BILLIONAIRE
Billionaire (19)
Matius 6:21, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga
hatimu berada.”
Uang pada dasarnya tidak jahat, masalahnya bukan terletak
pada apakah kita memiliki banyak uang/tidak? Tetapi pada keinginan untuk
menjadi kaya dan cinta akan uang. Jika sekali kita tergoda untuk mencintai
uang, kita tidak akan pernah merasa cukup dan makin lama akan semakin menjauh dari
Tuhan. Jika tujuan kita dekat dengan Tuhan, maka pilihan kita tidak hanya
mengejar kekayaan materi semata sebab di Matius 6:24, “Tak seorangpun dapat
mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang
dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak
mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada
Mamon.” Oleh karenanya, Ibrani 13:5, “Janganlah kamu menjadi hamba uang
dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah
berfirman: ‘Aku sekali- kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali- kali
tidak akan meninggalkan engkau.’” Amin. Berjuanglah untuk mengumpulkan
harta di surga dan gunakan karunia yang telah Tuhan berikan untuk menjadi
berkat buat sesama. Amin.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yeremia 9-11
PB: 2 Petrus 3
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Pembacaan Alkitab: Mat. 2:2, 9
Doa baca: Mat. 2:9
Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka.
Lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba
dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.
Pada waktu kelahiran Yesus, terdapat suatu agama yang
disebut agama Yahudi. Agama Yahudi sangat mutlak untuk Alkitab. Namun hampir
tidak ada seorang pun dalam agama itu yang mengetahui bahwa Kristus telah
datang. Kita tidak menjumpai catatan dalam Perjanjian Baru yang menyatakan
bahwa beberapa di antara umat agama itu pergi untuk menemui Kristus.
Sebaliknya, tercatat bahwa beberapa orang majus (ahli perbintangan) datang
mencari Dia (2:1-12). Tentunya hal ini adalah inisiatif Allah, bukan mereka.
Allah memberi orang-orang Majus itu sebuah bintang yang
bersinar untuk memimpin mereka (2:2). Bintang ini tidak muncul di Tanah Kudus.
Ia tampil di hadapan orang-orang yang jauh, jauh dari negeri kudus, jauh dari
kota kudus, jauh dari Bait Suci dan agama kudus, jauh dari Kitab Suci, kaum
kudus, dan imam-imam kudus. Jauh dari semua benda-benda kudus ini, bintang
terang itu tampil di hadapan beberapa orang Majus di Timur. Cahaya bintang
terang ini menggerakkan orang-orang Majus ini terhadap Raja orang Yahudi. Saya
tidak tahu bagaimana orang-orang Majus ini digerakkan terhadap Raja orang
Yahudi, dan saya tidak mau menerka. Sudah terlalu banyak khayalan tentang
orang-orang Majus ini. Bagaimanapun, mereka datang dari Timur, Negeri Timur dan
mengetahui bahwa bintang itu menunjukkan Raja orang Yahudi.
Setelah orang-orang majus mengalami visi bintang surgawi
itu, mereka mendapat kesulitan. Kesulitan ini datang dari konsepsi alami
mereka. Orang-orang Majus ini nampak visi dan mengetahui bahwa itu menunjukkan
Raja orang Yahudi, mereka menduga bahwa mereka harus pergi ke Yerusalem, ibu
kota bangsa Yahudi, di mana Raja orang Yahudi diperkirakan ada (ayat 12).
Keputusan mereka pergi ke Yerusalem bukan datang dari terang bintang itu.
Yerusalem tempat yang keliru. Yerusalem, sebagai ibu kota dan kota tempat Bait
Suci berlokasi, bukan tempat terlahirnya Yesus. Teralihkannya orang-orang Majus
menyebabkan suatu masalah yang serius dan hampir-hampir mengakibatkan
terbunuhnya bayi Yesus. Jikalau bukan karena kedaulatan Allah, Yesus kecil itu
pasti akan terbunuh akibat kekeliruan mereka. Kesalahan mereka merenggut jiwa
banyak anak kecil (ayat 16-18).
Setelah orang-orang Majus pergi ke Yerusalem, tempat yang
keliru, mereka telah dibenarkan oleh Alkitab. Dari Alkitab mereka mengetahui
bahwa tempat yang benar ialah Betlehem, bukan Yerusalem (ayat 4-6). Ketika
orang-orang Majus dibenarkan oleh Alkitab, mereka meninggalkan Yerusalem dan
dipulihkan ke jejak yang benar; bintang itu pun muncul lagi (ayat 9). Visi yang
hidup selalu mengikuti Alkitab.
Namun, tidak ada seorang pun agamawan di Yerusalem yang
pergi dengan orang-orang Majus ke Betlehem. Ini sangat ganjil. Andaikata Anda
seorang imam di antara imam-imam itu, tidakkah Anda pergi bersama-sama
orang-orang majus itu untuk melihat apakah Yesus benar-benar dilahirkan di
Betlehem? Tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang pergi. Mereka telah
mengetahui dan mereka dapat memberi tahu orang lain bahwa Mesias akan
dilahirkan di Betlehem, namun tidak ada satu pun dari mereka yang pergi. Mereka
untuk pengetahuan Alkitab; mereka bukan untuk persona yang hidup, Mesias.
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 7.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 26 Oktober 2017. TUHAN MEMERLUKAN.
Bacaan: Markus 11:1-11. “Jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu
lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke
sini” (Markus 11:3). Seseorang yang berhasil membeli barang yang ia suka dengan
hasil jerih payahnya pasti akan bangga karena itu adalah miliknya yang sangat
berharga, lahir dari perjuangan yang tidak mudah. Saat orang mengetahui dan
bertanya: “milik siapa itu?” pastilah ia dengan yakin akan menjawab: “itu
milikku.” Secara tidak langsung, ia mengatakan barangnya itu bukan milik
siapa-siapa, tetapi miliknya. Barang hasil usahanya itu pasti akan dijaganya.
Ia tidak akan memberikannya kepada sembarang orang, bukan? Teks tentang kisah
Yesus di Yerusalem ini cukup menggelitik saya. Bayangkan, Yesus berpesan kepada
murid-Nya untuk mencari seekor keledai untuk ditunggangi (ay. 2, 7). Saat
menemukan keledainya, pasti banyak orang yang bertanya-tanya akan dibuat apakah
keledai itu? Murid-Nya hanya menyampaikan kepada mereka bahwa Tuhan memerlukan.
Jika keledai itu ada pemiliknya, bukankah pemiliknya kebingungan karena sikap
murid-Nya ini? Tetapi lihatlah respons mereka: Orang-orang itu membiarkan
mereka (ay. 6). Sungguh respons yang luar biasa. Mereka rela miliknya
dipersembahkan untuk Yesus. Berapa banyak barang yang menjadi milik kita yang
kita anggap berharga? Relakah kita memberikannya jika Tuhan memerlukannya? Harta
benda dan waktu-waktu pribadi kita sekalipun itu bisa diperlukan Tuhan. Tuhan
yang memberikannya dan Dia punya andil untuk meminta. Di saat kita rela, justru
Tuhan akan berjanji: “Ia akan mengembalikan” (ay. 3). BERIKANLAH APA YANG KITA
ANGGAP BERHARGA SAAT TUHAN MEMERLUKANNYA, PERCAYALAH TUHAN PASTI AKAN
MENGGANTINYA. Good morning. Jesus Christ blessed you. #LoveTheBible – Bacaan:
Yesaya 9-11 dan 2 Petrus 3.
Xavier Quentin Pranata
“Tidak semua hal bisa dilakukan dengan tergesa-gesah karena
ujungnya adalah gagal.” Xavier Quentin Pranata.
Ibu Caroline – Bandung
RENUNGAN PAGI: Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu
yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata; kami adalah hamba-hamba yang
tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan (Lukas 17:10).
Sudah terlalu sering demo buruh untuk menuntut hak terjadi di negara kita ini,
namun tidak sedikit pula buruh yang mengedepankan hak atau menuntut haknya,
tetapi mengabaikan kewajibannya. Tetapi bukan hanya buruh yang seringkali
menuntut haknya, para karyawan, juga anggota keluarga, suami atau isteri dan
tidak sedikit juga aktivis gereja. Memang tidak mudah untuk melayani orang
lain, apalagi menjadi atau bersikap sebagai hamba, lebih mudah bersikap sebagai
tuan atau boss yang dilayani. Prinsip pelayanan adalah bagaimana menyenangkan
hati tuannya, prinsip melayani Tuhan adalah menyenangkan hati Tuhan dan bukan
untuk mencari keuntungan atau kebesaran diri agar dihormati. Alkitab berkata,
“Barangsiapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi
pelayanmu dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia
menjadi hambamu.” Ketika kita bisa bersikap sebagai hamba, maka tidak ada
tempat bagi kesombongan, apalagi seperti yang dikatakan ayat di atas, kita
adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kita hanya melakukan apa yang harus kita
lakukan. Apabila kita dipercaya untuk mengambil bagian dalam pelayanan,
ingatlah itu sebagai “kepercayaan” yang diberikan Tuhan kepada kita, lakukanlah
dengan penuh tanggung jawab dan motivasi yang murni di hadapan Tuhan. Seorang
hamba tidak mengharapkan pujian, juga ucapan terima kasih, apalagi menuntut
kesetaraan status dengan tuannya. Seorang hamba harus memiliki kerendahan hati,
kesadaran bahwa dirinya tidak berguna dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa
tuannya, oleh karena itu kita harus melayani dengan kerendahan hati. Kita
seharusnya bersyukur apabila masih diberi kesempatan untuk melayani Raja segala
Raja, Tuhan Yesus Kristus. Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment