BILLIONAIRE
Mengelola
Uang dan Mengelola Hati (1 Timotius 6:10).
Siapa yang tidak butuh uang?
Semua orang pasti membutuhkannya, termasuk saya .
Seringkali uang menjadi ukuran status sosial seseorang, makin besar
jumlah uang yang dimilki maka orang tersebut dipandang “kaya dan
terhormat” demikian juga sebaliknya. Banyak orang terjerat akan
“Cinta Uang”, uang menjadi segala-galanya dalam hidup. Uang bisa
menjadikan seseorang bahagia dan berarti dalam hidupnya .
Firman Tuhan mengingatkan kita semua: Karena
akar segala kejahatan ialah CINTA UANG. Sebab oleh memburu uanglah
beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan
berbagai-bagai duka
(1 Tim 6:10). Untuk belajar mengelola uang, pertama-tama kita perlu
belajar mengelola HATI .
Bagaimana SIKAP HATI kita sesungguhnya kepada Tuhan. Apakah CINTA
kita kepada TUHAN sudah dikalahkan oleh CINTA kita kepada UANG?
untuk itu kita perlu hidup SEMAKIN DEKAT kepadaNya agar kita memiliki
“Kepekaan dan Hikmat” dalam mengelola uang kita. Uang TIDAK DAPAT
membeli KESELAMATAN, tetapi kita dapat MEMAKAI UANG kita untuk
hal-hal yang BERNILAI KEKAL. Amin.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya
amin! Iya saya juga pasti memilih hati yang cinta akan Tuhan, tetapi
apakah sudah sesungguhnya, saya betul-betul punya hati yang lebih
mencintai Tuhan, Roh Kudus menegaskan, sebelum kita bebas dari
ketegangungan terhadap mamon, selama ini kita masih berpikir dan
percaya, bahwa uang jamin masa depan, dengan uang kita dapat
melakukan banyak hal, dan uang menjadi prioritas kehidupan kita.
Pikiran-pikiran dan keyakinan tersebut sesungguhnya sedang
memposisikan kita menyembah dua tuan. Dan yang pasti kita menjadi
lebih setia kepada mamon. Oleh karenanya kita harus selaraskan hidup
kita dengan agenda Tuhan. Kita memilih yang terpenting untuk
kehidupan yang kekal, karena cinta Tuhan adalah kehidupan yang kekal.
Semua yang di dunia akan kita tinggalkan. Kita perlu hanya bersama
Tuhan itulah tujuan hidup kita. Amin. Mari kita doakan
saudara-saudara kita, biarlah roh cinta akan Tuhan ada dalam
kehidupan mereka. Amin...! Happy Tuesday and JBU all.
Xavier
Quentin Pranata
“Standar
ganda terjadi saat yang membuat peraturan merasa tidak perlu
melakukannya.” Xavier Quentin Pranata.
Ibu
Caroline – Bandung
[RENUNGAN
HARIAN]. Selasa, 11 Oktober 2016. Bacaan: Roma 12:9-21. Setahun:
Matius 25-26. Nas: ...dan menangislah dengan orang yang menangis!
(Roma 12:15) Bersyukur dan Berempati. Sebuah keluarga
menyelenggarakan ibadah syukur di rumah baru mereka. “Rumah ini
kami dapatkan dengan harga istimewa, jauh di bawah harga yang lazim,”
kata tuan rumah. “Itulah sebabnya kami bersyukur”. Belakangan,
kisah lengkapnya muncul: Karena tertimpa musibah, pemiliknya
tertimbun utang. Menjual rumah menjadi satusatunya pilihan. Tetapi,
semua menawar di bawah harga yang lazim. Karena situasinya
benar-benar darurat, rumah itu dilepas, dengan harga jauh di bawah
normal. Syukur adalah ungkapan pengakuan dan penghormatan kepada
Tuhan bahwa semua yang kita dapatkan adalah hal-hal yang baik.
Tiadanya syukur menandai tiadanya pengakuan maupun penghormatan itu.
Namun, asal bersyukur-tanpa menimbang secara menyeluruh-bisa menjadi
kekeliruan serius. Kisah di atas patut direnungkan. Katakanlah, dana
keluarga itu terbatas, dan tak ada niat memanfaatkan kesulitan
sesama. Namun, mereka pasti mengetahui bahwa harga "istimewa"
itu ada karena pemilik tertimpa musibah. Pertanyaannya, patutkah kita
bersyukur atas sesuatu yang kita tahu kita dapatkan dari kemalangan
sesama? Bolehkah sesuatu yang berasal dari kemalangan sesama kita
terima sebagai hal baik yang patut kita syukuri? Bacalah Roma 12:15b.
Apakah artinya bagi urusan bersyukur? Syukur harus bergandengan erat
dengan empati dan kasih kepada sesama. Empati dan kasih harus menjadi
patokan ketika kita menakar apakah hal yang kita dapatkan adalah
sesuatu yang baik dan patut disyukuri. RASA SYUKUR YANG SEJATI TIDAK
TERPISAHKAN DARI KASIH DAN EMPATI PADA SESAMA.

No comments:
Post a Comment