Saturday, 29 October 2016

29 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Roma 12:1, “Karena itu, saudara- saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Kemurahan Allah selalu hadir dan tidak pernah menjadi hasil usaha kita manusia :). Bagaimana kita menjalani hidup saat ini? Apakah kita sudah memberikan hidup kita sebagai “persembahan yang hidup”? Atau kita hanya mementingkan “kemauan” sendiri dengan “kekuatan” sendiri? Dan untuk diri sendiri? Mempersembahkan hidup kita adalah DATANG kepada Tuhan/persembahan yang “kudus” itulah ibadah kita yang SEJATI. Amin. Sudahkah kita berkomitmen untuk mempersembahkan hidup kita sepenuhnya sebagai “persembahan yang hidup” bukan persembahan yang mati :(. Amin.

Xavier Quentin Pranata
Jalan macet dan kredit macet sama-sama bikin darah tinggi.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 29 Oktober 2016. BUKAN SEKADAR KEBETULAN. Ia mengocok panah, meminta petunjuk dari terafim dan menilik hati binatang. Ke dalam tangan kanannya terjatuh panah tenungan mengenai Yerusalem (Yehezkiel 21:21-22). Fiona depresi karena dosen pembimbing memperlakukannya dengan kasar. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia juga takut tidak lulus. Suatu hari ia bertemu dengan teman lama, Soni. Ia pun bercerita tentang keadaannya. Kebetulan, dosen pembimbing Soni adalah orang yang berwenang untuk mengurusi kasus semacam itu. Akhirnya, melalui perjumpaan yang tidak sengaja itu, Fiona mendapatkan jalan keluar dari masalahnya. Dalam perkembangan selanjutnya, peristiwa itu membuka jalan bagi Soni untuk memperkenalkan iman Kristiani kepada Fiona. Pada jaman Nebukadnezar, sebuah “kebetulan” juga terjadi. Kebetulan ini terjadi ketika Nebukadnezar ragu apakah harus menyerang Raba atau Yerusalem. Ia lalu mengambil undi dengan mengocok panah dan memeriksa hati binatang kurban, sebagaimana tradisi orang Babel pada zaman itu. Ternyata, Yerusalemlah yang ia dapat. Yerusalem pun akhirnya runtuh akibat serangan Nebukadnezar ini. Semua itu mungkin tampak sebagai kebetulan semata, tetapi melalui Yehezkiel, Tuhan menyampaikan bahwa Dia yang mengatur agar itu semua terjadi sebagai caranya untuk menghukum bangsa Yehuda. Dalam iman kita tahu bahwa Tuhan ada di balik semua peristiwa yang terjadi sehingga tidak ada kebetulan dalam hidup ini. Pemahaman ini memungkinkan kita untuk menjalani segala sesuatu dengan langkah iman yang tegap. Tetapi, hal ini juga memberi kita tantangan untuk mencari maksud Allah dari setiap peristiwa yang terjadi, dan tidak membiarkan rencana-Nya tersebut berlalu begitu saja. TIDAK ADA SESUATU YANG SEKADAR KEBETULAN DALAM HIDUP INI. Selamat pagi. Happy Weekend. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:

Post a Comment