BILLIONAIRE
Mengelola
Uang.
Amsal 21:20, “Harta
yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi orang yang
bebal memboroskannya.”
Uang, uang lagi... Masalah yang dasar dalam hidup ini, perceraian
suami istri atau pertemanan yang tidak langgeng bisa terjadi karena
uang. Sebenarnya uang hanyalah alat tukar, sumber masalah timbul dari
cara kita mengelola dan menggunakan uang kita. Apakah kita sudah
memberikan persembahan perpuluhan dan persembahan kasih sebagai wujud
komitmen kita mendukung pelayanan Tuhan & ungkapan syukur atas
berkat yang sudah Tuhan percayakan kepada kita? Apakah kita punya
cukup tabungan untuk pengeluaran yang tidak terduga? Apakah kita juga
sudah mempunyai rencana anggaran tentang pengeluaran kita agar kita
dapat terhindar dari pengeluaran yang berlebihan dan tak terkendali.
Mari mengelola keuangan kita dengan baik dan bertanggung jawab karena
hal ini akan memudahkan kita dalam kehidupan ini & menyenangkan
hati Tuhan. Muliakan Tuhan dengan hartamu (Amsal 3:9). Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“Ketika
orang yang merasa benar menghakimi orang yang menurutnya salah, saat
itulah terjadi PEMBENARAN diri sendiri.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Rabu, 19 Oktober 2016. PAMERAN YANG KELIRU. Tetapi semuanya
ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan
karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang
dikehendaki-Nya (1 Korintus 12:11). Beberapa orang di gereja Korintus
mengidap “penyakit” exhibitionisme alias nafsu pamer. Orang
semacam ini susah menahan diri dari penonjolan diri dan pemaklumatan.
Sebaliknya, ia amat mendambakan pengakuan, pujian, dan penghormatan
orang lain. Semakin banyak pengagum semakin asyik rasanya. Dan,
penyakit ini masih ada sampai sekarang. Orang-orang dengan nafsu
pamer tadi menonjolkan karunia-karunia ilahi. Ironis, bukan? Masak
karunia dipamerkan? Bukankah karunia itu pemberian cuma-cuma alias
gratis karena karunia adalah anugerah. Lalu, mengapa memamerkan
anugerah? Paulus sungguh prihatin. Dalam suratnya, ia menjelaskan
bahwa karunia Allah itu tanpa peringkat, sebab tiap-tiap orang
menerima karunia menurut kehendak Allah. Allah-lah sang pemilik
sejati dari karunia itu, manusia hanya diberi. Jadi memamerkannya
pasti keliru, apalagi kalau itu dipergunakan di luar prinsip "untuk
kepentingan bersama". Karunia Roh adalah untuk membangun jemaat,
bukan untuk membangun nama besar diri pribadi. Ada karunia yang
tampak spektakuler, ada pula yang tampak sederhana. Semua itu sama
nilainya. Tujuannya juga sama: agar umat Allah terbangun ke arah
Kristus. Bila karunia Allah di dalam diri kita menjadi ajang pameran,
bisa dipastikan ada yang salah dengan kita. Mungkin saja hati kita
sudah bengkok. Bila hati bengkok tak karuan, bagaimana mungkin
bangunan tubuh Kristus bisa kuat? Alih-alih kuat, malah timpang dan
loyo. Bagaimana kalau malah jebol, lalu ambrol? Alangkah patut
disayangkan. PENGAKUAN AKAN KESALAHAN-KESALAHAN KITA ADALAH AWAL DARI
KESUCIAN. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment