BILLIONAIRE
Malaekhi
3:10, “Bawalah seluruh
persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya
ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN
semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap
langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”
Perpuluhan jelas dicatat dalam Alkitab bukan karena Tuhan kekurangan
sesuatu dan membutuhkan pemberian kita. Tuhan adalah Tuhan yang
MEMILKI SEGALA SESUATU, terlepas dari nominal pemberian kita. Yang
lebih penting adalah HATI yang TAAT, HATI yang mau MENGASIHI dan HATI
yang MENGANDALKAN DIA. Belajar “memberi”
akan menolong kita untuk senantiasa “bersyukur”,
dengan bersyukur akan menolong kita agar tidak lupa bahwa pemilik
“segala sesuatu”
adalah Tuhan. Kiranya Tuhan menolong kita memiliki HATI yang
sungguh-sungguh mencintai dan mengandalkan DIA. Kiranya pemberian
kita mengalir dari Hati yang Bersyukur, hati yang mau mentaati
firmanNya. Amin :).
Xavier
Quentin Pranata
“Cara
terbaik untuk mengisi hidup adalah menjalaninya.” Xavier Quentin
Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Minggu, 30 Oktober 2016. DEMI MASA DEPAN. Hajarlah anakmu
selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya
(Amsal 19:18). Salah satu karakter penting yang patut ditanamkan
kepada seorang anak adalah kedisiplinan. Saya menerapkannya kepada
anak saya salah satunya dengan sistem hadiah dan hukuman. Jika anak
saya melakukan suatu pekerjaan yang baik dan berguna, ia akan diberi
sejumlah nilai. Sebaliknya, jika melakukan perbuatan nakal atau
merugikan orang lain, nilainya akan dikurangi. Nilai ini ditulis di
papan tulis di ruangan terbuka agar anak mudah melihatnya. Jika anak
telah mengumpulkan nilai dalam jumlah tertentu berdasar kesepakatan,
ia dapat menukarkan nilainya itu dengan hadiah sesuai dengan
keinginannya. Sederhana, tetapi cara itu terbukti efektif bagi anak
kami untuk mendorongnya mendisiplinkan diri. Dalam Amsal 19:18 memang
disebutkan bahwa kita sebagai orangtua diizinkan menghajar anak kita
untuk mendisiplinkannya. Tentu saja, harus dengan porsi dan dalam
situasi yang semestinya sehingga tidak sampai melukai perasaan anak
kita dan membuat tawar hatinya (Kol. 3:21). Dalam tradisi Yahudi
kuno, beberapa hukuman dari melanggar Taurat berakibat hukuman mati.
Untuk itulah ayat ini dituliskan, dengan tujuan mengingatkan orangtua
pada zaman itu agar mendisiplin anaknya sehingga pada saat dewasa
nanti jangan sampai mereka melanggar Taurat yang ujungnya membawa
pada kematian. Bagaimana menerapkannya pada konteks zaman sekarang?
Alkitab BIS menunjukkan bahwa jika kita gagal mendisiplinkan anak
kita, hal itu akan membawa pada kehancuran. Kehancuran apa?
Kehancuran masa depannya. MENDISIPLIN ANAK DI DALAM TUHAN
MENGHANTARKAN ANAK KITA PADA SEBUAH PENGHARAPAN AKAN MASA DEPAN YANG
CERAH. Selamat pagi. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment