BILLIONAIRE
Billionare (8)
Kisah Para Rasul 20:35b, “Adalah lebih berbahagia memberi
dari pada menerima.”
Ketika kita “memberi” apa yang kamu rasakan? Pasti ada yang
berkurang dari milik kita. Pasti jauh lebih baik jika kita menerima dari pada
memberi! Kita semua pasti lebih senang menerima sesuatu seperti hadiah,
perhatian, bahkan “penerimaan”, dll daripada MEMBERI sesuatu ya. Memberi tidak
hanya memuliakan Tuhan, tetapi juga merupakan anugerah Tuhan bagi kita. Ketika
kita memberi kepada kepadaNya atau melalui sesama sebagai ungkapan syukur kita
atas anugerahNya, itu sepertinya ada sukacita yang tidak bisa tergantikan yang
kita rasakan, baik itu kepada orang tua, saudara-saudara
kita/keluarga/rekan-rekan sekerja, bahkan mungkin orang lain yang membutuhkan
yang tidak kita kenal mungkin! Memberi adalah Hak Istimewa yang diberikan Tuhan
kepada kita. Memberilah dengan sukacita bukan dengan sedih hati atau paksaan.
Amin. Bagaimana perasaanmu saat memberi?? Merasakan kehilangan/merasa sedih?
Atau justru kamu BERBAHAGIA saat MEMBERI?
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yesaya 45-46
PB: Yakobus 2
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
#HappySunday
#HappyServingGod
Xavier Quentin Pranata
“Karena tiap orang punya tanggal kedaluwarsa masing-masing,
marilah kita gunakan sebaik-baiknya.” Xavier Quentin Pranata.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 15 Oktober 2017. AYAH-IBUKU BAHAGIAKU.
Bacaan: Amsal 31:10-31. Anak-anaknya bangun, dan menyebutnya berbahagia...
(Amsal 31:28a). Amsal 31:10-31 bertutur tentang ibu luar biasa yang
membahagiakan keluarga dengan penuh dedikasi. Respons anak-anaknya sungguh
mengharukan. Bagi anak-anak itu, ibu mereka adalah “malaikat” mereka, idola
mereka. Karena itu, “Anak-anaknya bangun dan menyebutnya berbahagia” (ay. 28a).
Tiap hari, begitu membuka mata, hal pertama yang memenuhi kesadaran mereka
adalah: “Ibuku bahagiaku”. Amsal 31:10-31 berbicara tentang peran ibu. Tetapi,
dalam pada itu, Amsal ini berbicara tentang peran orangtua, dan buahnya bagi
relasi mereka dengan anak-anak. Amsal ini adalah teladan agar orangtua
membangun relasi yang karib dan dalam dengan anak-anak, agar orangtua melekat
di hati mereka. Itu dibutuhkan untuk menuntun mereka di jalan yang patut. Dalam
sebuah lagu lama, seorang penyanyi cilik berseru, “Oh, Daddy. You are my
superstar!” (https://www.youtube.com/ watch?v=Awuk7_c6XNs). Jelas, figur daddy
bukan figur sempurna. Maka, sebutan superstar pada daddy itu bukan gambaran
objektif tentang figur ayah. “Daddy, you are my superstar” adalah ungkapan
subjektif yang sarat muatan rasa, yang berakar pada hubungan yang amat dekat antara
anak dan ayahnya. Merenungi Amsal 31:10-31 membuat saya teringat pada lagu lama
itu. Dan, hati saya pun tercekat. Sekarib dan sedalam itukah relasi saya dengan
anak-anak saya? Dengan kualitas relasi yang saya bangun, adakah mereka berbisik
dalam hati, “Ayah, Ibu, kalian bahagiaku”? Adakah hati mereka menyebut kami,
orangtua mereka, berbahagia? Atau, jangan-jangan...? RELASI YANG KARIB SERTA
DALAM DENGAN ANAK-ANAK ADALAH JALAN UNTUK MENGAJAK MEREKA MENGHIDUPI JALAN YANG
PATUT. Selamat pagi. Selamat beribadah. Selamat melayani. Tuhan Yesus
memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yesaya 45-46 dan Yakobus 2.
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Pembacaan Alkitab: Mat. 1:6. Doa baca: Mat. 1:6. Isai
mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria.
Matius 1:6 mengatakan, “Daud mempunyai anak, Salomo.”
Bandingkan kalimat ini dengan ungkapan yang berbunyi, “Natan, anak Daud” (Luk.
3:31). Bila kita membaca 1 Tawarikh 3:5, jelas bahwa mereka adalah dua orang
yang berbeda. Catatan Lukas adalah silsilah Natan, putra Daud, yang adalah
leluhur Maria; sedangkan catatan Matius adalah silsilah Salomo, putra Daud,
yang adalah leluhur Yusuf. Satu silsilah adalah garis Maria, garis istri; yang
lain adalah garis Yusuf, garis suami. Maria dan Yusuf adalah keturunan Daud,
tetapi mereka diturunkan dari dua keluarga yang berasal dari leluhur yang sama.
Yang satu keluarga Salomo, yang lain keluarga Natan. Di bawah kedaulatan Allah,
Maria dan Yusuf — keturunan dari dua keluarga ini, bertunangan dan melahirkan
Kristus. Kristus terhitung sebagai keturunan Daud melalui Salomo dan Natan.
Inilah sebabnya Dia mempunyai dua silsilah.
Kita maju terus ke Rehabeam, anak Salomo (ayat 7). Mulai
dari Rehabeam, kerajaan Daud terpecah (1 Raj. 11:9-12; 12:1-17). Dari kedua
belas suku, satu suku diberikan karena Daud (1 Raj. 11:13), yaitu karena
Kristus. Kristus memerlukan kerajaan yang menjadi milik keluarga Daud, karena
Dia harus terlahir sebagai pewaris takhta Daud. Apabila seluruh kerajaan hancur
luluh, niscaya tidak ada apa pun yang tersisa bagi Kristus untuk dilahirkan
sebagai pewaris kerajaan Daud.
Ayat 8, “Yoram mempunyai anak, Uzia.” Matius tidak
menyebutkan tiga generasi yang terdapat dalam 1 Tawarikh — Ahazia, Yoas, dan
Amazia. Ini tentu dikarenakan pernikahan yang jahat antara Yoram dengan anak
perempuan Ahab dan Izebel yang merusak keturunan Yoram (2 Taw. 21:5-6; 22:1-4).
Ahab adalah raja dari kerajaan utara, sedangkan Izebel istrinya adalah seorang
perempuan jahat yang sepenuhnya berhubungan dengan berhala-berhala. Ia bersatu
dengan Iblis, dan merusak suaminya. Mereka melahirkan seorang putri, dan Yoram,
salah seorang raja dari raja-raja Yehuda, menikahi dia. Perempuan ini mengajar
Yoram untuk menyembah kepada berhala-berhala, menjadi satu dengan berhala-berhala.
Akibat-nya, keluarga mereka dirusak. Berdasarkan Keluaran 20:5, tiga generasi
dari keturunan Yoram dikesampingkan dari silsilah Kristus. Keluaran 20:5
memberitahukan bahwa orang yang meninggalkan Allah dan menyembah kepada
berhala-berhala akan merusak dirinya dan akan mendapatkan kutukan Allah sampai
tiga atau empat keturunan. Sebab itu, tiga generasi dari Raja Yoram telah
dikesampingkan dari silsilah Kristus. Di sini kita wajib mempelajari satu
pelajaran. Jika kita mau terkait dengan Kristus, sekali-kali tidak boleh
melibatkan diri dengan barang yang ada hubungannya dengan berhala-berhala.
Allah itu pencemburu dan Dia tidak akan pernah bertoleransi terhadap
penyembahan berhala.
Yekhonya tidak dianggap sebagai raja dalam silsilah ini
karena dia dilahirkan dalam pembuangan dan berstatus tawanan (2 Taw. 36:9-10,
Yoyakin adalah Yekhonya). Menurut nubuat dalam Yeremia 22:28-30, tidak ada
keturunan Yekhonya yang mewarisi takhta Daud. Seluruh keturunannya disingkirkan
dari takhta Daud. Jika Kristus adalah keturunan langsung dari Yekhonya, Ia
tidak akan bersyarat mewarisi takhta Daud. Meskipun Yeremia 22:28-30 mengatakan
bahwa semua keturunan Yekhonya disingkirkan dari takhta Daud, tetapi pasal
selanjutnya ayat 5 mengatakan bahwa Allah akan menumbuhkan tunas bagi Daud,
seorang raja yang akan memerintah dan semarak. Tunas ini adalah Kristus. Nubuat
ini menegaskan bahwa walaupun Kristus bukan keturunan langsung dari Yekhonya,
tetapi Ia adalah keturunan Daud, akan mewarisi takhta Daud.
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 4.

No comments:
Post a Comment