Tuesday, 11 October 2016

11 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Mengelola Uang dan Mengelola Hati (1 Timotius 6:10). Siapa yang tidak butuh uang? Semua orang pasti membutuhkannya, termasuk saya . Seringkali uang menjadi ukuran status sosial seseorang, makin besar jumlah uang yang dimilki maka orang tersebut dipandang “kaya dan terhormat” demikian juga sebaliknya. Banyak orang terjerat akan “Cinta Uang”, uang menjadi segala-galanya dalam hidup. Uang bisa menjadikan seseorang bahagia dan berarti dalam hidupnya . Firman Tuhan mengingatkan kita semua: Karena akar segala kejahatan ialah CINTA UANG. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka (1 Tim 6:10). Untuk belajar mengelola uang, pertama-tama kita perlu belajar mengelola HATI . Bagaimana SIKAP HATI kita sesungguhnya kepada Tuhan. Apakah CINTA kita kepada TUHAN sudah dikalahkan oleh CINTA kita kepada UANG? untuk itu kita perlu hidup SEMAKIN DEKAT kepadaNya agar kita memiliki “Kepekaan dan Hikmat” dalam mengelola uang kita. Uang TIDAK DAPAT membeli KESELAMATAN, tetapi kita dapat MEMAKAI UANG kita untuk hal-hal yang BERNILAI KEKAL. Amin.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin! Iya saya juga pasti memilih hati yang cinta akan Tuhan, tetapi apakah sudah sesungguhnya, saya betul-betul punya hati yang lebih mencintai Tuhan, Roh Kudus menegaskan, sebelum kita bebas dari ketegangungan terhadap mamon, selama ini kita masih berpikir dan percaya, bahwa uang jamin masa depan, dengan uang kita dapat melakukan banyak hal, dan uang menjadi prioritas kehidupan kita. Pikiran-pikiran dan keyakinan tersebut sesungguhnya sedang memposisikan kita menyembah dua tuan. Dan yang pasti kita menjadi lebih setia kepada mamon. Oleh karenanya kita harus selaraskan hidup kita dengan agenda Tuhan. Kita memilih yang terpenting untuk kehidupan yang kekal, karena cinta Tuhan adalah kehidupan yang kekal. Semua yang di dunia akan kita tinggalkan. Kita perlu hanya bersama Tuhan itulah tujuan hidup kita. Amin. Mari kita doakan saudara-saudara kita, biarlah roh cinta akan Tuhan ada dalam kehidupan mereka. Amin...! Happy Tuesday and JBU all.

Xavier Quentin Pranata
Standar ganda terjadi saat yang membuat peraturan merasa tidak perlu melakukannya.” Xavier Quentin Pranata.

Ibu Caroline – Bandung
[RENUNGAN HARIAN]. Selasa, 11 Oktober 2016. Bacaan: Roma 12:9-21. Setahun: Matius 25-26. Nas: ...dan menangislah dengan orang yang menangis! (Roma 12:15) Bersyukur dan Berempati. Sebuah keluarga menyelenggarakan ibadah syukur di rumah baru mereka. “Rumah ini kami dapatkan dengan harga istimewa, jauh di bawah harga yang lazim,” kata tuan rumah. “Itulah sebabnya kami bersyukur”. Belakangan, kisah lengkapnya muncul: Karena tertimpa musibah, pemiliknya tertimbun utang. Menjual rumah menjadi satusatunya pilihan. Tetapi, semua menawar di bawah harga yang lazim. Karena situasinya benar-benar darurat, rumah itu dilepas, dengan harga jauh di bawah normal. Syukur adalah ungkapan pengakuan dan penghormatan kepada Tuhan bahwa semua yang kita dapatkan adalah hal-hal yang baik. Tiadanya syukur menandai tiadanya pengakuan maupun penghormatan itu. Namun, asal bersyukur-tanpa menimbang secara menyeluruh-bisa menjadi kekeliruan serius. Kisah di atas patut direnungkan. Katakanlah, dana keluarga itu terbatas, dan tak ada niat memanfaatkan kesulitan sesama. Namun, mereka pasti mengetahui bahwa harga "istimewa" itu ada karena pemilik tertimpa musibah. Pertanyaannya, patutkah kita bersyukur atas sesuatu yang kita tahu kita dapatkan dari kemalangan sesama? Bolehkah sesuatu yang berasal dari kemalangan sesama kita terima sebagai hal baik yang patut kita syukuri? Bacalah Roma 12:15b. Apakah artinya bagi urusan bersyukur? Syukur harus bergandengan erat dengan empati dan kasih kepada sesama. Empati dan kasih harus menjadi patokan ketika kita menakar apakah hal yang kita dapatkan adalah sesuatu yang baik dan patut disyukuri. RASA SYUKUR YANG SEJATI TIDAK TERPISAHKAN DARI KASIH DAN EMPATI PADA SESAMA.

No comments:

Post a Comment