Thursday, 20 October 2016

20 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Matius 6:3, “Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” Ketika kita mulai belajar memberi rasanya susah setengah mati. Apakah kita semua mengalami hal ini? Belajar memberi akan menolong kita untuk bersyukur. Membiasakan diri mengucap syukur menolong kita agar tidak lupa bahwa pemilik segala sesuatunya adalah Tuhan. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita memberi dengan sepenuh hati? Apakah pemberian kita selalu tulus? Apakah pemberian tangan kanan kita tidak diketahui oleh tangan kiri kita? Mari kita terus minta hikmat Tuhan agar makin bijaksana dalam mengelola uang yang sudah Tuhan percayakan amin. JBU All.

Xavier Quentin Pranata
Ketika orang yang merasa benar menghakimi orang yang menurutnya salah, saat itulah terjadi PEMBENARAN diri sendiri.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Kamis, 20 Oktober 2016. KETIKA DITOLAK. Bukankah Ia ini anak Yusuf? (Lukas 4:22). Yesus di Galilea disanjung dan dipuji banyak orang. Berbeda halnya ketika Dia datang ke kampung halaman-Nya, Nazaret. Awalnya Dia diterima ketika mengajar di rumah ibadah, tetapi kemudian orang menolak-Nya. Yesus ditolak karena Dia anak seorang tukang kayu. Tak ayal, di kota itu Dia tak dapat berbuat apa-apa. Tetapi, bukan berarti Dia berhenti melakukan sesuatu. Justru karena penolakan itulah, Dia lalu berkeliling ke daerah lain dan melakukan berbagai mukjizat besar di sana. Penolakan tak menghentikan atau mematahkan semangat-Nya untuk tetap berbuat kebaikan. Dia mencari dan mengunjungi mereka yang memerlukan pertolongan-Nya. Bukankah kita juga sering mengalami hal serupa? Kadang-kadang kita ditolak karena latar belakang kita yang dianggap tidak pantas. Kita disingkirkan dan direndahkan karena dianggap tidak baik. Lalu, kita kecewa dan kehilangan harapan. Marah dan enggan untuk melangkah melakukan yang lain. Kita takut dan tak bisa berbuat apa-apa. Atau, tak sedikit pula yang melakukan perlawanan dan melukai mereka yang menolak. Kita dapat belajar dari sikap Yesus menghadapi penolakan. “Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi” (ay. 30). Pergi bukan untuk menghindari masalah, melainkan untuk mendatangi mereka yang membutuhkan. Pergi dari kemarahan kepada kasih yang membebaskan. Berjalan terus tanpa dendam, memberikan yang terbaik bagi mereka yang menerima-Nya. Penolakan tak mengurangi kualitas kerja-Nya untuk memenuhi panggilan Bapa-Nya. PENOLAKAN SEMESTINYA TIDAK MENGHENTIKAN LANGKAH KITA UNTUK BERKARYA DAN BERBUAT BAIK. Selamat pagi. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment