Thursday, 6 August 2015

6 Agustus 2015

MY HONOUR



Dampak Peyembahan. Yang pertama adalah: mengundang hadirat Tuhan. 2 Sam 6:11, “Tiga bulan lamanya tabut Tuhan itu tinggal di rumah Obed-Edom, orang Gat itu, dan TUHAN memberkati Obed-Edom dan seisi rumahnya.” Undang hadirat Tuhan melalui penyembahan kita & rasakan kehidupan yang PENUH dengan berkat Tuhan. Ke 2: ‘Musuh’ dapat dikalahkan, saat kita meninggikan nama Tuhan dalam penyembahan kita maka ‘kuasa kegelapan’ dapat dihancurkan (1 Sam 16:14 & 16). Ayat 16: “baiklah tuanku menitahkan hamba-hambamu yang di depanmu ini mencari seorang yang pandai main kecapi. Apabila roh jahat yang dari pada Allah itu hinggap padamu, haruslah ia main kecapi, maka engkau merasa nyaman.” Mari jadikan penyembahan sebagai sarana untuk kita semakin mendekat dengan DIA. Amin.

Respon 1
Yes 41:13 – Sebab AKU ini, TUHAN, ALLAHmu, memegang tangan kananmu dan berkata: “Janganlah takut, AKUlah yang menolongmu!” Pertolongan TUHAN pasti terjadi sekarang! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Respon 2
2 Tesalonika 3:13, ‘Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.’ Karena suatu hari hidup manusia hanya akan dikenang saja. Blessed to bless. (GNCC)

Respon 3
Tanah yang telah kering bahkan tandus tidaklah cukup digemburkan kembali dengan air yang banyak sekalipun. Ketika kekeringan melanda, diperlukan hujan yang amat limpah untuk mengubah suatu tanah gersang. Tanpa aliran air yang konstan & terus menerus, tak akan ada perubahan dari keadaannya yang merana itu. Itulah yang diungkapkan dalam Amsal 30:16 mengenai tanah yang kering, yang tak merasakan cukup air untuk membasahinya. Suatu gambaran mengenai kedahagaan, ketidakpuasan yang dalam, suatu keputusasaan yang besar, damba yang begitu kuatnya akan satu-satunya hal yang dapat memuaskan. Daud menggunakan gambaran yang sama untuk menunjukkan kerinduannya yang tak tertahankan kepada Tuhan, kekasih jiwanya. Berkali-kali ia memandang dirinya sebagai “tanah kering yang tandus, tiada berair” (Maz. 63:2;143:6) selagi ia mencari & mendambakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Berapa banyakkah yang seperti Daud? Berapa banyak yang merindukan jamahan, lawatan, hadirat & keintiman dengan Tuhan bagaikan tanah tandus yang tak terpuaskan dengan sedikit air? Adakah kita merasa cukup dengan setitik air saja dari aliran sungai sorgawi itu? Akankah kita berhasrat melihat tanah hati kita yang kerontang itu menjadi aliran-aliran air, yaitu mata air, yang tak pernah berhenti sampai kekal? (Yoh. 4:14). Seberapakah kita merindukan, menjadi lapar & dahaga, akan Tuhan daripada kita segala yang lain: harta kekayaan, kesenangan dunia, kenyamanan semu atau cinta dari manusia? Pernahkah hati kita retak & pecah sebab Tuhan, Air Hidup itu, tiada mengalir di sana? Tidakkah hati kita merana saat jauh dari-Nya? Yang tidak mendamba Tuhan, tidak akan dipuaskan-Nya (Mat. 5:3,6). Hanya Dia saja yang dapat mengubah padang gurun menjadi kolam air & tanah kering menjadi mata air (Maz.107:35). Janji-Nya ialah memberikan hujan lebat & mencurahkan air yang banyak bagi tanah yang haus (Yes. 44:3). Apakah Anda rindu memiliki keintiman dengan Tuhan seperti Daud, kekasih Tuhan itu? Miliki hati seperti Daud. Hati yang rindu & hancur di mendambakan-Nya. Salam revival! GBU. (Worship Center Surabaya)

