamnya kasih Kristus
kepada kita. Oleh hikmat Allah, Paulus menggambarkan kasih Kristus sebagai
kasih suami kepada istrinya. Jemaat, yang diumpamakan sebagai istri,
sesungguhnya adalah kumpulan orang percaya yang penuh cacat dan dosa. Kasih
Kristus membuat jemaat cemerlang tanpa cela di hadapan-Nya. Kondisi kudus
sempurna itu terjadi karena Kristus menyerahkan diri-Nya untuk kita (ay. 25).
Kesatuan antara suami dan istri menggambarkan hubungan Kristus yang menyatu
dengan kita dalam kasih yang tak terpisahkan oleh apa pun juga (bnd. Roma
8:38-39). Apakah Anda sangat kritis melihat kesalahan dan kelemahan orang lain?
Mungkin Anda cenderung tidak sabar melihat kekurangan orang lain? Saatnya
belajar mengasihi. Kiranya kasih Kristus senantiasa menginspirasi, mendorong,
dan memberi kita kekuatan untuk mengasihi sesama. Semangat hari Minggu
teman-teman, selamat beribadah raya. Tuhan memberkati. (Bp. Budi Hariono – PT.
MPU)

No comments:
Post a Comment