Saturday, 5 March 2016

5 Maret 2016


                                                                                                                                             REAL LIFE




Yeremia 18:1-6. Ayat 6: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan- Ku, hai kaum Israel!” Yeremia diperintahkan untuk pergi ke rumah tukang periuk, untuk menyaksikan pembuatan sebuah periuk dari tanah liat. Perumpamaan ini mengandung beberapa prinsip penting untuk pekerjaan Allah dalam kehdpan kita. Seberapa besar penyerahan kita menentukan apa yang akan dibuatNya dengan kita. IA dapat membentuk kita menjadi periuk yang ‘dibinasakan’ sehingga menjadi perabot untuk kehormatan & berkat. Apakah kita siap menjadi Tanah Liat yang siap dibentuk oleh Sang Tukang Periuk menjadi BEJANA yang indah?? Bagi hormat & kemuliaanNya. Amin.

Ibu Caroline – Bandung         
JANGAN PERNAH MENOLAK TUHAN. Pada suatu hari, TUHAN berjanji akan mengunjungi rumah seorang ibu. Ia mempersiapkan segalanya agar pantas menyambut TUHAN. Pekarangan rumahnya di sapu, perabot-perabotnya dibersihkan & diatur, sehingga tampak bersih & indah. Setelah beres segalanya, ia duduk & menunggu kedatangan Tuhan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Ibu itu bergegas membukanya. Ternyata seorang pengemis berdiri di depan pintu. “Oh, jangan hari ini!!! Jangan menggangguku, aku sedang menunggu TUHAN yang akan mengunjungiku!!!” Ia mengusir pengemis & menutup pintu. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pintu lagi. Ibu itu segera membuka pintu rumahnya. Ada seorang tua miskin yang minta bantuan. “Maaf, saya tidak bisa menolongmu hari ini!!! Saya sedang menunggu TUHAN!!!” Baru saja tertutup, pintu sudah diketuk lagi. Sekali lagi, ibu itu membukakannya. Seorang pengemis yang berpakaian compang-camping & tampak kelaparan meminta makan & tempat untuk meletakkan tubuhnya yang lelah. “Saya sedang menunggu TUHAN; Saya tidak bisa memberikan roti & tempat kepadamu!!!” Ibu itu menunggu TUHAN lagi. Berjam-jam lewat & senja pun tiba. Belum juga ada tanda-tanda Kehadiran TUHAN. Ibu tadi menjadi gelisah & bertanya kepada dirinya sendiri, “Di manakah TUHAN yang berjanji akan mengunjungiku?” Akhirnya, ia tertidur & bermimpi. TUHAN mendatanginya & berkata, “Aku sudah mendatangimu 3 kali, & 3 kali pula AKU kau tolak!” BERIKANLAH yang TERBAIK DARI APA yang KITA MILIKI, & ITU MUNGKIN TIDAK AKAN PERNAH CUKUP; TAPI JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK MEMBERI yang TERBAIK. Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara kita & TUHAN, tetapi tak akan pernah ada antara kita & orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan yang kita lakukan, tapi percayalah bahwa mata TUHAN tertuju pada orang-orang jujur, & DIA Sanggup melihat Ketulusan Hati kita. ”Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Matius 11:6). God bless you.

Xavier Quentin Pranata
“Asuransi terbaik untuk masa depan adalah kerja sebaik-baiknya hari ini.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 5 Maret 2016. Membimbingnya Mengenal Allah. Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun (Ulangan 6:7). Sebelum naik perahu, putri kami yang belum genap lima tahun ditanya oleh sepupunya yang jauh lebih besar, “Kamu bisa berenang tidak? Kalau perahunya terbalik bagaimana? Nanti kamu tenggelam.” Ia menjawab, “Biar saja. Nanti saya minta tolong Tuhan kirim ikan seperti Yunus.” Senang sekali mendengar jawaban itu. Dengan polos, ia menghubungkan kisah Alkitab yang didengarnya sebelum tidur dengan kehidupan sehari-hari. Itu berarti, putri kecil kami memiliki iman sederhana kepada Allah yang mampu menyelamatkan. Ia telah belajar mengenal Allah. Tugas mendidik anak dalam kerohanian terutama terletak pada pundak orangtua, bukan pada orang lain. Tetapi sayang, tidak semua orangtua Kristen memahami hal ini. Tidak jarang mereka mengeluhkan kelakuan buruk anak-anaknya kepada hamba Tuhan atau guru Sekolah Minggu, seolah-olah para pengurus gerejalah yang telah lalai dan harus bertanggung jawab. Bukankah anak-anak tumbuh di dalam pengawasan dan rumah kita sendiri? Itu berarti ada banyak kesempatan dalam keseharian kita untuk memperkenalkan Tuhan kepada mereka. Sebut saja: berdoa sebelum makan, menceritakan kisah Alkitab sebelum tidur, meminta pertolongan Tuhan ketika sakit, menegur ketika ada kebohongan, menyanyikan lagu-lagu rohani, dan sebagainya. Kalau untuk keperluan jasmani kita berusaha sekuat tenaga mencukupkannya, mengapa untuk hal rohani tidak? Mari berusaha dengan giat menanamkan iman yang benar kepada anak-anak kita. Sebab itu adalah kewajiban, bukan pilihan —NNK. PEMBERIAN TERBAIK ORANGTUA KEPADA ANAK ADALAH MEMBIMBINGNYA MENGENAL ALLAH. Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati.

Worship Center Surabaya
Iman sejati berlanjut pada kehidupan pengikut Kristus sejati. Pada iman ditambahkan karakter-karakter yang dicerminkan dalam suatu cara hidup yang baik. Itu berlanjut dengan menambahkan suatu pengenalan akan pribadi & jalan-jalan Tuhan -suatu kekristenan yang berakar karena mengetahui dasar-dasar keimanannya. Selanjutnya, rasul Petrus menasihatkan supaya pada pengetahuan rohani kita ditambahkan PENGUASAAN DIRI (2 Pet. 1:6). Penguasaan diri, menurut makna kata aslinya, berarti “memegang kendali; menguasai (sesuatu keahlian atau kebiasaan tertentu); menjaga tetap dalam kendali; atau "memberikan batas pada diri”.  Menggunakan istilah Yesus inilah yang disebut “menyangkal diri”. Menguasai diri dengan mengendalikan keinginan-keinginan atau hawa nafsu kita merupakan bagian penting bagi keberhasilan hidup Kristen kita. Tanpa membatasi keinginan-keinginan kita, berkali-kali kita akan jatuh dalam dosa & bukan tidak mungkin terseret makin jauh dalam berbagai dosa yang menjerat kita. Pada tahap ini, komitmen kita pada Kristus diuji sebab inilah tahap yang menuntut pengorbanan dari hidup kita. Jika umumnya manusia menyukai kenyamanan yang seluas-luasnya & menghindari penderitaan sejauh-jauhnya, pada tahap ini kita justru dipanggil merangkul penderitaan demi menerima kekayaan rohani & tingkat kemuliaan yang lebih besar (2 Kor 3:18; 1 Tim 6:18-19; Ibr 11:26). Ya, penguasaan diri memerlukan apa yang disebut sebagai KEDISIPLINAN -suatu sikap yang keras & tegas menolak segala hal-hal yang tidak menghasilkan apa-apa lalu melatih jiwa & tubuh kita melakukan hal-hal yang berguna, yang membawa kita makin dekat dengan Kristus. Walau tidak mudah, selalu ada pertolongan kuasa Roh Kudus. Sesungguhnya tidak ada yang benar-benar berharga di dunia ini yang tidak dicapai dengan susah payah. Lebih-lebih perkara-perkara yang di atas, yang ada pada Tuhan. Keselamatan kita cuma-cuma tapi mahkota & pengakuan dari Tuhan tidak demikian. Mereka yang merindukan mutiara-mutiara sorga membayar harga kedisiplinan untuk mengekang keinginan hati, perkataan-perkataan & tindakan-tindakannya. Bagaimana dengan Anda? Salam revival! GBU.

No comments:

Post a Comment