BILLIONAIRE
I'M Loved (4) – Fellowship (Bagian ke
5)
Bagian terakhir dari seri khotbah I'M LOVED:
Fellowship/Bersekutu/Berkomunitas Sel. Kita Review yang sudah kita dapat dari
seri pembahasan kita selama 1 bulan kemarin ya. Dibagian pertama:
1) Kalau kita dicintaiNya, kita nggak bisa diam/rindu untuk
terus menyaksikan KasihNya/CintaNya Tuhan/BERSAKSI kepada sesama terutama yang
belum mengenal DIA.
2) Kalau kita dicintaiNya, apa respon yang bisa kita berikan
padaNya? Jangan DIAM, cintai DIA dengan MELAYANI-Nya. Terlibatlah untuk ambil
bagian dalam pelayanan di gereja Lokal.
3) Kalau kita dicintaiNya, kita pasti suka MEMUJI DIA/menyembahNya/worship.
Ada 7 cara alkitab untuk kita bisa worship: Yadah, Tawdah, Barach,
Halal, Sabach, Zamar dan Tehilah. Jadliah PENYEMBAH yang aktif yang sesuai
Firman Tuhan.
4) Kalau kiita dicintaiNya maka Gaya Hidup kita adalah Gaya
Hidup seperti DIA/GAYA HIDUP KRISTUS: MEMURIDKAN. Dan yang terakhir,
5) Bila kita dicintaiNya, pasti kita adalah anak-anakNya
yang suka BERSEKUTU atau berkomunitas sel. BERKOMUNITAS??
Komsel bukan sekedar program gereja, tetapi komsel adalah
GAYA HIDUP. Karena Komsel adalah tempat dimana Firman Tuhan bisa ter-follow
up (karena iblis pasti juga mem-follow up dalam hidup kita) supaya
firmanNYA bertumbuh dan berbuah dalam kita (Markus 4:15). Firman bertumbuh
dalam hidup kita, bukan tertindas (Markus 4:17). Firman berbuah dalam hidup
kita (Markus 4:19). DIA beri firmanNYA supaya firmanNYA bertumbuh dan berbuah
didalam kita. Pembahasan/aplikasi Firman di Komsel mengarah kepada Pertumbuhan
(Roma 8:29). Transformasi – merubah hidup kita menjadi serupa dengan Kristus.
Membangkitkan orang jadi pemimpin, pemimpin didalam Tuhan. DIA beri firmanNYA
supaya firmanNYA bertumbuh dan berbuah didalam kita. Selamat Berkomsel....
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#IMLoved
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yesaya 20-22
PB: Ibrani 6
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Bp. Peter – Worship Center Surabaya
GIVING OUR BEST. Oleh Peter B, MA.
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/09/giving-our-best.html
“Lalu para kepala puak dan para kepala suku Israel dan para
kepala pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pemimpin pekerjaan untuk
raja menyatakan kerelaannya. Mereka menyerahkan untuk ibadah di rumah Allah
lima ribu talenta emas dan sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak dan
delapan belas ribu talenta tembaga serta seratus ribu talenta besi. Siapa yang
mempunyai batu permata menyerahkannya kepada Yehiel,orang Gerson itu, untuk
perbendaharaan rumah TUHAN” (1 Tawarikh 29:6-8).
Salah satu teori dalam bidang kepemimpinan yang terpenting
mengatakan, “Segala sesuatu bangkit dan jatuh karena kepemimpinan.” Apa maksud
prinsip ini? Artinya adalah bahwa yang menentukan keberhasilan suatu rencana
atau program semuanya bergantung pada kualitas pemimpinnya. Jika kepemimpinan
buruk, maka segala sesuatunya akan macet dan gagal. Sebaliknya, jika
kepemimpinan baik dan kondusif maka keberhasilan hampir dapat dipastikan.
Daud mengenal benar prinsip kepemimpinan di atas. Setelah
memberikan persembahan yang besar untuk pembangunan Bait Allah, Daud pun
mengajak setiap bawahannya untuk turut memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
Demikian ajakan Daud, “Maka siapakah yang pada hari ini yang rela memberikan
persembahan kepada TUHAN?” Daud mengerti benar bahwa untuk mencapai visi yang
dari Tuhan, ia tidak akan dapat melakukannya sendirian. Ia berusaha sekuat
tenaga, tetapi persatuan pastilah menghasilkan lebih banyak. Tanpa dukungan
banyak orang, visi yang besar akan dianggap sekedar impian kosong. Pelajaran
apakah yang dapat kita pelajari di sini mengenai kebangunan rohani (revival)?
PERTAMA, KEBANGUNAN ROHANI DIAWALI OLEH SATU (ATAU SEDIKIT)
HATI YANG MERINDUKANNYA. Tetapi kerinduan itu kemudian menjalar semakin besar
dan luas sehingga banyak orang merindukannya juga. Kuncinya adalah adakah
seseorang yang rindu dan mau membayar harganya. Daud dengan ‘berani’ merindukan
kemuliaan Tuhan turun atas bangsanya dan ia membayar berapapun harganya. Ia
merindukan yang terbaik, dan oleh karenanya ia memberi yang terbaik. Akhirnya
banyak orang menjadi celik dan turut merindukan kemuliaan Tuhan. Revival pun
terjadi; harganya: hidup sebagai penyembah-penyembah yang sejati.
Pertanyaannya: adakah orangnya? Atau Andakah orangnya?
KEDUA, PERAN KEPEMIMPINAN DAUD SANGAT MENENTUKAN KEGAIRAHAN
BANYAK ORANG LAIN (RAKYAT DAN BAWAHANNYA) AKAN KEBANGUNAN ROHANI. Di sini
berlaku prinsip kepemimpinan di atas: kepemimpinan menentukan keberhasilan atau
kegagalan. Daud menggunakan otoritasnya untuk mencari kemuliaan Tuhan dan
banyak orang melihat teladannya dan tergerak: mereka mengorbankan harta benda
mereka yang terbaik dan tidak sedikit, dengan penuh kerelaan. Persekutuan hidup
mereka bersama Daud, si penyembah sejati, membuahkan hasil yang sama. Mereka
menjadi penyembah-penyembah sejati pula. Mereka menjadi orang-orang yang suka
berkorban. Mereka menjadi pemberi-pemberi.
Ini mungkin mengejutkan tetapi Anda perlu mengetahuinya.
Mengapa sesungguhnya jemaat Tuhan masih dalam kondisi seperti ini. Jarang
sekali didapati jiwa yang memberi, mengorbankan, kerelaan untuk menderita dan
menjalani hidup dalam penyembahan dan penyerahan total kepada Tuhan. Mengapa
jemaat sepertinya masih memiliki mental sebagai pengemis dan peminta-minta
ulung? Tentu Anda mulai bisa mengetahui sebabnya. Kondisi jemaat adalah cermin
dari pemimpinnya. Pemimpin yang berjiwa peminta-minta akan menghasilkan jemaat
peminta-minta. Pemimpin yang memberi akan membetuk suatu jemaat yang suka
memberi. Daud adalah penyembah dan pemberi, pengikutnya pun menjadi penyembah
dan pemberi. Gaya dan standar pemimpin menentukan gaya dan pola yang ditiru
siapa saja yang mengikutinya.
Mengapa hingga kini belum terjadi revival atas Indonesia?
Bisa jadi karena belum ada yang sungguh-sungguh merindukannya. Adakah
orang-orang Kristen yang merindukannya? Terlebih lagi, adakah para pemimpin,
para pendeta, gembala sidang, hamba-hamba Tuhan, pemimpin-pemimpin umat yang
sungguh-sungguh merindukannya? Saya yakin, dan sungguh-sungguh percaya bahwa
revival pasti akan terjadi apabila para pemimpin Kristen sungguh-sungguh
merindukannya dan rela membayar berapapun harga revival itu.
KETIGA, sekali lagi kita belajar bahwa harga sebuah
kebangunan tidaklah murah. Itu MEMBUTUHKAN PENGORBANAN YANG BESAR DAN UNTUK
MELAKUKANNYA JUGA DIPERLUKAN SUATU KERELAAN YANG BESAR UNTUK BERKORBAN.
