Monday, 16 October 2017

16 Oktober 2017

BILLIONAIRE






Billionare (9)
Matius 6:21, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Benar nggak sih...?
1. Kalau saudara bertanya dimana hati saya? Lihat catatan bank saya
2. Kalau saudara bertanya dimana hati saya? Lihat catatan Kartu Kredit saya
3. Kalau saudara bertanya dimana uang kita/harta kita terbanyak? Disitulah hati kita berada
Karena itulah yang dikatakan Alkitab. Benar ya... Hatimu akan ngikuti hartamu, Tuhan tidak ingin bersaing dengan harta kita. Tuhan nggak butuh harta kita, DIA butuh hatimu & hati saya. Uang memang bukan segalanya tapi banyak hal dalam hidup ini BUTUH UANG sehingga cara kita mengatur keuangan kita, menentukan hidup kita! Lukas 16:13, “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Pada prinsipnya jangan jadi hamba uang, tetapi perhamba uang saudara dan saya supaya Tuhanlah yang menjadi TUAN kita. Bagaimana dengan hati saya dan hati saudara? Siapa yang sedang kita layani setiap hari? Diperhamba atau diperbudak oleh uang atau kita yang harus memperhamba/mengatur/mengelola uang kita sedemikian rupa sehingga bukan uang yang menjadi Tuan kita tetapi Tuhanlah yang menjadi Tuan atas hidup kita. Amin. Mengatur keseimbangan dalam keuangan... ikuti pembahasan besok ya..!

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yesaya 47-49
PB: Yakobus 3

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD

Ibu Caroline – Bandung
Keputusan hati kita yang menentukan masa depan kita sendiri. Kemenangan dan pemulihan pasti akan terjadi untuk kita, jika kita mau menyerahkan hidup kita ke dalam Tuhan. Diluar Tuhan smua sia-sia. Setiap saat kita mau dipimpin oleh Tuhan. Sehingga apa yang kita lakukan dan putuskan sesuai kebenaran firmanNya. Melangkah di dalam Tuhan tidak mudah untuk dilakukan. Tapi kalau kita beriman percaya padaNya maka Tuhan pasti akan beri kita kekuatan dan kemampuan. yang penting kita sudah putuskan hati kita untuk mau bersandar padaNya. Dengan kita menyerah padaNya pasti Tuhan akan tuntun semua langkah-langkah kita. Jangan pakai kekuatan sendiri atau akal pikiran sendiri. Kita pasti punya hikmat Allah jika hati yang melekat pada Tuhan karena hikmatNya sangat kita butuhkan untuk kita melangkah dengan benar. 1 Korintus 2:5, “Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik dan mau hidup dalam naungan Tuhan senantiasa. Apapun yang kita kerjakan smua pasti mendatangkan kebaikan dan keberhasilan. Karena semua yang datang dari Tuhan adalah kekal abadi. Apa yang sudah Tuhan beri untuk kita tidak akan ada seorangpun yang dapat mengambilnya. Sebaliknya diluar Tuhan tidak ada yang kekal. Kita seolah-olah berhasil sesaat tapi kemudian akan habis dan hilang. Tidak hanya di dalam materi saja. Tapi damai sejahtera Allah pun selalu bersama kita senantiasa. Sdgkan dunia hanya memberikan sukacita sesaat. Pekerjaan iblis biasanya seperti itu, hanya menghibur atau melupakan sejenak dan tidak ada kedamaian atau ketenangan yang abadi. Tapi kalau di dalam Tuhan pasti tuntas sampai ke akar-akarnya. Kemenangan dan keberhasilan akan menjadi bagian kita jika kita mau bersandar padaNya senantiasa. Artinya setiap saat dan kita lakukan terus menerus. Jangan hanya kita lakukan jika kita di dalam pencobaan, di saat nyaman kita melupakan Tuhan. Keadaan dunia semakin semerawut, baik hal ekonomi atau rumah tangga. Tapi kalau kita terus bersandar padaNya kita akan punya kekuatan untuk menghadapi semua masalah-masalah yang ada dan Tuhan pasti beri kita kemenangan pada akhirnya. Berharaplah terus padaNya. Karena Dia menjanjikan kita akan mendapatkan semua yang terbaik sesuai rencanaNya untuk kita masing-masing. Tuhan memberkati. Amin.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 16 Oktober 2017. APA YANG ENGKAU TAWARKAN? Bacaan: 2 Tawarikh 30:1-27. “Sekarang, janganlah tegar tengkuk seperti nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada TUHAN dan datanglah ke tempat kudus yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya, serta beribadahlah kepada TUHAN...” (2 Tawarikh 30:8). “Tuhan, aku serahkan hidupku kepada-Mu. Apapun yang kulalui, semua hanya untuk kemuliaan-Mu. Tuhan, aku serahkan hari-hariku. Kunaikkan pujian untuk persembahan yang menyenangkan-Mu. Tuhan aku serahkan hidupku.” Ini adalah terjemahan refrein dari sebuah lagu Hillsong: Lord I Offer My Life To You. Hizkia adalah raja Yehuda yang dikenal sebagai raja yang takut akan Tuhan, berbeda dengan sejumlah besar nenek moyangnya. Ia melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan. Hizkia jugalah yang memelopori diadakannya kembali ibadah-ibadah kepada Tuhan di Bait Allah di Yerusalem. Ia mengadakan pembaharuan mental yang bersifat menyeluruh terhadap kehidupan bangsa Yehuda, bahkan ia berani mengajak orang-orang di Kerajaan Israel dan kepada suku Efraim dan Manasye untuk beribadah merayakan Paskah. Pembaharuan yang menantang seluruh orang Yehuda dan Israel pada saat itu untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, yaitu untuk terus hidup di dalam kekudusan. Nasehat dan perintah yang diikuti oleh seluruh bangsa itu, yang membuat doa-doa mereka didengar Tuhan kembali (ay. 27). Apakah ikut Tuhan itu cukup dengan beribadah rutin saja? Atau dengan melakukan segala perintah Tuhan sebagai keharusan saja? Ini memang baik. Tetapi ikut Tuhan adalah totalitas, keseluruhan hidup tanpa ada satu pun bagian dari hidup ini yang tidak dipersembahan kepada Tuhan. Totalitas dalam kesadaran bahwa memang kita harus menyerahkan seluruh hidup kepada Dia. Itulah ibadah yang sejati. APA YANG ENGKAU TAWARKAN KEPADA YESUS YANG TELAH MENYERAHKAN DIRI-NYA SENDIRI UNTUK MENYELAMATKAN KITA? Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yesaya 47-49 dan Yakobus 3.

