Saturday, 15 October 2016

15 Oktober 2016

BILLIONAIRE




Fokus Hidup Kita. Matius 6:20, “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” Di dunia kita yang tidak sempurna ini kehilangan harta kekayaan adalah yang bisa terjadi. Nasihat Tuhan Yesus dalam Matius 6:19, menjadi sangat berarti untuk kita tidak mempercayakan diri kita kepada harta dunia. Yesus menceritakan tentang seseorang yang mengumpulkan harta yang sangat banyak & memutuskan untuk menyimpannya bagi dirinya sendiri (Lukas 12:16-21), namun pada malam itu juga ia kehilangan segalanya termasuk nyawanya (19). “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (21). Kekayaan materi haya bersifat sementara. Tidak ada satu hal pun yang bernilai kekal. Kecuali hal-hal yang dimampukan Allah untuk kita lakukan bagi sesama. Memberikan waktu yang kita miliki untuk mengabarkan Injil. Mengunjungi sahabat yang sakit, menolong teman yang membutuhkan pertolongan adalah beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk mengumpulkan harta di surga. Biarlah fokus hidup kita bukan untuk harta yang sementara tetapi fokus kita adalah segala sesuatu yang kita investasikan untuk kekekalan. Amin.

Xavier Quentin Pranata
Saat membahagiakan orang lain sebenarnya kita membuat pohon kehidupan kita sendiri berbuah lebat.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 15 Oktober 2016. KEBAHAGIAAN SETELAH KESENGSARAAN. Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku” (Kejadian 41:51). Seorang janda semula sangat menderita. Seorang diri ia membesarkan empat anak dengan usaha menjahit setelah suaminya meninggal. Karena masih sulit untuk mencukupi biaya hidup, ia beralih menjadi penjual makanan. Semakin hari semakin banyak pelanggannya sampai akhirnya ia dapat mendirikan restoran. Hatinya penuh rasa syukur kepada Tuhan. Di usia senja, usahanya diteruskan oleh anak-anaknya. Ia menggunakan waktunya untuk mengunjungi orang sakit dan mendukung pelayanan hamba Tuhan. Demikian pula dengan Yusuf. Ia mulai mengalamai kesengsaraan pada usia tujuh belas tahun. Mendapat perlakuan istimewa dan menjadi kesayangan ayahnya, Yusuf justru dijual sebagai budak ke Mesir. Baru saja dipercaya di rumah Potifar, ia dipenjara karena fitnah istri tuannya itu. Menunggu dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun tentu membuat frustrasi. Seolah Tuhan membiarkannya terkungkung dalam kesengsaraan tak berujung. Namun Yusuf tetap mempertahankan kesucian dan kinerjanya. Pada usia tiga puluh tahun, setelah tiga belas tahun dalam kesengsaraan, Tuhan menjadikannya penguasa di Mesir dan mengaruniakan istri serta anak kepadanya. Ketika berada dalam kesengsaraan, kita harus tetap menjaga diri agar tidak terjatuh dalam dosa. Kesetiaan kepada Tuhan diuji saat kita berada dalam keadaan yang menekan. Sebaliknya, dalam situasi bahagia hendaknya kita tidak lupa untuk mengucap syukur. Sambil mengingat bahwa Tuhanlah yang menyertai kita dalam segala keadaan. TETAPLAH KUDUS DALAM PENDERITAAN, TERUSLAH BERSYUKUR KETIKA TUHAN MENGARUNIAKAN KELIMPAHAN. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati.

Tante Elisabeth – NTT
Ya amin! Hidup menuju kekekalan. Mari kita mendengar Tuhan, dari rumahNYA, dari gerejaNYA. Membawa telinga kita kepada pewahyuan Tuhan (suara Tuhan), memperbandingkan kebenaran dalam kebenaran yang dituntun betul-betul dalam kebenaran. Sekali-kali hidup kita dijaga, jangan kita terseret oleh kehidupan dunia yang jahat ini (Yoh 8:44; Yoh 10:4,5; Yoh 7:17,18). Pada hari, sekarang ini adalah waktunya saudara kita semua berlomba-lomba berlari untuk mencapai sampai akhir. Itulah tujuan hidup yang berharga, di mata Tuhan dan manusia... Amin...! Happy Weekend. JBU all.

No comments:

Post a Comment