Tuesday, 15 March 2016

15 Maret 2016



                                                                                                                                             REAL LIFE





1 Kor 15:33, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Salah satu penghambat pertumbuhan rohani adalah “pergaulan yang buruk”. Jika pertumbuhan rohani terhambat itu artinya hubungan kita dengan Tuhan perlu dipertanyakan. Hubungan kita dengan Tuhan dapat dicerminkan dalam hubungan “kita dengan sesama”. Apakah hubungan kita dengan sesama (keluarga, rekan sekerja, sosial maupun dalam pelayanan) sudah dipenuhi dengan Kasih Kristus? Buanglah semua yang menghambat pertumbuhan rohani/iman kita. Yak 1:21-22, “Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Amin.

Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Yes 40:29 – TUHAN memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya! Dalam YESUS selalu semangat, kuat, bergairah. Pasti BISA. Tidak ada yang tidak bisa! Samuel Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.

Worship Center Surabaya
Menurut apa yang disampaikan oleh Paulus, rasul Tuhan, di akhir zaman akan muncul orang-orang yang “tidak suka berdamai” (2 Tim. 3: 3). Yang dimaksud ialah orang-orang yang menolak untuk memaafkan, tidak dapat didamaikan, memilih untuk terus berselisih atau bahkan berperang satu sama lain. Dalam istilah menang-kalah, orang-orang ini tidak legawa atau berjiwa besar menerima kondisi yang ada, tapi terus bersikeras menggugat & mengadakan perlawanan. Mengapa orang tidak mau memaafkan atau berdamai? •Karena kasih sejati tidak ada lagi di hati. Semakin dunia menuju saat-saat terakhirnya, kasih menjadi sesuatu yang langka sedangkan kedurhakaan atau kefasikan makin merajalela (Mat. 24:12). Keegoisan & mementingkan diri sendiri makin nyata menjadi suatu prinsip & gaya hidup. Tiada tempat atau kesempatan bagi yang lain, kecuali dirinya & kelompoknya sendiri. •Karena hati manusia semakin keras (2 Pet. 3:5-6). Walaupun gerakan hak asasi manusia diterima & muncul di mana-mana, belum tentu selalu merupakan penghargaan pada kemanusiaan. Sangat mungkin bila itu menjadi wajah baru kekerasan hati manusia yang selalu tidak terima, melawan atau berkeras menuntut hak-haknya sekalipun sebelumnya mereka (sebagai pelaku kejahatan) tak sedikitpun memikirkan hak apalagi berbelas kasihan akan korban-korban mereka. •Karena kesombongan manusia mencapai puncaknya. Mengalah, merendahkan diri, tak lagi mempersoalkan berbagai hal (yang biasanya sepele belaka) yang menimbulkan keributan lebih lanjut dipandang sebagai suatu kelemahan bagi manusia-manusia akhir zaman ini. Sedangkan sikap mengunggulkan diri, merasa benar & penampilan yang tampak hebat menjadi aturan-aturan pokok tak tertulis. Berbeda dengan Kristus. Dia sendiri mengosongkan diri, turun dari tahta sorga, mengambil rupa hamba yang hina dina supaya kita yang hampir binasa dalam lumpur dosa boleh terhubung kembali dengan Dia, luput dari segala murka yang harus kita tanggung sebagai orang-orang berdosa. Kerendahan hati Tuhan ialah keagungan-Nya yang tiada tara. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.

Xavier Quentin Pranata
“Kebersamaan yang paling indah adalah saat Tuhan mempersatukan kita menjadi satu keluarga.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7). Setelah hampir tiga tahun menikah, istri saya mengakui bahwa ada yang berubah dalam diri saya, khususnya dalam hal memberi. Dulu ia melihat saya termasuk orang yang agak pelit dan sangat perhitungan, termasuk dalam memberi persembahan. Jujur saja, kadang-kadang saya kurang rela ketika memberikan persembahan. Saya juga pernah merasa sedih setelah memberi, terutama setelah memberi dalam jumlah cukup besar menurut kemampuan keuangan saya. Berbicara tentang persembahan, kadang-kadang umat Tuhan hanya berfokus pada takaran pemberian itu. Memang Alkitab mencatat bahwa orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga. Sebaliknya, orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga (ay. 6). Namun, hal yang tak kalah pentingnya adalah menilik kondisi hati ketika kita memberi. Ada tiga prinsip yang perlu kita perhatikan dalam memberi. Pertama, memberi dengan penuh kerelaan, karena kita memberi kepada Tuhan. Kedua, jangan memberi dengan sedih hati karena kita tidak sedang kehilangan, tetapi sedang menabur. Ketiga, jangan memberi karena terpaksa. Lebih baik menunda untuk memberi daripada kita memberi karena terpaksa. Memberi dengan sukacita tak bisa dilepaskan dari ketiga prinsip di atas. Seseorang tak mungkin bisa memberi dengan sukacita jika ia tidak rela, bersedih hati, apa lagi kalau terpaksa. Memang tak mudah melakukan tiga prinsip di atas, tetapi juga tidak mustahil. Bagaimana dengan kondisi hati kita selama ini ketika memberi? —GHJ. ORANG YANG MEMBERI DENGAN SUKACITA AKAN MENUAI BERKAT YANG BERLIMPAH.

No comments:

Post a Comment