REAL LIFE
Terlatih. 1 Kor 9:27, “Tetapi
aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan
Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Keteladanan IMAN
itu penting. Bagaimana supaya kita bisa tetap punya IMAN yang teguh?? Layaknya
seorang olaragawan, yang selalu melatih tubuhnya supaya dapat melewati
pertandingan-pertandingan yang akan dijalaninya. Jika Ia sudah berlatih, pasti
punya ketahanan fisik yang sudah TERLATIH, sehingga bisa menguasai
baik fisik & mental saat bertanding. Demikian juga dengan kita apakah kita
pengikut Kristus yang sudah terlatih? Menyediakan WAKTU bersama Tuhan
setiap hari/4M: Menerima Firman, Merenungkan, Melakukan
& Membagikan. Sehingga punya KUASA saat mengundang teman / keluarga
/ rekan sekerja, mereka bisa melihat teladan IMAN melalui Cara Hidup
kita?? (1 Teladan lebih berguna daripada 1000 kata-kata) J.
Worship Center Surabaya
Demi kemurahan Allah yaitu karena kasih
karunia-Nya, kita dipanggil untuk membawa suatu ibadah sejati di hadapan Tuhan
(Rom.12:1). Perintah-Nya bagi kita ialah supaya kita mengasihi Dia dengan
segenap keberadaan kita; juga mengasihi sesama manusia lain seperti mengasihi
diri kita sendiri (Mat.22:27-29). Jadi, ibadah kita dibangun atas dasar kasih
Tuhan & karena kasih pula ibadah kita dijalankan. Kasih ialah nyawa, jiwa,
semangat, intisari & hakikat ibadah kita. Ibadah tanpa kasih sejati ialah
sia-sia. Pelayanan tanpa cinta yang murni ialah keegoisan dengan kemunafikan
yang besar -suatu kejahatan di hadapan Tuhan. Itu sebabnya, Paulus kembali
mengingatkan. Dalam konteks ibadah sejati, “hendaklah kasih itu jangan
pura-pura” dan supaya kita “menjauhi yang jahat & melakukan yang baik”
(Rom.12:9). Perhatikanlah bagaimana Paulus menekankan bahwa ‘kepura-puraan‘
merupakan sesuatu yang jahat, sesuatu yang harus kita jauhi. Lebih-lebih dalam
praktek ibadah kita. Di hadapan Tuhan yang mahatahu, ketulusan adalah
segala-galanya. Kemunafikan bisa saja mengelabui manusia namun jelas-jelas
memuakkan di hadapan Tuhan yang sungguh-sungguh tahu hati kita apa adanya. Jika
kita dipenuhi prasangka (pikiran-pikiran negatif), sakit hati, kepahitan,
kemarahan atau emosi-emosi negatif lainnya sambil tetap ingin menunjukkan bahwa
diri kita pribadi yang penuh kasih maka kita sedang mengamalkan kasih
pura-pura. Ibadah yang seharusnya merupakan praktek-praktek perbuatan baik,
suci, benar & mulia menjadi sesuatu yang jahat karena diwarnai kepalsuan.
Pada titik ini saja, penyimpangan-penyimpangan dalam ibadah telah terjadi. Jika
diteruskan dampaknya sangatlah fatal. Kaum Farisi & ahli Taurat zaman Yesus
meneladankan ibadah semacam itu & tanpa disadari banyak orang telah
menciptakan suatu sistem ibadah yang rusak & cemar. Rumah doa pun menjadi
sarang penyamun. Tempat pemujaan menjadi pasar. Pencarian kemuliaan menjadi
pencarian keuntungan diri. Inilah ragi Farisi itu (Mat. 16:5-12; 1 Kor. 5:1-8).
Adakah kasih tulus nan sejati menjadi inti ibadah Anda? Salam revival! GBU.
Xavier Quentin Pranata
“Salah satu pelajaran kepemimpinan yang perlu
dipelajari adalah menjadi tegas tanpa keras dan lembut tanpa lembek.” Xavier
Quentin Pranata.
No comments:
Post a Comment