Wednesday, 19 October 2016

19 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Mengelola Uang. Amsal 21:20, “Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang bebal memboroskannya.” Uang, uang lagi... Masalah yang dasar dalam hidup ini, perceraian suami istri atau pertemanan yang tidak langgeng bisa terjadi karena uang. Sebenarnya uang hanyalah alat tukar, sumber masalah timbul dari cara kita mengelola dan menggunakan uang kita. Apakah kita sudah memberikan persembahan perpuluhan dan persembahan kasih sebagai wujud komitmen kita mendukung pelayanan Tuhan & ungkapan syukur atas berkat yang sudah Tuhan percayakan kepada kita? Apakah kita punya cukup tabungan untuk pengeluaran yang tidak terduga? Apakah kita juga sudah mempunyai rencana anggaran tentang pengeluaran kita agar kita dapat terhindar dari pengeluaran yang berlebihan dan tak terkendali. Mari mengelola keuangan kita dengan baik dan bertanggung jawab karena hal ini akan memudahkan kita dalam kehidupan ini & menyenangkan hati Tuhan. Muliakan Tuhan dengan hartamu (Amsal 3:9). Amin.

Xavier Quentin Pranata
Ketika orang yang merasa benar menghakimi orang yang menurutnya salah, saat itulah terjadi PEMBENARAN diri sendiri.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Rabu, 19 Oktober 2016. PAMERAN YANG KELIRU. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya (1 Korintus 12:11). Beberapa orang di gereja Korintus mengidap “penyakit” exhibitionisme alias nafsu pamer. Orang semacam ini susah menahan diri dari penonjolan diri dan pemaklumatan. Sebaliknya, ia amat mendambakan pengakuan, pujian, dan penghormatan orang lain. Semakin banyak pengagum semakin asyik rasanya. Dan, penyakit ini masih ada sampai sekarang. Orang-orang dengan nafsu pamer tadi menonjolkan karunia-karunia ilahi. Ironis, bukan? Masak karunia dipamerkan? Bukankah karunia itu pemberian cuma-cuma alias gratis karena karunia adalah anugerah. Lalu, mengapa memamerkan anugerah? Paulus sungguh prihatin. Dalam suratnya, ia menjelaskan bahwa karunia Allah itu tanpa peringkat, sebab tiap-tiap orang menerima karunia menurut kehendak Allah. Allah-lah sang pemilik sejati dari karunia itu, manusia hanya diberi. Jadi memamerkannya pasti keliru, apalagi kalau itu dipergunakan di luar prinsip "untuk kepentingan bersama". Karunia Roh adalah untuk membangun jemaat, bukan untuk membangun nama besar diri pribadi. Ada karunia yang tampak spektakuler, ada pula yang tampak sederhana. Semua itu sama nilainya. Tujuannya juga sama: agar umat Allah terbangun ke arah Kristus. Bila karunia Allah di dalam diri kita menjadi ajang pameran, bisa dipastikan ada yang salah dengan kita. Mungkin saja hati kita sudah bengkok. Bila hati bengkok tak karuan, bagaimana mungkin bangunan tubuh Kristus bisa kuat? Alih-alih kuat, malah timpang dan loyo. Bagaimana kalau malah jebol, lalu ambrol? Alangkah patut disayangkan. PENGAKUAN AKAN KESALAHAN-KESALAHAN KITA ADALAH AWAL DARI KESUCIAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment