BILLIONAIRE
Lukas
16:10, “Barangsiapa
setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam
perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam
perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara
besar.”
Belajar setia dalam “perkara kecil” bukan hal mudah ya, tapi
pasti bisa
asal ada kemauan & ada komitmen, khususnya dalam mengatur
keuangan kita .
Segala sesuatu yang ada didunia ini adalah milik Tuhan termasuk apa
yang ada di dompet dan rekening tabungan kita
(Maz 24:1). DIA menghendaki kita menjadi hamba yang baik dan setia
dalam mengelola apa yang dipercayakanNya ditangan kita (Matius
25:21). Sebab suatu hari kelak Tuhan kita Pemilik segala sesuatu akan
meminta pertanggungjawaban atas penggunaan sumber-sumber daya dan
keuangan yang ada pada kita. Kiranya setiap penggunaan uang kita
dapat memuliakan Tuhan & menyatakan kasihNya kepada orang-orang
yang DIA tempatkan dalam hidup kita. Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“Mukjizat
terjadi saat campur tangan ilahi menginterupsi kejadian sehari-hari.”
Xavier Quentin Pranata.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya
amin! Seperti apakah kehidupan sehari-hari orang percaya “kita-kita”
yang digerakakan oleh Roh Kudus, mereka terus memastikan hidup
selaras dengan Firman & memperkenan hati Tuhan (Roma 8:1-2).
Hidup dalam ketergantungan penuh terhadap Tuhan, memiliki persekutuan
pribadi dengan Tuhan yang sehat, hidup dan terus bertambah kuat.
Filipi 2:1-11. Terus berupaya mendemontrasikan kuasa kebangkitan
Kristus & menghadirkan realita kerajaanNya, menarik turun dari
ruang tahta berbagai potensi, skill, keahlian yang awalnya tidak
dimiliki & mempergunakan untuk menghadirkan realita kerajaan
surga (Dan 6:4). Membangun suatu sinergi bisa dikatakan, dalam segala
aspek kehidupan sehari-hari. Dan untuk memastikan kebutuhan-kebutuhan
pokok yang dimiliki oleh orang-orang percaya dapat dipenuhi
sepenuhnya. Menyediakan kesempatan kerja yang seluas-luasnya.
Pastikan untuk kita semuanya. Jadilah saluran, jadilah penyedia.
Amin. JBU all.
Bp.
Budi – PT. Multipack Unggu
CARA
BERPIKIR MANUSIA. Apakah musuh utama pohon? Ketika manusia pandai
melebur biji besi menjadi batang besi, lalu menempanya &
membentuk lempengan, kemudian mengasahnya menjadi sebilah mata kapak
yang tajam; ketika itulah pohon-pohon mulai kuatir akan nasib mereka.
Pohon-pohon melihat bahwa semakin hari semakin banyak kerusakan yang
diperbuat manusia memanggul kapak untuk memasuki hutan &
menebangi pohon-pohon. Apa jadinya jika dunia tanpa hutan yang lebat?
Apa jadinya bila dunia tanpa pohon? Namun pohon tak bisa berbuat
banyak, pohon hanya bisa menitikkan air mata saat pohon demi pohon
bertumbangan akibat ulah manusia. Kerusakan pohon sudah sedemikian
dahsyatnya, sehingga hanya tertinggal sebatang pohon di hutan yang
merintih, “Oh, mengapa manusia menciptakan kapak yang digunakan
untuk menebangi pohon-pohon? Sungguh kejam kapak itu!!!” Rintihan
itu terdengar oleh seorang penebang pohon yang menjawabnya sambil
tertawa, “Hahaha... Wahai pohon liatlah,
sebilah
mata kapak ini takkan bisa melukaimu begitu parah bila tak dilengkapi
dengan pegangan yang terbuat dari kayu yang kuat. Sadarkah engkau
bahwa kayu itu berasal dari pohon, yaitu dirimu sendiri?” CARA kita
MEMBENAHI apa yang sedang terjadi dalam HATI & PIKIRAN kita, akan
MEMPENGARUHI apa yang kita PIKIRKAN. Jika CARA BERPIKIR kita
BERANTAKAN, kita cenderung membangun MEMPERLIHATKAN SIKAP yang BURUK.
Jika CARA BERPIKIR kita JERNIH & POSITIF, kita cenderung MEMILIKI
SIKAP yang BAIK terhadap keadaan yang sedang kita alami. “Segala
sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah
demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12).
Ibu
Caroline – Bandung
[RENUNGAN
HARIAN]. Kamis, 13 Oktober 2016. Bacaan: 1 Yohanes 1:5-10. Setahun:
Markus 1-3. Nas: Jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, maka
kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita
(1 Yohanes 1:8). Kita Ada di Sana. Ketika sesuatu yang tidak beres
terjadi, kita mudah menuding sesama sebagai biangnya, seraya
menganggap diri sendiri steril dari ketidakberesan itu. Tetapi, Rasul
Yohanes mengingatkan, orang yang mengaku diri sama sekali tak
berdosa, merasa diri steril, adalah orang yang menipu diri sendiri,
dan tidak memiliki kebenaran (ay. 8). Mengapa? Perhatikan contoh
berikut. Di Indonesia, kematian akibat rokok adalah 46, 31 orang per
jam. Di China, satu dari tiga pria meninggal karena rokok. Industri
rokok pun dianggap sebagai biang kesalahan. Bebaskah saya dari
kesalahan? Sama sekali tidak! Saya tidak berhak mengaku steril
meskipun saya tidak merokok atau berjualan rokok. Mengapa? Karena
saya ikut menikmati pelbagai fasilitas publik yang sebagian biaya
konstruksinya berasal dari cukai rokok. Artinya: ketika sesuatu yang
bengkok berlangsung, saya ada di sana, menjadi bagian dari
kebengkokan itu. Sesungguhnya, orang-orang yang melakukan, yang
memberi jalan, yang menyetujui, dan yang ikut menikmati hasil
ketidakberesan, semua berada dalam lingkaran yang sama. Porsi dan
wujud keterlibatan masing-masing memang berbeda-beda, tetapi tidak
seorang pun bisa mengaku diri steril dari ketidakberesan itu. Karena
itulah, Rasul Yohanes menasihatkan agar kita jujur, mengakui dengan
rendah hati bahwa kita memang tidak steril dari hal-hal bengkok di
sekitar kita. Kita memerlukan pengampunan, dan Allah itu setia dan
adil sehingga Dia bersedia mengampuni dan menyucikan kita dari
kejahatan. JANGAN MERASA DIRI STERIL. KITA TURUT BERTANGGUNG JAWAB
ATAS KETIDAKBERESAN DI PLANET INI.

No comments:
Post a Comment