Sunday, 20 March 2016

20 Maret 2016



                                                                                                                                             REAL LIFE






Terlatih. 1 Kor 9:27, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Keteladanan IMAN itu penting. Bagaimana supaya kita bisa tetap punya IMAN yang teguh?? Layaknya seorang olaragawan, yang selalu melatih tubuhnya supaya dapat melewati pertandingan-pertandingan yang akan dijalaninya. Jika Ia sudah berlatih, pasti punya ketahanan fisik yang sudah TERLATIH, sehingga bisa menguasai baik fisik & mental saat bertanding. Demikian juga dengan kita apakah kita pengikut Kristus yang sudah terlatih? Menyediakan WAKTU bersama Tuhan setiap hari/4M: Menerima Firman, Merenungkan, Melakukan & Membagikan. Sehingga punya KUASA saat mengundang teman / keluarga / rekan sekerja, mereka bisa melihat teladan IMAN melalui Cara Hidup kita?? (1 Teladan lebih berguna daripada 1000 kata-kata) J.

Worship Center Surabaya
Demi kemurahan Allah yaitu karena kasih karunia-Nya, kita dipanggil untuk membawa suatu ibadah sejati di hadapan Tuhan (Rom.12:1). Perintah-Nya bagi kita ialah supaya kita mengasihi Dia dengan segenap keberadaan kita; juga mengasihi sesama manusia lain seperti mengasihi diri kita sendiri (Mat.22:27-29). Jadi, ibadah kita dibangun atas dasar kasih Tuhan & karena kasih pula ibadah kita dijalankan. Kasih ialah nyawa, jiwa, semangat, intisari & hakikat ibadah kita. Ibadah tanpa kasih sejati ialah sia-sia. Pelayanan tanpa cinta yang murni ialah keegoisan dengan kemunafikan yang besar -suatu kejahatan di hadapan Tuhan. Itu sebabnya, Paulus kembali mengingatkan. Dalam konteks ibadah sejati, “hendaklah kasih itu jangan pura-pura” dan supaya kita “menjauhi yang jahat & melakukan yang baik” (Rom.12:9). Perhatikanlah bagaimana Paulus menekankan bahwa ‘kepura-puraan‘ merupakan sesuatu yang jahat, sesuatu yang harus kita jauhi. Lebih-lebih dalam praktek ibadah kita. Di hadapan Tuhan yang mahatahu, ketulusan adalah segala-galanya. Kemunafikan bisa saja mengelabui manusia namun jelas-jelas memuakkan di hadapan Tuhan yang sungguh-sungguh tahu hati kita apa adanya. Jika kita dipenuhi prasangka (pikiran-pikiran negatif), sakit hati, kepahitan, kemarahan atau emosi-emosi negatif lainnya sambil tetap ingin menunjukkan bahwa diri kita pribadi yang penuh kasih maka kita sedang mengamalkan kasih pura-pura. Ibadah yang seharusnya merupakan praktek-praktek perbuatan baik, suci, benar & mulia menjadi sesuatu yang jahat karena diwarnai kepalsuan. Pada titik ini saja, penyimpangan-penyimpangan dalam ibadah telah terjadi. Jika diteruskan dampaknya sangatlah fatal. Kaum Farisi & ahli Taurat zaman Yesus meneladankan ibadah semacam itu & tanpa disadari banyak orang telah menciptakan suatu sistem ibadah yang rusak & cemar. Rumah doa pun menjadi sarang penyamun. Tempat pemujaan menjadi pasar. Pencarian kemuliaan menjadi pencarian keuntungan diri. Inilah ragi Farisi itu (Mat. 16:5-12; 1 Kor. 5:1-8). Adakah kasih tulus nan sejati menjadi inti ibadah Anda? Salam revival! GBU.

Xavier Quentin Pranata
“Salah satu pelajaran kepemimpinan yang perlu dipelajari adalah menjadi tegas tanpa keras dan lembut tanpa lembek.” Xavier Quentin Pranata.

No comments:

Post a Comment