REAL LIFE
Filipi
1:22a, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja
memberi buah.” Tuhan ingin kita tidak hanya tertanam, berakar &
bertumbuh tetapi juga berbuah lebat. Buah yang bisa kita hasilkan adalah: (1)
Buah Pertobatan (berbalik dari dosa/180 derajat. Perilaku kita bisa menjadi
teladan bagi orang orang yang terdekat dengan kita). (2) Buah Pelayanan
(orang yang sudah lahir baru pasti rindu untuk melayani/berfungsi dalam gereja
lokal). (3) Buah Jiwa-Jiwa (memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang). Kehidupan orang percaya itu memilki “level”
(orang percaya, hamba kebenaran, anak Allah, MURID KRISTUS, tentara Allah).
Berada di level manakah kita sekarang?? Berada di level MURID KRISTUS &
tentara Allah itu yang kita mau. Amin.
Xavier
Quentin Pranata
“If
we have different goals, go back to God's goal.” Xavier Quentin Pranata.
Madam
Ossy
SAAT
TEDUH. Minggu PASKAH, 27 Maret 2016. Selalu Siap. Aku telah mengakhiri
pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara
iman (2 Timotius 4:7). Menjelang eksekusi terhadap para terpidana mati, mereka
didampingi rohaniawan untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Sebelum
tengah malam, sejak dijemput dari ruang isolasi menuju lokasi eksekusi hingga
serah terima kepada regu tembak, mereka melakukan doa bersama dan saling
menguatkan. Mereka mempersiapkan diri karena mengetahui kapan mereka akan
menghadapi kematian. Orang yang bukan terpidana mati, sebaliknya, tidak
mengetahui kapan akan menghadapi kematian. Kita harus selalu siap karena
kematian dapat datang kapan saja, kepada siapa saja, di mana saja. Korban
pesawat terbang yang hilang atau mengalami kecelakaan, misalnya, tentu tidak
menyangka hari itu kematian menjemput mereka. Kematian selalu menyisakan tanda
tanya karena di sanalah kita akan mengalami kehidupan baru dan di sana kita
dijanjikan mahkota kehidupan. Pertanyaan kesiapan kita menjadi penting
karenanya. Rasul Paulus mengajarkan Timotius agar menguasai diri dalam segala
hal, sabar menderita, melakukan pekerjaan pemberitaan Injil, dan menunaikan
tugas pelayanan (ay. 5). Paulus melihat bahwa kematian yang cepat atau lambat
akan datang sebagai kesempatan untuk menjalani hidup yang berpusat pada Tuhan,
demi kepentingan Kerajaan-Nya. Ia membaktikan hidupnya untuk melayani Tuhan dan
memberitakan kebenaran meskipun mengalami perlawanan yang berat. Saat pada
akhirnya kematian itu menjemput, ia dapat menyambutnya dalam iman (ay. 7-8).
Bagaimana dengan kita? —IN. KETIDAKTAHUAN AKAN DATANGNYA HARI KEMATIAN
MEMOTIVASI KITA UNTUK SENANTIASA MEMPERSIAPKAN DIRI DALAM IMAN. Selamat pagi.
SELAMAT PASKAH. KEBANGKITAN KRISTUS adalah Anugerah PENEBUSAN terbesar bagi
kita. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati.
Worship
Center Surabaya
Setelah
Yesus bangkit, salah satu hal yang paling banyak dicatat dalam Injil
berhubungan dengan sikap tidak percaya murid-murid Yesus akan kebangkitan-Nya.
Saat pertama kali kubur Yesus ditemukan kosong & Yesus menampakkan diri
pertama kalinya pada para wanita, tak seorang pun percaya. Juga 2 orang murid
yang sedang berjalan ke Emaus. Murid-murid pun tak percaya sampai Yesus
menyatakan diri pada 10 orang dari mereka. Satu murid yang terlewat, Tomas,
juga bersikeras menolak untuk percaya. Rupanya benar yang dikatakan oleh
pengkhotbah Inggris terkenal di abad lampau bahwa di antara orang-orang Kristen
hanya sedikit yang sungguh-sungguh percaya Kristus telah bangkit. Mempercayai
bahwa Dia telah menderita & mati adalah satu hal. Mempercayai bahwa Dia
telah bangkit & hidup hingga kini adalah hal yang lain. Keyakinan akan
Kristus yang mengalahkan maut & hidup menjadi batas perbedaan antara
kerohanian yang semu bahkan mati dengan suatu kekristenan yang penuh kuasa.
Mereka yang percaya bahwa Kristus hidup & sungguh-sungguh menyertai mereka
setiap waktu tak takut akan apapun juga. Mereka hidup dalam kuasa
kebangkitan-Nya. Dengan berani melangkah hidup dalam sepenuh kehendak Tuhan.
Fakta bahwa Yesus menegur ketidakpercayaan & kedegilan murid-muridNya
(Mark. 16:14) menunjukkan bahwa Tuhan tak pernah menyukai kebimbangan,
keraguan, lebih-lebih ketakutan kita menjalani hidup seolah-olah Allah kita tak
berdaya & mati. Jika saja orang mau membuka pikiran & hati kita, ada
begitu banyak bukti -entah itu pengakuan para saksi mata, catatan &
kesaksian kitab suci, penemuan-penemuan arkeologi & catatan-catatan sejarah
sampai bagaimana melihat pribadi Kristus mengubah hidup orang-orang percaya di
segala zaman- maka tiada alasan yang cukup kuat untuk menolak kebangkitan
Kristus. Murid-murid yang mau menyediakan waktu merenungkan kitab suci &
perkataan Kristus akan diyakinkan bahwa Yesus tak ada lagi di antara
orang-orang yang mati (Luk.24:25-32,44-49; Yoh.20:8-9). Hari ini, benar-benar
percayakah Anda akan kebangkitan-Nya? Salam revival! GBU.
Ibu
Caroline – Bandung
Minggu,
27 Maret 2016. Bacaan: 1 Korintus 15:35-52. Setahun: Hakim-Hakim 12-14. Nats:
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Korintus
15:55). Sengat Maut. Saat kecil di kampung, saya pernah disengat tawon. Kantung
sengatnya akan terlepas dan tertancap pada bagian tubuh yang disengat. Rasanya
menyakitkan dan kadang-kadang membengkak selama berhari-hari. Belakangan saya
tahu, ternyata sengatan tawon tidak hanya berbahaya bagi korbannya, namun juga
bagi dirinya sendiri. Tawon yang menyengat akan mati beberapa menit kemudian.
Sebelum mati, ia masih terlihat menakutkan dan dapat mengancam, namun
sesungguhnya, ia sama sekali tidak berbahayalagi. Ketika Paulus berbicara tentang
kebangkitan Kristus, ia mengibaratkan maut memiliki sengat. Maut menyengat
Yesus hingga mati, namun kemudian Yesus bangkit dan mengalahkan maut. Dengan
lantang, Paulus mengejek maut yang telah tidak berdaya itu. Kristus telah
mempermalukannya melalui kebangkitkan-Nya dari kematian. Pada hari penyaliban,
kematian-Nya seolah menjadi akhir dari segalanya: sebuah perjuangan yang
berakhir memalukan dan kalah sebagai pecundang. Namun, kebangkitan Kristus
menjungkirbalikkan keadaan. Paulus menegaskan, tanpa kebangkitan Kristus,
sia-sia sajalah kepercayaan kita kepada-Nya. KebangkitanNya menunjukkan bahwa
Allah sungguh dapat dipercaya dan janjiNya benar-benar terbukti. Apakah Kristus
yang bangkit telah terpancar dari hidup kita? Apakah Dia telah membangkitkan
kita sehingga dapat melayani-Nya dan menjadi berkat bagi sesama? Atau, kita
masih hidup dalam ketakutan karena bayang-bayang maut yang sebenarnya sudah tak
berdaya itu masih mengancam kita?
--Hembang Tambun. Bersama Kristus yang telah bangkit, bangkitlah dan
jadilah berkat.
No comments:
Post a Comment