Tuesday, 25 October 2016

25 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Matius 7:6, “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.” Bagaimana kita mengikut Tuhan selama ini! Sepenuh hati atau setengah-tengah? Kembali pada masalah uang, cara kita mengelola uang harusnya dapat membawa orang yang melihatnya makin hormat dan kagum terhadap Tuhan kita, bukannya malah membuat malu :(. Berapapun yang Tuhan percayakan kepada kita saat ini, mari kita kelola sebaik mungkin. Tidak mudah, namun harus berjuang dengan penuh semangat! Ada hal-hal mulia yang telah Tuhan sediakan bagi setiap hidup kita yang mau setia dan bijak dlm hal-hal yang kecil dan sederhana. Amin.

Ibu Caroline – Bandung
[RENUNGAN HARIAN]. Selasa, 25 Oktober 2016. Bacaan: Yohanes 13:1-20. Setahun: Lukas 10-11. Nas: Jadi jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu (Yohanes 13:14). Pemimpin yang Melayani. Dalam suatu pertemuan bisnis, seorang atasan memerintahkan salah satu bawahannya membuatkan kopi baginya dan tamunya. Di dapur, si bawahan mengeluh pada rekannya. Ia merasa tersinggung diperintah seperti itu. Rekannya menjawab, “Lalu apa seharusnya si bos yang membuatkan kopi untuk kamu dan tamu itu?” Ya, begitulah yang normal, bukan? Seorang bawahan melayani atasannya, dan bukan sebaliknya. Itu sebabnya, tindakan Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya sangatlah janggal. Membasuh kaki orang lain adalah kegiatan yang dipandang sangat rendah. Pekerjaan hina itu dikhususkan bagi seorang budak. Karena itu, sungguh tidak patut para rasul membiarkan kaki mereka dicuci oleh Yesus, yang adalah guru dan Tuhan mereka! Tetapi, Tuhan Yesus memang sengaja melakukannya. Dia bermaksud mengajar kita untuk tidak menjadi sama dengan dunia, yang menuntut orang yang lebih rendah statusnya untuk melayani mereka yang lebih tinggi. Sebaliknya, Dia memanggil kita menjadi pelayan bagi semua orang, terutama mereka yang berstatus lebih rendah dari kita. Inilah konsep pelayanan yang harus kita pegang, terutama dalam kehidupan bergereja. Status sebagai pengurus, majelis, pendeta, atau posisi kepemimpinan lain di gereja tidak membuat kita menjadi seperti bos di sebuah perusahaan. Sebaliknya, status itu justru membuat kita harus lebih siap diperlakukan dan berlaku sebagaimana layaknya seorang pelayan. Siap mengerjakan tugas apa pun, termasuk yang dipandang rendah, untuk melayani orang lain –ALS. SEORANG PEMIMPIN HARUSLAH MELAYANI MEREKA YANG DIPIMPINNYA.

Xavier Quentin Pranata
Alam justru tampak indah jika tak terjamah.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment