REAL LIFE
Yeremia 18:1-6.
Ayat 6: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk
ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di
tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan- Ku, hai kaum Israel!”
Yeremia diperintahkan untuk pergi ke rumah tukang periuk, untuk menyaksikan
pembuatan sebuah periuk dari tanah liat. Perumpamaan ini mengandung beberapa
prinsip penting untuk pekerjaan Allah dalam kehdpan kita. Seberapa besar
penyerahan kita menentukan apa yang akan dibuatNya dengan kita. IA dapat
membentuk kita menjadi periuk yang ‘dibinasakan’ sehingga menjadi perabot untuk
kehormatan & berkat. Apakah kita siap menjadi Tanah Liat yang siap dibentuk
oleh Sang Tukang Periuk menjadi BEJANA yang indah?? Bagi hormat &
kemuliaanNya. Amin.
Ibu
Caroline – Bandung
JANGAN PERNAH MENOLAK TUHAN. Pada suatu hari,
TUHAN berjanji akan mengunjungi rumah seorang ibu. Ia mempersiapkan segalanya
agar pantas menyambut TUHAN. Pekarangan rumahnya di sapu, perabot-perabotnya
dibersihkan & diatur, sehingga tampak bersih & indah. Setelah beres
segalanya, ia duduk & menunggu kedatangan Tuhan. Tiba-tiba terdengar suara
ketukan pintu. Ibu itu bergegas membukanya. Ternyata seorang pengemis berdiri
di depan pintu. “Oh, jangan hari ini!!! Jangan menggangguku, aku sedang
menunggu TUHAN yang akan mengunjungiku!!!” Ia mengusir pengemis & menutup
pintu. Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pintu lagi. Ibu itu segera
membuka pintu rumahnya. Ada seorang tua miskin yang minta bantuan. “Maaf, saya
tidak bisa menolongmu hari ini!!! Saya sedang menunggu TUHAN!!!” Baru saja
tertutup, pintu sudah diketuk lagi. Sekali lagi, ibu itu membukakannya. Seorang
pengemis yang berpakaian compang-camping & tampak kelaparan meminta makan
& tempat untuk meletakkan tubuhnya yang lelah. “Saya sedang menunggu TUHAN;
Saya tidak bisa memberikan roti & tempat kepadamu!!!” Ibu itu menunggu
TUHAN lagi. Berjam-jam lewat & senja pun tiba. Belum juga ada tanda-tanda
Kehadiran TUHAN. Ibu tadi menjadi gelisah & bertanya kepada dirinya
sendiri, “Di manakah TUHAN yang berjanji akan mengunjungiku?” Akhirnya, ia
tertidur & bermimpi. TUHAN mendatanginya & berkata, “Aku sudah
mendatangimu 3 kali, & 3 kali pula AKU kau tolak!” BERIKANLAH yang TERBAIK
DARI APA yang KITA MILIKI, & ITU MUNGKIN TIDAK AKAN PERNAH CUKUP; TAPI
JANGAN PERNAH BERHENTI UNTUK MEMBERI yang TERBAIK. Sadarilah bahwa semuanya itu
ada di antara kita & TUHAN, tetapi tak akan pernah ada antara kita &
orang lain. Jangan pedulikan apa yang orang lain pikir atas perbuatan yang kita
lakukan, tapi percayalah bahwa mata TUHAN tertuju pada orang-orang jujur, &
DIA Sanggup melihat Ketulusan Hati kita. ”Dan berbahagialah orang yang tidak
menjadi kecewa dan menolak Aku” (Matius 11:6). God bless you.
Xavier Quentin Pranata
“Asuransi terbaik untuk masa depan adalah
kerja sebaik-baiknya hari ini.” Xavier Quentin Pranata.
Madam Ossy
SAAT TEDUH. Sabtu, 5 Maret 2016. Membimbingnya
Mengenal Allah. Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada
anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau
sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun
(Ulangan 6:7). Sebelum naik perahu, putri kami yang belum genap lima tahun
ditanya oleh sepupunya yang jauh lebih besar, “Kamu bisa berenang tidak? Kalau
perahunya terbalik bagaimana? Nanti kamu tenggelam.” Ia menjawab, “Biar saja.
Nanti saya minta tolong Tuhan kirim ikan seperti Yunus.” Senang sekali
mendengar jawaban itu. Dengan polos, ia menghubungkan kisah Alkitab yang
didengarnya sebelum tidur dengan kehidupan sehari-hari. Itu berarti, putri
kecil kami memiliki iman sederhana kepada Allah yang mampu menyelamatkan. Ia
telah belajar mengenal Allah. Tugas mendidik anak dalam kerohanian terutama
terletak pada pundak orangtua, bukan pada orang lain. Tetapi sayang, tidak
semua orangtua Kristen memahami hal ini. Tidak jarang mereka mengeluhkan
kelakuan buruk anak-anaknya kepada hamba Tuhan atau guru Sekolah Minggu,
seolah-olah para pengurus gerejalah yang telah lalai dan harus bertanggung jawab.
Bukankah anak-anak tumbuh di dalam pengawasan dan rumah kita sendiri? Itu
berarti ada banyak kesempatan dalam keseharian kita untuk memperkenalkan Tuhan
kepada mereka. Sebut saja: berdoa sebelum makan, menceritakan kisah Alkitab
sebelum tidur, meminta pertolongan Tuhan ketika sakit, menegur ketika ada
kebohongan, menyanyikan lagu-lagu rohani, dan sebagainya. Kalau untuk keperluan
jasmani kita berusaha sekuat tenaga mencukupkannya, mengapa untuk hal rohani
tidak? Mari berusaha dengan giat menanamkan iman yang benar kepada anak-anak
kita. Sebab itu adalah kewajiban, bukan pilihan —NNK. PEMBERIAN TERBAIK
ORANGTUA KEPADA ANAK ADALAH MEMBIMBINGNYA MENGENAL ALLAH. Selamat pagi. Selamat
berakhir pekan. Tuhan Yesus memberkati.
Worship Center Surabaya
Iman sejati berlanjut pada kehidupan pengikut
Kristus sejati. Pada iman ditambahkan karakter-karakter yang dicerminkan dalam
suatu cara hidup yang baik. Itu berlanjut dengan menambahkan suatu pengenalan
akan pribadi & jalan-jalan Tuhan -suatu kekristenan yang berakar karena
mengetahui dasar-dasar keimanannya. Selanjutnya, rasul Petrus menasihatkan
supaya pada pengetahuan rohani kita ditambahkan PENGUASAAN DIRI (2 Pet. 1:6).
Penguasaan diri, menurut makna kata aslinya, berarti “memegang kendali;
menguasai (sesuatu keahlian atau kebiasaan tertentu); menjaga tetap dalam
kendali; atau "memberikan batas pada diri”. Menggunakan istilah Yesus inilah yang disebut
“menyangkal diri”. Menguasai diri dengan mengendalikan keinginan-keinginan atau
hawa nafsu kita merupakan bagian penting bagi keberhasilan hidup Kristen kita.
Tanpa membatasi keinginan-keinginan kita, berkali-kali kita akan jatuh dalam
dosa & bukan tidak mungkin terseret makin jauh dalam berbagai dosa yang
menjerat kita. Pada tahap ini, komitmen kita pada Kristus diuji sebab inilah
tahap yang menuntut pengorbanan dari hidup kita. Jika umumnya manusia menyukai
kenyamanan yang seluas-luasnya & menghindari penderitaan sejauh-jauhnya,
pada tahap ini kita justru dipanggil merangkul penderitaan demi menerima
kekayaan rohani & tingkat kemuliaan yang lebih besar (2 Kor 3:18; 1 Tim
6:18-19; Ibr 11:26). Ya, penguasaan diri memerlukan apa yang disebut sebagai
KEDISIPLINAN -suatu sikap yang keras & tegas menolak segala hal-hal yang
tidak menghasilkan apa-apa lalu melatih jiwa & tubuh kita melakukan hal-hal
yang berguna, yang membawa kita makin dekat dengan Kristus. Walau tidak mudah,
selalu ada pertolongan kuasa Roh Kudus. Sesungguhnya tidak ada yang benar-benar
berharga di dunia ini yang tidak dicapai dengan susah payah. Lebih-lebih perkara-perkara
yang di atas, yang ada pada Tuhan. Keselamatan kita cuma-cuma tapi mahkota
& pengakuan dari Tuhan tidak demikian. Mereka yang merindukan
mutiara-mutiara sorga membayar harga kedisiplinan untuk mengekang keinginan
hati, perkataan-perkataan & tindakan-tindakannya. Bagaimana dengan Anda?
Salam revival! GBU.
No comments:
Post a Comment