Bagaimana Daud dan pengikutnya rela untuk berkorban sedemikian mahal? Apakah
yang menyebabkan mereka seakan-akan tidak merasa rugi untuk memberikan
persembahan yang begitu mahal kepada Tuhan? Ada beberapa alasan untuk itu:
(1) karena mereka merasakan kasih dan kebaikan Tuhan begitu
limpah dalam hidup mereka. Kebaikan Tuhan membangkitkan rasa syukur yang luar
biasa dalam hati kita, sehingga kita rindu untuk membalas kasihNya dan
melakukan apapun sebagai ungkapan syukur kita atas kemurahanNya itu (Mazmur
116:12-14).
(2) karena mereka merasakan kebesaran dan keagungan Tuhan
sebagai Pribadi yang layak menerima pujian, penyembahan, kemuliaan dan
kehormatan di atas segala-galanya. Perjumpaan pribadi dan pengenalan yang benar
akan membawa pada penyembahan dan pengabdian yang benar pula kepada Tuhan. Setelah
perjumpaan yang penuh kuasa dengan Tuhan, Yesaya menyeruhkan kalimat
penyerahannya yang terkenal, “Ini aku, utulah aku” (Yesaya 6:8). Penyingkapan
akan pribadi Tuhan yang mulia menjadikan kita terpesona dan kemudian menganggap
sebagai suatu kehormatan dan kemuliaan tiada tara untuk dapat melayani
Dia.
(3) karena mereka mendapatkan visi tentang kemuliaan Tuhan
yang melebihi segala-galanya. Dunia dengan segala kemegahannya yang fana tak
akan pernah dapat dibandingkan dengan kemuliaan Tuhan yang akan datang. Itulah
yang mendorong kita untuk tetap hidup dalam penyembahan (2 Korintus 4:16-17)
Saudaraku, revival memang mahal. Tetapi itu layak diinginkan
dan diperjuangkan dengan segenap hati dan hidup kita. AMIN.
Madam Ossy
Rabu, 4 Oktober 2017. Bacaan: Daniel 4:28-37. Setahun:
Matius 10-11. Nas: Berkatalah Raja: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang
dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi
kota kerajaan?” (Daniel 4:30)
Jangan Congkak!
Saya tidak bisa melupakan ekspresi lucu seorang murid waktu
pertama kali ia mempelajari rangka manusia. Ia berkata, “Jadi, kita semua punya
rangka yang jelek ini di dalam tubuh kita!” Benar sekali, tidak peduli betapa
cantik atau tampannya seseorang, atau seberapa banyak harta miliknya, ia
memiliki kerangka yang sama dengan orang lain. Tuhan menciptakan manusia dari
debu tanah. Tidak ada manusia yang diciptakan dari emas atau logam mulia.
Karena itu, di hadapan Allah kita semua sederajat. Namun, rupanya raja
Nebukadnezar tidak menyadari prinsip kesetaraan ini. Pada saat berjalan-jalan
di atas istana, ia mendeklarasikan bahwa hanya oleh kuat kuasanya ia dapat
membangun kota kerajaan yang besar itu (ay. 30). Raja bukan hanya bermegah di
hadapan manusia, tetapi ia juga tidak mengindahkan kekuasaan Allah. Oleh
kesombongannya, raja menerima hukuman, yakni dihalau dari manusia dan tempat
tinggalnya ada di antara binatang-binatang di padang, sampai ia mengakui bahwa
kekuasaan ada di tangan Tuhan (ay. 31-32). Tuhan tahu bahwa manusia mudah menjadi
sombong ketika kehidupannya dikelilingi berkat dan keberhasilan. Itulah
sebabnya waktu bangsa Israel akan masuk ke Tanah Perjanjian, Tuhan mengingatkan
agar mereka tidak menyombongkan diri dan melupakan pemeliharaan Tuhan (lih. Ul.
9:1-6). Ketika kita mengesampingkan Tuhan dalam kesuksesan kita, dosa
kesombongan akan meruntuhkan keberhasilan kita. Kesuksesan semestinya
menjadikan kita semakin rendah hati di hadapan Tuhan –LIN. SEBUAH BERKAT AKAN
MENJADI JERAT KETIKA KITA MELUPAKAN TUHAN DAN MEMBANGGAKAN DIRI SENDIRI.

No comments:
Post a Comment