Thursday, 26 October 2017

26 Oktober 2017

BILLIONAIRE






Billionaire (19)
Matius 6:21, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Uang pada dasarnya tidak jahat, masalahnya bukan terletak pada apakah kita memiliki banyak uang/tidak? Tetapi pada keinginan untuk menjadi kaya dan cinta akan uang. Jika sekali kita tergoda untuk mencintai uang, kita tidak akan pernah merasa cukup dan makin lama akan semakin menjauh dari Tuhan. Jika tujuan kita dekat dengan Tuhan, maka pilihan kita tidak hanya mengejar kekayaan materi semata sebab di Matius 6:24, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Oleh karenanya, Ibrani 13:5, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali- kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali- kali tidak akan meninggalkan engkau.’” Amin. Berjuanglah untuk mengumpulkan harta di surga dan gunakan karunia yang telah Tuhan berikan untuk menjadi berkat buat sesama. Amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yeremia 9-11
PB: 2 Petrus 3

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD

Taswin Taruna – PT. Sayap Mas Utama, Jakarta
Pembacaan Alkitab: Mat. 2:2, 9
Doa baca: Mat. 2:9
Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

Pada waktu kelahiran Yesus, terdapat suatu agama yang disebut agama Yahudi. Agama Yahudi sangat mutlak untuk Alkitab. Namun hampir tidak ada seorang pun dalam agama itu yang mengetahui bahwa Kristus telah datang. Kita tidak menjumpai catatan dalam Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa beberapa di antara umat agama itu pergi untuk menemui Kristus. Sebaliknya, tercatat bahwa beberapa orang majus (ahli perbintangan) datang mencari Dia (2:1-12). Tentunya hal ini adalah inisiatif Allah, bukan mereka.
Allah memberi orang-orang Majus itu sebuah bintang yang bersinar untuk memimpin mereka (2:2). Bintang ini tidak muncul di Tanah Kudus. Ia tampil di hadapan orang-orang yang jauh, jauh dari negeri kudus, jauh dari kota kudus, jauh dari Bait Suci dan agama kudus, jauh dari Kitab Suci, kaum kudus, dan imam-imam kudus. Jauh dari semua benda-benda kudus ini, bintang terang itu tampil di hadapan beberapa orang Majus di Timur. Cahaya bintang terang ini menggerakkan orang-orang Majus ini terhadap Raja orang Yahudi. Saya tidak tahu bagaimana orang-orang Majus ini digerakkan terhadap Raja orang Yahudi, dan saya tidak mau menerka. Sudah terlalu banyak khayalan tentang orang-orang Majus ini. Bagaimanapun, mereka datang dari Timur, Negeri Timur dan mengetahui bahwa bintang itu menunjukkan Raja orang Yahudi.
Setelah orang-orang majus mengalami visi bintang surgawi itu, mereka mendapat kesulitan. Kesulitan ini datang dari konsepsi alami mereka. Orang-orang Majus ini nampak visi dan mengetahui bahwa itu menunjukkan Raja orang Yahudi, mereka menduga bahwa mereka harus pergi ke Yerusalem, ibu kota bangsa Yahudi, di mana Raja orang Yahudi diperkirakan ada (ayat 12). Keputusan mereka pergi ke Yerusalem bukan datang dari terang bintang itu. Yerusalem tempat yang keliru. Yerusalem, sebagai ibu kota dan kota tempat Bait Suci berlokasi, bukan tempat terlahirnya Yesus. Teralihkannya orang-orang Majus menyebabkan suatu masalah yang serius dan hampir-hampir mengakibatkan terbunuhnya bayi Yesus. Jikalau bukan karena kedaulatan Allah, Yesus kecil itu pasti akan terbunuh akibat kekeliruan mereka. Kesalahan mereka merenggut jiwa banyak anak kecil (ayat 16-18).
Setelah orang-orang Majus pergi ke Yerusalem, tempat yang keliru, mereka telah dibenarkan oleh Alkitab. Dari Alkitab mereka mengetahui bahwa tempat yang benar ialah Betlehem, bukan Yerusalem (ayat 4-6). Ketika orang-orang Majus dibenarkan oleh Alkitab, mereka meninggalkan Yerusalem dan dipulihkan ke jejak yang benar; bintang itu pun muncul lagi (ayat 9). Visi yang hidup selalu mengikuti Alkitab.
Namun, tidak ada seorang pun agamawan di Yerusalem yang pergi dengan orang-orang Majus ke Betlehem. Ini sangat ganjil. Andaikata Anda seorang imam di antara imam-imam itu, tidakkah Anda pergi bersama-sama orang-orang majus itu untuk melihat apakah Yesus benar-benar dilahirkan di Betlehem? Tetapi tidak ada satu pun di antara mereka yang pergi. Mereka telah mengetahui dan mereka dapat memberi tahu orang lain bahwa Mesias akan dilahirkan di Betlehem, namun tidak ada satu pun dari mereka yang pergi. Mereka untuk pengetahuan Alkitab; mereka bukan untuk persona yang hidup, Mesias.
Sumber: Pelajaran-Hayat Matius, Buku 1, Berita 7.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 26 Oktober 2017. TUHAN MEMERLUKAN. Bacaan: Markus 11:1-11. “Jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini” (Markus 11:3). Seseorang yang berhasil membeli barang yang ia suka dengan hasil jerih payahnya pasti akan bangga karena itu adalah miliknya yang sangat berharga, lahir dari perjuangan yang tidak mudah. Saat orang mengetahui dan bertanya: “milik siapa itu?” pastilah ia dengan yakin akan menjawab: “itu milikku.” Secara tidak langsung, ia mengatakan barangnya itu bukan milik siapa-siapa, tetapi miliknya. Barang hasil usahanya itu pasti akan dijaganya. Ia tidak akan memberikannya kepada sembarang orang, bukan? Teks tentang kisah Yesus di Yerusalem ini cukup menggelitik saya. Bayangkan, Yesus berpesan kepada murid-Nya untuk mencari seekor keledai untuk ditunggangi (ay. 2, 7). Saat menemukan keledainya, pasti banyak orang yang bertanya-tanya akan dibuat apakah keledai itu? Murid-Nya hanya menyampaikan kepada mereka bahwa Tuhan memerlukan. Jika keledai itu ada pemiliknya, bukankah pemiliknya kebingungan karena sikap murid-Nya ini? Tetapi lihatlah respons mereka: Orang-orang itu membiarkan mereka (ay. 6). Sungguh respons yang luar biasa. Mereka rela miliknya dipersembahkan untuk Yesus. Berapa banyak barang yang menjadi milik kita yang kita anggap berharga? Relakah kita memberikannya jika Tuhan memerlukannya? Harta benda dan waktu-waktu pribadi kita sekalipun itu bisa diperlukan Tuhan. Tuhan yang memberikannya dan Dia punya andil untuk meminta. Di saat kita rela, justru Tuhan akan berjanji: “Ia akan mengembalikan” (ay. 3). BERIKANLAH APA YANG KITA ANGGAP BERHARGA SAAT TUHAN MEMERLUKANNYA, PERCAYALAH TUHAN PASTI AKAN MENGGANTINYA. Good morning. Jesus Christ blessed you. #LoveTheBible – Bacaan: Yesaya 9-11 dan 2 Petrus 3.

Xavier Quentin Pranata
“Tidak semua hal bisa dilakukan dengan tergesa-gesah karena ujungnya adalah gagal.” Xavier Quentin Pranata.

Ibu Caroline – Bandung
RENUNGAN PAGI: Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata; kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan (Lukas 17:10). Sudah terlalu sering demo buruh untuk menuntut hak terjadi di negara kita ini, namun tidak sedikit pula buruh yang mengedepankan hak atau menuntut haknya, tetapi mengabaikan kewajibannya. Tetapi bukan hanya buruh yang seringkali menuntut haknya, para karyawan, juga anggota keluarga, suami atau isteri dan tidak sedikit juga aktivis gereja. Memang tidak mudah untuk melayani orang lain, apalagi menjadi atau bersikap sebagai hamba, lebih mudah bersikap sebagai tuan atau boss yang dilayani. Prinsip pelayanan adalah bagaimana menyenangkan hati tuannya, prinsip melayani Tuhan adalah menyenangkan hati Tuhan dan bukan untuk mencari keuntungan atau kebesaran diri agar dihormati. Alkitab berkata, “Barangsiapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Ketika kita bisa bersikap sebagai hamba, maka tidak ada tempat bagi kesombongan, apalagi seperti yang dikatakan ayat di atas, kita adalah hamba-hamba yang tidak berguna, kita hanya melakukan apa yang harus kita lakukan. Apabila kita dipercaya untuk mengambil bagian dalam pelayanan, ingatlah itu sebagai “kepercayaan” yang diberikan Tuhan kepada kita, lakukanlah dengan penuh tanggung jawab dan motivasi yang murni di hadapan Tuhan. Seorang hamba tidak mengharapkan pujian, juga ucapan terima kasih, apalagi menuntut kesetaraan status dengan tuannya. Seorang hamba harus memiliki kerendahan hati, kesadaran bahwa dirinya tidak berguna dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa tuannya, oleh karena itu kita harus melayani dengan kerendahan hati. Kita seharusnya bersyukur apabila masih diberi kesempatan untuk melayani Raja segala Raja, Tuhan Yesus Kristus. Selamat pagi, Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment