Sunday, 27 March 2016

27 Maret 2016



                                                                                                                                             REAL LIFE





Filipi 1:22a, “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” Tuhan ingin kita tidak hanya tertanam, berakar & bertumbuh tetapi juga berbuah lebat. Buah yang bisa kita hasilkan adalah: (1) Buah Pertobatan (berbalik dari dosa/180 derajat. Perilaku kita bisa menjadi teladan bagi orang orang yang terdekat dengan kita). (2) Buah Pelayanan (orang yang sudah lahir baru pasti rindu untuk melayani/berfungsi dalam gereja lokal). (3) Buah Jiwa-Jiwa (memenangkan jiwa-jiwa yang terhilang).  Kehidupan orang percaya itu memilki “level” (orang percaya, hamba kebenaran, anak Allah, MURID KRISTUS, tentara Allah). Berada di level manakah kita sekarang?? Berada di level MURID KRISTUS & tentara Allah itu yang kita mau. Amin.

Xavier Quentin Pranata
“If we have different goals, go back to God's goal.” Xavier Quentin Pranata.

Madam Ossy
SAAT TEDUH. Minggu PASKAH, 27 Maret 2016. Selalu Siap. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman (2 Timotius 4:7). Menjelang eksekusi terhadap para terpidana mati, mereka didampingi rohaniawan untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian. Sebelum tengah malam, sejak dijemput dari ruang isolasi menuju lokasi eksekusi hingga serah terima kepada regu tembak, mereka melakukan doa bersama dan saling menguatkan. Mereka mempersiapkan diri karena mengetahui kapan mereka akan menghadapi kematian. Orang yang bukan terpidana mati, sebaliknya, tidak mengetahui kapan akan menghadapi kematian. Kita harus selalu siap karena kematian dapat datang kapan saja, kepada siapa saja, di mana saja. Korban pesawat terbang yang hilang atau mengalami kecelakaan, misalnya, tentu tidak menyangka hari itu kematian menjemput mereka. Kematian selalu menyisakan tanda tanya karena di sanalah kita akan mengalami kehidupan baru dan di sana kita dijanjikan mahkota kehidupan. Pertanyaan kesiapan kita menjadi penting karenanya. Rasul Paulus mengajarkan Timotius agar menguasai diri dalam segala hal, sabar menderita, melakukan pekerjaan pemberitaan Injil, dan menunaikan tugas pelayanan (ay. 5). Paulus melihat bahwa kematian yang cepat atau lambat akan datang sebagai kesempatan untuk menjalani hidup yang berpusat pada Tuhan, demi kepentingan Kerajaan-Nya. Ia membaktikan hidupnya untuk melayani Tuhan dan memberitakan kebenaran meskipun mengalami perlawanan yang berat. Saat pada akhirnya kematian itu menjemput, ia dapat menyambutnya dalam iman (ay. 7-8). Bagaimana dengan kita? —IN. KETIDAKTAHUAN AKAN DATANGNYA HARI KEMATIAN MEMOTIVASI KITA UNTUK SENANTIASA MEMPERSIAPKAN DIRI DALAM IMAN. Selamat pagi. SELAMAT PASKAH. KEBANGKITAN KRISTUS adalah Anugerah PENEBUSAN terbesar bagi kita. Selamat beribadah. Tuhan Yesus memberkati.

