BILLIONAIRE
Fokus
Hidup Kita.
Matius 6:20, “Tetapi
kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak
merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.”
Di dunia kita yang tidak sempurna ini kehilangan harta kekayaan
adalah yang bisa terjadi. Nasihat Tuhan Yesus dalam Matius 6:19,
menjadi sangat berarti untuk kita tidak mempercayakan diri kita
kepada harta dunia. Yesus menceritakan tentang seseorang yang
mengumpulkan harta yang sangat banyak & memutuskan untuk
menyimpannya bagi dirinya sendiri (Lukas 12:16-21), namun pada malam
itu juga ia kehilangan segalanya termasuk nyawanya (19). “Demikianlah
jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri,
jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah”
(21). Kekayaan materi haya bersifat sementara. Tidak ada satu hal pun
yang bernilai kekal. Kecuali hal-hal yang dimampukan Allah untuk kita
lakukan bagi sesama. Memberikan waktu yang kita miliki untuk
mengabarkan Injil. Mengunjungi sahabat yang sakit, menolong teman
yang membutuhkan pertolongan adalah beberapa cara yang dapat kita
lakukan untuk mengumpulkan harta di surga. Biarlah fokus hidup kita
bukan untuk harta yang sementara tetapi fokus kita adalah segala
sesuatu yang kita investasikan untuk kekekalan. Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“Saat
membahagiakan orang lain sebenarnya kita membuat pohon kehidupan kita
sendiri berbuah lebat.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Sabtu, 15 Oktober 2016. KEBAHAGIAAN SETELAH KESENGSARAAN.
Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya:
“Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan
kepada rumah bapaku” (Kejadian 41:51). Seorang janda semula sangat
menderita. Seorang diri ia membesarkan empat anak dengan usaha
menjahit setelah suaminya meninggal. Karena masih sulit untuk
mencukupi biaya hidup, ia beralih menjadi penjual makanan. Semakin
hari semakin banyak pelanggannya sampai akhirnya ia dapat mendirikan
restoran. Hatinya penuh rasa syukur kepada Tuhan. Di usia senja,
usahanya diteruskan oleh anak-anaknya. Ia menggunakan waktunya untuk
mengunjungi orang sakit dan mendukung pelayanan hamba Tuhan. Demikian
pula dengan Yusuf. Ia mulai mengalamai kesengsaraan pada usia tujuh
belas tahun. Mendapat perlakuan istimewa dan menjadi kesayangan
ayahnya, Yusuf justru dijual sebagai budak ke Mesir. Baru saja
dipercaya di rumah Potifar, ia dipenjara karena fitnah istri tuannya
itu. Menunggu dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun tentu
membuat frustrasi. Seolah Tuhan membiarkannya terkungkung dalam
kesengsaraan tak berujung. Namun Yusuf tetap mempertahankan kesucian
dan kinerjanya. Pada usia tiga puluh tahun, setelah tiga belas tahun
dalam kesengsaraan, Tuhan menjadikannya penguasa di Mesir dan
mengaruniakan istri serta anak kepadanya. Ketika berada dalam
kesengsaraan, kita harus tetap menjaga diri agar tidak terjatuh dalam
dosa. Kesetiaan kepada Tuhan diuji saat kita berada dalam keadaan
yang menekan. Sebaliknya, dalam situasi bahagia hendaknya kita tidak
lupa untuk mengucap syukur. Sambil mengingat bahwa Tuhanlah yang
menyertai kita dalam segala keadaan. TETAPLAH KUDUS DALAM
PENDERITAAN, TERUSLAH BERSYUKUR KETIKA TUHAN MENGARUNIAKAN
KELIMPAHAN. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus
memberkati.
Tante
Elisabeth – NTT
Ya
amin! Hidup menuju kekekalan. Mari kita mendengar Tuhan, dari
rumahNYA, dari gerejaNYA. Membawa telinga kita kepada pewahyuan Tuhan
(suara Tuhan), memperbandingkan kebenaran dalam kebenaran yang
dituntun betul-betul dalam kebenaran. Sekali-kali hidup kita dijaga,
jangan kita terseret oleh kehidupan dunia yang jahat ini (Yoh 8:44;
Yoh 10:4,5; Yoh 7:17,18). Pada hari, sekarang ini adalah waktunya
saudara kita semua berlomba-lomba berlari untuk mencapai sampai
akhir. Itulah tujuan hidup yang berharga, di mata Tuhan dan
manusia... Amin...! Happy Weekend. JBU all.

No comments:
Post a Comment