BILLIONAIRE
Roma
12:1, “Karena itu,
saudara- saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya
kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang
kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang
sejati.” Kemurahan
Allah selalu hadir dan tidak pernah menjadi hasil usaha kita manusia
:). Bagaimana kita menjalani hidup saat ini? Apakah kita sudah
memberikan hidup kita sebagai “persembahan
yang hidup”? Atau kita
hanya mementingkan “kemauan” sendiri dengan “kekuatan”
sendiri? Dan untuk diri
sendiri? Mempersembahkan
hidup kita adalah DATANG
kepada Tuhan/persembahan yang “kudus” itulah ibadah kita yang
SEJATI. Amin. Sudahkah kita berkomitmen untuk mempersembahkan hidup
kita sepenuhnya sebagai “persembahan yang hidup” bukan
persembahan yang mati :(. Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“Jalan
macet dan kredit macet sama-sama bikin darah tinggi.” Xavier
Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Sabtu, 29 Oktober 2016. BUKAN SEKADAR KEBETULAN. Ia mengocok
panah, meminta petunjuk dari terafim dan menilik hati binatang. Ke
dalam tangan kanannya terjatuh panah tenungan mengenai Yerusalem
(Yehezkiel 21:21-22). Fiona depresi karena dosen pembimbing
memperlakukannya dengan kasar. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia
juga takut tidak lulus. Suatu hari ia bertemu dengan teman lama,
Soni. Ia pun bercerita tentang keadaannya. Kebetulan, dosen
pembimbing Soni adalah orang yang berwenang untuk mengurusi kasus
semacam itu. Akhirnya, melalui perjumpaan yang tidak sengaja itu,
Fiona mendapatkan jalan keluar dari masalahnya. Dalam perkembangan
selanjutnya, peristiwa itu membuka jalan bagi Soni untuk
memperkenalkan iman Kristiani kepada Fiona. Pada jaman Nebukadnezar,
sebuah “kebetulan” juga terjadi. Kebetulan ini terjadi ketika
Nebukadnezar ragu apakah harus menyerang Raba atau Yerusalem. Ia lalu
mengambil undi dengan mengocok panah dan memeriksa hati binatang
kurban, sebagaimana tradisi orang Babel pada zaman itu. Ternyata,
Yerusalemlah yang ia dapat. Yerusalem pun akhirnya runtuh akibat
serangan Nebukadnezar ini. Semua itu mungkin tampak sebagai kebetulan
semata, tetapi melalui Yehezkiel, Tuhan menyampaikan bahwa Dia yang
mengatur agar itu semua terjadi sebagai caranya untuk menghukum
bangsa Yehuda. Dalam iman kita tahu bahwa Tuhan ada di balik semua
peristiwa yang terjadi sehingga tidak ada kebetulan dalam hidup ini.
Pemahaman ini memungkinkan kita untuk menjalani segala sesuatu dengan
langkah iman yang tegap. Tetapi, hal ini juga memberi kita tantangan
untuk mencari maksud Allah dari setiap peristiwa yang terjadi, dan
tidak membiarkan rencana-Nya tersebut berlalu begitu saja. TIDAK ADA
SESUATU YANG SEKADAR KEBETULAN DALAM HIDUP INI. Selamat pagi. Happy
Weekend. Tuhan Yesus memberkati.

No comments:
Post a Comment