Tuesday, 31 October 2017

31 Oktober 2017

BILLIONAIRE






Billionaire (23)

Di bagian terakhir dari pembahasan kita hari ini adalah Pinjam Meminjam. Alkitab mengajarkan memberi pinjaman dari pada meminjam karena itu akan nenghasilkan kebebasan keuangan. Amsal 22:7, “Orang kaya menguasai orang miskin yang berhutang menjadi budak dari yang menghutangi.” Prinsip dasar pinjam meminjam:
  1. Gunakan kredit sebijak mungkin. Hindari kredit sebisa mungkin.
  2. Jaga pinjaman sekecil mungkin. Mengapa? Sebab bunga pinjaman akan menambah biaya hidup dan mengurangi kemampuan kita untuk melayani dengan baik. Jka harus meminjam, harus cari bunga yang rendah dan jangka pendek.
  3. Kredit bisa berbahaya karena memperbudak orang kepada kreditor dan keinginan mereka dari pada keinginan Tuhan.
  4. Kredit nengurangi kemampuan kita memberi pada Tuhan dan mereka yang membutuhkan.
  5. Penggunaan kredit sering merupakan kegagalan untuk rasa PUAS dengan apa yang kita miliki.
Jadi sesungguhnya kompetitor Tuhan bukan Lucifer, dll tetapi kompetitor Tuhan yang utama adalah Uang. Bagaimana dengan kita?? Apakah kita sudah cukup PUAS dengan apa yang sudah Tuhan berikan dalam hidup kita saat ini? Atau kita masih kuatir sehingga harus diperbudak oleh Uang? Filipi 4:19, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu nenurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.” Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yeremia 22-23
PB: Yohanes 3:22-36

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBible
#IMLoveD

Sumber: Warta Komsel 29 Oktober 2017

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Selasa, 31 Oktober 2017. AGAMA TANPA SPIRITUALITAS. Bacaan: Matius 23:1-33. “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dicat putih, yang sebelah luarnya memang indah tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan berbagai jenis kotoran” (Matius 23:27). Bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila percaya akan adanya Tuhan. Kita dikenal sebagai bangsa yang religius, taat beragama, tempat ibadah bertaburan di mana-mana. Akan tetapi, kejahatan juga berseliweran di sekitar kita, korupsi merebak bagai cendawan di musim hujan, ujaran kebencian marak di sosial media. Sungguh memprihatinkan. Pertanyaannya, mengapa hal itu terjadi? Kondisi ini mirip dengan kehidupan ahli Taurat dan kaum Farisi pada zaman Yesus. Mereka menaati hukum Taurat secara terperinci lengkap dengan segala pernak-perniknya. Namun, kehidupan sehari-hari mereka jauh dari itu. Mereka mengabaikan keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan. Hal itu membuat marah Tuhan Yesus. Dia menyebut mereka dengan munafik. Bahkan secara sarkastik Yesus menyamakan mereka dengan kuburan, yang putih bersih tampak luarnya, tetapi bagian dalamnya penuh dengan tulang belulang dan pelbagai kotoran. Yesus memerintahkan agar umat menuruti dan melakukan ajaran mereka, tetapi tidak perlu meniru perbuatan mereka. Kehidupan ahli Taurat dan orang Farisi dapat disebut sebagai kehidupan yang agamawi, tetapi tanpa spiritualitas. Secara ritual agamanya tertib dan bagus, tetapi kehidupan sehari-hari tidak menjalankan perintah Tuhan untuk mengasihi, berbuat adil, dan hidup setia. Jika kita percaya bahwa Tuhan itu ada, marilah kita percaya kalau Tuhan hadir. Jika kita baik di dalam ibadah, marilah kita baik dalam semua urusan, karena semua urusan adalah ibadah. ORANG AGAMAWI MERASA DIRI PALING BENAR, ORANG SPIRITUAL MENYADARI SEMUA ORANG SETARA. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yeremia 22-23 dan Yohanes 3:22-38.

No comments:

Post a Comment