Respon 4
JEMAAT YANG SETIA. Bacaan: Wahyu 3:7-13. Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Aku pun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang tinggal di bumi (Wahyu 3:10). Filadelfia adalah kota termuda di antara tujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu. Kota ini dibangun Raja Attalus II pada 150 SM. Attalus membangun kota itu untuk menyatakan kasihnya kepada Eumenes, saudara laki-lakinya. Karena itu, kota ini diberi nama Filadelfia, dari kata bahasa Yunani yang artinya “orang yang mengasihi saudara laki-lakinya”. Yesus menyurati jemaat ini untuk memuji pekerjaan mereka, ketaatan mereka kepada firman Tuhan, dan keteguhan mereka untuk tidak menyangkal nama Kristus dalam penderitaan. Dia mendorong mereka tetap tekun dan bertahan di dalam penderitaan. Tuhan berjanji kepada mereka yang setia bahwa Dia akan memelihara mereka dari kesukaran lebih besar yang akan terjadi. Sesungguhnya jemaat Filadelfia bukanlah jemaat yang besar dan kuat. Ungkapan “kekuatanmu tidak seberapa” menunjukkan bahwa jemaat Filadelfia adalah jemaat yang kecil, baik dari segi jumlah anggota maupun sumber daya lainnya. Tuhan menegaskan bahwa Dialah yang memiliki otoritas tertinggi. Jadi walaupun kekuatan mereka terbatas, Tuhan yang akan menjadi pembela mereka. Kehidupan jemaat di Filadelfia memberikan inspirasi bagi kehidupan gereja masa kini. Minoritas dengan banyak tekanan dari luar. Tetapi, gereja Tuhan harus memiliki komitmen untuk hidup menaati firman Tuhan dalam situasi apa pun. Penderitaan yang datang justru merupakan ujian iman dan ketaatan kita kepada Tuhan. Mari tetap tekun dan setia kepada-Nya di tengah-tengah kesukaran dan penderitaan yang kita alami. PENDERITAAN ADALAH SALAH SATU UJIAN KEHIDUPAN BERIMAN. (Bp. Budi Hariono – PT. MPU)

Respon 5
“Bakat yang disertai hasrat dan minat bisa menghasilkan karya yang dahsyat.” Xavier Quentin Pranata.

Respon 6
SAAT TEDUH. Kamis, 6 Agustus 2015. Lebih Senang Cacat? Karena itu, aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesengsaraan karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat (2 Korintus 12:10). Seorang pengkhotbah berkomentar tentang Fanny Crosby, penulis ribuan himne yang buta sejak usia 6 minggu. Ia menyayangkan Sang Pencipta yang tidak mengaruniakan penglihatan kepada Fanny, padahal Dia melimpahkan sedemikian banyak karunia lain kepada Fanny. Maklum, bakat Fanny begitu menonjol. Ia mampu menulis syair sejak usia 8 tahun. Pada usia 15 tahun, ia telah hafal lima kitab Perjanjian Lama dan empat kitab Perjanjian Baru. Bagaimana tanggapan Fanny? “Apakah engkau tahu bahwa jika saya mampu membuat sebuah petisi ketika saya lahir, maka saya ingin dilahirkan buta? Sebab bila saya tiba di surga, maka wajah yang pertama kali akan saya lihat adalah Juru Selamat saya,” ujarnya. Sungguh mencengangkan! Rasul Paulus pun menyatakan bahwa dirinya lebih senang dan rela berada dalam kondisi lemah dan teraniaya. Dalam kelemahan, ia justru kuat. Dalam kelemahan, ia dapat semakin menyatakan kuasa Kristus (ay. 9). Allah memang mengizinkan Paulus menderita semacam duri dalam daging (ay. 7), yang oleh banyak penafsir diartikan sebagai penyakit yang mungkin memalukan. Hal ini untuk mencegah Paulus meninggikan diri setelah memperoleh pengalaman spektakuler, yaitu diangkat ke langit ketiga (ay. 1). Kita tidak suka hidup dalam kelemahan dan penderitaan. Namun, bila Tuhan mengizinkan hal itu terjadi, kiranya kita dapat belajar untuk semakin bersandar pada kuasa Allah. Dengan demikian, kita dapat memuliakan Allah melalui karya kita, sekalipun dalam keterbatasan —HEM. KUAT KUASA ALLAH DINYATA-KAN SECARA TERANG SERING KALI JUSTRU MELALUI KELEMAHAN DAN KETERBATASAN KITA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. (Madam Ossy)

No comments:

Post a Comment