BILLIONAIRE
Billionare (6)
Lukas 21:1-4, “1Ketika Yesus mengangkat
muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam
peti persembahan. 2Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan
dua peser ke dalam peti itu. 3Lalu Ia berkata: ‘Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua
orang itu.’ 4Sebab mereka semua memberi persembahannya dari
kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi
seluruh nafkahnya.”
Memberi persembahan kepada Tuhan melalui gereja lokal tempat
kita bertumbuh apakah sebuah rutinitas? Persembahan kita janganlah merupakah
sebuah rutinitas tetapi jadikan Persembahan kita sebagai ucapan syukur atas
pemberian Tuhan dalam hidup kita melalui hal-hal kecil maupun hal-hal besar
yang sudah Tuhan kerjakan dalam hidup kita! Tuhan lebih melihat hati
kita/ketulusan kita bukan berapa banyak persembahan kita! Amin. Apakah
persembahan kita adalah persembahan yang terbaik? Seperti janda yang sudah
mempersembahkan yang terbaik/seluruh miliknya, bukan dari kelimpahannya tetapi
dari kekurangannya/keterbatasannya?
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yesaya 41-42
PB: Ibrani 13
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Xavier Quentin Pranata
“Perubahan sekecil apa pun bisa membuat ketidaknyamanan
namun mampu mendatangkan kesuksesan.” Xavier Quentin Pranata.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 13 Oktober 2017. KETIKA SEMUA TIADA.
Bacaan: Ayub 1:13-22. “...TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah
nama TUHAN!” (Ayub 1:21b). Seorang pengusaha persewaan tenda dan alat pesta
mendapat pesanan kursi VIP dalam jumlah besar. Ia begitu bersyukur karena
ketika itu sedang sepi order. Demi pelanggan, ia rela menyewa kursi dari sesama
pengusaha persewaan sebab ia tidak memiliki kursi sejumlah yang dipesan. Siapa
sangka jika penyewanya ternyata kawanan pencuri! Kursi-kursi senilai dua
ratusan juta itu raib dibawa kabur dalam hitungan jam. Dalam waktu satu hari
Ayub kehilangan harta benda sekaligus anak-anaknya. Namun imannya yang tangguh
tidak membuatnya marah, protes, mengancam atau bersungut-sungut. Kesedihan
disikapinya dengan mengoyakkan jubah, mencukur kepala dan sujud menyembah Allah.
Ia mengucapkan sebuah pengakuan iman: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang
mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (ay. 21). Respons Ayub ini didasari
kesadaran bahwa segala yang ada padanya adalah pemberian Tuhan. Ia patut
merelakan sewaktu-waktu Tuhan mengambil kembali. Bagaimana jika hal itu menimpa
kita? Bisnis merugi, harta benda habis, kehilangan anggota keluarga, mengalami
sakit-penyakit dan lain sebagainya. Sanggupkah kita menyikapinya dengan
keteguhan iman seperti Ayub? Atau sebaliknya, kita mengalami kelumpuhan
perasaan dan menjadi gelap hati? Mari kita sadari bahwa respons kita
memperlihatkan cara pandang kita terhadap kepemilikan. Berduka saat kemalangan
menimpa adalah wajar. Ayub pun merasakan dan mengungkapkannya. Namun iman yang
tangguh akan membuat kita menyadari bahwa segala yang kita miliki adalah
titipan milik Tuhan. Tuhanlah satu-satunya harta sejati yang patut kita jaga
selamanya. Kemalangan dan penderitaan tidak akan pernah dapat memisahkan kita
dari-Nya. KEMALANGAN DAN KEBERUNTUNGAN BUKAN UKURAN, JADIKAN ALLAH SEBAGAI
PUSAT HIDUP BAGAIMANAPUN KONDISI KITA. Selamat pagi. TGIF. Tuhan Yesus
memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yesaya 41-42 dan Ibrani 13.
Ibu Caroline – Bandung
Roma 4:19, “Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia
mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira
seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.” Kebimbangan seringkali
menjadi penghalang bagi umat Tuhan untuk mengalami penggenapan janji Tuhan
dalam hidup kita. Mengapa kita sering bimbang terhadap janji Tuhan? Karena
kenyataan yang sedang kita hadapi dan alami tidak seperti yang kita harapkan,
sepertinya kenyataan sangat bertolak belakang dengan apa yang Tuhan janjikan.
Akibatnya yang menjadi fokus dan perhatian kita adalah kenyataan-kenyataan yang
ada, bukan mengarahkan mata iman kepada janji Tuhan. Banyak di antara kita
tidak bisa menikmati janji Tuhan sekalipun janji Tuhan itu adalah janji yang
besar dan luar biasa. Apa sebabnya? Karena kita sendirilah yang tidak
konsisten; kita bimbang dan tidak mampu bertahan menghadapi kenyataan yang ada.
Mari kita belajar seperti Abraham yang terus membangun imannya kepada Tuhan
meski berada di tengah-tengah kemustahilan. Jangan pernah mengukur dan
membatasi kuasa Tuhan dengan pikiran dan kekuatan kita yang terbatas, di mana
untuk mengalami penggenapan janji Tuhan kita harus membangun iman dan melatih
kesabaran, karena waktu Tuhan bukanlah waktu kita. Kalau kita memegang teguh
janji Tuhan janji itulah yang akan menopang dan menguatkan kita pula. Sebaliknya
semakin kita larut dalam kenyataan, semakin kita mengalami kesulitan melihat
apa yang hendak Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Iman dan kesabaran adalah
kunci menantikan janji Tuhan digenapi. Gbu.
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Selamat pagi, sharing Firman: Pembacaan Alkitab: Rut
1:15-17. Doa baca: Rut 1:16. Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan
engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke
situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku
bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku.”
Sekarang kita harus memperhatikan prinsip yang mengendalikan
kesatuan kita dengan Kristus. Prinsip pertama ialah tidak peduli bagaimana
latar belakang kita, kita harus berpaling kepada Allah dan umat-Nya. Kedua,
kita harus menikah dengan orang yang tepat; bukan secara fisik, melainkan
secara rohani. Setelah kita berpaling kepada Allah dan umat-Nya, kita harus
disatukan, dibangun, dan dilibatkan dengan orang-orang yang tepat. Ketiga, kita
harus menghasilkan buah yang tepat. Kemudian, kita akan berbagian dalam hak
kesulungan Kristus.
Jika kita ingin mengetahui kisah tentang Boas, kita harus
membaca Kitab Rut, suatu kisah yang baik. Dalam kitab tersebut Boas
melambangkan Kristus, sedangkan Rut melambangkan gereja. Kitab Rut mengatakan
bahwa Boas menebus Rut dan menebus hak kesulungan baginya. Ini berarti Kristus
sebagai Boas kita yang sejati, telah menebus kita dan menebus hak kesulungan
kita.
Boas menebus warisan sanaknya dan menikahi jandanya (Rut
4:1-17), karena itu ia menjadi leluhur Kristus yang kenamaan, rekan Kristus
yang besar. Sebagai seorang saudara dan seorang Boas, Anda wajib memperhatikan
hak kesulungan Kristus untuk yang lain, bukan hanya hak kesulungan Anda
sendiri. Dengan kata lain, Anda jangan memperhatikan kenikmatan Anda sendiri
atas Kristus, tetapi juga memperhatikan kenikmatan orang lain atas Kristus.
Rut adalah menantu Naomi. Sewaktu kita membaca kisahnya,
kita nampak bahwa Naomi telah kehilangan kenikmatan, hak kesulungan. Namun
menurut ketentuan Allah, ada satu jalan untuk memulihkan hak kesulungan itu,
yaitu dengan menebusnya. Tetapi yang menebus harus orang lain. Prinsipnya sama
dengan hidup gereja hari ini. Bila saya kehilangan hak kesulungan, maka
saudara-saudara boleh menebusnya untuk saya. Sering kali, beberapa orang dari
kaum saleh yang terkasih kehilangan kenikmatannya atas Kristus. Di satu aspek,
mereka menjadi Naomi atau Rut. Jika demikian, Anda perlu menjadi Boas, yang
mampu menebus hak kesulungan yang telah hilang dan menikahi orang-orang yang
ditebus.
Kini kita akan melihat Rut (1:5). Mungkin kita mengatakan
bahwa Rut benar-benar seorang perempuan yang baik, tetapi dia memiliki
kekurangan yang besar. Ia sendiri memang tidak terlibat dalam perbuatan sumbang,
namun dia itu berasal dari perbuatan sumbang. Rut berasal dari suku Moab (Rut
1:4). Moab adalah anak Lot, hasil perbuatan sumbang Lot dengan putrinya (Kej.
19:30-38). Menurut Ulangan 23:3, bangsa Moab tidak diperbolehkan masuk ke dalam
jemaah Tuhan bahkan sampai keturunan kesepuluh. Jadi, Rut adalah perkecualian,
dia tidak hanya diterima oleh Tuhan, bahkan menjadi orang yang menakjubkan,
yang mengambil bagian dalam kenikmatan atas Kristus.
Walaupun sebagai seorang bangsa Moab, Rut dilarang masuk ke
dalam jemaah Tuhan, Rut tetap mencari Allah dan umat-Nya (Rut 1:15-17;
2:11-12). Ini mewahyukan prinsip yang sangat kuat; tidak peduli siapa kita atau
apa latar belakang kita, asal kita memiliki hati yang mencari Allah dan umat
Allah, kita berada pada posisi yang diterima ke dalam hak kesulungan Kristus.
Rut menikah dengan Boas, orang yang beribadah di antara umat Allah, dan
melahirkan Obed, kakek Raja Daud.
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 3.

No comments:
Post a Comment