BILLIONAIRE
Billionare (5)
Matius 25:21, “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik
sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia
dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara
yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
Segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan. DIA
menghendaki kita menjadi hamba yang baik dan setia dalam mengelola apa yang
dipercayakanNya di tangan kita. Setiap kita tentu memiliki cara dan kebiasaan
yang berbeda-beda dalam menggunakan uang. Biasanya dipengaruhi oleh kepribadian
kita, nilai-nilai yang kita pegang dan kebiasaan dalam menggunakan uang dalam
keluarga kita. Kiranya setiap penggunaan uang kita dapat memuliakan Tuhan dan
menyatakan kasih-Nya untuk orang-orang yang sudah ditempatkan disekeliling
kita. Amin. Amsal 3:9a, “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu...” AMIN.
#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries
Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yesaya 39-40
PB: Ibrani 12
#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD
Bp. Peter – Worship Center Surabaya
MENGEJAR PENGENALAN AKAN TUHAN. Oleh Peter B, MA.
https://worshipcenterindonesia.blogspot.co.id/2017/10/mengejar-pengenalan-akan-tuhan.html
“Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal
TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan,
seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.” --Hosea 6:3
Dalam hidup yang singkat ini, ada orang yang menghabiskan
tahun-tahun hidupnya untuk memperoleh cinta. Dengan menjadikan dirinya pusat
perhatian. Atau sebaliknya, menjadikan orang lain sebagai fokus hidupnya. Yang
lain mencoba kemungkinan memperolehnya dengan menjalin hubungan kasih dengan
berbagai pribadi. Bergani-ganti pasangan, kawin cerai. Semua karena
pengembaraan demi cinta. Dan jika belum didapatkan pada lawan jenis, mereka
mencobanya dengan kaum sejenis. Semakin menyimpang dan sakit. Hanya demi
mendapatkan cinta.
Juga bukan suatu fakta yang baru apabila ada orang-orang
yang menyerahkan dirinya demi pengejaran akan uang. Mengumpulkan kekayaan
adalah pengejaran terbesar orang-orang ini. Dengan tak kenal lelah sepanjang
usia. Beberapa orang bahkan sangat terfokus akan ini sehingga tak memiliki
waktu hanya untuk sekedar menikmatinya. Mereka inilah yang meneliti serta
mendalami dengan seksama setiap seluk beluk bagaimana memperoleh keuntungan
materi.
Di sudut yang lain, ada orang-orang yang menjadikan ilmu
pengetahuan sebagai gairah terbesarnya. Jika peribahasa mengatakan supaya kita
menuntut ilmu sampai ke negeri Cina, mereka melanglang buana melintas
benua-benua untuk mencari kedalaman ilmu pengetahuan. Mereka menempuh berbagai
jenjang pendidikan. Gelar mereka berderet. Meski begitu hasrat mereka untuk
belajar belumlah terpadamkan.
Pengejaran manusia tidak terbatas itu saja. Ada yang seumur
hidup mengejar mimpi atau cita-citanya. Menjadi yang lebih baik dan terbaik di bidang
dan profesi mereka. Ada pula yang memboroskan hidup dengan pencarian akan
kesenangan, hobby, atau mencari kesempatan menjelajah dunia dan tempat-tempat
baru nan eksotik. Meski begitu, ada pula yang tidak terlalu berambisi mengejar
sesuatu. Hidup mereka cukup hanya demi mengejar suatu tingkat kemapanan belaka.
Tidak selalu harus dalam kelimpahan kekayaan, terkadang sekedar demi memperoleh
nafkah sehari-hari saja. Bisa jadi itu telah menjadi satu-satunya pengisi
hampir seluruh kehidupan seseorang.
Namun, di antara semua pengejaran yang dilakukan manusia,
adakah yang mengejar pengenalan akan Tuhan?
Dari 7 milyar orang di dunia, 85% mengaku beragama. Dan di
antara 85% yang beragam itu sekitar 30%nya adalah orang-orang Kristen. Berapa
banyakkah dari jumlah 2,2 milyar itu yang mengejar pengenalan akan Tuhan?
Adakah kita termasuk di dalam orang-orang yang mencari Tuhan? Hosea
menyampaikan pesan penting bagi umat Allah Israel, Allah di atas segala illah
itu: “Marilah kita mengenal TUHAN.”
