KATA PENGANTAR
Beberapa
kali saya pernah mendengar jemaat yang keluar gereja berkomentar mengenai
khotbah kebaktian di hari Minggu, “khotbahnya cing li.” Atau bisa dikatakan
bahwa khotbah yang dia dengar tadi masuk akal. Ketika firman Tuhan disampaikan,
tetapi hanya pikiran kita yang menerima dan bukan hati kita, maka kata-kata
“cingli” (masuk akal) tadilah yang akan muncul.
Seperti cerita Perumpamaan tentang
Seorang Penabur. Tidak ada yang salah dengan benihnya, benih yang ditaburkan
adalah sama (firman Tuhan). Namun, yang berbeda-beda adalah tanahnya. Waktu
firman Tuhan diterima dan dipelihara oleh hati kita dan bukan pikiran kita
saja, hidup kita pasti akan menghasilkan buah. Buah bukan hanya berbicara
mengenai berkat, berkat, dan berkat. Buah bisa juga berbicara tentang karakter.
Ketika anggota keluarga kita menyakiti hati kita, maukah kita berkeputusan
untuk mengampuninya? Ketika ada badai masalah menerpa, maukah kita percaya
kepada janjiNya lebih dari pada apa yang kita lihat? Karena satu hal, kita mau
jadikan firman Tuhan otoritas tertinggi dalam hidup kita. Bukan perasaan kita,
bukan ambisi kita ataupun mimpi kita. Lebih dari segala sesuatunya, firman
Tuhan yang utama.
Sekalipun terkadang
perintah-perintahNya terdengar sulit, Saudara/i-ku yang terkasih, bila hatimu
dijamah olehNya, hidupmu akan diubahkan. Keputusan-keputusanmu akan diubahkan.
Bukan tentang kita, tapi tentang Dia. Ketika kita menomorsatukan Tuhan Yesus
dalam kehidupan kita, bukan untuk kita menerima balasan dari Allah, justru
ketaatan adalah ucapan terima kasih kita kepadaNya. Karena kita tahu, bahwa
Allah telah memberkati kita terlebih dahulu, untuk berkat yang kemarin, hari
ini dan akan datang. Tuhan Yesus memberkati.
-- Kwee Siu
Siang
No comments:
Post a Comment