Wednesday, 18 October 2017

18 Oktober 2017

BILLIONAIRE






Billionaire (11)
Markus 12:43-44, 43Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.’”

Kisah dari pemberian seorang janda memang berfokus pada uang. Tetapi apapun pemberian kita dapat menjadi ungkapan ketaatan dan penyembahan kita kepadaNya. Janda itu menghormati Allah dengan memberi persembahan yang tulus, penuh pengorbanan dari apapun yang dia punya. Ketika kita memberikan yang terbaik kepada Tuhan,apa motivasi kita? Apakah dengan pamrih supaya Tuhan memberkati kita lebih? Atau Persembahan kita persembahan yang penuh pengorbanan (karena sudah tidak ada lagi yang dimiliki)? Terima kasih Tuhan, beri kami hatiMu untuk bisa memberikan persembahan yang terbaik dengan motivasi yang benar bahwa kami mengasihiMu, amin.

#BibleMessages
#BuildingABetterYou
#BillionareSeries

Note:
Jangan lewatkan Pembacaan Alkitab kita hari ini:
PL: Yesaya 53-55
PB: Yakobus 5

#LoveGod
#LovePeople
#LoveTheBlble
#IMLoveD

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 18 Oktober 2017. KOPI DAN GULA. Bacaan: Lukas 17:7-10. “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan” (Lukas 17:10). Jika kopi terlalu pahit, gula disalahkan karena terlalu sedikit. Jika kopi terlalu manis, gula juga disalahkan karena terlalu banyak. Jika takaran kopi dan gula seimbang, orang memuji: kopinya mantap. Namun, bila berhubungan dengan penyakit, barulah disebut penyakit gula. Nasib gula mirip dengan keadaan seorang hamba. Hamba melakukan tugasnya tanpa popularitas, pujian, penghargaan (ay. 7-8), dan ucapan terima kasih (ay. 9). Pelayanannya tidak diperhitungkan sebagai jasa (ay. 10). Seorang budak atau hamba adalah orang yang telah dibeli. Ia menjadi milik tuannya. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar (1Kor. 6:20, 7:23). Berarti kita adalah milik Tuhan, hamba Tuhan. Dalam konteks pelayanan, kita menempatkan diri sebagai hamba. Kita menjalankan pelayanan dengan bersyukur bahwa kita dilayakkan dan diberi kehormatan untuk mengabdi kepada Tuhan. Kita melakukan segala sesuatu bukan untuk manusia, melainkan untuk Tuhan. Sebagai hamba Tuhan, kita tidak perlu marah dan kecewa bila tidak ada orang yang mengingat nama kita, tidak ada orang yang memperhitungkan dan menghargai pelayanan kita. Sebaliknya, orang bisa jadi malah menyalahkan pelayanan dan pengorbanan yang sudah kita lakukan. Bukan berarti kita membiarkan diri ditindas atau diperlakukan tidak adil, melainkan-seperti teladan Yesus-kita rela melepaskan hak dan kepentingan pribadi demi menaati kehendak Tuhan dan mendatangkan kesejahteraan bagi sesama. KITA MELAYANI BUKAN UNTUK MENDAPATKAN PENGHARGAAN DARI MANUSIA, MELAINKAN SEBAGAI UNGKAPAN RASA SYUKUR ATAS ANUGERAH TUHAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati. #LoveTheBible – Bacaan: Yesaya 53-55 dan Yakobus 5.

No comments:

Post a Comment