Perkataan ini saja menunjukkan betapa banyak yang
mengabaikan pengenalan akan Tuhan. Banyak yang mengaku bertuhan namun ternyata
tak mengenal Tuhan. Mereka hanya tahu sedikit data tentang Tuhan mereka. Belum
tentu pula pengetahuan yang sedikit itupun tepat dan benar. Para sarjana
theologia saja belum tentu mengenal Tuhan dan jalan-jalanNya -- jika pikiran
mereka hanya dijejali informasi akan Tuhan. *Mengenal Tuhan berarti mengenal
Dia secara pribadi dan memiliki hubungan pribadi dengan Dia.* Memiliki
informasi serta pengertian lengkap tentang Tuhan yang diajarkan Alkitab bukan
serta merta mengenal Dia. Seluruh Israel hafal dan tahu akan taurat yang telah
diajarkan sejak kecil, namun, masih, Tuhan yang mereka sembah itu menjerit dan
menitipkan pesan melalui nabi-Nya: “Kenallah Aku! Mengapa kalian mengenal
apapun yang lain tetapi bukan Aku? Mengapa kamu tahu akan banyak hal dari dunia
ini tapi hanya sedikit saja memahami akan diri-Ku, Tuhan dan Penciptamu yang
mengasihimu ini?”
Ya. Sebenarnya patut kita renungkan “seberapa banyak kita
mengenal Dia yang telah membentuk dan menciptakan kita itu”. Salah satu nasihat
hikmat terbaik yang jarang kita perhatikan ialah “Ingatlah akan Penciptamu pada
masa mudamu… sebelum segala sesuatunya terlambat bagimu” (lihat Pengkhotbah
12:1).
Adakah kita tahu berbagai hal tentang Dia atau telah
mengenal-Nya secara pribadi? Apakah kita mengetahui dan menghafal
kalimat-kalimat ayat firman-Nya ataukah kita mengenal Dia sebagaimana layaknya
kita memiliki hubungan yang erat dengan suatu Pribadi? Adakah kita mengenal
suara dan kesukaan atau preferensi-preferensi-Nya seperti kita mengenal suara
dan kesukaan orang-orang yang dekat di hati kita? Apakah kita tahu pendapat dan
pikiran-Nya tentang kita secara pribadi? Dan apakah kita memahami apa yang
direncanakan-Nya dalam pikiran-Nya yang agung itu atas sepanjang keberadaan
kita?
Maukah kita jujur bahwa banyak yang mengaku mengenal Tuhan
namun tidak pernah benar-benar tahu siapa Dia sesungguhnya? Adakah kita rela
mengakui betapa sedikitnya kita mengenal Dia? Terpikirkah kita bahwa Ia layak
dikenal dan dikenal lebih lagi? Siapakah yang tidak ingin mengenal pribadi
terbaik dan paling penuh kasih itu? Ia yang telah berbuat baik bahkan
menyerahkan nyawa Anak-Nya demi menebus kita dari kematian- lebih dari
keinginan untuk mengenal lebih dekat manusia-manusia lain yang tak pernah
berbuat sesuatupun bagi kita, semenarik apapun keberadaan mereka? Bukankah mata
hati kita tertutup dan jiwa kita sesat jika kita tidak merindukan untuk bergaul
dengan Dia?
Dan sesungguhnya tidak hanya itu. Hosea menambahkan,
“Marilah kita mengenal dan BERUSAHA SUNGGUH-SUNGGUH MENGENAL TUHAN”. Frasa yang
diterjemahkan dalam Alkitab Terjemahan Baru Indonesia sebagai “berusaha
sungguh-sungguh” sesungguhnya memiliki arti “mengejar”. Yang jika digabungkan
dengan seluruh kalimat berarti “kita diperintahkan bukan hanya untuk mengenal
Tuhan tapi juga untuk MENGEJAR PENGENALAN akan Dia”.
Inilah suatu pengejaran yang mulia dan layak dalam hidup.
Untuk mengenal Pribadi sempurna pencipta semesta. Ia sendiri yang memanggil dan
membuka diri-Nya untuk dikenali manusia ciptaaan-Nya. Adakah yang rindu
mengenal Dia sehingga menjadikan pengenalan pribadi akan Tuhan sebagai hasrat
terbesar sepanjang hidup?
Ini pun suatu perburuan yang tidak akan sia-sia. Pencarian
yang tidak pernah mengecewakan sebab Tuhan mengganjar mereka dengan berbagai
hal yang tak ternilai bagi kita selama di dunia. Demikian Salomo menuliskan
berkat dari pengejaran Hikmat yang tiada lain merupakan pengejaran akan Tuhan
sendiri:
“(Jikalau).. telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau
mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada
pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya
seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka
engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat
pengenalan akan Allah. Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur,
menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya, sambil menjaga jalan
keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. Maka engkau akan
mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang
baik. Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan
menyenangkan jiwamu; kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan
menjaga engkau” (Amsal 2:2-5, 7-11).
Tuhan sendirilah yang akan menjadi penolong, penuntun,
penjaga serta yang menjadi pembawa kita melalui hidup yang sekarang hingga
hidup yang akan datang dengan selamat! Lebih dari semuanya, “inilah suatu
panggilan untuk memiliki hidup yang bermakna”. Untuk mengenal Pribadi yang
terbaik, termulia, agung, kudus serta penuh kasih itu. Untuk bergaul dan
menjalin hubungan terbesar dari yang pernah terjadi dalam hidup seseorang.
