MY HONOUR
Dampak Peyembahan.
Yang pertama adalah: mengundang hadirat Tuhan. 2 Sam 6:11, “Tiga
bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan
TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.” Undang hadirat Tuhan
melalui penyembahan kita & rasakan kehidupan yang PENUH dengan
berkat Tuhan. Ke 2: ‘Musuh’ dapat dikalahkan, saat kita meninggikan nama
Tuhan dalam penyembahan kita maka ‘kuasa kegelapan’ dapat dihancurkan (1 Sam
16:14 & 16). Ayat 16: “baiklah tuanku menitahkan hamba-hambamu yang di
depanmu ini mencari seorang yang pandai main kecapi. Apabila roh jahat yang
dari pada Allah itu hinggap padamu, haruslah ia main kecapi, maka engkau merasa
nyaman.” Mari jadikan penyembahan sebagai sarana untuk kita semakin
mendekat dengan DIA. Amin.
Respon 1
Yes 41:13 – Sebab
AKU ini, TUHAN, ALLAHmu, memegang tangan kananmu dan berkata: “Janganlah takut,
AKUlah yang menolongmu!” Pertolongan TUHAN pasti terjadi sekarang! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA
Ministry.
Respon 2
2 Tesalonika 3:13, ‘Dan
kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.’ Karena suatu
hari hidup manusia hanya akan dikenang saja. Blessed to bless. (GNCC)
Respon 3
Tanah yang telah
kering bahkan tandus tidaklah cukup digemburkan kembali dengan air yang banyak
sekalipun. Ketika kekeringan melanda, diperlukan hujan yang amat limpah untuk
mengubah suatu tanah gersang. Tanpa aliran air yang konstan & terus
menerus, tak akan ada perubahan dari keadaannya yang merana itu. Itulah yang
diungkapkan dalam Amsal 30:16 mengenai tanah yang kering, yang tak merasakan
cukup air untuk membasahinya. Suatu gambaran mengenai kedahagaan, ketidakpuasan
yang dalam, suatu keputusasaan yang besar, damba yang begitu kuatnya akan
satu-satunya hal yang dapat memuaskan. Daud menggunakan gambaran yang sama
untuk menunjukkan kerinduannya yang tak tertahankan kepada Tuhan, kekasih
jiwanya. Berkali-kali ia memandang dirinya sebagai “tanah kering yang tandus,
tiada berair” (Maz. 63:2;143:6) selagi ia mencari & mendambakan kehadiran
Tuhan dalam hidupnya. Berapa banyakkah yang seperti Daud? Berapa banyak yang
merindukan jamahan, lawatan, hadirat & keintiman dengan Tuhan bagaikan
tanah tandus yang tak terpuaskan dengan sedikit air? Adakah kita merasa cukup
dengan setitik air saja dari aliran sungai sorgawi itu? Akankah kita berhasrat
melihat tanah hati kita yang kerontang itu menjadi aliran-aliran air, yaitu
mata air, yang tak pernah berhenti sampai kekal? (Yoh. 4:14). Seberapakah kita
merindukan, menjadi lapar & dahaga, akan Tuhan daripada kita segala yang
lain: harta kekayaan, kesenangan dunia, kenyamanan semu atau cinta dari
manusia? Pernahkah hati kita retak & pecah sebab Tuhan, Air Hidup itu,
tiada mengalir di sana? Tidakkah hati kita merana saat jauh dari-Nya? Yang
tidak mendamba Tuhan, tidak akan dipuaskan-Nya (Mat. 5:3,6). Hanya Dia saja
yang dapat mengubah padang gurun menjadi kolam air & tanah kering menjadi
mata air (Maz.107:35). Janji-Nya ialah memberikan hujan lebat & mencurahkan
air yang banyak bagi tanah yang haus (Yes. 44:3). Apakah Anda rindu memiliki
keintiman dengan Tuhan seperti Daud, kekasih Tuhan itu? Miliki hati seperti
Daud. Hati yang rindu & hancur di mendambakan-Nya. Salam revival! GBU.
(Worship Center Surabaya)
Respon 4
JEMAAT YANG SETIA.
Bacaan: Wahyu 3:7-13. Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan
Aku, maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang
atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang tinggal di bumi (Wahyu 3:10).
Filadelfia adalah kota termuda di antara tujuh kota yang disebut dalam kitab
Wahyu. Kota ini dibangun Raja Attalus II pada 150 SM. Attalus membangun kota
itu untuk menyatakan kasihnya kepada Eumenes, saudara laki-lakinya. Karena itu,
kota ini diberi nama Filadelfia, dari kata bahasa Yunani yang artinya “orang
yang mengasihi saudara laki-lakinya”. Yesus menyurati jemaat ini untuk memuji
pekerjaan mereka, ketaatan mereka kepada firman Tuhan, dan keteguhan mereka
untuk tidak menyangkal nama Kristus dalam penderitaan. Dia mendorong mereka
tetap tekun dan bertahan di dalam penderitaan. Tuhan berjanji kepada mereka
yang setia bahwa Dia akan memelihara mereka dari kesukaran lebih besar yang
akan terjadi. Sesungguhnya jemaat Filadelfia bukanlah jemaat yang besar dan
kuat. Ungkapan “kekuatanmu tidak seberapa” menunjukkan bahwa jemaat Filadelfia
adalah jemaat yang kecil, baik dari segi jumlah anggota maupun sumber daya
lainnya. Tuhan menegaskan bahwa Dialah yang memiliki otoritas tertinggi. Jadi
walaupun kekuatan mereka terbatas, Tuhan yang akan menjadi pembela mereka.
Kehidupan jemaat di Filadelfia memberikan inspirasi bagi kehidupan gereja masa
kini. Minoritas dengan banyak tekanan dari luar. Tetapi, gereja Tuhan harus
memiliki komitmen untuk hidup menaati firman Tuhan dalam situasi apa pun.
Penderitaan yang datang justru merupakan ujian iman dan ketaatan kita kepada
Tuhan. Mari tetap tekun dan setia kepada-Nya di tengah-tengah kesukaran dan
penderitaan yang kita alami. PENDERITAAN ADALAH SALAH SATU UJIAN KEHIDUPAN BERIMAN.
(Bp. Budi Hariono – PT. MPU)
Respon 5
“Bakat yang
disertai hasrat dan minat bisa menghasilkan karya yang dahsyat.” Xavier Quentin
Pranata.
Respon 6
SAAT TEDUH. Kamis,
6 Agustus 2015. Lebih Senang Cacat? Karena itu, aku senang dan rela di dalam
kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan
kesengsaraan karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Korintus
12:10). Seorang pengkhotbah berkomentar tentang Fanny Crosby, penulis ribuan
himne yang buta sejak usia 6 minggu. Ia menyayangkan Sang Pencipta yang tidak
mengaruniakan penglihatan kepada Fanny, padahal Dia melimpahkan sedemikian
banyak karunia lain kepada Fanny. Maklum, bakat Fanny begitu menonjol. Ia mampu
menulis syair sejak usia 8 tahun. Pada usia 15 tahun, ia telah hafal lima kitab
Perjanjian Lama dan empat kitab Perjanjian Baru. Bagaimana tanggapan Fanny?
“Apakah engkau tahu bahwa jika saya mampu membuat sebuah petisi ketika saya
lahir, maka saya ingin dilahirkan buta? Sebab bila saya tiba di surga, maka wajah
yang pertama kali akan saya lihat adalah Juru Selamat saya,” ujarnya. Sungguh
mencengangkan! Rasul Paulus pun menyatakan bahwa dirinya lebih senang dan rela
berada dalam kondisi lemah dan teraniaya. Dalam kelemahan, ia justru kuat.
Dalam kelemahan, ia dapat semakin menyatakan kuasa Kristus (ay. 9). Allah
memang mengizinkan Paulus menderita semacam duri dalam daging (ay. 7), yang
oleh banyak penafsir diartikan sebagai penyakit yang mungkin memalukan. Hal ini
untuk mencegah Paulus meninggikan diri setelah memperoleh pengalaman
spektakuler, yaitu diangkat ke langit ketiga (ay. 1). Kita tidak suka hidup
dalam kelemahan dan penderitaan. Namun, bila Tuhan mengizinkan hal itu terjadi,
kiranya kita dapat belajar untuk semakin bersandar pada kuasa Allah. Dengan demikian,
kita dapat memuliakan Allah melalui karya kita, sekalipun dalam keterbatasan
—HEM. KUAT KUASA ALLAH DINYATA-KAN SECARA TERANG SERING KALI JUSTRU MELALUI
KELEMAHAN DAN KETERBATASAN KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam
Ossy)

No comments:
Post a Comment