Worship Center Surabaya
Setelah Yesus bangkit, salah satu hal yang paling banyak dicatat dalam Injil berhubungan dengan sikap tidak percaya murid-murid Yesus akan kebangkitan-Nya. Saat pertama kali kubur Yesus ditemukan kosong & Yesus menampakkan diri pertama kalinya pada para wanita, tak seorang pun percaya. Juga 2 orang murid yang sedang berjalan ke Emaus. Murid-murid pun tak percaya sampai Yesus menyatakan diri pada 10 orang dari mereka. Satu murid yang terlewat, Tomas, juga bersikeras menolak untuk percaya. Rupanya benar yang dikatakan oleh pengkhotbah Inggris terkenal di abad lampau bahwa di antara orang-orang Kristen hanya sedikit yang sungguh-sungguh percaya Kristus telah bangkit. Mempercayai bahwa Dia telah menderita & mati adalah satu hal. Mempercayai bahwa Dia telah bangkit & hidup hingga kini adalah hal yang lain. Keyakinan akan Kristus yang mengalahkan maut & hidup menjadi batas perbedaan antara kerohanian yang semu bahkan mati dengan suatu kekristenan yang penuh kuasa. Mereka yang percaya bahwa Kristus hidup & sungguh-sungguh menyertai mereka setiap waktu tak takut akan apapun juga. Mereka hidup dalam kuasa kebangkitan-Nya. Dengan berani melangkah hidup dalam sepenuh kehendak Tuhan. Fakta bahwa Yesus menegur ketidakpercayaan & kedegilan murid-muridNya (Mark. 16:14) menunjukkan bahwa Tuhan tak pernah menyukai kebimbangan, keraguan, lebih-lebih ketakutan kita menjalani hidup seolah-olah Allah kita tak berdaya & mati. Jika saja orang mau membuka pikiran & hati kita, ada begitu banyak bukti -entah itu pengakuan para saksi mata, catatan & kesaksian kitab suci, penemuan-penemuan arkeologi & catatan-catatan sejarah sampai bagaimana melihat pribadi Kristus mengubah hidup orang-orang percaya di segala zaman- maka tiada alasan yang cukup kuat untuk menolak kebangkitan Kristus. Murid-murid yang mau menyediakan waktu merenungkan kitab suci & perkataan Kristus akan diyakinkan bahwa Yesus tak ada lagi di antara orang-orang yang mati (Luk.24:25-32,44-49; Yoh.20:8-9). Hari ini, benar-benar percayakah Anda akan kebangkitan-Nya? Salam revival! GBU.

Ibu Caroline – Bandung
Minggu, 27 Maret 2016. Bacaan: 1 Korintus 15:35-52. Setahun: Hakim-Hakim 12-14. Nats: Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? (1 Korintus 15:55). Sengat Maut. Saat kecil di kampung, saya pernah disengat tawon. Kantung sengatnya akan terlepas dan tertancap pada bagian tubuh yang disengat. Rasanya menyakitkan dan kadang-kadang membengkak selama berhari-hari. Belakangan saya tahu, ternyata sengatan tawon tidak hanya berbahaya bagi korbannya, namun juga bagi dirinya sendiri. Tawon yang menyengat akan mati beberapa menit kemudian. Sebelum mati, ia masih terlihat menakutkan dan dapat mengancam, namun sesungguhnya, ia sama sekali tidak berbahayalagi. Ketika Paulus berbicara tentang kebangkitan Kristus, ia mengibaratkan maut memiliki sengat. Maut menyengat Yesus hingga mati, namun kemudian Yesus bangkit dan mengalahkan maut. Dengan lantang, Paulus mengejek maut yang telah tidak berdaya itu. Kristus telah mempermalukannya melalui kebangkitkan-Nya dari kematian. Pada hari penyaliban, kematian-Nya seolah menjadi akhir dari segalanya: sebuah perjuangan yang berakhir memalukan dan kalah sebagai pecundang. Namun, kebangkitan Kristus menjungkirbalikkan keadaan. Paulus menegaskan, tanpa kebangkitan Kristus, sia-sia sajalah kepercayaan kita kepada-Nya. KebangkitanNya menunjukkan bahwa Allah sungguh dapat dipercaya dan janjiNya benar-benar terbukti. Apakah Kristus yang bangkit telah terpancar dari hidup kita? Apakah Dia telah membangkitkan kita sehingga dapat melayani-Nya dan menjadi berkat bagi sesama? Atau, kita masih hidup dalam ketakutan karena bayang-bayang maut yang sebenarnya sudah tak berdaya itu masih mengancam kita?  --Hembang Tambun. Bersama Kristus yang telah bangkit, bangkitlah dan jadilah berkat.

No comments:

Post a Comment