BILLIONAIRE
Billionare (9)
Matius 6:21, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga
hatimu berada.”
Benar nggak sih...?
1. Kalau saudara bertanya dimana hati saya? Lihat catatan
bank saya
2. Kalau saudara bertanya dimana hati saya? Lihat catatan
Kartu Kredit saya
3. Kalau saudara bertanya dimana uang kita/harta kita
terbanyak? Disitulah hati kita berada
Karena itulah yang dikatakan Alkitab. Benar ya... Hatimu
akan ngikuti hartamu, Tuhan tidak ingin bersaing dengan harta kita. Tuhan nggak
butuh harta kita, DIA butuh hatimu & hati saya. Uang memang bukan segalanya
tapi banyak hal dalam hidup ini BUTUH UANG sehingga cara kita mengatur keuangan
kita, menentukan hidup kita! Lukas 16:13, “Seorang hamba tidak dapat
mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang
dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak
mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada
Mamon.” Pada prinsipnya jangan jadi hamba uang, tetapi perhamba uang
saudara dan saya supaya Tuhanlah yang menjadi TUAN kita. Bagaimana dengan hati
saya dan hati saudara? Siapa yang sedang kita layani setiap hari? Diperhamba
atau diperbudak oleh uang atau kita yang harus
memperhamba/mengatur/mengelola uang kita sedemikian rupa sehingga bukan uang
yang menjadi Tuan kita tetapi Tuhanlah yang menjadi Tuan atas hidup kita.
Amin. Mengatur keseimbangan dalam keuangan... ikuti pembahasan besok ya..!
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yesaya 47-49
PB: Yakobus 3
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Ibu Caroline – Bandung
Keputusan hati kita yang menentukan masa depan kita sendiri.
Kemenangan dan pemulihan pasti akan terjadi untuk kita, jika kita mau
menyerahkan hidup kita ke dalam Tuhan. Diluar Tuhan smua sia-sia. Setiap saat
kita mau dipimpin oleh Tuhan. Sehingga apa yang kita lakukan dan putuskan
sesuai kebenaran firmanNya. Melangkah di dalam Tuhan tidak mudah untuk
dilakukan. Tapi kalau kita beriman percaya padaNya maka Tuhan pasti akan beri
kita kekuatan dan kemampuan. yang penting kita sudah putuskan hati kita untuk
mau bersandar padaNya. Dengan kita menyerah padaNya pasti Tuhan akan tuntun
semua langkah-langkah kita. Jangan pakai kekuatan sendiri atau akal pikiran
sendiri. Kita pasti punya hikmat Allah jika hati yang melekat pada Tuhan karena
hikmatNya sangat kita butuhkan untuk kita melangkah dengan benar. 1 Korintus
2:5, “Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada
kekuatan Allah.” Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang
fasik dan mau hidup dalam naungan Tuhan senantiasa. Apapun yang kita kerjakan
smua pasti mendatangkan kebaikan dan keberhasilan. Karena semua yang datang
dari Tuhan adalah kekal abadi. Apa yang sudah Tuhan beri untuk kita tidak akan
ada seorangpun yang dapat mengambilnya. Sebaliknya diluar Tuhan tidak ada yang
kekal. Kita seolah-olah berhasil sesaat tapi kemudian akan habis dan hilang.
Tidak hanya di dalam materi saja. Tapi damai sejahtera Allah pun selalu bersama
kita senantiasa. Sdgkan dunia hanya memberikan sukacita sesaat. Pekerjaan iblis
biasanya seperti itu, hanya menghibur atau melupakan sejenak dan tidak ada
kedamaian atau ketenangan yang abadi. Tapi kalau di dalam Tuhan pasti tuntas
sampai ke akar-akarnya. Kemenangan dan keberhasilan akan menjadi bagian kita
jika kita mau bersandar padaNya senantiasa. Artinya setiap saat dan kita
lakukan terus menerus. Jangan hanya kita lakukan jika kita di dalam pencobaan,
di saat nyaman kita melupakan Tuhan. Keadaan dunia semakin semerawut, baik hal
ekonomi atau rumah tangga. Tapi kalau kita terus bersandar padaNya kita akan
punya kekuatan untuk menghadapi semua masalah-masalah yang ada dan Tuhan pasti
beri kita kemenangan pada akhirnya. Berharaplah terus padaNya. Karena Dia
menjanjikan kita akan mendapatkan semua yang terbaik sesuai rencanaNya untuk
kita masing-masing. Tuhan memberkati. Amin.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Senin, 16 Oktober 2017. APA YANG ENGKAU
TAWARKAN? Bacaan: 2 Tawarikh 30:1-27. “Sekarang, janganlah tegar tengkuk
seperti nenek moyangmu. Serahkanlah dirimu kepada TUHAN dan datanglah ke tempat
kudus yang telah dikuduskan-Nya untuk selama-lamanya, serta beribadahlah kepada
TUHAN...” (2 Tawarikh 30:8). “Tuhan, aku serahkan hidupku kepada-Mu. Apapun
yang kulalui, semua hanya untuk kemuliaan-Mu. Tuhan, aku serahkan hari-hariku.
Kunaikkan pujian untuk persembahan yang menyenangkan-Mu. Tuhan aku serahkan
hidupku.” Ini adalah terjemahan refrein dari sebuah lagu Hillsong: Lord I Offer
My Life To You. Hizkia adalah raja Yehuda yang dikenal sebagai raja yang takut
akan Tuhan, berbeda dengan sejumlah besar nenek moyangnya. Ia melakukan apa
yang benar di hadapan Tuhan. Hizkia jugalah yang memelopori diadakannya kembali
ibadah-ibadah kepada Tuhan di Bait Allah di Yerusalem. Ia mengadakan
pembaharuan mental yang bersifat menyeluruh terhadap kehidupan bangsa Yehuda,
bahkan ia berani mengajak orang-orang di Kerajaan Israel dan kepada suku Efraim
dan Manasye untuk beribadah merayakan Paskah. Pembaharuan yang menantang
seluruh orang Yehuda dan Israel pada saat itu untuk menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Tuhan, yaitu untuk terus hidup di dalam kekudusan. Nasehat dan perintah
yang diikuti oleh seluruh bangsa itu, yang membuat doa-doa mereka didengar
Tuhan kembali (ay. 27). Apakah ikut Tuhan itu cukup dengan beribadah rutin
saja? Atau dengan melakukan segala perintah Tuhan sebagai keharusan saja? Ini
memang baik. Tetapi ikut Tuhan adalah totalitas, keseluruhan hidup tanpa ada
satu pun bagian dari hidup ini yang tidak dipersembahan kepada Tuhan. Totalitas
dalam kesadaran bahwa memang kita harus menyerahkan seluruh hidup kepada Dia.
Itulah ibadah yang sejati. APA YANG ENGKAU TAWARKAN KEPADA YESUS YANG TELAH
MENYERAHKAN DIRI-NYA SENDIRI UNTUK MENYELAMATKAN KITA? Selamat pagi. Tuhan
Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yesaya 47-49 dan Yakobus 3.
Xavier Quentin Pranata
“Seringkali kemalangan yang menimpa kita berasal dari pola
hidup yang serampangan.” Xavier Quentin Pranata.
Bp. Sadrak Soewargo – Citraland
SIKAP YANG BERSAHAJA: BERSYUKUR – BERMAZMUR. Mazmur 57:2,
“Kasihanilah aku, ya Allah, kasihanilah aku, sebab kepada-Mulah jiwaku
berlindung; dalam naungan sayap-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu
penghancuran itu.” Mazmur 57:5, “Aku terbaring di tengah-tengah singa yang suka
menerkam anak-anak manusia, yang giginya laksana tombak dan panah, dan lidahnya
laksana pedang tajam.” Mazmur 57:10, “Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara
bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa.”
Mazmur 57:11, “sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu
sampai ke awan-awan.”
Berlindung dibawah naungan sayap TUHAN, dalam masa kesusahan
yang dijelaskan oleh pemazmur Daud yang hidup ditengah-tengah singa yang suka
menerkam, mengajarkan kepada kita bahwa Daud mengandalkan kekuatan TUHAN dalam
menjalani hidupnya. Walau dia dikelilingi dengan kesulitan dan bahkan bahaya
yang selalu mengancam, dia tidak pernah mendapatkan celaka karena perlindungan
dari-Nya. Dan atas seluruh pembelaan dari TUHAN, Daud senantiasa bersyukur,
bermazmur atas kasih setia dan perlindungan yang dari TUHAN sendiri. Sikap yang
bersahaja. Kalau kita pikirkan kembali perjalanan hidup, sejak kecil - dalam
satu keluarga - hidup dewasa - mandiri - berkeluarga, tentunya masing-masing
dari diri kita memiliki pengalaman - perjalanan hidup yang berbeda. Akan tetapi
semua sama, memiliki satu atau beberapa pengalaman pribadi dimana secara ajaib
ada tangan yang melepaskan kita dari persoalan sulit-mara bahaya-membebaskan
dari kesulitan itu. Itulah satu tanda, TUHAN menyertai dan melindungi dengan
Sayap-Nya. Sekarang, apa yang sudah kita perbuat untuk bersyukur dan
memuji-Nya? Tuhan, tegur kami agar selalu mengingat kebaikan-Mu saja, jadi kami
bisa memiliki hati yang bersyukur, bermazmur dan memuji-Mu.Jesus Loves you.
Bacaan Alkitab Setahun: Maleakhi 1-4.
#Jesus #Jesusloveyou #saatteduh #firmanTuhan #imandanpercaya
Anda diberkati - Like Page FB #Jesusloveyou1006
Anda peduli, menabur benih - Share kepada teman
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Pembacaan Alkitab: Mat. 1:23; 28:20. Doa baca: Mat. 28:20.
Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.
Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman. Sang ajaib yang dilahirkan
secara ajaib ini adalah Yehova. Tetapi Dia bukan hanya Yehova — Dia adalah
Yehova dengan sesuatu yang lain. Sebutan Yesus artinya “Yehova Penyelamat
(Juruselamat)” atau “keselamatan Yehova” (Mat. 1:21). Persona yang ajaib inilah
keselamatan yang Yehova berikan kepada manusia. Dia sendiri itulah keselamatan.
Karena Yehova sendiri menjadi karunia keselamatan, Dia itulah Sang Penyelamat.
Yesus merupakan nama yang ajaib karena Yesus itulah Yehova.
Dalam Kejadian 1 kita tidak menemukan nama Yehova. Kita hanya menemukan nama
Allah: “Pada mulanya Allah menciptakan ...” Elohim — Allah — adalah sebutan
bagi Allah Pencipta. Nama Yehova, yang tidak digunakan hingga Kejadian 2,
digunakan secara khusus ketika Allah berhubungan dengan manusia. Nama Yesus
adalah sesuatu yang ditambahkan kepada Yehova — yaitu, Yehova keselamatan kita,
Yehova Penyelamat kita.
Yesus itulah Yosua sejati (Bil. 13:16; Ibr. 4:8). Yosua
dalam bahasa Ibraninya sama dengan Yesus. Musa membawa umat Allah keluar dari
Mesir, tetapi Yosua yang membawa mereka ke dalam perhentian. Sebagai Yosua kita
yang sejati, Yesus membawa kita ke dalam perhentian. Matius 11:28-29 memberi
tahu kita bahwa Yesus adalah perhentian dan Dia mengajak kita memasuki diri-Nya
sebagai perhentian. Ibrani 4:8-9 dan 11 juga membicarakan Yesus sebagai Yosua
sejati kita.
Dalam 1:23 kita menjumpai nama ajaib yang lain — Imanuel.
Imanuel adalah nama pemberian manusia kepada-Nya. Imanuel artinya “Allah
menyertai kita.” Yesus Sang Juruselamat adalah Allah yang menyertai kita. Tanpa
Dia, kita tidak mungkin menjumpai Allah; sebab Allah adalah Dia, dan Dia adalah
Allah. Tanpa Dia, kita tidak akan menemukan Allah, sebab Dia adalah Allah
sendiri yang berinkarnasi untuk tinggal di tengah-tengah kita (Yoh. 1:14).
Yesus ini, yang adalah Allah Yehova, dilahirkan dalam daging
menjadi Raja untuk mewarisi takhta Daud (1:20; Luk. 1:27, 32-33). Injil Matius
adalah sebuah kitab yang membahas kerajaan dan Kristus sebagai Rajanya,
Mesiasnya. Ketika Anda menyeru Yesus, Anda mendapatkan Yehova, Juruselamat,
keselamatan, Allah, dan akhirnya Raja. Sang Raja memerintah. Ketika kita
menyeru Yesus, segera kita mendapatkan Dia yang berkuasa atas kita. Yesus, Sang
Raja akan mendirikan Kerajaan-Nya di dalam Anda dan menyelenggarakan takhta
Daud di dalam hati Anda. Semakin Anda menyeru Yesus, semakin pula ada kuasa
pemerintahan. Serulah nama-Nya, pasti Anda akan diatur oleh kuasa-Nya.
Yesus adalah persona yang ajaib. Dia itu Yehova, Allah,
Juruselamat, dan Raja. Sang Raja telah lahir, bahkan hari ini berada di sini.
Setiap hari, pagi, dan sore, kita mengapresiasi Kristus sebagai Juruselamat
kita, Raja kita, bahkan Raja di raja.
Kristus di dalam Injil Matius adalah Raja Penyelamat juga
Juruselamat Raja yang mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita dan di atas kita.
Matius 1 bukan sekadar menampakkan kepada kita asal usul Raja ini, tetapi juga
memperlihatkan penyertaan Raja ini. Nama Raja ini ialah Yesus. Kapan saja kita
menyeru nama-Nya, pasti kita merasakan bahwa Dia sedang berkuasa di dalam kita
melalui penyela-matan-Nya. Ia mendirikan kerajaan surgawi di dalam kita.
Haleluya, inilah Kristus kita!
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 5.

No comments:
Post a Comment