Xavier Quentin Pranata
“Seringkali kemalangan yang menimpa kita berasal dari pola hidup yang serampangan.” Xavier Quentin Pranata.

Bp. Sadrak Soewargo – Citraland
SIKAP YANG BERSAHAJA: BERSYUKUR – BERMAZMUR. Mazmur 57:2, “Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.” Mazmur 57:5, “Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya laksana pedang tajam.” Mazmur 57:10, “Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa.” Mazmur 57:11, “sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.”
Berlindung dibawah naungan sayap TUHAN, dalam masa kesusahan yang dijelaskan oleh pemazmur Daud yang hidup ditengah-tengah singa yang suka menerkam, mengajarkan kepada kita bahwa Daud mengandalkan kekuatan TUHAN dalam menjalani hidupnya. Walau dia dikelilingi dengan kesulitan dan bahkan bahaya yang selalu mengancam, dia tidak pernah mendapatkan celaka karena perlindungan dari-Nya. Dan atas seluruh pembelaan dari TUHAN, Daud senantiasa bersyukur, bermazmur atas kasih setia dan perlindungan yang dari TUHAN sendiri. Sikap yang bersahaja. Kalau kita pikirkan kembali perjalanan hidup, sejak kecil - dalam satu keluarga - hidup dewasa - mandiri - berkeluarga, tentunya masing-masing dari diri kita memiliki pengalaman - perjalanan hidup yang berbeda. Akan tetapi semua sama, memiliki satu atau beberapa pengalaman pribadi dimana secara ajaib ada tangan yang melepaskan kita dari persoalan sulit-mara bahaya-membebaskan dari kesulitan itu. Itulah satu tanda, TUHAN menyertai dan melindungi dengan Sayap-Nya. Sekarang, apa yang sudah kita perbuat untuk bersyukur dan memuji-Nya? Tuhan, tegur kami agar selalu mengingat kebaikan-Mu saja, jadi kami bisa memiliki hati yang bersyukur, bermazmur dan memuji-Mu.Jesus Loves you. Bacaan Alkitab Setahun: Maleakhi 1-4.
#Jesus #Jesusloveyou #saatteduh #firmanTuhan #imandanpercaya
Anda diberkati - Like Page FB #Jesusloveyou1006
Anda peduli, menabur benih - Share kepada teman

Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Pembacaan Alkitab: Mat. 1:23; 28:20. Doa baca: Mat. 28:20. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman. Sang ajaib yang dilahirkan secara ajaib ini adalah Yehova. Tetapi Dia bukan hanya Yehova — Dia adalah Yehova dengan sesuatu yang lain. Sebutan Yesus artinya “Yehova Penyelamat (Juruselamat)” atau “keselamatan Yehova” (Mat. 1:21). Persona yang ajaib inilah keselamatan yang Yehova berikan kepada manusia. Dia sendiri itulah keselamatan. Karena Yehova sendiri menjadi karunia keselamatan, Dia itulah Sang Penyelamat.
Yesus merupakan nama yang ajaib karena Yesus itulah Yehova. Dalam Kejadian 1 kita tidak menemukan nama Yehova. Kita hanya menemukan nama Allah: “Pada mulanya Allah menciptakan ...” Elohim — Allah — adalah sebutan bagi Allah Pencipta. Nama Yehova, yang tidak digunakan hingga Kejadian 2, digunakan secara khusus ketika Allah berhubungan dengan manusia. Nama Yesus adalah sesuatu yang ditambahkan kepada Yehova — yaitu, Yehova keselamatan kita, Yehova Penyelamat kita.
Yesus itulah Yosua sejati (Bil. 13:16; Ibr. 4:8). Yosua dalam bahasa Ibraninya sama dengan Yesus. Musa membawa umat Allah keluar dari Mesir, tetapi Yosua yang membawa mereka ke dalam perhentian. Sebagai Yosua kita yang sejati, Yesus membawa kita ke dalam perhentian. Matius 11:28-29 memberi tahu kita bahwa Yesus adalah perhentian dan Dia mengajak kita memasuki diri-Nya sebagai perhentian. Ibrani 4:8-9 dan 11 juga membicarakan Yesus sebagai Yosua sejati kita.
Dalam 1:23 kita menjumpai nama ajaib yang lain — Imanuel. Imanuel adalah nama pemberian manusia kepada-Nya. Imanuel artinya “Allah menyertai kita.” Yesus Sang Juruselamat adalah Allah yang menyertai kita. Tanpa Dia, kita tidak mungkin menjumpai Allah; sebab Allah adalah Dia, dan Dia adalah Allah. Tanpa Dia, kita tidak akan menemukan Allah, sebab Dia adalah Allah sendiri yang berinkarnasi untuk tinggal di tengah-tengah kita (Yoh. 1:14).
Yesus ini, yang adalah Allah Yehova, dilahirkan dalam daging menjadi Raja untuk mewarisi takhta Daud (1:20; Luk. 1:27, 32-33). Injil Matius adalah sebuah kitab yang membahas kerajaan dan Kristus sebagai Rajanya, Mesiasnya. Ketika Anda menyeru Yesus, Anda mendapatkan Yehova, Juruselamat, keselamatan, Allah, dan akhirnya Raja. Sang Raja memerintah. Ketika kita menyeru Yesus, segera kita mendapatkan Dia yang berkuasa atas kita. Yesus, Sang Raja akan mendirikan Kerajaan-Nya di dalam Anda dan menyelenggarakan takhta Daud di dalam hati Anda. Semakin Anda menyeru Yesus, semakin pula ada kuasa pemerintahan. Serulah nama-Nya, pasti Anda akan diatur oleh kuasa-Nya.
Yesus adalah persona yang ajaib. Dia itu Yehova, Allah, Juruselamat, dan Raja. Sang Raja telah lahir, bahkan hari ini berada di sini. Setiap hari, pagi, dan sore, kita mengapresiasi Kristus sebagai Juruselamat kita, Raja kita, bahkan Raja di raja.
Kristus di dalam Injil Matius adalah Raja Penyelamat juga Juruselamat Raja yang mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita dan di atas kita. Matius 1 bukan sekadar menampakkan kepada kita asal usul Raja ini, tetapi juga memperlihatkan penyertaan Raja ini. Nama Raja ini ialah Yesus. Kapan saja kita menyeru nama-Nya, pasti kita merasakan bahwa Dia sedang berkuasa di dalam kita melalui penyela-matan-Nya. Ia mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita. Haleluya, inilah Kristus kita!
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 5.

No comments:

Post a Comment