BILLIONAIRE
Matius
6:3, “Tetapi
jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa
yang diperbuat tangan kananmu.”
Ketika kita mulai belajar memberi rasanya susah setengah mati. Apakah
kita semua mengalami hal ini? Belajar memberi akan menolong kita
untuk bersyukur. Membiasakan diri mengucap syukur menolong kita agar
tidak lupa bahwa pemilik segala sesuatunya adalah Tuhan. Bagaimana
dengan kita? Sudahkah kita memberi dengan sepenuh hati? Apakah
pemberian kita selalu tulus? Apakah pemberian tangan kanan kita tidak
diketahui oleh tangan kiri kita? Mari kita terus minta hikmat Tuhan
agar makin bijaksana dalam mengelola uang yang sudah Tuhan percayakan
amin. JBU All.
Xavier
Quentin Pranata
“Ketika
orang yang merasa benar menghakimi orang yang menurutnya salah, saat
itulah terjadi PEMBENARAN diri sendiri.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Kamis, 20 Oktober 2016. KETIKA DITOLAK. Bukankah Ia ini anak
Yusuf? (Lukas 4:22). Yesus di Galilea disanjung dan dipuji banyak
orang. Berbeda halnya ketika Dia datang ke kampung halaman-Nya,
Nazaret. Awalnya Dia diterima ketika mengajar di rumah ibadah, tetapi
kemudian orang menolak-Nya. Yesus ditolak karena Dia anak seorang
tukang kayu. Tak ayal, di kota itu Dia tak dapat berbuat apa-apa.
Tetapi, bukan berarti Dia berhenti melakukan sesuatu. Justru karena
penolakan itulah, Dia lalu berkeliling ke daerah lain dan melakukan
berbagai mukjizat besar di sana. Penolakan tak menghentikan atau
mematahkan semangat-Nya untuk tetap berbuat kebaikan. Dia mencari dan
mengunjungi mereka yang memerlukan pertolongan-Nya. Bukankah kita
juga sering mengalami hal serupa? Kadang-kadang kita ditolak karena
latar belakang kita yang dianggap tidak pantas. Kita disingkirkan dan
direndahkan karena dianggap tidak baik. Lalu, kita kecewa dan
kehilangan harapan. Marah dan enggan untuk melangkah melakukan yang
lain. Kita takut dan tak bisa berbuat apa-apa. Atau, tak sedikit pula
yang melakukan perlawanan dan melukai mereka yang menolak. Kita dapat
belajar dari sikap Yesus menghadapi penolakan. “Tetapi Ia berjalan
lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi” (ay. 30). Pergi bukan
untuk menghindari masalah, melainkan untuk mendatangi mereka yang
membutuhkan. Pergi dari kemarahan kepada kasih yang membebaskan.
Berjalan terus tanpa dendam, memberikan yang terbaik bagi mereka yang
menerima-Nya. Penolakan tak mengurangi kualitas kerja-Nya untuk
memenuhi panggilan Bapa-Nya. PENOLAKAN SEMESTINYA TIDAK MENGHENTIKAN
LANGKAH KITA UNTUK BERKARYA DAN BERBUAT BAIK. Selamat pagi. Tuhan
Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment