Thursday, 13 October 2016

13 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” Belajar setia dalam “perkara kecil” bukan hal mudah ya, tapi pasti bisa asal ada kemauan & ada komitmen, khususnya dalam mengatur keuangan kita . Segala sesuatu yang ada didunia ini adalah milik Tuhan termasuk apa yang ada di dompet dan rekening tabungan kita (Maz 24:1). DIA menghendaki kita menjadi hamba yang baik dan setia dalam mengelola apa yang dipercayakanNya ditangan kita (Matius 25:21). Sebab suatu hari kelak Tuhan kita Pemilik segala sesuatu akan meminta pertanggungjawaban atas penggunaan sumber-sumber daya dan keuangan yang ada pada kita. Kiranya setiap penggunaan uang kita dapat memuliakan Tuhan & menyatakan kasihNya kepada orang-orang yang DIA tempatkan dalam hidup kita. Amin.

Xavier Quentin Pranata
Mukjizat terjadi saat campur tangan ilahi menginterupsi kejadian sehari-hari.” Xavier Quentin Pranata.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin! Seperti apakah kehidupan sehari-hari orang percaya “kita-kita” yang digerakakan oleh Roh Kudus, mereka terus memastikan hidup selaras dengan Firman & memperkenan hati Tuhan (Roma 8:1-2). Hidup dalam ketergantungan penuh terhadap Tuhan, memiliki persekutuan pribadi dengan Tuhan yang sehat, hidup dan terus bertambah kuat. Filipi 2:1-11. Terus berupaya mendemontrasikan kuasa kebangkitan Kristus & menghadirkan realita kerajaanNya, menarik turun dari ruang tahta berbagai potensi, skill, keahlian yang awalnya tidak dimiliki & mempergunakan untuk menghadirkan realita kerajaan surga (Dan 6:4). Membangun suatu sinergi bisa dikatakan, dalam segala aspek kehidupan sehari-hari. Dan untuk memastikan kebutuhan-kebutuhan pokok yang dimiliki oleh orang-orang percaya dapat dipenuhi sepenuhnya. Menyediakan kesempatan kerja yang seluas-luasnya. Pastikan untuk kita semuanya. Jadilah saluran, jadilah penyedia. Amin. JBU all.

Bp. Budi – PT. Multipack Unggu
CARA BERPIKIR MANUSIA. Apakah musuh utama pohon? Ketika manusia pandai melebur biji besi menjadi batang besi, lalu menempanya & membentuk lempengan, kemudian mengasahnya menjadi sebilah mata kapak yang tajam; ketika itulah pohon-pohon mulai kuatir akan nasib mereka. Pohon-pohon melihat bahwa semakin hari semakin banyak kerusakan yang diperbuat manusia memanggul kapak untuk memasuki hutan & menebangi pohon-pohon. Apa jadinya jika dunia tanpa hutan yang lebat? Apa jadinya bila dunia tanpa pohon? Namun pohon tak bisa berbuat banyak, pohon hanya bisa menitikkan air mata saat pohon demi pohon bertumbangan akibat ulah manusia. Kerusakan pohon sudah sedemikian dahsyatnya, sehingga hanya tertinggal sebatang pohon di hutan yang merintih, “Oh, mengapa manusia menciptakan kapak yang digunakan untuk menebangi pohon-pohon? Sungguh kejam kapak itu!!!” Rintihan itu terdengar oleh seorang penebang pohon yang menjawabnya sambil tertawa, “Hahaha... Wahai pohon liatlah,
sebilah mata kapak ini takkan bisa melukaimu begitu parah bila tak dilengkapi dengan pegangan yang terbuat dari kayu yang kuat. Sadarkah engkau bahwa kayu itu berasal dari pohon, yaitu dirimu sendiri?” CARA kita MEMBENAHI apa yang sedang terjadi dalam HATI & PIKIRAN kita, akan MEMPENGARUHI apa yang kita PIKIRKAN. Jika CARA BERPIKIR kita BERANTAKAN, kita cenderung membangun MEMPERLIHATKAN SIKAP yang BURUK. Jika CARA BERPIKIR kita JERNIH & POSITIF, kita cenderung MEMILIKI SIKAP yang BAIK terhadap keadaan yang sedang kita alami. “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12).

Ibu Caroline – Bandung
[RENUNGAN HARIAN]. Kamis, 13 Oktober 2016. Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10. Setahun: Markus 1-3. Nas: Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita (1 Yohanes 1:8). Kita Ada di Sana. Ketika sesuatu yang tidak beres terjadi, kita mudah menuding sesama sebagai biangnya, seraya menganggap diri sendiri steril dari ketidakberesan itu. Tetapi, Rasul Yohanes mengingatkan, orang yang mengaku diri sama sekali tak berdosa, merasa diri steril, adalah orang yang menipu diri sendiri, dan tidak memiliki kebenaran (ay. 8). Mengapa? Perhatikan contoh berikut. Di Indonesia, kematian akibat rokok adalah 46, 31 orang per jam. Di China, satu dari tiga pria meninggal karena rokok. Industri rokok pun dianggap sebagai biang kesalahan. Bebaskah saya dari kesalahan? Sama sekali tidak! Saya tidak berhak mengaku steril meskipun saya tidak merokok atau berjualan rokok. Mengapa? Karena saya ikut menikmati pelbagai fasilitas publik yang sebagian biaya konstruksinya berasal dari cukai rokok. Artinya: ketika sesuatu yang bengkok berlangsung, saya ada di sana, menjadi bagian dari kebengkokan itu. Sesungguhnya, orang-orang yang melakukan, yang memberi jalan, yang menyetujui, dan yang ikut menikmati hasil ketidakberesan, semua berada dalam lingkaran yang sama. Porsi dan wujud keterlibatan masing-masing memang berbeda-beda, tetapi tidak seorang pun bisa mengaku diri steril dari ketidakberesan itu. Karena itulah, Rasul Yohanes menasihatkan agar kita jujur, mengakui dengan rendah hati bahwa kita memang tidak steril dari hal-hal bengkok di sekitar kita. Kita memerlukan pengampunan, dan Allah itu setia dan adil sehingga Dia bersedia mengampuni dan menyucikan kita dari kejahatan. JANGAN MERASA DIRI STERIL. KITA TURUT BERTANGGUNG JAWAB ATAS KETIDAKBERESAN DI PLANET INI.

No comments:

Post a Comment