Untuk dikasihi dan dimampukan mengasihi-Nya. Untuk berjalan bersama-Nya
sepanjang hidup yang sementara di dunia.
Alasan terbesar mengapa Tuhan menyampaikan pesan nubuat ini
melalui nabi-Nya ialah karena Ia tahu akan kebodohan kita. Akan keengganan
manusia untuk mengenal Dia. Juga Ia mengerti dengan jelas rasa puas diri yang
kerap menipu pikiran kita yang menyangka kita telah cukup mengenal Dia, yang
sesungguhnya tidak pernah benar-benar mengejar pengenalan akan Dia dalam hidup.
Kita perlu diingatkan dan diingatkan lagi supaya tidak keluar dari jalur
kehidupan sejati yang seharusnya kita jalani dengan setia. Dia tahu kita mudah
dialihkan dan mengalihkan perhatian pada pengejaran-pengejaran yang lain, yang
lebih rendah dari yang semestinya. Yang adalah pengejaran-pengejaran kurang
berharga yang ditawarkan iblis tiada henti selagi kita menjalani tahun-tahun
kehidupan kita. Tuhan sangat paham bahwa jika kita lalai untuk mengejar Dia,
kita akan menyimpang kembali pada jalan kesesatan dan kebinasaan.
Tidak cukupkah semua alasan ini menyadarkan kita untuk
memulai pengejaran untuk mengenal Tuhan dan memulai pengejaran paling menarik
dan mendebarkan yang bisa dilakukan manusia? Akankah kita memilih kebodohan
dengan tetap tidak mengusahakan sungguh-sungguh pengenalan akan Tuhan di hidup
kita?
Kita akan belajar lebih lagi mengenai tanda-tanda apakah
kita telah mengejar pengenalan akan Tuhan dalam hidup kita serta bagaimana
melakukannya dalam tulisan-tulisan selanjutnya.
Untuk saat ini, marilah kita mengakui kebodohan dan
ketakpedulian kita akan Tuhan, yang menjadikan pengejaran-pengejaran yang lain
menjadi lebih utama daripada mengejar pribadi-Nya. Semoga kita masih beroleh
kasih karunia untuk melakukannya di masa-masa yang tersisa dari kehidupan kita.
“Yang kukehendaki ialah MENGENAL DIA…” -- Paulus, rasul Kristus (Filipi 3:10).
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 12 Oktober 2017. POHON SEPERTI APA?
Bacaan: Mazmur 128:1-6. “...anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling
mejamu. Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan
TUHAN” (Mazmur 128:3-4). Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tentu, keberlakuan
pepatah itu bukan tanpa syarat. Jika pohon itu tumbuh di lereng yang terjal,
atau mencangkung di atas sungai yang deras, kisahnya pasti berbeda. Tetapi di
lahan datar, dalam situasi normal, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Pepatah
itu mau mengatakan bahwa jika tak ada hal yang memantik perkecualian, karakter
dan perilaku anak-anak akan sangat dipengaruhi oleh -dan karenanya tak akan
jauh dari- karakter dan perilaku orangtua mereka. Mazmur 128 tak hendak
menafikan peran ibu. Dengan ungkapan yang lazim kala itu, Pemazmur menyatakan
bahwa dari dalam keluarga akan hadir anak-anak yang “seperti tunas pohon
zaitun” (ay. 3b)-yakni anak-anak yang baik, tunas harapan bagi kehidupan, yang
menjadi berkat bagi sesama- tetapi dengan satu catatan penting: jika mereka
tumbuh dalam asuhan orangtua yang “takut akan Tuhan” (ay. 4). Mazmur 128 hendak
mengatakan bahwa dari orangtua yang konsisten menjaga kesucian hidup, tumbuh
anak-anak yang menghormati nilai-nilai luhur. Dari orangtua yang pemurah dan
bersikap welas asih, tumbuh anak-anak yang penuh kepedulian dan cinta kasih.
Dari orangtua yang tidak membeda-bedakan sesama, tumbuh anak-anak yang
egaliter. Dari orangtua yang menghormati perbedaan, tumbuh anak-anak yang
toleran. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Peran dan kualitas kita sebagai
orangtua ternyata menentukan iman dan karakter anak-anak kita. Maka sungguh,
kita patut mengerti kita harus menjadi pohon yang seperti apa. ANAK-ANAK
BELAJAR DARI KEHIDUPAN YANG DIALAMINYA --DOROTHY LAW NOLTE. Selamat pagi. Tuhan
Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yesaya 39-40 dan Ibrani 12.
Xavier Quentin Pranata
“Ada rasa hangat yang mengalir di dada kala kita bisa
berbagi berkat bagi sesama.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:
Post a Comment