REAL LIFE
1 Kor 15:33, “Janganlah kamu sesat:
Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Salah satu penghambat
pertumbuhan rohani adalah “pergaulan yang buruk”. Jika pertumbuhan
rohani terhambat itu artinya hubungan kita dengan Tuhan perlu dipertanyakan.
Hubungan kita dengan Tuhan dapat dicerminkan dalam hubungan “kita dengan
sesama”. Apakah hubungan kita dengan sesama (keluarga, rekan sekerja, sosial
maupun dalam pelayanan) sudah dipenuhi dengan Kasih Kristus? Buanglah semua
yang menghambat pertumbuhan rohani/iman kita. Yak 1:21-22, “Sebab itu
buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan
terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang
berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan
bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri
sendiri.” Amin.
Samuel Sianto-Yestoya Ministry
Yes 40:29 – TUHAN memberi kekuatan kepada yang
lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya! Dalam YESUS selalu
semangat, kuat, bergairah. Pasti BISA. Tidak ada yang tidak bisa! Samuel
Sianto(SS)-YESTOYA Ministry.
Worship Center Surabaya
Menurut apa yang disampaikan oleh Paulus,
rasul Tuhan, di akhir zaman akan muncul orang-orang yang “tidak suka berdamai”
(2 Tim. 3: 3). Yang dimaksud ialah orang-orang yang menolak untuk memaafkan,
tidak dapat didamaikan, memilih untuk terus berselisih atau bahkan berperang
satu sama lain. Dalam istilah menang-kalah, orang-orang ini tidak legawa atau
berjiwa besar menerima kondisi yang ada, tapi terus bersikeras menggugat &
mengadakan perlawanan. Mengapa orang tidak mau memaafkan atau berdamai? •Karena
kasih sejati tidak ada lagi di hati. Semakin dunia menuju saat-saat
terakhirnya, kasih menjadi sesuatu yang langka sedangkan kedurhakaan atau
kefasikan makin merajalela (Mat. 24:12). Keegoisan & mementingkan diri
sendiri makin nyata menjadi suatu prinsip & gaya hidup. Tiada tempat atau
kesempatan bagi yang lain, kecuali dirinya & kelompoknya sendiri. •Karena
hati manusia semakin keras (2 Pet. 3:5-6). Walaupun gerakan hak asasi manusia
diterima & muncul di mana-mana, belum tentu selalu merupakan penghargaan
pada kemanusiaan. Sangat mungkin bila itu menjadi wajah baru kekerasan hati
manusia yang selalu tidak terima, melawan atau berkeras menuntut hak-haknya
sekalipun sebelumnya mereka (sebagai pelaku kejahatan) tak sedikitpun
memikirkan hak apalagi berbelas kasihan akan korban-korban mereka. •Karena
kesombongan manusia mencapai puncaknya. Mengalah, merendahkan diri, tak lagi
mempersoalkan berbagai hal (yang biasanya sepele belaka) yang menimbulkan
keributan lebih lanjut dipandang sebagai suatu kelemahan bagi manusia-manusia
akhir zaman ini. Sedangkan sikap mengunggulkan diri, merasa benar &
penampilan yang tampak hebat menjadi aturan-aturan pokok tak tertulis. Berbeda
dengan Kristus. Dia sendiri mengosongkan diri, turun dari tahta sorga,
mengambil rupa hamba yang hina dina supaya kita yang hampir binasa dalam lumpur
dosa boleh terhubung kembali dengan Dia, luput dari segala murka yang harus
kita tanggung sebagai orang-orang berdosa. Kerendahan hati Tuhan ialah keagungan-Nya
yang tiada tara. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.
Xavier Quentin Pranata
“Kebersamaan yang paling indah adalah saat
Tuhan mempersatukan kita menjadi satu keluarga.” Xavier Quentin Pranata.
Madam Ossy
Hendaklah masing-masing memberi menurut
kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah
mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7). Setelah hampir
tiga tahun menikah, istri saya mengakui bahwa ada yang berubah dalam diri saya,
khususnya dalam hal memberi. Dulu ia melihat saya termasuk orang yang agak
pelit dan sangat perhitungan, termasuk dalam memberi persembahan. Jujur saja,
kadang-kadang saya kurang rela ketika memberikan persembahan. Saya juga pernah
merasa sedih setelah memberi, terutama setelah memberi dalam jumlah cukup besar
menurut kemampuan keuangan saya. Berbicara tentang persembahan, kadang-kadang
umat Tuhan hanya berfokus pada takaran pemberian itu. Memang Alkitab mencatat
bahwa orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga. Sebaliknya, orang
yang menabur banyak akan menuai banyak juga (ay. 6). Namun, hal yang tak kalah
pentingnya adalah menilik kondisi hati ketika kita memberi. Ada tiga prinsip
yang perlu kita perhatikan dalam memberi. Pertama, memberi dengan penuh kerelaan,
karena kita memberi kepada Tuhan. Kedua, jangan memberi dengan sedih hati
karena kita tidak sedang kehilangan, tetapi sedang menabur. Ketiga, jangan
memberi karena terpaksa. Lebih baik menunda untuk memberi daripada kita memberi
karena terpaksa. Memberi dengan sukacita tak bisa dilepaskan dari ketiga
prinsip di atas. Seseorang tak mungkin bisa memberi dengan sukacita jika ia
tidak rela, bersedih hati, apa lagi kalau terpaksa. Memang tak mudah melakukan
tiga prinsip di atas, tetapi juga tidak mustahil. Bagaimana dengan kondisi hati
kita selama ini ketika memberi? —GHJ. ORANG YANG MEMBERI DENGAN SUKACITA AKAN
MENUAI BERKAT YANG BERLIMPAH.
No comments:
Post a Comment