Friday, 21 October 2016

21 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Amsal 10:22 (TB), “Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” Amsal 11:24 (TB), “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.” Dalam kehidupan ini kita pasti menjumpai hal-hal yang menuntut kita untuk “memberi” secara sukarela secara tulus ikhlas misalnya ada keluarga yang membutuhkan pertolongan keuangan, ada kebutuhan untuk renovasi rumah Tuhan, dll. Sebagai anak-anak Tuhan kita jangan takut memberi, setiap tindakan kasih yang kita persembahkan bagi Tuhan pasti diingat dan memberi dampak kekal. Pengaruh tidak hanya lewat ucapan dan kata-kata saja. Pengaruh juga dapat berupa perbuatan memberi yang sederhana. Mazmur 116:12 (TB), “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? ya Tuhan kiranya beri kami hati yang rela untuk kami bisa memberi kepadaMu membalas semua kebaikanMu melalui saudara-saudara kami yang membutuhkan. Kiranya RohMu menjamah setiap ucapan dan tindakan kami dan menjadikannya sebagai berkat yang bisa “menyegarkan” orang lain. Amin.

Xavier Quentin Pranata
Terlalu berani melangkah, takut salah; terlalu hati-hati, malah tidak melangkah sama sekali. Itulah sebabnya kita perlu hikmat Tuhan.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Jumat, 21 Oktober 2016. JANGAN LUPA BERSYUKUR. Ucapkanlah syukur dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu (1 Tesalonika 5:18). Mungkin kita pernah membaca kalimat “Jangan lupa bahagia” yang dipasang pada gambar tampilan media sosial milik kerabat atau saudara kita. Kerap kali pula kalimat ini kita dengar dari sahabat kita ketika kita tengah menghadapi pergumulan. Kalimat ini mengingatkan kita untuk berbahagia meskipun saya sendiri kurang memahami apa yang menjadi ukuran kebahagiaan yang dimaksudkan dalam kalimat itu. Acap kali kita menilai kebahagiaan orang lain menurut ukuran kebahagiaan kita. Apakah orang lain bisa berbahagia jika hari ini mereka makan nasi dengan lauk tempe? Atau apakah orang lain bisa berbahagia jika mereka sedang menderita sakit? Dan sebagainya. Ukuran kebahagiaan yang kita miliki lebih condong kepada ukuran kebahagiaan duniawi, bukan kebahagiaan menurut firman Tuhan. Firman Tuhan menunjukkan jalan menuju kebahagiaan. Bersyukur dalam segala hal, itulah salah satu hal yang membuka pintu menuju bahagia. Kaya atau miskin, sehat atau sakit, siapa pun kita, tidak perlu berusaha mencari kebahagiaan. Kebahagiaan sejati berawal dari rasa syukur atas apa pun yang kita miliki dalam segala situasi dan kondisi. Kita dapat bersyukur dalam segala hal dan keadaan ketika kita menyadari bahwa hidup kita ada dalam kontrol dan penyertaan Tuhan (1 Tes. 5:9-10). Rasa syukur semacam itu akan membuahkan kebahagiaan. Apa pun yang dimiliki, apa pun yang diterima, segalanya disyukuri sebagai wujud kemurahan Tuhan. Jika Tuhan mengendalikan dan menyertai hidup kita, apa alasan kita untuk tidak berbahagia? KEBAHAGIAAN TERCIPTA SAAT KITA MAMPU BERSYUKUR ATAS PENYERTAAN-NYA DALAM SEGALA SITUASI DAN KONDISI. Selamat pagi. Happy Friday. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment