Wednesday, 4 October 2017

4 Oktober 2017

BILLIONAIRE






I'M Loved (4) – Fellowship (Bagian ke 5)

Bagian terakhir dari seri khotbah I'M LOVED: Fellowship/Bersekutu/Berkomunitas Sel. Kita Review yang sudah kita dapat dari seri pembahasan kita selama 1 bulan kemarin ya. Dibagian pertama:
1) Kalau kita dicintaiNya, kita nggak bisa diam/rindu untuk terus menyaksikan KasihNya/CintaNya Tuhan/BERSAKSI kepada sesama terutama yang belum mengenal DIA.
2) Kalau kita dicintaiNya, apa respon yang bisa kita berikan padaNya? Jangan DIAM, cintai DIA dengan MELAYANI-Nya. Terlibatlah untuk ambil bagian dalam pelayanan di gereja Lokal.
3) Kalau kita dicintaiNya, kita pasti suka MEMUJI DIA/menyembahNya/worship. Ada 7 cara alkitab untuk kita bisa worship: Yadah, Tawdah, Barach, Halal, Sabach, Zamar dan Tehilah. Jadliah PENYEMBAH yang aktif yang sesuai Firman Tuhan.
4) Kalau kiita dicintaiNya maka Gaya Hidup kita adalah Gaya Hidup seperti DIA/GAYA HIDUP KRISTUS: MEMURIDKAN. Dan yang terakhir,
5) Bila kita dicintaiNya, pasti kita adalah anak-anakNya yang suka BERSEKUTU atau berkomunitas sel. BERKOMUNITAS??
Komsel bukan sekedar program gereja, tetapi komsel adalah GAYA HIDUP. Karena Komsel adalah tempat dimana Firman Tuhan bisa ter-follow up (karena iblis pasti juga mem-follow up dalam hidup kita) supaya firmanNYA bertumbuh dan berbuah dalam kita (Markus 4:15). Firman bertumbuh dalam hidup kita, bukan tertindas (Markus 4:17). Firman berbuah dalam hidup kita (Markus 4:19). DIA beri firmanNYA supaya firmanNYA bertumbuh dan berbuah didalam kita. Pembahasan/aplikasi Firman di Komsel mengarah kepada Pertumbuhan (Roma 8:29). Transformasi – merubah hidup kita menjadi serupa dengan Kristus. Membangkitkan orang jadi pemimpin, pemimpin didalam Tuhan. DIA beri firmanNYA supaya firmanNYA bertumbuh dan berbuah didalam kita. Selamat Berkomsel....

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#IMLoved

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yesaya 20-22
PB: Ibrani 6

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD

Bp. Peter – Worship Center Surabaya
GIVING OUR BEST. Oleh Peter B, MA.
http://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/09/giving-our-best.html

“Lalu para kepala puak dan para kepala suku Israel dan para kepala pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pemimpin pekerjaan untuk raja menyatakan kerelaannya. Mereka menyerahkan untuk ibadah di rumah Allah lima ribu talenta emas dan sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak dan delapan belas ribu talenta tembaga serta seratus ribu talenta besi. Siapa yang mempunyai batu permata menyerahkannya kepada Yehiel,orang Gerson itu, untuk perbendaharaan rumah TUHAN” (1 Tawarikh 29:6-8).

Salah satu teori dalam bidang kepemimpinan yang terpenting mengatakan, “Segala sesuatu bangkit dan jatuh karena kepemimpinan.” Apa maksud prinsip ini? Artinya adalah bahwa yang menentukan keberhasilan suatu rencana atau program semuanya bergantung pada kualitas pemimpinnya. Jika kepemimpinan buruk, maka segala sesuatunya akan macet dan gagal. Sebaliknya, jika kepemimpinan baik dan kondusif maka keberhasilan hampir dapat dipastikan.

Daud mengenal benar prinsip kepemimpinan di atas. Setelah memberikan persembahan yang besar untuk pembangunan Bait Allah, Daud pun mengajak setiap bawahannya untuk turut memberikan yang terbaik bagi Tuhan. Demikian ajakan Daud, “Maka siapakah yang pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN?” Daud mengerti benar bahwa untuk mencapai visi yang dari Tuhan, ia tidak akan dapat melakukannya sendirian. Ia berusaha sekuat tenaga, tetapi persatuan pastilah menghasilkan lebih banyak. Tanpa dukungan banyak orang, visi yang besar akan dianggap sekedar impian kosong. Pelajaran apakah yang dapat kita pelajari di sini mengenai kebangunan rohani (revival)?

PERTAMA, KEBANGUNAN ROHANI DIAWALI OLEH SATU (ATAU SEDIKIT) HATI YANG MERINDUKANNYA. Tetapi kerinduan itu kemudian menjalar semakin besar dan luas sehingga banyak orang merindukannya juga. Kuncinya adalah adakah seseorang yang rindu dan mau membayar harganya. Daud dengan ‘berani’ merindukan kemuliaan Tuhan turun atas bangsanya dan ia membayar berapapun harganya. Ia merindukan yang terbaik, dan oleh karenanya ia memberi yang terbaik. Akhirnya banyak orang menjadi celik dan turut merindukan kemuliaan Tuhan. Revival pun terjadi; harganya: hidup sebagai penyembah-penyembah yang sejati. Pertanyaannya: adakah orangnya? Atau Andakah orangnya?

KEDUA, PERAN KEPEMIMPINAN DAUD SANGAT MENENTUKAN KEGAIRAHAN BANYAK ORANG LAIN (RAKYAT DAN BAWAHANNYA) AKAN KEBANGUNAN ROHANI. Di sini berlaku prinsip kepemimpinan di atas: kepemimpinan menentukan keberhasilan atau kegagalan. Daud menggunakan otoritasnya untuk mencari kemuliaan Tuhan dan banyak orang melihat teladannya dan tergerak: mereka mengorbankan harta benda mereka yang terbaik dan tidak sedikit, dengan penuh kerelaan. Persekutuan hidup mereka bersama Daud, si penyembah sejati, membuahkan hasil yang sama. Mereka menjadi penyembah-penyembah sejati pula. Mereka menjadi orang-orang yang suka berkorban. Mereka menjadi pemberi-pemberi.

Ini mungkin mengejutkan tetapi Anda perlu mengetahuinya. Mengapa sesungguhnya jemaat Tuhan masih dalam kondisi seperti ini. Jarang sekali didapati jiwa yang memberi, mengorbankan, kerelaan untuk menderita dan menjalani hidup dalam penyembahan dan penyerahan total kepada Tuhan. Mengapa jemaat sepertinya masih memiliki mental sebagai pengemis dan peminta-minta ulung? Tentu Anda mulai bisa mengetahui sebabnya. Kondisi jemaat adalah cermin dari pemimpinnya. Pemimpin yang berjiwa peminta-minta akan menghasilkan jemaat peminta-minta. Pemimpin yang memberi akan membetuk suatu jemaat yang suka memberi. Daud adalah penyembah dan pemberi, pengikutnya pun menjadi penyembah dan pemberi. Gaya dan standar pemimpin menentukan gaya dan pola yang ditiru siapa saja yang mengikutinya.

Mengapa hingga kini belum terjadi revival atas Indonesia? Bisa jadi karena belum ada yang sungguh-sungguh merindukannya. Adakah orang-orang Kristen yang merindukannya? Terlebih lagi, adakah para pemimpin, para pendeta, gembala sidang, hamba-hamba Tuhan, pemimpin-pemimpin umat yang sungguh-sungguh merindukannya? Saya yakin, dan sungguh-sungguh percaya bahwa revival pasti akan terjadi apabila para pemimpin Kristen sungguh-sungguh merindukannya dan rela membayar berapapun harga revival itu.

KETIGA, sekali lagi kita belajar bahwa harga sebuah kebangunan tidaklah murah. Itu MEMBUTUHKAN PENGORBANAN YANG BESAR DAN UNTUK MELAKUKANNYA JUGA DIPERLUKAN SUATU KERELAAN YANG BESAR UNTUK BERKORBAN. Bagaimana Daud dan pengikutnya rela untuk berkorban sedemikian mahal? Apakah yang menyebabkan mereka seakan-akan tidak merasa rugi untuk memberikan persembahan yang begitu mahal kepada Tuhan? Ada beberapa alasan untuk itu:

(1) karena mereka merasakan kasih dan kebaikan Tuhan begitu limpah dalam hidup mereka. Kebaikan Tuhan membangkitkan rasa syukur yang luar biasa dalam hati kita, sehingga kita rindu untuk membalas kasihNya dan melakukan apapun sebagai ungkapan syukur kita atas kemurahanNya itu (Mazmur 116:12-14).

(2) karena mereka merasakan kebesaran dan keagungan Tuhan sebagai Pribadi yang layak menerima pujian, penyembahan, kemuliaan dan kehormatan di atas segala-galanya. Perjumpaan pribadi dan pengenalan yang benar akan membawa pada penyembahan dan pengabdian yang benar pula kepada Tuhan. Setelah perjumpaan yang penuh kuasa dengan Tuhan, Yesaya menyeruhkan kalimat penyerahannya yang terkenal, “Ini aku, utulah aku” (Yesaya 6:8). Penyingkapan akan pribadi Tuhan yang mulia menjadikan kita terpesona dan kemudian menganggap sebagai suatu kehormatan dan kemuliaan tiada tara untuk dapat melayani Dia. 

(3) karena mereka mendapatkan visi tentang kemuliaan Tuhan yang melebihi segala-galanya. Dunia dengan segala kemegahannya yang fana tak akan pernah dapat dibandingkan dengan kemuliaan Tuhan yang akan datang. Itulah yang mendorong kita untuk tetap hidup dalam penyembahan (2 Korintus 4:16-17)

Saudaraku, revival memang mahal. Tetapi itu layak diinginkan dan diperjuangkan dengan segenap hati dan hidup kita. AMIN.

Madam Ossy
Rabu, 4 Oktober 2017. Bacaan: Daniel 4:28-37. Setahun: Matius 10-11. Nas: Berkatalah Raja: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (Daniel 4:30)
Jangan Congkak!
Saya tidak bisa melupakan ekspresi lucu seorang murid waktu pertama kali ia mempelajari rangka manusia. Ia berkata, “Jadi, kita semua punya rangka yang jelek ini di dalam tubuh kita!” Benar sekali, tidak peduli betapa cantik atau tampannya seseorang, atau seberapa banyak harta miliknya, ia memiliki kerangka yang sama dengan orang lain. Tuhan menciptakan manusia dari debu tanah. Tidak ada manusia yang diciptakan dari emas atau logam mulia. Karena itu, di hadapan Allah kita semua sederajat. Namun, rupanya raja Nebukadnezar tidak menyadari prinsip kesetaraan ini. Pada saat berjalan-jalan di atas istana, ia mendeklarasikan bahwa hanya oleh kuat kuasanya ia dapat membangun kota kerajaan yang besar itu (ay. 30). Raja bukan hanya bermegah di hadapan manusia, tetapi ia juga tidak mengindahkan kekuasaan Allah. Oleh kesombongannya, raja menerima hukuman, yakni dihalau dari manusia dan tempat tinggalnya ada di antara binatang-binatang di padang, sampai ia mengakui bahwa kekuasaan ada di tangan Tuhan (ay. 31-32). Tuhan tahu bahwa manusia mudah menjadi sombong ketika kehidupannya dikelilingi berkat dan keberhasilan. Itulah sebabnya waktu bangsa Israel akan masuk ke Tanah Perjanjian, Tuhan mengingatkan agar mereka tidak menyombongkan diri dan melupakan pemeliharaan Tuhan (lih. Ul. 9:1-6). Ketika kita mengesampingkan Tuhan dalam kesuksesan kita, dosa kesombongan akan meruntuhkan keberhasilan kita. Kesuksesan semestinya menjadikan kita semakin rendah hati di hadapan Tuhan –LIN. SEBUAH BERKAT AKAN MENJADI JERAT KETIKA KITA MELUPAKAN TUHAN DAN MEMBANGGAKAN DIRI SENDIRI.

No comments:

Post a Comment