Sunday, 30 October 2016

30 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Malaekhi 3:10, “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Perpuluhan jelas dicatat dalam Alkitab bukan karena Tuhan kekurangan sesuatu dan membutuhkan pemberian kita. Tuhan adalah Tuhan yang MEMILKI SEGALA SESUATU, terlepas dari nominal pemberian kita. Yang lebih penting adalah HATI yang TAAT, HATI yang mau MENGASIHI dan HATI yang MENGANDALKAN DIA. Belajar “memberi” akan menolong kita untuk senantiasa “bersyukur”, dengan bersyukur akan menolong kita agar tidak lupa bahwa pemilik “segala sesuatu” adalah Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita memiliki HATI yang sungguh-sungguh mencintai dan mengandalkan DIA. Kiranya pemberian kita mengalir dari Hati yang Bersyukur, hati yang mau mentaati firmanNya. Amin :).

Xavier Quentin Pranata
Cara terbaik untuk mengisi hidup adalah menjalaninya.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu, 30 Oktober 2016. DEMI MASA DEPAN. Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya (Amsal 19:18). Salah satu karakter penting yang patut ditanamkan kepada seorang anak adalah kedisiplinan. Saya menerapkannya kepada anak saya salah satunya dengan sistem hadiah dan hukuman. Jika anak saya melakukan suatu pekerjaan yang baik dan berguna, ia akan diberi sejumlah nilai. Sebaliknya, jika melakukan perbuatan nakal atau merugikan orang lain, nilainya akan dikurangi. Nilai ini ditulis di papan tulis di ruangan terbuka agar anak mudah melihatnya. Jika anak telah mengumpulkan nilai dalam jumlah tertentu berdasar kesepakatan, ia dapat menukarkan nilainya itu dengan hadiah sesuai dengan keinginannya. Sederhana, tetapi cara itu terbukti efektif bagi anak kami untuk mendorongnya mendisiplinkan diri. Dalam Amsal 19:18 memang disebutkan bahwa kita sebagai orangtua diizinkan menghajar anak kita untuk mendisiplinkannya. Tentu saja, harus dengan porsi dan dalam situasi yang semestinya sehingga tidak sampai melukai perasaan anak kita dan membuat tawar hatinya (Kol. 3:21). Dalam tradisi Yahudi kuno, beberapa hukuman dari melanggar Taurat berakibat hukuman mati. Untuk itulah ayat ini dituliskan, dengan tujuan mengingatkan orangtua pada zaman itu agar mendisiplin anaknya sehingga pada saat dewasa nanti jangan sampai mereka melanggar Taurat yang ujungnya membawa pada kematian. Bagaimana menerapkannya pada konteks zaman sekarang? Alkitab BIS menunjukkan bahwa jika kita gagal mendisiplinkan anak kita, hal itu akan membawa pada kehancuran. Kehancuran apa? Kehancuran masa depannya. MENDISIPLIN ANAK DI DALAM TUHAN MENGHANTARKAN ANAK KITA PADA SEBUAH PENGHARAPAN AKAN MASA DEPAN YANG CERAH. Selamat pagi. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment