Sunday, 9 October 2016

9 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Mentaati Firman Tuhan. Amsal 3:9-10, 9Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, 10maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.” Belajar menjadi PELAKU Firman untuk yang satu ini, yang berkaitan dengan “keuangan kita” apakah mudah ? Sanggupkah kita “memberi” kepada Tuhan seluruh penghasilan kita yang pertama kali kita dapat kan saat bekerja? Pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan, yang membuat saya pribadi sampai dengan saat ini bisa melakukan “bagian” yang harus kita lakukan. Pertama kali bekerja sewaktu masih menjadi mahasiswi di tahun 1983, tentunya sangat senang bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan Pertama dari hasil kita bekerja tersebut. Saya percaya: “pekerjaan” yang saya dapat waktu itu adalah pekerjaan yang sudah Tuhan bukakan jalan, yang diberi oleh Tuhan sendiri, oleh karenanya saya mau BELAJAR TAAT untuk memberikan seluruh penghasilan itu sebagai “Buah Sulung” . Puji Tuhan apa yang saya lakukan itu adalah “latihan-latihan kecil yang membuat saya bisa melakukannya sampai dengan saat ini.” Amin. Apakah kita sudah melakukan dengan setia apa yang menjadi bagian kita? Kalau kita TAAT dan SETIA dengan bagian yang harus kita lakukan maka DIA, Tuhan yang terlebih SETIA kepada kita PASTI memberkati kita dengan apa yang kita butuhkan . Amin.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggul
Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya (Matius 25:13). Suatu kali, Washington Post mengingatkan tentang insiden tragis yang dialami kapal Titanic. Di ruang kendali, petugas sedang sibuk menjalankan tugasnya. Telepon berdering. Satu menit berlalu. Pada menit kedua, si petugas tak mau diganggu karena terlalu sibuk. Menit ketiga pun berlalu sangat cepat. Setelah si petugas selesai dengan tugasnya, barulah ia mengangkat telepon yang pesannya berbunyi, “Ini tempat pengintai pada haluan kapal. Gunung es persis di depan! Putar haluan!” Dengan cepat si petugas ke ruang kendali, tetapi terlambat! “Kebanggaan segala lautan” itu menabrak gunung es & menewaskan 1.600 jiwa. Andai si petugas menanggapi telepon itu, mungkin film Titanic tak perlu dibuat. Tiga kesempatan dilewatkan & ketika hendak menanggapi panggilan itu, ia sudah terlambat! Hal yang sama kerap dilakukan banyak anak Tuhan saat mendengar suaraNya. Kebanyakan dari kita sebenarnya sudah mendengar jelas apa yang menjadi peringatan & kehendak Tuhan, tetapi kerap kali kita meremehkan semuanya itu. Bila kesempatan itu ternyata merupakan yang terakhir, maka jika kita tidak serius menanggapinya, bisa-bisa kita pun akan “tenggelam”. Firman Tuhan mengingatkan kita agar selalu berjaga-jaga. Jika tidak demikian, bisa-bisa kita mengabaikan kesempatan yang Tuhan berikan -- kesempatan untuk bertobat, untuk melakukan kehendak-Nya, untuk melayani-Nya, atau yang lainnya. Begitu juga dengan kisah lima gadis bodoh & lima gadis bijaksana dalam bacaan kita adalah bahwa yang bijaksana selalu berjaga-jaga, sementara yang bodoh terlambat menjaga minyaknya. So, jangan terlambat merespon Firman Tuhan sahabatku. Saat kita melewatkan kesempatan dari Allah, berarti ada kemungkinan bagi kita untuk TERLAMBAT.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 9 Oktober 2016. DITAWAN KASIH YESUS. Siapa yang tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Dwight L. Moody dalam buku The Way to God menulis tentang kasih: “Jika saja saya bisa membuat orang-orang mengerti kata-kata rasul Yohanes bahwa Allah adalah kasih, saya akan mengambil ayat itu saja dan pergi naik-turun di dunia ini memberitakan kebenaran agung ini. Jika Anda bisa meyakinkan seseorang bahwa Anda mengasihinya, Anda telah memenangkan hatinya. Jika Anda benar-benar bisa membuat orang banyak percaya bahwa Allah mengasihi mereka, Anda akan menemukan mereka berdesak-desakan datang ke dalam kerajaan Allah.” Orang di dunia ini sangat menghargai dan sangat mendambakan kasih. Salah satu alasan orang bunuh diri ialah karena mereka berpikir tidak ada seorang pun yang mengasihi mereka, dan lebih baik mereka mati daripada hidup tanpa kasih. Allah menjawab kebutuhan manusia akan kasih ini. Setelah kejatuhan Adam dan Hawa pun, Allah terus meyakinkan manusia bahwa Dia mengasihi kita dengan kasih yang kekal (lht. Yeremia 31:3). Sayangnya, tidak jarang kita diajari bahwa Allah tidak mengasihi kita apabila kita berbuat salah-Allah hanya mengasihi kita jikalau kita berbuat yang benar. Padahal, walaupun kita menjauhkan diri dari Allah, Dia tetap mengasihi kita. Yang Dia benci adalah dosa, yang merusak kita. Kadang-kadang kita mengukur Allah dengan ukuran kita sendiri, dari sudut pandang kita, yang sempit. Tetapi, ukuran kasih Allah yang benar adalah Golgota. Salib itu berteriak kepada kita bahwa “Allah adalah Kasih”. Kasih inilah yang bisa menawan hati kita yang paling dalam. GAMBARAN ALLAH YANG PALING SEDERHANA DAN PALING MENDASAR ADALAH “ALLAH ITU KASIH”. Selamat pagi. Selamat Hari Minggu. Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment